Duabelas

1459 Words
Cowok itu nyari rumah bukan sekedar wanita. Cantik bagi kami pelampiasan, sedang nyaman itu tujuan.  Note: Khusus untuk cowok sejati "Ya Allah, ini banyak banget," kata Bulan setelah acara BBQ mereka selesai. Anak-anak yang lain duduk mengelilingi api unggun sembari bernyanyi, sedang dia dan Bumi mengambil rumput hijau sebagai permadani mereka . Menjauhi keramaian, Bulan membuka kantong kresek yang Bumi berikan tadi. Skincare yang banyak salaihim itu membuat kepalanya pusing. "Pakainya gimana lagi?" "Cih, kuno banget sih istri gue," balas Bumi mendekatkan diri. "Kan ada buku panduannya." "Mana ada, Bumi." "Sini deh gue cariin." Bumi dalam sekejap mengobrak-abrik isi  kresek tersebut. "Nih" katanya seraya melempar buku panduan kecil kepada Bulan. Cewek itu nyengir kuda. "Tadi gue cari gak ada." "Mata lo sih rabun." "Enak aja, mata gue masih bagus ya. Emang kayak mata lo, katarak." Bumi tak mengubris, dia malah menyandarkan diri ke bahu Bulan. "Issh, berat tahu!" geram cewek itu mendorong badan Bumi pergi. "Beratan juga badan lo,"  balas Bumi geram. Tak mengubris, Bulan malah menuangkan gel  hitam ke mangkuk. Ia mengambil kuas, lalu menoleh dan mendapati dua pasang mata indah tengah menatapnya intens. "Mau?" Bumi mengangguk saja. Ia memajukan wajahnya, membuat Bulan dengan mudah mengolesi wajahnya dengan gel tersebut. "Baunya gak enak," protes cowok itu. "Kayak badan lo!" "Gak usah banyak bacot." Bumi cemberut. "Lo mah sensian mulu, kayak lagi PMS aja." "Kalau iya kenapa?" "Ya gak kenapa-napa." "Oh." Geram-geram Bumi mencubit pipi cewek dihadapanya. Hasilnya sudah pasti adalah tatapan tajam dari Bulan. Bumi terkekeh. Setiap wajah Bulan jutek atau marah entah kenapa itu terasa indah dimatanya. Kalau cewek di luar sana cute-nya naik karena tersenyum, maka Bulan cute-nya naik saat dia jutek atau cemberut. Ya, itulah yang ada di pikiran Bumi. "Siap." Bulan bersorak riang menatap wajah cowok dihadapanya yang sudah di penuhi oleh gel hitam. Bumi merebut mangkuk di tanganya. "Biar gue yang pakaiin," katanya menawarkan diri. Bulan diam saja, membiarkan kuas di tangan Bumi menari lembut diwajahnya. "Bum, gue boleh nanya gak?" "Apa?" "Lo udah lama suka sama Rose ya?" "Udah. Kenapa? Lo cemburu?" "Cih, buat apa gue cemburu? Gak guna! Buang-buang waktu aja," tolak Bulan mentah-mentah.  "Tapi ya, gue rasa Rose juga suka sama lo." Pandangan mereka bertemu. Tangan Bumi berhenti di udara. "Dari mana lo tahu?" tanyanya kembali mengoles gel ke wajah Bulan. "Ada deh, lo gak perlu tahu." "Hmm, cuma ekspetasi lo aja kali." Suara datar Bumi  entah kenapa membuat Bumi sendiri bingung. Apa sudah pudar kah warna pink-nya untuk Rose? "Ih, gue serius Bum! Lebih baik lo tembak dia sebelum hati dia berubah." Bumi meletakkan mangkok dan kuas ditanganya ke atas rumput. Matanya yang indah menyusuri manik cewek dihadapanya. "Kenapa lo jadi pengen banget gue nembak dia?" Bulan menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. " Ya, biar lo gak nyesal aja nanti kalau Rose pindah haluan." Bumi terkekeh. "Care banget ya sama gue?" "Dasar kepedean!" cibir Bulan membuang muka. Bumi terkekeh, tanganya bergerak menoel-noel lengan Bulan. Cewek itu tak mengubris, dia sibuk menetralkan jantungnya yang dag dig dug lantaran manisnya wajah Bumi tadi. Apaan sih, batin Bulan geram. Kenapa kepalanya jadi memutar ulang kekehan mengejek Bumi tadi. Sial! "Bulan," panggilan penuh