Besarnya rasa bersalah yang disebabkan suatu objek sama dengan besarnya makna yang di berikan objek dan berbanding terbalik dengan omongan si subjek nantinya.
That's the formula!
Mobil Toyota 86 berwarna dark grey metalic itu berhenti di depan gerbang rumah besar. Bumi turun dari mobilnya.
"Permisi, om," sapanya ramah pada satpam penjaga rumah tersebut. "Ada Bulan gak di rumah?"
"Oh, neng Bulan nya udah pergi tadi, mas."
"Sama siapa?" Dahi Bumi berkerut. Ke mana perginya sih Jaenab? Katanya mau kerkel? Kok malah pergi sih.
"Sama dua cewek dan satu cowok" jawab satpam itu lalu menggeser gerbang yang berjeruji itu. "Kalau mau masuk ada neng Alice kok."
Bumi menggeleng. "Saya nyari Bulan, om. Ngomong-ngomong cowok yang pergi sama Bulan kayak gimana penampilannya?"
Satpam itu mengelus-elus dagunya. "Cowok itu penampilannya sama kayak manusia biasa sih, mas."
Gue juga tahu orang tua, batin Bumi.
"Tapi, kulitnya itu loh mas. Putihnya, gimana ya ngomongnya?" Satpam itu kebingungan mencari kalimat yang pas.
"Ngomong aja pakai bahas inggris, om" balas Bumi asal. "Jadi gimana kulitnya?"
"White like diamond. Eh, enggak deh mas lebih kayak mayat, " ujar satpam itu sedikit berbisik di kata 'mayat'.
Bumi paham sekarang. "Jadi si k*****t udah curi start ya"
"Eh, ok deh om saya go dulu. Makasih ya,"
Satpam itu mengangguk. "Sama-sama, mas."
Bumi kembali masuk ke dalam mobilnya. "Sialan, si Jack udah pergi sama Bulan. Aduh," Bumi menabok kepalanya sendiri.
"Kenapa?" tanya Vila penasaran.
"Gue lupa nanya kemana perginya mereka," balas Bumi lemah. "Kalau nanya sama si Jack gue gak yakin dia jujur."
"Coba aja," saran Pasha lalu membuka ponselnya sendiri.
"Gue gak yakin," kata Vila. "Itu anak kan paling seneng lihat gue sengsara. Udah deh, kita ke clubbing aja ya"
Pletak
"Sekali lagi lo ngomong clubbing gue hajar nih," ancam Bumi gusar. Vila terkekeh.
"Hehehehe, galak bener sih lo Bum."
"Woi mereka ke Cafe Shimmery Girl," ujar Pasha memberitahu.
"Cafe di sebelah Gardania itu?" tanya Bumi memastikan. "Gue gak yakin deh. Coba lo tanya Vil."
"Heh nyusahin bener dah si Jack." Vila pun mengetikkan pesan kepada Jack. Cowok di sebrang sana pun langsung membalas. "Di cafe Coffee La katanya."
"Wah gak bener nih bocah," ujar Pasha geram. "Coba lo tanya Bum, ancam aja biar dia gak bohong."
Bumi pun mencoba mengancam anak itu. Dan dalam sekejap Jack langsung membalas. "Di cafe Uno, oh cafe baru itu."
"Yakin juga sih mereka ke sana, itu cafe kan lagi populer," kata Vila menambahi.
"Yok lah cus," ajak Pasha . Bumi mengangguk lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Dua jam menanti, kepala Bumi dan kawan-kawan mulai panas. Bergelas-gelas ice sudah tandas di buat ketiganya.
"Ck, si Bulan ke mana sih," geram Vila kesal. "Katanya jam delapan datang, ini udah hampir jam sepuluh kali."
"Apa mereka belanja ya?" tanya Pasha santai. Baginya menunggu bukanlah masalah. "Lo tahu sendirikan cewek itu gak bisa di pisahkan sama kegiatan shopping."
"Gue coba telpon deh," ujar Bumi mengeluarkan ponselnya.
"Heh bangke, lo kemana? Ini kerkel udah siap baru nelpon. Gak guna, b**o!" suara jutek di sebrang sana membuat Vila kesal bukan main. Ia mengambil alih iphone di tangan Bumi.
"Gak usah marah-marah lo, kutu! Kita dari jam delapan udah nunggu di cafe Uno tahu."
Dahi Bulan mengerenyit bingung. Ia menelan kentang gorengnya pelan. "Cafe Uno? Kita ngumpul di cafe Gardania, t***l! Dari mana lo dapat tuh info."
"What the f**k?" Vila menggream kesal. "Bukanya lo suruh Jack kita ke cafe Uno ya?" tanya Pasha memastikan.
"Enggak, kok. Gue suruh Jack telpon kalian biar ngumpul di Gardania, bukan Uno," ujar Bulan yang semakin memperjelas emosi ketiganya.
"Bangke!" desis Bumi merebut ponselnya dari tangan Pasha. "Lan, sekarang lo ada di mana?"
"Masih di Gaardania, lo mau datang gak? Gue mau minta tanda tangan lo nih."
"Kita otw." Bumi berdiri diikuti oleh kedua temannya. "Tolong lo tahan si kulit mayat ya."
"Apa untungnya buat gue?" ketus Bulan yang membuat Bumi kembali sadar, cewek itu masih marah padanya.
"Gue turutin apapun yang lo mau," kata Bumi enteng.
Bulan menyunggingkan senyum tipisnya. "Ok"
"Cus kita hajar si mayat itu," ajak Vila berapi-api. "Gue udah gak sabar buat matahin tulang tuh bocah."
"Gue juga," balas Bumi lalu beranjak pergi. Tidak lupa mereka membayar bill makanan terlebih dahulu.
"Siapa?" tanya Erela memperhatikan wajah datar Bulan.
"Bumi," balas Bulan lalu menyesap ice chocolate strawberry nya. "Mereka ke cafe Uno."
"Lah kok kesitu," ujar Virka terkejut. "Mereka sebenarnya niat kerkel apa enggak sih?"
"Entah, ngeribetin aja," tambah Erela. Bulan mengedikan bahunya acuh.
"Mana gue tahu, tapi kayaknya mereka niat deh. Cuma si Jack ngerjain mereka," tutur Bulan yang tanpa sengaja membela seorang Bumi Aldiatama Azelix.
"Ah, cieeee Bumi di belaiin nih," goda Virka menoel tangan Bulan. Cewek itu hanya diam, tak menganggapi.
"Ya iya lah di belaiin, orang Bumi kan abang dia," sahut Erela yang tanpa sengaja membuat Bulan tersedak minumannya.
"Apa lo bilang?" tanya Bulan memastikan.
"Bumi abang lo. Iya kan?" balas Erela menyugar rambut panjangnya.
Bulan bertopang dagu. "Emang kita berdua kelihatan adek beradik, ya?"
Virka mengangguk. "Kelihatan banget, Lan. Wajah lo berdua mirip semirip-miripnya. Makanya para cabe heboh waktu first lo datang ke sekolah. Mereka gak nyangka banget tahu kalau mostwanted punya adik."
"Gue juga gak nyangka," sahut Erela. "Bayangkan aja, wajah lo itu beneran duplikatnya si Bumi tahu. Yang kita tahu dari SMP Bumi itu anak tunggal, Lan."
"Eh iya, kalau Bumi itu abang lo. Kok tadi pas lo berangkat dia gak ikut aja sekalian heh?" tanya Virka yang di balas anggukan oleh Erela.
"Lo berdua gak tinggal serumah, ya?"
"Tanya aja sendiri sama Bumi," ketus Bulan lalu melahap kembali kentang gorengnya.
"Gak mau lah, si Bumi itu mulutnya pedas," kata Virka memberitahu. "Dari SMP gue udah sering ngelihat dia nangisin cewek pakai mulut pedasnya. Ih, gue gak mau deh."
"Ya udah, gak usah kepo," balas Bulan enteng. Erela terkekeh.
"Denger tuh Vi, gak usah kepo."
Virka memutar bola matanya malas. "Tadi lo juga kepo, Rela."
Erela terkikik. "Tapi gak sekepo lo"
Virka cemberut. "Ishh, lo mah suka nyudutin gue."
"Kita di tengah ruangan kali, Vir." ketus Bulan. "Eh, si Jack ko gak balik-balik nih."
"Ketiduran di toilet kali," ujar Erela terkikik.
"Gue rasa dia kabur," gumam Bulan mencomot kentang gorengnya. "Apa jangan-jangan beneran dia ngerjain si Bumi ya?"
Virka mengedikan bahunya acuh. "Maybe."
"Yang gue denger si Jack kan tukang bohong," lanjutnya lalu mengedarkan pandangan ke setiap sisi ruangan. Aman, pikirnya melihat pengunjung yang sibuk dengan urusan masing-masing. Ya kali mereka mau ngurusin hidup Virka kan. "Eh, guys selfie yuk," ajaknya sembari mengerahkan kamera iphone pada Bulan dan juga Erela. Dua cewek itu hanya memasang wajah datar, sementara Virka sudah bergaya kawai.
"Ahh, gue paling cantik ya," girangnya memandang hasil jepretan. "Captionnya apa ya?" Virka berpikir-pikir dahulu. Erela menggelengkan kepalanya.
"Dia dari dulu emang udah aneh kayak gini," kata Erela memberitahu. Bulan terkekeh.
"Bodo, gue gak peduli Er," balasnya acuh. Erela mengerucutkan bibirnya.
"Mana bocah bangke itu hah?" sergah Vila tiba-tiba sudah di depan meja ketiganya.
Bulan mengedikan bahunya acuh. "Mana gue tahu."
"Kan tadi gue suruh lo jaga b***k itu," ujar Bumi kesal. Padahal dia sudah berangan-angan untuk langsung menghajar si Jack. Dan sekarang kesalnya menjadi dua kali lipat. Bocah penipu itu cukup cerdas melarikan diri rupanya.
"Loh kok jadi marah sama gue?" geram Bulan tak terima. "Itu kan bukan urusan gue."
"Udah lambat, kesal gak jelas lagi. Gue tahu lo kesal sama Jack, tapi emang harus gitu pelampiasannya ke gue hah?" cecar Bulan menatap sinis wajah Bumi yang kelelahan.
Cowok ganteng itu menghela nafas pelan. Benar kata Bulan, dia gak seharusnya melampiaskan marah pada orang yang salah. "Sorry," cicit Bumi yang sama sekali tak berpengaruh untuk Bulan.
"Udah, gak usah bacot. Tanda tangan di sini!" Bulan menyodorkan kertas kliping tugas ke hadapan Bumi. Cowok itu lantas membubuhkan tanda tanganya di atas kertas, begitupun dengan Pasha dan juga Vila. Dan sekarang resmi sudah lah tugas mereka.
"Eh, tapi kita kan gak ikut ngebantu," ujar Pasha tak enak hati.
"Aelah, biarin aja lah Pash. Rezeki gak boleh di tolak," balas Vila santai. "Lagian Bulan kan baik."
"Baik kepala otak lo!" geram Bulan mengambil kembali klipingnya. "Gue melakukan ini demi nilai gue, bukan buat bantuin bocah kayak lo."
"Jaga mulut lo," balas Vila memperingati. "Gue lebih tua dari lo tahu."
"So?" Bulan menampilkan wajah songong dan nyolotnya. "Bangga gitu lo bakalan mati lebih dulu heh?? Udah balik lo pada." Bulan berdiri diiikuti oleh Erela dan juga Virka pastinya.
"Bye," ujar Bulan lalu melangkahkan kakinya. Namun langsung di cegat oleh tangan Bumi.
"Jalan yuk, Lan," ajaknya sembari mulai berangan membawa Bulan ke funfair lalu meminta maaf buat ketiga kalinya. Bumi masih jelas ingat dosa yang di perbuatnya.
"Jalan? Otak lo masih waras gak? Ini udah hampir jam sepuluh, b**o," balas Bulan sensi. "Mending sekarang lo balik, terus bobo cantik. Sekalian itu otak di charge dulu ya. Bye!" Setelah kalimat pedasnya Bulan melangkah keluar cafe.
"Anjir, mulut itu cewek pengen gue jahit dah," gumam Vila memanasi. Sayangnya Bumi tidak termakan oleh ucapan pria itu.
"Udah balik yuk," ajak Bumi dengan wajah kesal. "Gak mood lagi gue hidup," katanya dengan lemas.
Ternyata cowok ganteng itu menjadi down. Bukan karena tidak bisa menghajar Jack tapi karena satu cewek yang telah mengacak-acak isi kepalanya. Siapa lagi kalau bukan Bulan ya kan?
"Eh, mampir funfair yuk," ajak Pasha membuat binar di wajah Vila. "Banyak barang-barang murah tahu."
"Ayok, lah Bum. Sekalian kita cuci mata," bujuk Vila merangkul bahu Bumi. Cowok ganteng itu hanya diam. Ia menimbang-nimbang di kepalanya apa saja manfaat yang di dapatnya dengan pergi ke funfair.
"Males lah," balas Bumi menepis rangkulan Vila. "Gue mau ke supermarket aja deh. Beliin si Bulan makanan biar dia gak ngambek lagi sama gue besok,"
"Baik bener sih jadi cowok," kata Vila mencibir. "Cewek lo juga bukan kan?"
"Gue lagi gak mood ngomong, Vil. Please jangan pancing emosi gue," nasehat Bumi lalu masuk ke dalam mobil sportnya. "Lo yang bawa deh, Pash."
"Ok" balas Pasha santai lalu mengambil alih kemudi.
Bumi menyandarkan kepalanya di kursi mobil. Matanya tertutup sempurna dengan pikiran yang berkeliran ke angkasa. Kemana Bumi yang ceria itu?
"Bro, udah sampai," ujar Pasha membuka pintu. Bumi membuka matanya lalu keluar dari mobilnya. Ketiga cowok ganteng dengan sifat berlainan itu berjalan memasuki sebuah supermarket besar. Vila mendorong sebuah troli. Tangan Bumi terulur mengambil berbagai macam snack yang berlainan merk.
"Itu cewek makanya udah kayak kuli," kekeh Pasha di tengah kegiatannya. Bumi tersenyum tipis. Pemikiranya berputar mengingat berapa porsi yang dilahap oleh Bulan dalam satu waktu. Cukup banyak bagi ukuran cewek sih.
"Gak takut gendut apa tuh cewek?" cibir Vila memasukkan biskuit ke dalam troli. "Tapi emang udah gendut deng."
Yang berbelanja memang hanya Bumi. Tapi yang memilih itu ketiganya. Jangan tanya siapa yang bayar, itu juga Bumi.
"Gak lah," balas Bumi memasukkan snack ke dalam troli. Vila mendongnya lagi ke depan, mereka sampai di stand buah segar. "Si Jaenab kan ajaib."
"Dua jempol buat lo," sahut Pasha. "Mulai dari kemiripan wajah hingga sifat, Bulan emang ajaib."
"Lo beneran gak ada hubungan darah dengan itu bocah heh?" tanya Vila menarik sebungkus apel ke dalam troli. Bumi menggeleng, tanganya terulur mengambil dua bungkus anggur.
"Gue sama sekali gak kenal dengan itu bocah."
"Coba lo ingat lagi," suruh Vila. "Kali aja otak lo kepentok pintu kan, terus amnesia deh."
Bumi mengambil sebungkus pear. "Entah lah, seingat gue itu anak emang gak pernah nyangkut di hidup gue. Kecuali sekarang sih. Tapi, coba deh nanti gue tanya momy lagi."
"Ide bagus," puji Pasha memasukkan semangka ke dalam troli.
"Anjir, ini mah stok kulkas bro," Vila terkekeh. Ia memasukkan nanas ke dalam troli. Itu buah favoritnya.
"Gak apa-apa bandar kan ada." Pasha tergelak. "Eh, Bum ke atas yuk kita lihat boneka lucu."
"Boleh," sahut Bumi kalem. "Entar gue ambil yang monyet buat lo."
Vila menonjok pelan bahu Pasha. "Cocok banget buat lo, bro"
"Enak aja," balas Pasha tak terima. "Itu mah cocoknya buat lo."
"Udah gak usah bising!" geram Bumi lalu berjalan ke eskalator. Vila dan Pasha mengejar cowok itu segera.
"Mau cari boneka apa, mas?" tanya penjaga boneka ramah. Mbak cantik itu langsung kehabisan nafas melihat wajah ganteng Bumi. Senyumnya mengembang tiada henti. Vila yang menyakisikanya terkikik. Segitu besarnya pesona Bumi di mata cewek ya?
"Mbak, boneka yang pas buat cewek yang mana ya?" tanya Pasha ramah. Mbak itu mengangkat boneka panda yang comel.
"Ini aja, mas. Biasanya cewek kalau di kasih yang imut-imut pasti senang."
"Tapi Bulan gak kayak gitu" potong Bumi melirik boneka-boneka yang berjajar di rak. Tanganya terulur mengambil boneka jaguar. "Nah ini cocok buat dia." Bumi terkikik.
"Yang ini aja," ujar Vila merekomendasikan boneka buaya berwarna hijau. "Lucu," gelaknya.
Pasha mengambil boneka monyet. "Yang ini cocok buat lo, Bum."
Bumi mendengus. "Enak aja. Itu mah cocoknya buat lo."
"Ihh, amit-amit. Ini mah cocoknya buat si Vila," balas Pasha tak terima.
"Jadi mau yang mana, mas?" tanya mbak penjaga kegenitan. Bumi melirik-lirik boneka lainya, lalu tanganya terulur mengambil boneka besar di rak paling atas. "Ok, ini aja deh mbak."
"Bum, beliin gue yang ini" rengek Vila mengangkat boneka berbentuk beruang. "Enak buat di peluk tahu."
"No!" tegas Bumi. "Gak ada boneka buat lo."
"Entah kayak cewek lo!" desis Pasha mengejek. Vila cemberut. "Satu aja, Bum. Gue pengen punya bantal yang empuk kali."
Nyut. Relung hati Bumi menciut. Dia mengangguk. "Ok, ini yang pertama dan terakhir gue beliin lo boneka."
"Ashiap," balas Vila girang. Cowok playboy itu memeluk teddy bear besarnya kesenangan. Bumi mengucap syukur dalam hati. Meski ia jauh dari kedua orang tuanya tapi setidaknya kehidupanya terjamin. Ia memiliki uang untuk mencukupi kehidupanya. Dan hal itu berbanding terbalik dengan si Vila.