Peduli yang tiba-tiba ada jika dikali rasa bersalah karena hal kecil saja, sepertinya bisa jadi ada apa-apa, bukan?
"Jadi itu orangnya?" ujar cewek berambut pirang yang dikenali dengan nama Kiara. Cewek berkacamata di sebelahnya mengangguk.
"Iya itu dia," balasnya lalu membetulkan letak kacamatanya.
Bulan melirik tajam dua cewek yang sedang memperhatikannya bak buronan lepas tersebut. "Apa lo lihat-lihat?" sentak Bulan tak terima.
"Idihh najisin! B aja tuh penampilannya, tapi songongnya selangit," ujar Kiara tak terima. "La, gue gak mau tahu lo harus kasih pelajaran tuh cewek ganjen."
Cewek bernama Lala itu mengangguk. Ia berjalan menghampiri Bulan. Alis Bulan saling bertautan. Heran dan bingung melihat wajah sok marah cewek berambut sebahu di hadapannya.
"Lo jangan banyak gaya!" Lala mendorong bahu Bulan. Cewek hobby makan itu tentu saja tidak terima. Ia mendorong balik bahu Lala.
"Banyak gaya kepala lo peyang heh. Yang ada lo yang banyak gaya kali." Mata Bulan memicing melihat tampilan Lala. "Gaya nerd, sikap sok nyolot. Kelas berapa lo heh?"
"Gue kelas 12, kakak kelas lo," balas Lala songong. "Cabe murah kayak lo gak usah ganjen deketin Bumi ya?"
"Oh ya, kalau gue cabe lo apaan dong? Noh, lihat baju lo ketat kayak PSK. Itu kacamata buat apa? Gaya-gayaan atau penarik perhatiaan? Hahaha kasihan lo kurang perhatian yak," cecar Bulan tak tanggung-tanggung.
Lala menggeram marah. Ia mendorong bahu Bulan kencang. Bulan yang berbadan tegap tentu saja tidak mudah tumbang. Ia kembali mendorong bahu Lala.
"Lo cari masalah hah?" sentak Bulan yang membuat Lala terkejut. Ternyata cewek itu kalau marah menakutkan. Suaranya menggelegar sampai ke hati.
"Iya gue cari masalah. Lo bisa apa heh?" tantang Lala lalu berkacak pinggang. "Gue ingatin ya sama lo , jauhin Bumi!"
"Lo siapanya dia?" Bulan ikut berkacak pinggang. Ingin rasanya ia menjambak fake nerd di hadapannya itu.
"Gue adiknya Bumi. Mau apa lo?" balas Lala dengan pedenya. "Dan itu..," Dia menunjuk Kiara. "Itu ceweknya Bumi. Bentar lagi mereka mau tunangan. Jadi gak usah PHO lo! Lagian sampai kapanpun gue gak bakalan terima punya kakak ipar kayak lo."
Bulan tersenyum sinis. "Oh ya, lo adiknya Bumi. Coba ah gue tanya sama dia." Bulan mengeluarkan iPhone-nya. Ia sama sekali tak yakin cabe jenis nerd kayak Lala adiknya Bumi. Meski Bumi urakan tapi Bulan tahu cowok itu dari kalangan terhormat. Bukan rendahan seperti gadis di hadapannya.
"Halo, Eh Jaenab lo di mana? Kok belum ke kelas sih? Lo sakit ya? Atau jangan-jangan lo," Bumi malah langsung nyercos di sebrang sana.
"Gue mau nanya, Suparman," potong Bulan cepat.
"Mau nanya apa? Nanti aja deh di kelas." Bumi melirik dua kantung snack di mejanya. "Gue ada hadiah nih buat lo."
"Gue mau nanya, apa iya lo punya adek kelas 12 heh?" tanya Bulan mengacuhkan kalimat menggiurkan Bumi. Hadiah? Apaan? Bulan jadi penasaran.
"Adek? Kelas 12? Lah, gue aja baru kelas 11, Jaenab."
Bulan menepuk jidatnya. Lah iya, Bumi yang sekelas dengannya harusnya kelas 11. Dan Si Lala ngakunya kelas 12. Adek lebih tua dari abangnya itu gimana ceritanya dah?
"Fix, lo pembohong cabe!" desis Bulan kesal. "Bum, di sini ada yang ngaku jadi adek lo. Pakai kacamata, bajunya ketat, rok nya pendek. Lo kenal gak?"
Wajah Lala mendadak pucat pasi. Ia berkeringat dingin di buatnya.
Bumi memijat keningnya pelan. Ia mencoba menggali memorinya tentang cewek yang di deskripsikan oleh Bulan itu. "Lala?" ujar Bumi ragu.
Cewek fake nerd itu menghela nafas lega. Bumi masih mengingatnya.
"Heh, nama lo Lala bukan?" tanya Bulan dengan jutek. Lala mengangguk.
"Iya, itu nama gue."
Bulan memicingkan matanya, menatap tajam dan teliti penampilan Lala. Ia masih tak yakin jika Lala ternyata adik si Suparman alias Bumi. Rasanya paras mereka berlainan deh. Apa jangan-jangan dulu waktu bayi Bulan ke tukar sama Lala yak? Ngawur, pikir Bulan.
"Jadi dia beneran adik lo?"
"Jaenab, mending lo sekarang ke sini deh," ujar Bumi mulai khawatir. "Nanti gue ceritain semuanya."
"Ok." Bulan menutup panggilannya. "Ok, gue percaya lo adiknya Bumi. Dan yup, mata lo belum rabun kan? Belum dong, orang itu kacamata palsu . Nah, lo bisa lihat wajah gue kan?"
Bulan tersenyum devil. "Lo pasti paham dong siapa gue?"
Setelahnya Bulan melangkah pergi. Lala mematung di tempat. Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa Bulan memiliki wajah Bumi. Lala menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak ingin tertipu hanya dengan rupa. "Gak, gak mungkin dia adeknya Bumi. Gue yang adeknya Bumi!"
"Woi, Jaenab apa kabar lo?" sapa Bumi girang saat Bulan melangkahkan kakinya masuk ke kelas. Cewek itu kembali duduk di tempatnya semula, yakni di samping Jonah. Ya, setelah di pikir-pikir tidak ada gunanya Bulan ngambek lagi kan.
"Pagi, mak lampir," ujar Vila ikut menyapa. Cowok playboy yang sedang bermain game itu menyempatkan diri untuk melambaikan kedua tanganya. Bulan menghela nafas pelan.
"Gak usah cari masalah lo, Vil," balas Bulan masih dengan nada santai. Vila terkekeh.
"Napa lo, habis daya heh?" ledeknya melirik wajah muram Bulan. Cewek itu mengangguk.
"Iya, gue habis daya nih kayaknya. Gak sempat sarapan tadi pagi."
"Good!" Bumi mengelus lembut puncak kepala Bulan. "Sebagai abang yang baik, gue bawain lo banyak makanan."
Bulan melirik dua kantung kresek besar di meja Bumi. "Apaan tuh isinya?"
"Kulkas dua pintu. Buka lah!" ujar Bumi tersenyum tipis. Rasanya ia tak sabar ingin melihat Bulan tersenyum. "Ini semua buat lo."
Bulan terkikik. "Buat gue? Yang bener lo? Jangan-jangan isinya prank nih."
"Jangan su'uzan, Jaenab," timpal Pasha dari belakang. Bulan tak menggubris. Tanganya terulur membuka isi kantung kresek tersebut. Ia membelalakkan matanya. Terkejut dan senang bercampur satu. Bumi mengelus puncak kepalanya.
"Tulus dari gue buat mak lampir."
Bulan menahan senyum. Ia mengangkut kresek itu ke mejanya. "Nah gini dong jadi kawan," ujarnya lalu mengambil satu kantung snack dari dalam kresek. Ia menyobek ujungnya, lalu melahap isinya. Bumi meletakkan satu kantung lagi ke meja Bulan.
"Lah ini buat gue juga?" Bulan membuka isi kresek tersebut. Betapa terkejutnya ia melihat isinya, beragam jenis buah ada di dalamnya. Apel, pear, anggur, kelengkeng, lemon, jeruk bali, dan beberapa jenis lainya ada di dalam situ .
"Wah rezeki gue nih. Heran, tumben lo baik." Mata Bulan menyipit tajam melihat wajah ganteng Bumi.
Cowok itu mencebikkan bibirnya kesal. "Giliran gue baik, lo curiga. Mau lo apa sih sebenarnya , Jaenab?"
Bulan terkikik. "Hiya iya, gitu aja ngambek. Thanks ya." Bulan kembali melahap snakc-nya.
"Jadi?" Bumi menaikkan alisnya sebelah. "Lo udah gak ngambek nih?"
Bulan mengangguk tetap fokus pada makanannya. "Ya, gue berhenti ngambek deh."
"Good." Bumi mengecup pelan rambut Bulan. Cewek itu santai saja, namun Jack yang baru sampai di ambang pintu bersama Elina terkejut bukan main.
"OMG! Bumi m***m ya ampun," teriak Jack histeris lalu berjalan terhuyung-huyung ke arah mereka. Jangan tanya apa yang di lakukan Elina, cewek cantik itu berjalan duduk ke tempatnya dengan hati kesal. Bulan yang jutek itu ternyata dapat menarik perhatian cowok lebih darinya.