godaan itu membuat Bulan mau tak mau menahan senyumnya. "Bulan," panggil Bumi yang lantas membuat cewek itu membelakanginya. Bumi tak habis akal, dia mendekat, meletakkan kepalanya di ceruk leher cewek itu. Bulan yang risih lantas menepis kepala cowok itu. "Apaan sih?" "Cieee yang ngambek," ejek Bumi seraya terkekeh menyebalkan. Bulan tak peduli. Dia malah merapikan botol-botol skincare tadi. "Bulan?" "Hmm" "Bulan?" "Iya?" "Lan?" "Apaan sih?" balas Bulan semakin kesal. "Sayang?" Bulan menghadiahi si pemanggil dengan tatapan tajam. "Bisa diam gak sih ? Kita ini lagi maskeran? Kalau pecah-pecah, muka lo keriputan mau?" Bumi terkekeh jahil. "Uwuu, perhatiannya." Bulan membuang muka. Sepertinya dia salah memilah kata-kata. "Lan, sini!" Bumi menepuk-nepuk rumput di sebelahnya.  Cowok itu kini sedang dalam posisi berbaring. Bulan melirik tajam, tapi mengikuti juga permintaan cowok itu. Keduanya bebaring diatas permadani alam dengan pandangan ke langit malam yang disinari rembulan. "Bulanya cantik ya?" "Kayak gue." Bumi terkekeh. "Lo itu gak cantik," "Jelek maksud lo?" "Gak juga." Bumi tersenyum pada langit malam. "Iya, gue sadar diri yang cantik di kepala lo kan cuma Rose. Tahu gue," kata Bulan lalu menutup kedua matanya. Bumi menoleh, tersenyum jahil. "Kayaknya lo sensi banget ya sama dia?" "Gak tuh," balas Bulan ketus. "Jangan menyebar fitnah lo. Mau gue jitak hah?" "Kalau cemburu yang bilang aja kali," ledek Bumi semakin menjadi. Bulan menghela nafas berat. Berbicara dengan manusia seperti Bumi memang lah sangat susah. "Gue gak cemburu, Parman! Cuma kadang-kadang gue iri aja sama mereka yang cantik. Kenapa gue gak bisa kayak gitu?" "Iri itu sih biasa, Jaenab. Tapi menurut gue ya, Love yourself aja. Lo emang gak cantik, tapi lo juga gak jelek." "Halah, bulshit!" cibir Bulan seraya bergerak membelakangi Bumi. Bumi menatap punggung dibalut hoodie merah itu dengan senyum. "Kenapa lo gak percaya sama kata-kata gue?" "Tanya aja sama diri lo sendiri!" Bulan  berguling, menatap wajah cowok di hadapnya yang kebingungan. "Gue itu paling anti percaya sama cowok kalau lo perlu tahu. Omongan kalian itu bulshit. Lo bilang gue gak cantik dan gak jelek juga. Nyatanya kalau lo disuruh milih antara gue dan Rose. Gue jamin lo pasti milih dia yang cantik shinning shimering spledid kan? Mulut kalian itu manis, tapi faktanya hati kalian busuk." "Lo pengen gue pilih lo?" tanya Bumi yang membuat Bulan menghela nafas berat. Cowok b**o! Gak paham dengan kata-katanya. "Ya udah gampang." Alis Bulan saling bertaut bingung. "Jadi aja seperti yang gue mau." "Jadi cantik kayak dia juga? No, no. Sorry morry aja, gue gak suka menjadi orang lain untuk mendapatkan orang yang gue mau. Gua gak suka bermain dengan topeng. Sorry, boo." Bumi terkekeh, menopang kepalanya pada tanganya lalu memandang intens manik cewek dihadapanya. "Lo salah sangka, Lan. Maksud gue itu..." "Kalau lo mau gue pilih, gampang aja caranya. Jadi rumah tempat gue pulang. Buat gue nyaman dan aman terus sama lo. Mau rumah gue cantik atau jelek, kalau dia bisa bikin nyaman, gue pasti bakalan pulang kesana. Kalau lo perlu tahu, cowok itu nyari rumah bukan sekedar wanita. Cantik bagi kami pelampiasan, sedang nyaman itu tujuan." Bulan tidak pernah bilang dia suka Bumi. Tapi hatinya merasa lega. Ucapan cowok itu seakan secercah harapan. Harapan untuk apa, Bulan tidak tahu. Dia hanya bahagia. Bulan mengalihkan pandanganya ke langit yang indah. "Gue kasih nilai 9." "Apanya?" "Buat kata-kata lo" Bumi tersenyum. Tanganya mengelus surai cewek itu lembut. "Gue tahu lo lagi putus asa sama diri lo yang gak secantik orang lain, tapi yang lo perluin itu sebenarnya cuma percaya diri dan kerja keras. Dan info baiknya, gue bakalan di sini buat mendukung lo." Bulan bisa percaya itu. Skincare yang Bumi beli adalah bukti bahwa cowok itu mendukung dirinya berbuah menjadi lebih cantik. Terkadang Bulan pikir menjadi cantik itu tidak penting, tapi tuntutan zaman sepertinya memaksa ia berubah. Bulan menutup kedua matanya. Thanks for today ya Allah, batinya bersyukur. "Lan," "Hmm" Bumi menatap kelopak mata cewek itu yang tertutup. "Kalau lo jadi cantik, jangan lupain gue ya." Lengkungan senyum terbit di bibir Bulan. Dia mengangguk kecil membuat orang di sebelahnya bernafas lega. Ada banyak orang yang pergi saat mereka tinggi . Dan Bumi sangat membencinya jika terjadi. "Bum?" "Ya?" "Kayaknya kita bakalan keriput bareng-bareng deh." Bumi terkekeh mendengar kalimat Bulan. "Gak masalah, asal bareng sama lo aja terus." Hening, keduanya kembali meresapi angin malam dengan kelopak tertutup. Damai itulah yang mereka rasakan. "WOI!" Keduanya tersentak. Reflek mereka bangkit dari posisi baring menjadi duduk. Menatap sekeliling dan menemukan Vila sebagai pelakunya. "Sial!" desis Bumi. "Mojok aja berdua, kesambet setan mampus lo pada!" "Berisik!" cibir Bumi lalu bangkit, ia mengulurkan tangan pada Bulan untuk membantunya cewek itu berdiri. "Udah puas, bro?" tanya Pasha saat keduanya ikut bergabung. "Apaan sih," balas Bulan kesal. Virka yang masih percaya keduanya bersaudara hanya geleng-geleng kepala. "Puas dong," goda Jack menyenggol lengan Bumi. Cowok itu tak mengubris, dia malah mengambil softdrink dan meneguknya hingga tandas. "Kayaknya panas kali ya tadi?" ledek Vila. Bulan yang kelewat geram, melempar cowok itu dengan softdrink yang masih berisi. Hasilnya dahi Vila memerah. "Uwuu kejamnya kakak kita," kata Jack tergelak. "Dasar cewek bar-bar!" cibir Vila mengusap dahinya. "Anjir, sakit banget." "Lebay!" kata Bumi cibir. Pasha terkekeh. "Aduh, istrinya mah pasti dibela atuh." "Kok jadi heboh, jadi main gak nih?" kata Virka menginterupsi semuanya untuk diam. "Main apaan?" tanya Bulan tak mengerti. "Truth or Dare" kata Jonah mewakili yang lainya. "Mau ikut gak?" "Boleh." "Karena si bangke baru datang jadi dia yang bakalan mulai. " kata Vila memberitahu. Bumi mengangguk saja. "Truth or Dare?" "Truth." "Dih, cemen!" cibir Jack dengan mulut lemesnya. "Seseorang yang saat ini pengen lo peluk?" Bumi terkekeh jahil. "Vila." "Lah, kok gue bangke?" kata Vila tak terima. Bulan tergelak bersama ketiga cewek yang lain. "Ganti, pertanyaan deh." Vila memutar kepala lagi. "Cewek yang pernah lo cium?" Bumi terdiam sejenak. Ada rasa takut dibenci oleh Bulan di hatinya. Itu muncul begitu saja. Padahal sebelum ini Bumi tidak akan peduli dengan perasaan orang lain. "Hayo, jujur Bum." Jack adalah kompor yang bagus. "Udah berapa banyak heh?" Bulan menatap wajah cowok itu yang kelihatan tengah menimang-nimang. "Cepetan deh, Bum! Gitu aja masa susah," kata Virka tak sabar. "Kikan." Bulan mencoba biasa saja, tapi entah kenapa rahangnya malah mengetat dan matanya berubah tajam. Bumi menatapnya, Bulan tak bisa berekspresi. Dia hanya memasang tampang datar. Membuat hati Bumi cenat-cenut sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD