Sebelas

1513 Words
Semua spontan gue, bilang suka dan cemburu itu asli dari hati. Belum ada campur tangan otak sama sekali. Tapi kalau lo bilang ini cinta, sini! Gue tabok mulut lo. #Gueajabelumngerti, bangke ~Bumi.A.A~ "Kenapa?" tanya Jonah melirik Bulan yang tengah menatap serius ponselnya. Cewek yang tengah mengenakan kaos rainbow itu mengedikan bahunya acuh. "Gak ada. Cuma tuh si Parman nanya jenis kulit gue." "Bocah gendeng!" cibir Vila di dekat api unggun. Ya, mereka sedang menikmati malam minggu dengan acara api unggun dan BBQ. Virka, Erela, dan Jamie sedang menyiapkan alat pemanggang. Sementara itu Jonah dan Vila duduk memandori.  Bulan berjalan mendekati teman-temannya. "Udah siap belum?" tanya Bulan menepuk bahu Erela. Cewek bening itu mengangguk. "Udah, tinggal panggang aja nih." "Mantap." Bulan memberi cewek itu dua jempol. "Eh, Vir bantuin dong. Jangan cume foto mulu kerja lo." "Tahu tuh sok populer lo!" cibir Vila menghampiri. "Muka lokal aja di pamerin ke netizen terus. Ingat cantik boleh, lebay jangan." "Sibuk aja lo," balas Virka tak terima. "Lagian manusi puba kayak lo tahu apa soal sosmed heh? Bacot aja di besarin. Realitanya lo nol sama sekli," cecar Virka kesal. "Udah. Bising amat dah. Ini bukan pasar kali," sahut Erela yang telinganya sudah panas. Vila berjalan mengahampiri Erela. "Tahu tuh, cewek kok kayak tarzan. Gak bisa anggunan dikit apa." Vila menepuk pelan bahu Erela. "Mau gue bantu gak?" Erela mengangguk. Ia memberikan spatula ke pada Vila. "Lo jagain nih daging ya, jangan sampai gosong." "Aelah, ini mah kecil" balas Vila sombong.  Virka memutar bola matanya malas. "Bocah sombong!" "Bising lo, onta!" balas Vila tak mau kalah. Erela menepuk bahu cowok itu pelan. "Gue ke sana dulu ya, mau bumbuin ayam. Jangan lupa di balik-balikin dagingnya." "Paham, cantik," ujar Vila genit, ia mengelus pelan pipi Erela yang panas karena lama di dekat pemanggan. Cewek itu menepis pelan tangan Vila lalu berjalan ke arah Bulan yang tengah membumbui ayam. "Eh, Rela lo mau jadi pacar gue gak?" ujar Vila sedkit berteriak. Ia sampai membalikkan badanya guna melihat wajah bening cewek itu. "Playboy!" desis Virka. "Beberapa hari lalu lo kan sama Elina. Jangan ganggu sahabat gue. Lagian kalau di pikir-pikir lo sama Elina cocok kok. Playboy sama Playgirl, duh klop amat dah." Cewek kaya itu terkikik mengejek. "Sibuk aja lo. Dasar mak lampir!" desis Vila tak terima. Ia berjalan menghmpiri Erela. "Gue serius lo, Er," katanya seraya mengelus puncak kepala Erela. "Lo udah bening, pinter, baik lagi. Perfect banget deh." Erela berkacak pinggang. "Nah itu lo tahu gue perfect. So, pantas gak cewek perfect kayak gue bersanding sama fakboi kayak lo?" Vila cemberut. Hatinya menciut. Erela Rainbow mengehela nafasnya pelan. Ia sadar kata-katanya mungkin terlalu tajam. Tanpa izin ia  merebut spatula di tangan Vila. "Intinya lo selesain dulu urusan lo sama Elina. Gue gak mau jadi PHO, ya." "Lagian bener kata Virka, lo sama Elina itu cocok banget. Itu cewek kayaknya juga udah kepincut sama lo. So, jalanin aja sama dia." Setelahnya Vila tak lagi membahas. Dia malah sibuk membantu, Jonah mengipasi daging-daging yang di panggang. Sudah lumrah jika cewek baik menolaknya. Pasalnya nama Vila sudah tercoreng dengan tingkah playboy-nya. Kadang Vila ingin berhenti dan mencari pelabuhan terakhirnya, tapi kalau di pilih-pilih dia belum menemukan pelabuhan. Yang ada hanya sekedar pacar tanpa ketulusan. "Bulan Acalista, suami lo datang nih!" teriak Bumi keluar dari dalam mobilnya. Jack cengo di buatnya. "Suami?" "Otak lo rabun, Bum? Bulan dengan Rose itu cantikan Rose. Masa lo lebih milih jadi suaminya Bulan sih?" kata Pasha sewot. Bumi tak peduli, atensinya lebih tertuju pada cewek di depan pemanggang yang malam ini cantik dengan setelan kaos rainbow dan celana jeans serta rambut yang di ikat asal. Tak secantik Rose tapi efeknya membuat hati Bumi tanpa sadar bergumam, cantik. "Ngapain lo deket-deket bini gue," sewot Bumi mendorong Vila hingga hampir terjungkang. "Cih, siapa yang mau deket-deket bini lo? Gue lagi kerja, bangke," balas Vila tak terima. "Ya ampun, Vil. Ikan di laut masih banyak, cewek di dunia masih bertumpuk. Masa bini temen sendiri lo embat sih," cibir Jack mengompori. "Kurang belaian bener deh." "Nah, berhubung gue lagi kurang belaian. Kita ke club aja yuk," balas Vila berbinar. Pletak Bumi menjitak kepala manusia playboy itu. "Pokoknya sampai acara ini siap, gak ada yang boleh pulang." "Dih, jahat!" Kata Vila lalu menghampiri Erela. "Ini apaan?" tanya Virka heboh. Tanpa jawaban dia membuka kresek yang di bawakan Bumi tadi. "Uwaa, skincare. Buat gue? Aaaaaa, makasih Bumi. Peka banget sih lo," cerocosnya yang membuat Pasha tanpa segan memukul kepalnya. "Sembarangan! Ini buat bininya, bego." Virka cemberut. "Kirain buat gue. Ini kan yang lagi trending topik itu, Lan." Bulan menoleh pada kresek tersebut, lalu menatap Bumi   dengan dahi mengerenyit. "Buat gue?" "Iya dong, gue kan sayang istri," balasnya seraya menghampiri Bulan. Virka yang tak ingin mengganggu menyisihkan diri  bersama Jack dan Pasha. "Gue jadi curiga?" "Curiga? Kenapa pula?" tanya Bumi seraya mengambil kipas dan mulai mengipasi daging yang di bolak-balikan oleh Bulan. "Lo abis maling kan? Ngaku lo? Darimana lo dapat uang sebanyak itu heh?" tuduh Bulan. "Astagfirullah," Bumi memegang dadanya lebay. "Buruk sekali pikiranmu, dinda." "Nama gue Bulan, kalau lo lupa." Bumi mencubit pipi chubby Bulan pelan. "Cuma perumpamaan, sayang." "Sakit!" Bumi terkekeh, menjulurkan lidahnya. "Siapa suruh durhaka sama suami." "Gue bukan istri lo, Parman!" "Tapi bakalan jadi istri gue." Bulan melirik kepada cowok tampan itu. Manik yang berbeda nerta itu saling menyapa, membuat hati mereka terbuka dan penuh bunga. "Kenapa?" Bumi mengedikan bahunya acuh. Kembali mengipasi daging di atas panggangan. "Lo kan udah ada Rose," kata Bulan lagi. "Udah pindah haluan kah? Kenapa? Gak kuat iman lo lihat gue tiap hari heh?" "Dih, pede!" cibir Bumi. Bulan kembali fokus pada panggangannya. Mata Bumi melirik padanya, lama dan lekat. Dalam hati dia bertanya-tanya. Gadis itu membuatnya nyaman tapi mengapa dia masih berharap Rose? "Lan," "Hmmm" "Istri dua dosa gak sih?" "Kenapa mau dua? Gak bisa bahagia dengan satu kah?" tanya Bulan menatap cowok itu lagi. "Btw, kok pertanyaan lo aneh sih?" Bumi terkekeh. "Tiba-tiba kepikiran aja." "Dasar aneh!" "Lo juga aneh." "Tapi cantik." "Gue juga ganteng." "Pede! Gantengan juga Jonah. Udah ganteng, pendiam, romantis lagi. Lo tahu gak, tadi dia bawain gue bunga. Jujur, ini pertama kali gue dapat bunga dari cowok," cuthat Bulan. Bumi melirik keriuhan yang tak jauh dari mereka. Jonah di sana, memanggang dengan khusyuk. Jika yang lain sibuk berbicara, dia hanya diam. Dunia baginya hanya milik dia seorang. "Kalau di lihat lama-lama, ganteng juga kan?" "Cih, kata siapa? Gantengan gue lah," balas Bumi tak terima. "Lagian baru juga bunga, besok gue bawain kebunnya, mau?" "Emang