"Lo kenapa?" tanya Bumi khawatir. Vila yang siap menonjok saja sampai meringis. Wajah Jack lebam, sebagian kulitnya masih mengeluarkan darah. Ada apa dengan cowok itu?
"Kalah taruhan," balas Jack santai lalu duduk di bangkunya. "Huwaaaaaaaa, gue udah gak ganteng lagi," rengeknya menarik-narik ujung baju Vila. Cowok playboy itu bergidik jijik.
"Njir, muka lo serem banget sih."
"Kalah taruhan sama siapa?" tanya Pasha ikut nimbrung.
"Daniel," ujar Jack mengelus luka di lenganya.
"Daniel mana?" Bumi duduk di meja Jack.
Jack menghela nafas kesal. "Itu loh oom-oom songong kemarin."
"Ohooo." Vila manggut-manggut. "Gak nerima kekalahan kali tuh orang."
"Agaknya," balas Jack melirik Bulan yang sedang memakan snakc-nya. "Eh, Lan bagi satu dong. Laper gue."
Bulan melempar dua kantung snack kepada Jack. "Karena lo bonyok, gue kasih dua," gumamnya lalu kembali melahap camilannya.
Bumi mengelus puncak kepala gadis itu. "Kasih aja, besok gue ganti."
"Gak perlu," balas Bulan santai. "Nanti kalau dia sembuh palingan gue suruh ganti."
"Dasar perhitungan!" cibir Jack lalu membuka snakc-nya.
"Lo kenapa bisa kalah?" Vila menatap wajah putih bersih Jack yang kini penuh luka.
"Mobil gue kayak bangke," kesal Jack melahap snakc-nya. "Udah mau menang eh habis bensin."
Pletak
Bumi menjitak kepala cowok itu. "b**o! Makanya kalau mau tanding cek dulu!"
"Entah, karena hal sepele lo kalah? Ih, jijik gue," ujar Vila menambahi.
"Kalau kayak gini udah ketebak deh, pasti lo yang nyolot kan?" kata Pasha mengintimidasi wajah Jack.
Cowok berkulit putih mayat itu mengangguk. "Ya iyalah, masa gue ngaku kalah. Kalau bensin gue gak habis pasti gue pemenangnya kan?"
"g****k!" desis Jonah yang baru muncul. "Udah kalah, ngaku! Jangan nyolot. Gak gentle lo."
Jack mendengus. "Bukanya dibelain, eh lo malah pada nyudutin gue."
"Abisnya lo begonya berkali lipat sih," cibir Bumi. "Itu si Danuel gimana?"
"Marah lah," tebak Pasha. "Habis tuh dia nonjok si mayat, iya kan?"
Jack mengangguk. "Uang gue di ambil dia semua," adunya hampir merengek.
"Salah lo," ketus Bumi. "Sekarang lo bawa masalah apa buat kita?" tanya Bumi to the point. Tidak mungkin Danuel akan ikhlas melepas Jack setelah cowok itu menyolot kan? No, semua cowok di arena balapan liar tidak ada yang akan berpikiran seperti itu.
"Dia nantang kita balapan di arena Jaya," ujar Jack santai.
"Tanah berbukit yang gak di aspal itu?" tanya Bulan memastikan.
"Udah gak usah ikut campur lo, Jaenab. Ini urusan cowok," balas Bumi lembut.
"Itu arena yang kemaren nelan korban banyak kan?" tanya Vila ikut memastikan. Wajah Bulan mendadak suram. Dua maniknya menyuarakan kesedihan yang mendalam. Bumi menoel dagu cewek itu. "Lo kenapa?"
Bulan menghela nafas pelan. "Abang gue salah satu korbanya."
Semua cowok di situ mendadak serangan jantung. Balapan di arena Jaya hanya di khususkan buat para pembalap yang luar biasa. Jadi siapakah abang Bulan?
"Gak mungkin," balas Bumi. "Abang lo kan masih SMA, lo sendiri kemaren yang bilang."
"Bukan itu," balas Bulan lalu menelan snacknya. "Tapi abang gue yang lain."
"Siapa namanya?" tanya Jonah lembut.
"Baradielo," cicit Bulan lalu kembali menghadap ke mejanya. Air mata turun di sudut matanya. Ia menelungkupkan kepalanya. Menyembunyikan tangisnya dari cowok-cowok itu semua.
"Baradielo?" rahang Bumi mengeras. Mendadak wajahnya merah padam. Tangan Vila terkepal erat. Jonah yang hampir meluap menghela nafasnya.
"Baradielo itu masa lalu," ujar Jonah lalu beralih mengelus surai Bulan. "Shttt, jangan nangis, Lan. Dia udah tenang di sana."
Bumi meraup wajahnya kasar. Ia menepis tangan Jonah lalu beralih mengelus surai Bulan. "Jangan menangisi apa yang sudah pergi. Semua yang terjadi ada alasanya, Lan." Bumi mengecup surai cewek itu lembut.
"Udah, jangan nangis deh. Lo kan cewek kuat."
Bulan mengangguk. Ia mengangkat kepalanya lalu menyeka air mata di sudut bibirnya. "Dulu, Bang Ielo juga bilang kayak gitu sama gue," ujarnya sesenggukan. Bumi mengelus pelan surai Bulan. Ternyata Baradielo gak sebangsat yang gue pikir, batin Bumi.
"Lan, lo gak ke kantin nih?" tawar Virka saat bel istirahat berbunyi. Seisi kelas sudah hampir kosong di buatnya. Bulan yang sibuk mencatat pun menoleh pada si cantik Virka.
"Mau sih, tapi ini masih banyak." Bulan mengangkat buku paketnya.
"Ck! Itu kan bisa nanti, Lan," ujar Virka lalu menutup buku di hadapan Bulan. "Lo harus makan dulu."
"Betul tuh, Lan," sahut Elina lalu menghampiri. "Lagian percuma lo belajar keras gini, toh nanti hasilnya juga gak seberapa."
Virka membuang wajahnya malas. "Lo kira dia b**o kayak lo apa?"
"Enak aja lo bilang gue, b**o," geram Elina tak terima. Ia menghentakkan kakinya kesal.
"Ihh! Virka jahat, Lan," adunya yang hanya di balas oleh wajah datar Bulan.
"Woi Jaenab ke kantin lo! Isi perut dulu sono!" suruh Bumi yang fokus dengan ponsel di tanganya. Bulan melirik cowok itu. "Lo gak ke kantin?"
"Malas," balas Bumi santai. "Udah sana ke kantin lo!"
"Idih, kok maksa. Perasaan kaki juga kaki gue." Bulan mengemasi buku-buku di mejanya. "Jagain nih barang-barang gue, hilang gue tabok lo," ancamnya.
Bumi mendengus. "Iya, bawel. Udah sono isi perut lo, katanya belum sarapan."
"Ini kan mau pergi," geram Bulan lalu berdiri. "Lo mau nitip gak?"
"Baik bener." Bumi menatap wajah Bulan intens. Cewek itu berdecak sebal.
"Ck, kalau gak mau ya udah."
Bumi mengeluarkan uang lima puluh ribu dari sakunya. "Habisin nih, beli nasi. Jangan makan mie lo! Nanti gue jitak lo kalau ngelanggar." Bulan terkejut. Lah dia pikir Bumi mau nitip makanan.
"Gue punya duit kali." Bulan membalikkan badanya.
"Gue tulus." Bumi menjejalkan uang tadi ke tangan Bulan. "Makan yang kenyang biar turun tuh emosi lo, bawain gue sprite nanti ya?"
"Iya," ketus Bulan lalu melangkah pergi.
"Lan, lo makan di mang Udin aja ya. Si Pasha ada di sana," teriak Bumi saat Bulan hampir menghilang di daun pintu.
"Buat apa si Pasha?" Bulan berkacak pinggang. Ia melirik penampilanya di kaca pintu. Kali aja ada yang kurangkan.
"Buat jaga-jaga, say. Gue takut lo di makan monster." Bumi terkikik. Bulan memutar bola matanya malas.
"Mereng banget tuh cowok," cibir Bulan lalu berjalan seiringan dengan Erela, Virka dan Elina.
"Perhatian banget ya, abang lo," ujar Virka saat keduanya memasuki kantin.
"Perhatian pala lo peyang, ada mau nya tuh bocah," balas Bulan lalu duduk di pojok kantin. Virka dan Elina ikut duduk di sampingnya.
"Mau pesan apa?" tanya Jamie cewek berambut kriting. Bulan memutar kepalanya sekejap.
"Mie ayam deh."
"Gak boleh," sahut Virka. "Abang lo nyuruhnya makan nasi kan?"
"Males gue," balas Bulan lalu berdiri. "Gue pesan sendiri deh."
"Lah itu bocah ngambek," gumam Virka melirik Elina jijik. "Gue pesan sendiri juga deh," ujarnya lalu berdiri dan menghampiri salah satu stand kantin.
"Ayo, Jam" ajak Erela lalu ikut pergi. Elina yang tinggal sendiri menghela nafas kesal. Mau tak mau dia pun ikut berdiri. Kawan b*****t, batinya kesal.