14

1338 Words
___🍓🍓🍓🍓___ Semua orang terkejut, menyaksikan makanan kecil yang tumpah ruah ke lantai, mendengar caciannya aku langsung mendongak dan membantah. "Nyonya rumah sudah memberi Saya makanan itu," ucapku. "Mana mungkin Nyonya akan memberi makanan mahal sebegitu banyaknya, pasti kamu ngambil sendiri kan? Secara makanan itu tergeletak begitu saja di meja dapur," ucapnya. "Duh, Tante biarin aja dia pergi," ucap salah seorang wanita. "Gak bisa, wanita ini memang biang kerok, dia sengaja datang kemari untuk mengganggu anakku," ucapnya menunjuk wajahku, dengan hebohnya dia berteriak, mengatakan jika aku mengambil kesempatan dan memanfaatkan kebaikan hati orang lain untuk meraup makanan. "Kau tidak percaya tanyakan saja Nyonya rumah, maaf ya, saya bukan pencuri dan tidak akan pernah mencuri. Atau ... Kalian yang saat ini sedang menutupi aib kalian, dasar maling teriak maling!" Plak! Dia menampar wajahku dengan kerasnya, orang orang terkejut, kaget, dan menutup mulut mereka dengan tangan. Sari yang berdiri sambil melipat tangan tersenyum senang karena ibunya berhasil mempermalukanku. "Anakmu yang sudah mencuri suamiku dan menghancurkan keluarga kami yang seharusnya dididik," ucapku menatap tajam padanya. "Hei, itu buka salah anakku, suamimu lah yang mengejarnya dan memastikan pada kami bahwa dia akan meninggalkanmu, dasar tidak tahu diri," desisnya. "Kalian sudah memanipulasi suamiku hingga dia berubah dan menjadi bukan dirinya, aku sendiri bahkan malu dengan tingkah kalian." "Tukang cuci rendahan ... lihat penampilan dan tatanan rambutmu, ngaca! Makanya suamimu tergila gila pada anakku," ujarnya sambil menyeret lengan ini dan membawaku pada sebuah kaca besar. Kuperhatikan pantulan diri, rambut yang diikat sederhana, memakai celana panjang, baju kaus dan cardigan, memang sederhana sekali. "Lihat penampilanmu! Kau pikir Imam akan tertarik dengan wanita yang wujudnya seperti pembantu?" Air mataku tumpah begitu saja, tak ada yang bisa kubantah karena kata-kata Ibu Sari sangat menusuk hatiku. Kukemas tumpahan kue dan meletakannya di atas meja. "Terima kasih atas penghinaan Anda Nyonya," ucapku sambil menarik napas dan bersiap pergi. Di saat bersamaan pemilik rumah datang dan terheran-heran melihat apa yang terjadi. "Ada apa ini?" "Wanita ini sudah mencuri macaroon dan cake," ucap Ibu mertua Mas Imam. "Tapi Tante, saya yang memberi padanya kue itu, maaf ya Mbak ...." Wanita itu menarik tanganku dan membawaku pada Tantenya. "Tante harus minta maaf karena sudah mempermalukan Mbak ini, kasihan loh Tante ...." "Rindi ... Kamu itu terlalu polos, dia ini memanfaatkan kesempatan untuk menguntit aku dan anakku selagi kami ada di sini." "Mungkin aja kebetulan Tan ...." "Pokoknya tukang cuci ini harus diusir secepatnya," ucapnya yang bangkit lalu menyeretku ke pintu utama dengan kasar. Para tamu mencegah dan menyuruh wanita tua itu menghentikan aksinya, namun karena terlampau dikuasai nafsu setan, wanita itu memberingas. Semakin dicegah semakin bengis dirinya. "Lepaskan tangan Anda dariku!" Aku menyentaknya dan menarik lenganku dengan keras dari cengkeramannya. "Aku sudah sabar karena menghormatimu yang lebih tua, tapi dengan cara kau menghancurkan harga diriku, aku jadi kehilangan hormat padamu," ucapku. "Aku hanya mencoba melindungi anakku dari gangguanmu," ucapnya mencoba menutupi rasa malu. "Tadinya aku tidak ingin dendam atau membalaskan sakit hati, tapi, karena Anda terus merasa bahwa aku akan menghancurkan hidup kalian, maka, aku akan coba melakukannya," ucapku dingin. "Hah, beraninya kamu ...." Wanita itu terbelalak. "Cukup sampai disini bagaimana kalian mempermalukanku, perbuatan Anda dan anak Anda membuat orang lain berpikir seolah-olah akulah yang menjadi duri dalam daging, seolah akulah pelakornya! Lain kali, berhati-hatilah, karena mulai sekarang aku juga akan memanfaatkn peluang untuk selalu balas dendam seperti apa yang kalian lakukan belakangan ini," ucapku dengan tatapan tajam, semua orang terdiam, membeku, wanita tua itu juga menelan ludah tanda tak percaya. "Aku tak habis pikir bahwa seorang wanita dewasa, ibu dari seorang anak tega merenggut kebahagiaan orang lain, dan berbuat sejahat ini. Mencoba merendahkan wanita yang sama sekali tidak mengganggu atau merugikan mereka. Kalian sudah dapatkan suamiku, gaji, dan mobilnya, dia bahkan menceraikan dengan lantangnya. Seharusnya kalian sudah puas, bukannya malah melunjak." Kuhapus air mata, membenahi posisi pakaian dan tas begitu juga rambut yang berantakan. Lalu memohon izin pada Nyonya rumah untuk pergi. "Saya akan pergi, mohon maaf karena sudah terjadi keributan," ucapku sambil menjauh. Wanita itu tidak terlihat marah, namun hanya nampak tertegun sekaligus prihatin saja. Ketika hendak keluar dari depan pintu, Mas Imam berpapasan denganku, dia nampak membawa sebuah hadiah berukuran besar berisi cangkir, piring dan teko untuk nyonya rumah. Aku tersenyum miris sambil membuang muka, sementara dia heran menatapku dengan mata sembab. Dalam hati aku menggumam, betapa hebatnya wanita itu membuat suamiku melakukan apa saja yang dia inginkan. Dulu ketika masih bersamaku, jangankan membawakan satu set piring makan untuk orang lain, membelikan peralatan rumah saja tidak pernah dilakukan. Semua tanggung jawab ada di pundakku. "Mungkin saja dia ingin mencoba sensasi repot yang baru," batinku. Mas Imam tiba tiba memanggil dan menahan langkahku. "Yanti, kamu ngapain di sini?" "Nganterin cucian." "Lalu kenapa dengan wajahmu ...." Aku paham, maksudnya ... mataku yang sembab oleh air mata. "Tanya saja pada istrimu, paling-paling dia akan bilang bahwa aku mencuri kue, padahal Nyonya rumah yang memberikannya." Mas Imam nampak tertegun, menatap pada semua orang yang terdiam dan sisa remahan kue yang masih belum disapu di lantai. Aku beranjak pergi, mengemas hatiku sendiri, dan berusaha tegar. Aku tahu pasti, bahwa dalam menghadapi kesulitan ini hanya aku sendiri dan bayanganku yang saling menguatkan. ___🍓🍓🍓__ Ketika aku sedang menunggu di halte bis tiba-tiba mobil Fortuner hitam milik suamiku datang. Kuangkat wajah, untuk memperhatikan Kenapa mobil itu berhenti tepat di depanku, ah ya, dia bukan lagi suami tapi mantan suami dan milik orang lain. Kuharap dia tidak usah turun dan menegurku, aku malas sekali berpapasan dengannya. Lagipula ... Mengapa bis kota yang akan membawaku pulang tidak kunjung datang? ada apa dengan hari ini yang begitu kelam? Kini mendung yang mulai bergelayut di langit sana juga menambah kelabunya hariku. Ah, air mataku jatuh lagi, meski aku tak ingin menggulirkannya di hadapan mantan suami, namun tak kuasa diri ini. Bodoh sekali, karena aku terlihat lemah dan tidak berdaya. Dia turun dari mobil melepas kacamata yang selalu membuatnya terlihat tampan dan awet muda, selalu mempesona seperti setiap harinya. Dia mendekat seolah menghitung langkah, lalu menghentikan dirinya dan duduk di bangku besi yang berjauhan dariku. "Aku minta maaf," gumamnya. Aku tertawa getir mendengarnya, bisa-bisanya dia mengatakan maaf dengan pelan dan santainya, setelah dia menceraikanku dengan sombong via telepon. "Untuk apa? Kita ini hanya orang asing yang kebetulan berpapasan di jalan, kau tidak mengenalku dan aku pun tidak mengenalmu. Jadi aneh sekali, kau minta maaf pada orang asing," jawabku tanpa menoleh padanya sama sekali. "Aneh, memang, baru beberapa hari yang lalu kita masih bahagia dalam satu rumah, kini kita sudah jadi orang asing," gumamnya. "Beraninya kau mengeluh di hadapanku!" Aku bangkit dan berteriak, di sisi lain, juga tak sanggup menahan kesedihan yang menggumpal di d**a. Air mataku jatuh begitu saja, lelah dan sesak sekali rasanya. "Kamu yang sudah memutuskan hubungan kita, dan memilih untuk tidak pusing lagi memikirkan kami, beraninya kau mengeluh!" "Sungguh, maksudku tidak begini, kupikir semuanya akan tuntas dan selesai." "Hanya dengan mengucapkan talak lalu hubungan berakhir? Tidak ada lagi yang perlu kau selesaikan atau menjalankan kewajiban dan memberikan hak orang lain?" tanyaku dengan nada tak percaya. "Maksudku ...." Ungkapannya menggantung di udara. "Tolonglah, karena kau sudah memutuskan bercerai, maka jangan ganggu aku lagi, pastikan juga istrimu tidak menggangguku dan anak-anakku." Aku bangkit dan berencana untuk pergi. Sementara dia mendekat dan mencoba mengajakku bicara baik-baik. "Tunggu dulu, dengar ...." "Terlambat Sudah, tidak ada lagi kesempatan untuk menunggu atau mendengar, mulai besok aku akan mengumpulkan bukti dan menggugat hak hak kami di pengadilan, aku juga akan menuntut sampai ke akar-akarnya bahwa kau sudah memasukkan dokumen pernikahan dan memberikan keterangan palsu." "Tolong jangan lakukan itu ....." "Kamu hanya memperhatikan permintaan tolongmu tapi tidak memperhatikan jeritan hati kami yang tersakiti! Mungkin benar keadilan sulit didapat dengan damai, jadi, aku akan mengupayakan itu dengn segala kemampuan yang ada." "Menggugatku akan butuh uang, kau tidak akan menang jadi jangan buang waktumu," sarannya dengan tatapan datar, " ... aku hanya minta maaf atas kelakuan mertuaku." "Jangan khawatir, aku tidak akan mengemis di jalan atau minta darimu, akan kulakukan apapun untuk bisa menyakitimu lebih dari yang kurasakan, meski aku harus menjual diriku!" Kulangkahkan kaki dengan tegar dan berjalan meninggalkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD