Harusnya setelah bilang maaf sudah cukup, tapi kenapa seolah ada apa-apa didalam sana dan gue masih gak tahu kenapa dan bagimana bisa adanya hal itu pula.
Cinta? Lo terlalu naif, human!
Bumi .A.A.
"Jadi gimana?" Bumi menatap ketiganya bergantian. "Pergi gak nih?"
Vila bersidekap d**a. "Gue sih ikut aja. Lagian malam ini kayaknya gue pengen ke klub deh."
Pasha menendang pelan kaki playboy itu. "Klub lagi otak lo. Ini soal berhadapan sama Bu Rumi tahu. Lo mau tinggal kelas lagi heh?"
Satu fakta terlupakan. Bumi dan ketiga kawannya ( kecuali Eggy) sudah pernah tinggal kelas tahun lalu. Jadi sebenarnya Bumi adalah anak kelas 11. Seandainya dulu naik sih.
"Gue gak mau tinggal lagi," ujar Bumi cepat. "Malu b**o, sama adek kelas."
Vila mengedikan bahunya acuh. "Gue ikut lo berdua aja." Dia selalu acuh soal sekolah. Tinggal atau naik sama saja di matanya.
"Pergi aja deh," kata Pasha memutuskan. Cowok itu berdiri seraya memungut Jaketnya dari sofa.
Bumi mengangguk. "Ayo deh, gue masih harus minta maaf sama itu bocah lagi."
Dia ikut berdiri, lalu merapikan rambutnya sedikit. "Mampir ke KFC dulu deh. Maaf gue mungkin ditolak, tapi kalau makanan gue yakin dia gak mungkin nolak." Bumi meraih kunci mobilnya dari meja.
"Ayo," ajaknya lalu memimpin jalan keluar dari rumah bernuansa Eropa itu. Vila menyeret kakinya malas.
"Kenapa harus ada kerja kelompok sih," katanya tak suka. "Baru juga masuk, ini kerjaan udah numpuk aja. Kasih tahu itu emak lo, Bum. Kalau ngasih tugas jangan banyak-banyak deh. Ganggu aktifitas gue aja."
"Jangan nyerocos kayak cewek lo, Vil" balas Pasha membuka pintu mobil. Vila mengambil tempat duduk di kursi depan bersama dengan Bumi selaku pengemudinya.
"Abisnya gondok gue, tiap hari kalau belajar dengan dia kerkel mulu. Apa dia pikir dengan kerkel gue bakalan naik heh? Gak juga kan," kata Vila masih juga nyerocos.
"Udah bawa santai aja sih," balas Pasha tak ingin ambil pusing.
"Eh, gue mau curhat nih," ujar Vila menoleh pada Pasha. "Kemaren waktu MOS gue udah nandain gebetan gue tahu."
Bumi memutar bola matanya malas. "Berapa banyak yang jadi sasaran lo?" tanyanya malas.
"Banyak, delapan atau sebelas gitu deh," balas Vila santai.
"Mau di jadiin pacar itu semuanya?" tanya Bumi malas. "Insaf b**o, hari ini lo menduain cewek. Besok-besok lo yang di duain baru tahu rasa."
"Bodo," balas Vila acuh. "Gue udah biasa di selingkuhin kali."
"Ya jangan balas dendam kali," kata Bumi lalu mengambil ponsel di saku jaketnya.
"Bukan balas dendam, Bumi sayang," balas Vila manis. "Gue hanya mengikuti hawa nafsu gue aja kali. Lumayan, hidup di dunia itu singkat. Kalau lo gak berbahagia dan senang-senang, nanti nyesal loh." Cowok itu tersenyum manis, tanpa rasa salah sedikit pun.
"Lagian baik atau jahat, kita tetap mati juga kok," lanjutnya lagi. "Utamakan kebahagian dulu, bro."
Pletak
Pasha menjitak kepala Vila kuat. "Paham mana yang lo ikutin sih, b**o?"
"Paham gue sendiri lah," balas Vila sambil mengelus kepalanya. "Ngapain juga gue ngikutin paham orang lain, toh kenal juga enggak."
Pasha menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sengklek nih kawan lo, Bum. Sumpah, gue takut loh nih anak di azab karena pacarnya yang udah segudang itu. "
"Biarin aja," balas Bumi acuh. "Suatu saat pasti ada titik terendah yang bakalan bikin dia sadar semua perbuatan b*****t dia itu."
"Perbuatan b*****t? Hahaha." Vila tergelak. "Gue cuma mencari kebahagiaan kok b*****t. Lagian ya bro, kalau gue udah dapat yang pas gue bakalan insaf kok."
"Kapan?" tanya Pasha.
Vila mengedikan bahunya acuh. "Mana gue tahu. Tuhan belum kasih kode kok."
"Terserah lo," balas Bumi acuh. "Gimana lo masih sama yang lama?" Vila melirik Pasha yang sedang bermain dengan ponselnya lewat kaca mobil.
"Gak dong," balas Pasha dengan senyum manisnya. "Gue lagi kosong. Mau cari yang baru, yang pas dan nyamanin hati"
Bumi menggelengkan kepalanya. "Sama aja lo berdua."
"Beda lah," balas Pasha cepat. "Gue kalau udah punya status bakalan jaga perasaan tuh cewek ye. Emang kayak nih monyet." Pasha menoyor kepala Vila.
"Baru juga jadian sama yang satu, eh besoknya udah selingkuh aja. Pacaran menurut lo yang gimana sih?" Heran Pasha lantaran terlalu banyaknya cewek yang di pacari oleh Vila. Tempo waktunya juga gak lama. Satu bulan palingan udah putus. Dasar buaya!
"Yang selalu terus ada di samping gue siang dan malam," balas Vila lalu membuka ponselnya.
"Gila lo!" desis Bumi. "Gitu mah lo jangan nyari pacar, tapi istri bro."
"Kalau pacar bisa rasa istri kenapa harus cari istri." Dengan enteng Vila meluncurkan kalimat itu. Ya dasarnya juga playboy, pemikirannya juga b*****t kali.
"Gile lu!" Pasha geleng-geleng kepala. "Insaf gue nasehatin lo"
"Gue juga gak minta nasehat lo, Pasta." balas Vila acuh. "Eh, Bum itu sih Bulan gebetan lo bukan? Kalau bukan buat gue ya?"
Plak
Bumi menabok kepala cowok itu cukup kuat. "Gila lo, Bulan gak boleh jadian sama lo."
"Ah, cie-cieee si Bumi udah mulai kepincut sama mak lampir nih," goda Vila menoel-noel pipi Bumi.
"Apaan sih." Bumi menepis kasar tangan cowok itu.
"Ah, cieeeeeeeee bentar lagi lepas masa jomblonya ," tambah Pasha lagi. Bumi memutar bola matanya malas.
"Mabuk semua ya pikiran lo pada. Gue gak suka sama anak Psychopath itu," sanggahnya.
"Gak suka tapi cinta," ejek Vila.
"Terserah lo pada," acuh Bumi. "Tapi yang jelas gak boleh ada satupun di antara kita berlima yang jadian sama Bulan."
"Iya, iya gue paham. Biar lo yang jadian sama itu bocah kan," timpal Pasha cepat.
Vila menepuk bahu Bumi pelan. "Tenang bro, walaupun gue playboy persahabatan tetap prioritas."
"Hmm." Bumi hanya berdehem. Di kepalanya sibuk memilah menu yang akan ia belikan untuk Bulan. Ah, semoga saja cewek itu mau memaafkannya. Loh kenapa dia jadi serempong ini?
Ting tong
Bulan yang tengah memakan snakc-nya di depan tv tersentak. Ia merapikan sedikit penampilannya, lalu menggendong tas punggungnya keluar.
Bulan mengerenyitkan dahinya. "Kok lo sih?"
Jack tercengir. "Gue masuk kelompok lo aja ya?" Cowok berjaket denim itu memasang wajah memelasnya. "Lan, kasihanilah gue. Masa gue sekelompok sama mereka. Gue gak kenal mereka."
"Bukan urusan gue," balas Bulan acuh lalu duduk di kursi teras.
"Lagian kelompok gue udah rame, ada Suparman dan dua kawanya, Elina, Erela, dan Virka. Bayangin aja betapa ribetnya gue harus ngurus enam anak sekaligus. Pasti gondokan tuh gue," jelas Bulan panjang lebar.
Jack cemberut lalu duduk di kursi sebelah Bulan. "Kali ini aja, Lan," mohonya lagi.
"Gak," balas Bulan tegas. "Gue bilang ya enggak."
"Ish, lo mah pelit. Lo itu padahal udah gue anggap kawan terbaik gue loh."
"So?"
"Ihhh, lo pelit!" rajuk cowok itu sambil berguling-guling di lantai.
"Gue gak bakalan berhenti sampai lo nerima gue sebagai kelompok lo."
"Hmmm," balas Bulan acuh lalu merogoh ponselnya. Ia mengirimi pesan pada Virka dan Erela. Kedua cewek itu sepertinya asik juga di ajak main. Bulan paham sejak pertama kali berkenalan dengan mereka. Virka yang Bulan tahu sih sosok cewek yang suka berdandan tiap menit dan detik. Sedang Erela, cewek acuh dan datar. Ah, Bulan belum terlalu memahami mereka. Kerkel mungkin dapat membantu.
"Lan! Ih lo lihat gue gak sih" panggil Jack kesal lantaran pengorbanannya berguling di lantai tidak di indahkan cewek itu.
"Lanjut aja," suruh Bulan santai. Jack cemberut, berhenti berguling. Ia duduk bersila di lantai.
"Lan, please kali ini aja" mohonya lagi dengan tampang sangat memelas. Percuma. Bulan tak melihat itu sama sekali.
Sebuah mobil sport berhenti di depan gerbang Bulan. Seorang cewek berambut pendek keluar dari dalamnya. Cewek itu melambai.
Bulan berkemas. "Jangan tinggalin gue," rengek Jack layaknya anak kecil. "Gue mau sekelompok sama lo. Apa aja gue kasih buat lo deh."
"Kenapa?" tanya Virka menghampiri.
"Mau sekelompok sama kita" balas Bulan jujur. "Udah ayo deh. Dari pada kita lambat ya kan?"
Virka mengangguk. "Udah lo ikut mobil kita aja," katanya menambahi. Jack meloncat girang lalu berlari ke mobil sport milik Virka. Ternyata cewek itu anak orang kaya juga.
"Geser sono!" jutek Bulan pada Jack. Cowok itu bergeser, memberi ruang pada Bulan yang sedikit gempal untuk duduk. Ia menutup pintu mobil dan Virka menyalakan mesin mobilnya. Dalam sekejap mobil berwarna merah itu sudah melaju di jalanan yang ramai.
"Cafe mana?" tanya Virka memecah keheningan.
"Gardania aja," saran Bulan. "Tempatnya bagus, penuh tanaman yang menenangkan."
"Ck, selera lo buruk!" desis Jack. Bulan melirik cowok itu tajam.
"Gue udah berbaik hati menerima lo di sini, curut. Jangan buat gue berubah pikiran dan ngelempar lo di jalan ya"
Jack tercengir. "Ampun, Lan. Lo mah sensian gitu."
"Lo nya juga yang mulai," sahut Virka setuju.
Jack cemberut. Ternyata cewek selalu menang. Seberapa pun dia melawan dia tidak akan menang. Apalah daya orang yang menumpang kah?
"Miris banget hidup gue," gumam Jack lalu membuka ponselnya. Satu chat masuk dari kontak bernama Si Jomblo. Pemiliknya tak lain adalah Bumi.
Cowok ganteng itu memang most wanted tapi sikap pemilihnya membuat ia masih berstaus jomblo. Bagi Bumi seorang pacar harus memiliki sejumlah kriteria tertentu. Dan kebanyakan kriteria Bumi terlalu berlebihan. Misal, kulit glowing, belum pernah pacaran sama siapapun dan gak pernah melirik cowok lain. Itu jelas berlebihan.
Selain itu kriteria lainnya yakni; jago masak, pandai jaga baby, ramah, sopan, baik hati, jujur, sabar, rajin, penyayang, setia dll. Intinya Bumi sangat pemilih soal cewek. Baginya cewek yang dijadikan pacar itu harus sempurna, baik fisik maupun psikologisnya. Bumi g****k! Dia pikir ini surga hah? Gak ada cewek sesempurna itu di planet ini.
Bukannya menjawab Jack malah men-dial nomor Bumi.
"Nomor yang anda tuju sedang diluar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi. The number your calling,"
"Eh, bangke," geram Jack setelah mendengar suara operator telepon. "Di luar jangkauan? Gaya bener tuh bocah, palingan juga ngumpet di bar."
"Bar?" Dahi Bulan berkerut-kerut. Matanya menyiratkan rasa penasaran tingkat tinggi. "Bumi suka ke bar?"
Jack mengangguk. "Selain suka balapan dia suka juga ke bar?"
"Ngapain?" tanya Bulan penasaran. "Minum?"
"Iya, minum. Dia kalau minum kuat, gak cuma alkohol, bir dan vodka juga dia habisin. Lagian dia kan anak orang kaya. Duitnya cukup terus."
Bulan manggut-manggut. "Baru tahu gue kalau dia b******k juga. Eh, call dia lagi lah. Bilang kita kerkelnya di Cafe Gardania"
Jack mengangguk. Lalu men-dial lagi nomor Bumi. Tetap gak bisa. "Aelah, itu bocah palingan lagi teler. Coba pakai hp lo Lan,"
Bulan men-dial nomor Bumi. Hasilnya tetap sama. Hanya suara operator yang terdengar.
"Ck, sok-sok gak denger dia, Lan," kata Jack mengompori. "Palingan dia juga mau kabur dari kerkel. Lagian tadi siang, dia bilang dia mau ke bar. Menurut lo, cowok kalau suruh milih antara tugas sama bar, milih mana?"
"Ok, deh. Kita aja yang ngerjain," sahut Virka. "Lagian cewek gak kalah cerdas dari cowok kok. Gak ada mereka gak ngaruh apa-apa."
Bulan mengangguk. "Hmm, ya udah cepetan deh bawanya. Banyak yang kita harus selesaikan tahu. Si Elina mana?"
Virka mengedikan bahunya acuh. "Mana gue tahu. Lagian kalau itu anak hilang kan bagus."
Aha, Bulan mencium bau-bau masalah di antara keduanya. Biarkan, batin Bulan lalu mengecek ponselnya. Biasanya Alice akan selalu memberinya pesan berkala. Setelah Bulan membaca pesan itu ia langsung merekam suara buat dikirmkan pada cewek rambut biru itu.
"I'm okay, everything is good."
"Siapa?" keppo Jack. "Cowok lo ya?"
"Bukan, b**o!" desis Bulan lalu mematikan ponselnya. Lampu jalanan kerlap-kerlip indah. Berbagai kendaraan melaju baik dari arah yang sama maupun berlawanan. Mobil sport milik Virka berbelok ke kanan di persimpangan lampu merah. Hanya butuh kecepatan sedang, mereka berempat sudah sampai di Cafe Gardania.
"Ayo." Virka memimpin jalan. Bulan membenarkan tas punggungnya lalu ikut masuk ke dalam cafe bernuansa tanaman itu.
"Kita di situ aja," saran Erela menunjuk bangku di dekat pojok kiri. Virka menggeleng.
"Di atas aja, dekat balkon."
Bulan mengangguk. "Ok deh, ayo."
Keempatnya duduk melingkar di meja cafe yang berwarna putih dengan hiasan bunga di atasnya. Bulan membuka buku menu. Ah, dia memang tidak bisa menomor duakan makanan. Seorang waitress cantik datang kepada mereka.
"Saya mau, 3 cheesburger, chocolate strawberey ice, kentang goreng, sama spaghetti bolognase." ujar Bulan mendiktekkan pesanannya.
Virka tegelak. "Kelaperan lo?"
Bulan mengangguk. "Laper banget gue, apalagi bentar lagi harus nguras otak ya kan?"
"Bener juga kata lo" balas cewek itu setuju. "Tapi gak ah, gue kan jaga badan. Gak boleh makan banyak kayak lo."
Bulan tergelak. "Persetanan sama jaga badan yang penting perut gue kenyang. Lo gak pesan, Er?" Bulan melirik cewek berambut panjang tegerai itu.
"Ini mau pesan." Cewek itu tersenyum ramah.
"Jangan bodo amat lo, Lan. Entar badan lo gemuk. Gak ada cowok mau baru tahu rasa lo," kata Virka menakuti. Cewek itu mengelurakan peralatan make up dari tasnya.
"Hidup gak cuma tentang cowok." balas Bulan santai.
"Setuju," sahut Erela.
Virka menggeleng. "No, no girls. Lo berdua salah. Hidup kita bersma cowok. Mereka kebutuhan yang penting, but first me show you what's more important."
Virka memoles lipstik ke bibirnya. "Make up is important than a guy," Virka tergelak.
"Sama gue juga gak terlalu nganggap cowok itu penting," lanjutnya tanpa rasa bersalah.
"Astagfirullah." Jack mengucap. "Ternyata kaum gue gak berarti di mata lo pada ya," ujarnya dramatis.
"Jelas," balas Bulan. "Cowok itu plin-plan cuma pandai berbohong dan nyakitin aja."
"Kalau gue," Virka menyibak rambut indahnya. "Cowok itu kepentingan kedua setelah make up. Tapi cowok bisa jadi kepentingan pertama sih," Virka tersenyum penuh arti. "Seandainya dia mau membiayai make up gue ."
"Idih dasar matre lo!" cibir Bulan. Virka mengedikan bahunya acuh.
"Bodo amat yang penting biaya hidup gue terlunasi. Lagian, bener kayak lo bilang, Lan. Cowok cuma pandai bohong dan menyakiti. So, gak perlu diambil hati, ambil aja uangnya ."
Cewek itu tergelak. "Dasar matre!" cibir Jack. "Mudah-mudahan gue gak jodoh sama lo ya."
"Siapa juga yang mau jodoh sama lo, monyet?" balas Virka sarkastik. Erela terkekeh.
"Makanya jangan kepedean lo, Jack" katanya menambahi.
"Idih siapa juga yang kepedean, gue mah realistik. Secara gue ganteng ya kan?" Jack menyugar rambutnya. "Badannya bagus lagi. Sudah tentu banyak cewek yang gila sama gue."
"Pede lo!" desia Bulan. "Ganteng dari mana? Dari sedotan apa dari planet mars?"
Jack cemberut. "Lo mah suka ngehina gue ya"
"Gimana dengan lo, Er?" tanya Virka mengabaikan pernyataan Jack tadi.
"Gue?" Erela tersenyum manis. "Gue mah netral aja. Gak semua cowok tukang bohong dan tukang nyakitiin."
Jack memberi cewek itu dua jempol. "Mantap. Gini dong jadi manusia. Saling menghargai dan tidak berburuk sangka."
"Sok bijak lo," cibir Virka. "Lo kok netral sih, Er?"
Erela Rainbow, cewek bening dengan pemikiran netral. Dia tersenyum.
"Ya positif aja, Vir. Emang nyatanya gak semua cowok begitu kan? Kebanyakan sih iya, tapi kalau memang udah takdir bisa apa? Mafia sekalipun bakalan gua coba cintain. Tapi kalau emang cowoknya yang b*****t mau apa lagi, biarkan aja. Everything happens for a reason, girl," tandas Erela dengan jembatan pelangi di bibirnya.
"Lagian ya, Lan. Lo gak bisa mengatakan cowok gak penting, suatu saat lo bakalan butuh sandaran juga. Dan lo, Vir. Jangan suka memanfaatkan cowok, karma berlaku. Suatu saat lo yang bakalan hancur."
"Gila lo bijak banget" histeris Jack lalu hendak memeluk Erela. Bulan menjewer telinga cowok itu.
"Nah cowok kayak lo ini yang perlu gu musnahin" katanya lalu menjitak kepala Jack kuat. Cowok itu mengadu kesakitan tanpa di gubris oleh ketiganya.