Niat kamu sudah baik, tapi apa caranya juga baik? Salah cara, mungkin tetap bisa ada hasilnya. Tapi cacat yang dihasilkan itu masalah utama yang terkadang berbalik menyerang si penolong.
"Nih!"
Bulan memandang datar novel di tangan Bumi. Cewek itu kembali bersenandung dengan earphone di telinganya. Seakan melupakan fakta bahwa Bumi baru saja memenuhi janjinya.
"Sorry," Bumi menarik tangan Bulan. Cewek itu menepisnya kasar.
"Buat apa minta maaf?" Bulan mentap nyalang cowok urakan itu. Selalu saja bajunya di keluarkan. Disetrika pun tidak. Bulan jadi bertanya-tanya apakah cowok itu punya orang tua di rumah apa tidak.
"Gue ngatain lo yang gak bener," Bumi menarik kursi tetangga ke hadapan Bulan. Lalu duduk di sana. "Lo nyelamatin gue dari maut," lanjutnya lagi.
"Nah itu lo tahu," Bulan memutar bola matanya malas. " Pake ngatain gue l***e segala, dasar bangke!"
"Sorry," cicit Bumi sekali lagi. "Lo tahu kan gue hanya manusia biasa yang bisa emosi. Apalagi lo bawa-bawa gebetan gue segala. Kan makin panas otak gue."
"Iya gue yang salah," balas Bulan jutek. "Segitu sayangnya lo sama gebetan daripada nyawa sendiri. g****k! Udah sana lo," usir Bulan kesal.
"Bukan lo yang salah, tapi gue," koreksi Bumi. "Ini tanda terima kasih gue." Bumi menyodorkan empat novel sekaligus ke hadapan Bulan. Cewek itu melemparnya ke sebrang rungan yang masih sepi.
"Udah dikatain l***e terus lo minta maaf hanya modal novel? Lo tahu gak harga diri itu harga mati, b**o! Dengan ini kayaknya harga diri gue cuma seharga empat novel ya dimata lo?" Bulan meneriaki Bumi dengan wajah merah marahnya. Bumi diam. Dia sadar dia yang salah.
"Lo ngomong kayak gitu, tahu gak lo fakta nya? Gue diam lo bilang anjing, karena gue tahu anjing itu comel selain najisin. Tapi lo bilang gue l***e? Harga diri gue itu kayaknya rendah kali di mata lo ya? Coba deh lo ngomong itu ke Rose, gimana reaksinya. Sakit, b**o!" cerocos Bulan berapi-api.
" Pagiiiiiiiiiiii, guys," teriak Jack di ambang pintu. Bulan melirik tajam empat cowok di sana. Bulan melirik Elina di belakang mereka.
"El, gue duduk di sebelah lo." Bulan mengemas barang-barangnya lalu berjalan ke meja Elina, yang jelas jauh dari meja Bumi.
"Baru dua hari aja udah ngeselin!" desisnya membanting barang-barangnya di meja yang bersebelahan dengan meja Elina.
"Lo kenapa?" Elia meletakkan tasnya anggun di atas meja. Bulan menggeleng, dadanya bergemuruh marah.
"Waduh, ini novel kenapa di buang-buang." Jack memunguti novel-novel yang di lempar Bulan tadi. "Gak sayang duit apa nih yang punyanya?"
"Itu orangnya?" Vila melirik Bulan.
"Siapa?" tanya Jack tak paham. Bumi menggeleng.
"Bukan siapa-siapa."
"Hai. Pasha dengan sok manis duduk di meja Bulan. "Wajah lo kayak,"
"Kayak apa? Kayak Beruk maksud lo?" balas Bulan sensi. "Sana minggat! Ini teritorial gue."
"Idih, galak bener." Pasha kabur lalu duduk di tempat duduk Jonah. Cowok itu belum datang. Entah kemana perginya. Mereka semua tidak ada yang tahu.
Cowok playboy bernama Vila itu duduk di sampingnya. Pandanganya tak lepas dari Bulan.
Ketika tak sengaja Bulan melirik ke arahnya, mata mereka bertemu. "Apa lo lihat-lihat?" sentak Bulan yang membuat Vila mengelus d**a bidangnya.
"Idih, galak banget!"
Elina mengelus punggung Bulan. "Jangan marah-marah mulu, Lan. Lo itu cewek, kalau galak-galak, entar gak ada cowok yang mau loh," kata Elina menakut-nakuti.
"Bener tuh, Lan," sahut Jack setuju. "Jadi cewek kaleman dikit napa."
Bulan memutar bola matanya malas. "Bodo amat!"
Dia berdiri dan berjalan ke luar.
"Manusia g****k!" geram Bulan berjalan entah ke mana.
Bulan menghentikan langkahnya di warung Mang Udin. Warung itu sepi. "Mang, batagor dua. Minumnya teh hangat aja," ujar Bulan lalu duduk di salah satu bangku.
"Eh, sendiri aja?" tanya Mang Udin. "Gak baik lo sendiri-sendiri, neng."
"Nama saya Bulan loh," koreksi Bulan cepat. "Lagian hidup rame-rame kadang-kadang ngegondokin, mang."
"Kamu lagi ada masalah?"
Bulan mengangguk. "Ada mang. Bayangkan ya mang, niat saya baik. Saya nolongin dia lepas dari bahaya tapi malah di katain l***e. Dia pikir saya serendah itu apa?"
Mang Udin membawa dua mangkok batagor ke meja Bulan, lalu kembali lagi ke dalam buat membuat teh hangat.
"Niat kamu baik, tapi apa caranya juga baik?"
Bulan terdiam. Harusnya semalam dia langsung saja mengatakan pada Bumi bahwa ada jurang di daerah balapan itu. Bukannya malah menye-menye gak jelas sih. Bukannya Bumi selamat malah dia makin emosi.
"Bodo amat!" acuh Bulan lalu menyantap batagornya lahap.
"Ada masalah itu di selesain, jangan lari." Seorang pria menepuk pelan bahu Bulan lalu duduk di sebelahnya. Bulan melirik tajam manusia berkaki dua itu.
"Ngapain lo di sini?" geram Bulan lalu melempar botol aqua yang masih tersegel pada Bumi. Cowok itu langsung menangkapnya.
"Udah jangan marah lagi. Gue kan udah minta maaf. Sorry, juga udah ngebuat lo seharga empat novel. Tapi kenyataanya gue tulus kasih lo novel itu loh," cecar Bumi lalu menggeser mangkuk batagor Bulan ke hadapannya. Bulan mengambil balik batagornya.
"Mudah lo bilang sorry, mudah gue bilang fine. Tapi ini hati sakittttt, sesakit-sakitnya. Cowok kayak lo mana paham." Bulan kembali melahap batagornya.
"Ya udah, gue tunggu sampai lo mau memaafkan gue," kata Bumi final. "Udah, jangan marah lagi, ya?"
"Akan gue pikirkan," balas Bulan acuh.
"Bumi!" Bulan menoleh pada seorang anak cowok berwajah baby.
"Hai too Corbyn," sapa Bumi ramah. Oh, namanya Corbyn. Bulan kembali melahap batagornya. Bodo amat dengan keberadaan anak itu di hadapannya.
"Cowok kamu?" Suara Corbyn begitu lembut memasuki telinga Bulan. Bulan buru-buru menelan batagornya.
"Teman angkat lebih tepatnya," koreksi Bulan cepat.
"Kok ngomong gitu sih?"tanya Bumi tak suka. Entahlah ia merasa tak senang Bulan merendahkan dirinya begitu.
"Lo yang kemaren ngomong kayak gitu," balas Bulan acuh. Ia membuka sebotol aqua lalu meneguknya, kembali melahap batagor di mangkuk ke dua.
"Kelaparan?" tanya Corbyn salut dengan kecepatan Bulan makan.
"Bukan kelaparan, tapi efek gondok," jawab Bulan yang membuat Bumi menghela nafas pelan.
"Sampai kapan lo mau gondok sama gue?" tanya Bumi peka.
Bulan melirik cowok ganteng itu tajam. "Sampai lo mati," balasnya sadis.
"Lan," Bumi memanggil cewek itu dengan nada berat penuh penyesalannya. "Omongan gue semalam jangan di masukin hati deh."
"Enak aja." Bulan mengelap sudut bibirnya. "Omongan kasar gitu cuma angin lewat. Gak bisa! Lagian itu omongan udah nyerap di hati dan kepala gue. Sakittttt tahu!" geram Bulan lalu melahap batagornya lagi.