bisa?" "Bisa lah. Lagain apa sih yang gak buat lo." "Gombal!" cibir Bulan lalu memindahkankan daging yang sudah matang ke dalam piring. "Lo masih balapan kah?" "Masih, kenapa?" "Nanya aja." "Bilang aja perhatian," goda Bumi menoel pipi Bulan. Cewek itu menepisnya kesal. "Udah masak nih, Jo. Mau coba gak?" Jonah yang khusyuk lantas menghampirinya. Bumi cengo sendiri. "Gue  disini loh," gummanya melihat cowok datar itu kini berdiri di hadapan Bulan. "Suapin! Tangan gue kotor kena arang tadi," kata Jonah yang membuat Bumi memutar bola matanya malas. "Dasar modus!" "Aaaaa," kata Bulan seraya menyodorkan potongan daging ke mulut Jonah. Cowok itu lantas melahapnya, diikuti dengan Bulan. "Enak?" gumam Bulan di sela-sela kunyahanya. Jonah tersenyum."Iya, enak banget. Pandai ya lo buat bumbunya." "So pasti," balas Bulan pongkah. Jonah terkekeh. "Lagi?" Bulan kembali menyuapkan lagi. Jack mengompori Pasha dan Vila, hingga detik berikutnya mereka bernyanyi yang tak lain untuk mengejek Bumi yang kesal setengah mati. Sakitnya tuh di sini Di dalam hatiku Sakitnya tuh di sini Di dalam hatiku Bumi mencebik kesal. Membanting kipasnya asal. "Lo gak mau, bro?" tanya Jonah menoleh. "Gak," balas Bumi kesal. Jonah mengedikan bahunya acuh. Kembali mengambil satu potong di piring Bulan  dan melahapnya lagi. "Jo, mau gosong nih!" teriak Virka heboh. "Suruh Vila angkat," balas Jonah masih mengunyah. "Gue gak pandai," teriak Vila cepat, tak mau di suruh. "Tinggal angkat apa susahnya sih," kata Bulan sewot. "Takut, tangan gue bisa tetanus nanti," kata Vilan sembarang. Jonah berdecih kesal."Gue ke sana dulu deh, Lan," katanya lalu kabur. Bulan kembali bekerja, menaikkan daging baru ke atas pemanggang. "Cepat kipas!" titahnya pada Bumi. Cowok itu diam, mukanya ditekuk kayak matras mau masuk gudang. "Cepetan Bumi!" geram Bulan  tak sabar. "Buat apa capek-capek usah kalau ujung-ujungnya orang lain juga yang nikmati," Sindir Bumi masih kesal. "Apaan sih." Bulan merebut kipas di tangan Bumi. Lalu mengipasi dagingnya sendiri. "Tanpa tangan orang, gue juga masih bisa usaha. Toh gue juga ada tangan," balas Bulan tak mau kalah. "Lagian sama teman sendiri kok gak ada toleransi." "Siapa?" "Ya lo lah, sama Jonah aja kok gitu. Dia kan kawan lo." "Kalau soal ini kan lain. Lo kan bini gue, harusnya dia tahu." Bulan mendelik. "Gak waras lo, Parman!" "Waras kok, nih pegang." Bumi menarik tangan Bulan, meletakkan ke dadanya. "Masih detak kan?" "Berdetak tapi gak berotak,"  cibir Bulan menarik tanganya kembali. Tak ambil pusing. Bumi malah mencium pipi Bulan singkat. Jack dan Pasha histeris, sedari tadi mereka menonton setia. Siapa sangka ternyata ada adegan hotnya. "Istigfar, Bumi!!" teriak Pasha. "Gue tahu lo di tolak Rose. Tapi tolong ya tolong, jangan sosor anak orang juga kali. Di depan mata gue lagi." Jonah menatap lurus ke depanya. Ia melewatkan sesuatu. "Apaan?" "Noh, sahabat lo nyium Bulan. Gak sopan bener kan. Di depan gue lagi," adu Jack tak terima. "Biarin lah, bini gue," balas Bumi pongkah. Bulan diam, tak tahu haru berkata apa-apa. "Serius?" tanya Jonah dengan rahang mengeras. "Lo cium Bulan, Bum?" "Aelaah, mereka kan saudaraan. Biasa aja kali," kata Virka tak tahu kenyataanya. "Kalau iya kenapa?" tantang Bumi sewot. "Bini-bini gue, kenapa lo yang sibuk heh?" "Duh, kok pada drama gini sih jadinya," kata Vila geleng-geleng kepala. "Rel, kita ikutan yuk" "Apa?" "Kayak Bumi tadi" "Mau gue tabok hah?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD