___🍓🍓🍓___
Tidak terasa gagang telepon terlepas dari tangan dan tubuhku tubuhku tersungkur lemas ke kursi, jiwaku terenggut oleh sesuatu yang tidak bisa kupahami, mendadak pikiranku kosong.
"Ada apa Bunda, apa yang terjadi?" tanya anak-anak yang langsung mendekat dan mengguncang bahuku.
"A-ayah, sudah menjatuhkan talaknya," jawabku.
Kedua anakku saling pandang, lalu menghampiri dan berusaha menguatkan.
"Jangan sedih, Bunda, justru bagus karena ayah sudah menerangkan keputusannya, jadi Bunda tidak galau lagi."
"Ya, benar juga."
"Untuk apa juga meminta ayah tinggal dengan kita, kalo ayah sendiri tidak mau, percayalah,jika pada akhirnya dia tidak betah dengan istrinya yang itu pasti ujung-ujungnya akan cari Bunda juga," ungkap Vito.
"Dan di hari ayah mencari bunda di situlah kita pun akan mencampakkan dia," timpal Erwin dengan mata berkilat, terlihat sangat marah dan benci pada Mas Imam.
"Sudah Bund, yang menangisi orang yang tidak pantas kita tangisi, Dia sedang berbahagia dengan keluarga barunya, sementara kita menangis seperti ini, tidak terlihat seperti orang konyol."
"Kami akan bantu bunda untuk mendapatkan hak Bunda, kami akan melakukan apa saja."
"Tidak usah, Nak, Cukup belajar saja yang baik dan berprestasi buktikan pada Ayah bawa tanpa dia kalian pun bisa menjadi murid yang diteladani," ucapku sambil memaksakan senyum.
"Tidak Bunda, Imam Haryadi juga Ayah kami dan sebagai anak kami pun berhak menunjukkan kekecewaan, kami juga berhak berbicara seperti hak kami mendapat kasih sayangnya," jawab Erwin.
Tidak kusangka, bahwa bocah-bocah yang baru kemarin kupeluk dan timang, sudah tumbuh dan berpikiran begitu dewasa.
Tapi, aku khawatir pada tindakan mereka yang belum bisa mengendalikan diri, khawatir mereka akan bertengkar dan Mas Imam yang belakangan ini juga kehilangan akal sehat akan murka dan membuat anakku semakin membencinya. Ah, rumit sekali.
"Ini sudah malam mari beristirahat," ajakku mengakhiri percakapan dan tangisan kami.
"Udah yakin akan baik-baik saja, atau perlukah kami menemani bunda di kamar?"
Aku terpaksa tertawa mendengarnya, dan berkata,
"Tenang saja, Bunda tidak akan berbuat nekat," balasku meyakinkan mereka.
Setelah memasuki kamar, aku langsung membuka lemari dan mencari dompet serta buku tabungan, juga perhiasan yang kusimpan, kukumpulkan mereka mereka jadi satu dan mentotalkan jumlah nilainya dengan peluang bertahan hidup kami.
"Totalnya sedikit, sementara sebentar lagi Erwin menempuh ujian akhir dan mendaftar di universitas, aku harus mencari cara untuk mencukupi biaya masuknya, aku juga harus memutar otak untuk kebutuhan sehari-hari dan transportasi anak-anak. Apa yang bisa kulakukan untuk menambah pemasukan?" batinku sambil menggengam erat buku tabungan.
Di sini aku nelangsa dan sudah pesimis membayangkan beratnya hari hari ke depan. Sementara di seberang sana masih ada pasti sedang saling memeluk dibalik selimut mereka. Wanita itu sudah mengambil dari posisiku dan apa yang menjadi hak kami, wanita itu sengaja mencari gara-gara agar aku dengan hati-hati bertengkar dan jatuhlah talaknya.
Aku yakin sekali bahwa selama berada di rumah wanita itu, mereka telah memanaskan hati Mas imam, kedua ibu dan anak itu memprovokasinya untuk membenci kami dan meninggalkan kami begitu saja.
Hingga berakhirnya dia menjatuhkan talak tanpa perasaan, contoh memikirkan nasib anak-anaknya di hari esok.
Miris sekali, mengecewakan dan menyakitkan.
___🍓🍓🍓___
Keesokan hari,
kuputuskan untuk membuka usaha laundry karpet di rumah, kuputuskan untuk membuka usaha itu sebagai tambahan dari usaha kuliner yang kutekuni sebelumnya. Mungkin juga nanti ada usaha-usaha yang lain yang tiba-tiba muncul dalam ideku, tapi untuk sementara ini aku akan bekerja di rumah saja, sembari mengemas hati yang penuh luka.
Terlalu canggung diri ini untuk keluar ke muka umum dan menghadapi pertanyaan masyarakat tentang apa yang terjadi dan bagaimana bisa terjadi, aku lelah dengan itu!
Ada beberapa lembar uang untuk hidup satu bulan kedepan, juga ada setumpuk yang lain untuk memulai usaha, membeli alat dan sarana pendukung, mesin cuci baru dan meja setrika yang cukup besar, aku pasti bisa.
Karena kebetulan ini hari libur, aku meminta anak-anak untuk membuatkan plang di depan rumah, bahwa kini kami menerima jasa laundry.
Mereka memasang papan bertiang, para tetangga berdatangan dan bertanya, apa itu benar atau tidak.
"Ya Bu, sekarang saya membuka usaha laundry, ibu-ibu ada cucian atau karpet yang kotor Saya bersedia untuk mencucikannya," jawabku ramah.
"Saya nggak butuh laundry laundry ya, di rumah saya sudah punya mesin cuci yang besar, otomatis lagi," ujar seorang ibu yang seperti biasa adalah wanita paling sulit di komplek.
Sepertinya nyeri hati ini mendengar ungkapan itu karena kami baru saja mau memulai usaha namun sudah mendapatkan ungkapan yang pahit.
"Aduh, Ibu, kalau nggak mau, ya nggak usah Bu, mereka hanya mencoba ikhtiar cari nafkah, sebaiknya kita dukung, jika kita tidak bisa membantu mereka dalam hal lain." Ibu lain menimpali sambil menepuk tangan Ibu itu, sehingga wanita yang tadi bermulut pedas langsung tersenyum gugup dan berpamitan pergi.
"Ibu Yanti Jangan dengarkan nada nada sumbang, Kami para tetangga akan mendukung Ibu Yanti dan mempromosikannya ke para tetangga yang lain. Maaf karena kami tidak bisa memberi bantuan saat cara materiil," ujar Tetangga terdekatku, Mbak Rina.
"Tidak usah Mbak, mau bantu promo saja saya sudah bahagia sekali. Sangat benar jika minggu-minggu ini kami membutuhkan dukungan dan support dari orang terdekat, jadi terima kasih."
"Tambahkan hati Mbak Yanti, kesabaran akan menuai kebahagiaan. Dan orang yang sudah berbuat salah mereka akan mendapatkan akibatnya," Wanita itu menggenggam tanganku, dan entah kenapa, diri ini menjadi emosional dan menangis lagi. Bukan sedih, tapi terharu atas kebaikan mereka, dan bersyukur masih ada orang orang yang peduli pada kami bertiga.
"Pokoknya Mbak Yanti anak-anak harus kuat," ucapnya menepuk bahuku. Memintaku mengemas air mata dan masuk.ke dalam rumah.
"Oh ya, saya ada karpet, kalau berkenan tolong bantu saya untuk membersihkan."
"Dengan senang hati, Mbak."
"Saya juga bangga menjadi pelanggan pertama," jawab Wanita berhati lembut itu sambil tersenyum.
Alhamdulillah ya Allah.
___🍓🍓🍓___
Seminggu berlalu,
Alhamdulillah, diri ini yang tadinya pesimis akan usaha yang tidak akan berkembang, sekarang bahagia, karena apa yang dikhawatirkan sama sekali tidak terjadi.
Meskipun omset kami tidak begitu besar namun pemesanan kue dan pelanggan laundry berdatangan. Dan aku mensyukuri itu, setidaknya, kedatangan pelanggan membuat hati ini sedikit terhibur akan kejadian pahit tentang Mas Imam.
Fokus ini jadi teralihkan, pada pekerjaan dan anak-anak saja, sehingga, sedikit tidaknya aku mulai bisa menikmati hari.
Suatu hari seorang wanita mengirimkan cuciannya Via go-jek, Aku tidak tahu alamatnya di mana Yang jelas cuciannya sangat banyak dan dia memintaku untuk melakukan treatment terbaik kepada pakaian-pakaian itu dan dia bersedia membayarnya dengan mahal.
Alangkah bersyukurnya diri ini, dan sesegera mungkin kukerjakan agar bisa mengantarnya sore nanti.
Kukerjakan cucian itu dengan hati-hati, menjemurnya dengan posisi terbaik dan menyetrikanya dalam keadaan terbalik, kupastikan tidak ada yang kusut sedikitpun.
Wanita itu memberikan alamat di sebuah kompleks perumahan elit dan mengatakan bahwa kebetulan hari ini di rumahnya diadakan arisan, beberapa barang yang kucuci adalah taplak dan linen yang akan digunakan untuk acara, jadi dia memintaku mengantar barang-barang tersebut sebelum jam 3 sore.
Tentu saja kuiyakan permintaannya. Selain karena harus bersikap profesional, aku harus membuat pelanggan selalu terkesan dengan kinerja laundryku.
*
Pukul 02.40 siang, aku sudah sampai di depan rumah megah bercat putih itu, suasana sudah lumayan ramai. Setelah mengucapkan salam dan mengatakan kepada orang yang ada di sana bahwa aku mengantarkan laundry, mereka lantas memanggilkan Nyonya Rumah.
Wanita itu datang dari dalam dan mengajakku masuk sampai ke dapur, menyuruhku meletakkan linen itu di atas meja dan memintaku menunggu dia mengambil uangnya.
Dia menyerahkan uang Rp.400.000, dan aku terkejut dengan jumlahnya yang begitu banyak.
"Tidak Nyonya, ini kebanyakan."
"Anggap saja Ini hadiah dari saya dan mohon jangan ditolak karena hari ini saya mengadakan arisan dan selamatan ulang tahun saya."
"Oh begitu ya ...." Rasanya jadi tidak nyaman untuk menolak.
"Dan ini juga titip untuk orang-orang yang ada di rumah Ibu," kata wanita itu sembari menyodorkan sebuah bungkusan yang ternyata berisi makanan.
"Oh tidak usah Bu," ucapku.
"Biarlah, bawalah Bu."
Belum sempat Aku mengucapkan terima kasih tiba-tiba Wanita itu sudah dipanggil keluarganya dan pergi entah kemana.
Karena merasa sudah begitu lama aku memutuskan untuk pergi saja, keluar dari rumah itu, melewati pintu utama. Masih kulihat bahwa nyonya tadi terlihat keluar dari pintu gerbang rumahnya.
Ketika hendak keluar dari pintu tiba-tiba sebuah suara yang familiar menahan langkahku,
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Kubalikan badan dan ternyata itu adalah ibu Mertua Mas Imam, aku terkejut dan lebih terkejut lagi karena Sari juga ada di sana.
"Kenapa kaget?" ucap mereka dengan suara lantang sehingga memancing perhatian orang lain.
"Aku datang ke sini untuk mengantarkan laundry dan hendak pergi sekarang juga."
"Lihat ya, wanita ini sudah menguntit kami dan berusaha berada di manapun kami berada, dia belum terima karena suaminya menikahi anakku!" Teriak wanita itu dan membuat para tamu menatap padaku dengan tatapan sinis, juga sebagian heran dan tak habis pikir.
"Tidak benar, saya mengantarkan laundry!" Aku menyangkal.
"Halah, pasti di sini kamu juga melakukan hal yang lain."
Dia merebut tasku dengan kasar lalu menumpahkan isinya sehingga bungkusan yang diberikan Nyonya tadi tumpah dan berserakan ke lantai.
"Astaga ... Ya ampun ...." Mertua Mas Imam itu menutup mulutnya dan pura-pura syok.
Dia sungguh adalah ratu drama.
"Kenapa, Bu?" Ibu-ibu yang lain penasaran dan berkerumun.
"Wanita ini datang dan mencuri makanan!" Dia menuding dan seketika membuatku mendongak terkejut lantas orang-orang langsung mencibir dan menghinaku.