"Mang, mau soto sama ketoprak," teriak Bulan yang membuat Bumi semakin bersalah. Ternyata cewek itu menjadikan makanan sebagai pelampiasannya.
"Jangan makan lagi. Nanti kekenyangan," nasehat Bumi mengelus kepala Bulan. Cewek itu menepisnya kasar.
"Gak usah sok peduli lo!" Bulan melirik cowok baby face di hadapannya. "Lo gak berniat makan heh?"
Corbyn menggeleng. "Kayaknya lihatin kamu makan aja aku udah kenyang."
What? Pekik Bulan dalam hati. Aku? Kamu? Idih sok imut tuh bocah. Eh, tapi emang imut sih, batin Bulan lagi.
"Wah udah mulai dewasa lo ya, Gy" sahut Jack tiba-tiba muncul entah dari mana. Pria itu bersama pasukannya duduk berjejer di samping Eggy Corbyn Ratama atau si baby face.
"Ini cewek punya abang lo, jangan jadi PHO deh," tambah Pasha.
"Eggy gak PHO kok," kata Eggy membela dirinya. Vila menjitak kepala anak itu.
"Jijik tahu gue denger lo ngomong pakai 'Egi' begituan. Sok imut loh!"
"Tahu tuh, sok imut loh!" kata Jack ikut mencibir.
Eggy tersenyum manis. "Eggy memang imut kok."
"Uweeeek," ketiganya lantas berlagak muntah.
"Si Jonah mana?" tanya Bumi yang lama-kelamaan penasaran dengan keberadaan anak itu. "Ini udah hampir masuk. Bisa dimakan sama Bu Rumi tuh bocah."
"Bodo lah," balas Vila acuh. "Kalau ada dia pun gak ngaruh apa-apa sama kita. Gimana enggak? Orang dia aja diam melulu. Kayak anak bisu aja tuh bocah."
"Shtttt, itu kawan kita juga," kata Eggy memperingati.
"Tahu tuh si Vila. Mulutnya suka ngawur," setuju Pasha.
"Nih, Bulan pesanan kamu." Mang Udin meletakkan semangkok soto dan juga ketoprak di hadapan Bulan. Bersamaan juga dengan teh hangatnya.
"Udah jangan gondok lagi, yang penting kamu kan udah melakukan kebaikan. Biar aja di pandang rendah manusia toh pandangan Tuhan lebih penting bagi kita kan?"
Bulan mengangguk. Ia menggeser mangkuk batagornya, lalu menarik mangkuk sotonya.
"Tapi kadang-kadang pandangan manusia lebih berarti, mang. Bukan apa-apa, emosi di hati ini gak bisa di tahan. Kalau bisa itu orang udah saya bunuh terus di panggang di oven deh," cerocos Bulan seraya mengaduk Sotonya. Ia menyesap kuahnya pelan, lalu mulai memakan mie nya juga. "Gondoknya pake banget, mang."
Bumi yang paham siapa yang di maksud oleh Bulan, lantas mengelus kepala cewek itu. "Ngapain lo jadi curhat sama mang Udin?"
Bulan menepis tangan Bumi sekali lagi. "Bukan urusan lo!"
"Kalau daging gue bisa buat lo maafin gue. Ayo, belah daging gue." Bumi menepis jarak untuk lebih dekat dengan cewek itu. "Apapun biar lo maafin gue," katanya tanpa memikirkan imbas yang harus di terima.
"Mang, pinjam pisaunya. Yang paling tajam ya, kalau gak ada cutter pun jadi." Bulan tetap fokus pada makanannya.
Mang Udin kembali lagi dengan membawakan sebuah pisau yang kelihatan tajam. "Nih, Bulan." Mang Udin menyodorkan pisau itu pada Bulan. Dengan senang hati Bulan menerimanya.
Dia memandang pada Bumi benci. Cowok itu bertopang dagu. Ia tahu Bulan tidak akan nekat. Bulan menarik tangan Bumi. "Cutter aja deh mang," katanya lalu meletakkan kembali pisau di atas meja.
"Serem bener dah itu cewek," bisik Vila pada Pasha. Dan cowok itu pun mengangguk.
"Gue curiga kalau dia pembunuh. Tampangnya super seram."
"Nih"
Bulan menerima cutter yang di sodorkan oleh mang Udin. Dia menggores kulit lengan Bumi betulan, tanpa perasaan pastinya.
"Awwwwww," ringis Bumi kala kulitnya tergores. Darah segar mulai mengucur. "Gila lo!" desis Bumi lalu kabur.
Bulan menatap Vila dan kawan-kawan. "Mau?"
Brakkk
Mereka cepat-cepat ngacir hingga bangku yang mereka duduki terjatuh. Bulan tersenyum devil lalu kembali memakan sotonya.
"Nih, mang." Bulan mengembalikan pisau dan cutter itu kepada mang Udin.
"Sorry mang, mereka lebay," ujar Bulan meminta maaf.
" Orang cuma goresan kecil. Itu gak seimbang dengan goresan di hati saya. Bukan hanya kulit yang sakit tapi masa kelam saya bangkit, Mang." Setelah mengatakan itu Bulan kembali melahap makanannya.
"Yang sabar, Bulan. Namang paham kok gimana gejolak emosi remaja. Kamu yang sabar aja, semua masalah pasti ada artinya." Mang Udin garuk-garuk kepala sambil kembali ke dalam warungnya. "Ngomong apa saya?" bingungnya sendiri.
"Gila! Bulan psychopath rupanya," desis Bumi sambil mencuci lenganya yang berdarah.
"Lo sih ngomong gak di filter," kata Jack menyalahkan. "Udah tahu dia aneh, masih aja di tantangin. Mampus kan lo!"
"Ck, mana gue tahu. Gue pikir dengan ngomong kek gitu dia bakalan maafin gue kayak di drama-drama gitu. Eh, nyatanya betulan dilakuin dia." Bumi mengusap darah yang masih mengucur pelan.
"Nih!" Pasha yang baru datang menyodorkan plaster beserta betadine. Bumi duduk di pinggir wastafel. Lalu Bumi mulai mengoleskan betadine ke lenganya.
"Gila lo, ini plaster kenapa gambar hello kity?" gusar Bumi melempar plaster tadi ke pada Pasha. "Mau bikin malu gue hah?"
"Loh kok lo jadi ikutan sensi kayak Bulan?" ujar Pasha tak terima.
"Entah," sahut Vila. "Udah mending di beliin , malah ngomel lagi."
"Duh, kayaknya efek galak itu bocah mampir ke gue ya." Bumi meraup mukanya pelan. "Baru dua hari kenal tapi udah berakhir tragis aja gue."
"Tapi Bulan itu kayaknya baik," ujar Corbyn tiba-tiba. Semua orang menoleh padanya.
"Jangan dekat-dekat sama dia, Byn!" peringat Bumi. "Dia psychopath," ujar Bumi sedikit berbisik.
"Lo udah lihat sendiri kan, Byn?" Ujar Jack menmbahi. "Dia itu dangerous woman."
Vila bergidik ngeri. "Ihh, gue masih merinding lihat aksi serem itu bocah tahu. "
"Dalam gak lukanya?" tanya Pasha menekan lengan Bumi. Cowok itu menyikutnya pelan.
"Sakit, b**o!" Bumi mengelus lenganya.
Kringggggggg
"Ayo balik ke kandang," ajak Vila menyeret Bumi dan juga Pasha.
"Kita antar Eggy dulu," ujar Bumi tak terbantahkan.
Jack memutar bola matanya malas. "Please deh, Bum. Si Corbyn udah umur 16 , dia bisa jaga diri sendiri kali."
"Diam lo!" desis Bumi garang. Corbyn tergelak mengejek Jack. "Makanya jangan iri!"
"Siapa yang iri sama lo, bekicot," geram Jack tidak terima.
Sesampainya di depan kelas 10 Bahasa 2, keempatnya melambaikan tangan pada Corbyn.
"Nanti gue jemput," teriak Bumi sebelum pergi. Corbyn mengangguk lalu masuk ke dalam kelasnya.
"Apa cuma gue yang jijik dengan kelakuan Bumi tadi ya," ujar Jack. Pasha, cowok ganteng dengan setelan paling rapi itu mengangguk.
"Sama gue juga jijik," balasnya setuju.
"Eh, gue rasa mereka pasangan gay deh," bisiknya pada Jack. Keduanya terkikik. Sementara Bumi bodo amat. Sebenarnya dia denger sih. Namanya juga bisik, ya orang lain masih bisa denger lah. Apalagi jaraknya hanya beberapa centi doang.