Melihat tingkah anakku yang tengil, wanita tua itu merasa dipermainkan dan dia tersinggung mendapati perlakuan demikian.
Dirogohnya tas lalu mencoba menelpon seseorang.
"Aku lagi di rumah kamu untuk membersihkan apa yang ada di dalamnya?"
Ucap wanita itu sambil melotot ke arah kami bertiga.
"Rumah mana lagi kalau bukan rumah jalan Melati, di sini banyak sekali sampah yang harus disingkirkan," ujar wanita yang gayanya sangat berciri khas wanita tradisional yang masih menjunjung martabat dan gengsinya. Nampaknya dia menelepon suamiku dan mengadukan perbuatan kami.
"Ya, Anda adalah sampah yang harus segera dibersihkan dari rumah kami," timpal anakku dengan santainya sambil melempar kulit kuaci, dan mengenai sasakan rambut wanita itu.
"Kalian sadarlah bahwa Imam sudah melempar kalian dari hidupnya, kalian juga sudah menantang! jadi jika bersikeras untuk tidak mengikuti peraturan Imam, maka silakan kalian tinggalkan tempat ini, karena ada orang yang lebih berhak masuk ke dalamnya."
"Oh, jadi yang lebih berhak masuk adalah anakmu yang pelakor itu?"
"Dia bukan pelakor dia adalah istri sah dari Imam, kami menikahkan mereka dilingkupi oleh kasih sayang dan doa keluarga, bukan seperti kalian yang tidak punya kerabat sama sekali."
"Eh, jangan sembarangan ya, ketika anda juga menjunjung harga diri kami pun juga demikian." Aku berkacak pinggang sambil menunjukknya.
"Eh, kamu jangan kurang ajar sama ibuku, ya," timpal si Sari tiba tiba merangsek dan menabrak dadaku.
Kelihatannya wanita yang baru beberapa hari yang lalu terlihat takut denganku, kini sudah melunjak, sayap sayapnya yang kuyu dan basah sudah kering dan dia siap melesat ke udara dengan kesombongannya.
Tanpa banyak bicara pun aku segera membalas perlakuannya dengan menghantam wajahnya dengan pukulan yang paling menyakitkan hingga wanita itu tersungkur ke posisi terlentang, ibunya menjerit, anak anak turun dari lantai dua berniat melerai kami.
Sari bangkit dan mencoba menjambak rambutku, namun aku juga sigap membalasnya hingga terjadi aksi saling jambak saling dorong mendorong dan tarik-menarik, anak-anak mencoba menyelamatkanku, sedangkan ibu dan keponakannya mencoba untuk menyelamatkan sari.
"Hentikan ini, kalian bisa kulaporkan ke polisi!" Teriak Nyonya itu kepada kami.
"Hai anak kamu yang menyerang ibu, dia yang harusnya melepaskan tangannya dari kepala Bunda!" Vito meradang dan puncak dari kejadian itu adalah ketika Mas Mas Imam datang dan berteriak melerai kami
"Hentikan ini, apa-apaan!"
Dia datang, memisahkan, dan tanpa aba-aba dia langsung mendaratkan tamparan ke wajahku. Aku tersungkur jatuh dan terduduk di lantai, memegangi pipiku yang berdenyut sakit.
Sebenarnya bukan rasa perih itu yang menyakitkan tapi lebih pada rasa kecewa dipermalukan oleh suami sendiri.
"Kupikir setelah umurmu menginjak 40, kedewasaanmu juga setara, ternyata kau tidak ada bedanya dengan bocah yang masih SD!"
"Istri dan mertua Ayah yang datang ke rumah kami selalu bersikap seolah-olah ini adalah rumah kontrakan yang menunggak, dia berusaha untuk mengusir kami di rumah kami sendiri."
Mas Imam terkejut, dia menatap istri barunya dan juga mertuanya dengan terpana. Aku yang masih tersungkur di lantai dan merasa sedikit pusing karena pukulan langsung ditolong oleh anakku.
"Jangan nangis Bund, mereka akan menertawai air mata yang meluncur dari mata Bunda," bisik Erwin sambil memelukku.
"Bukannya kamu akan cerai sama dia? lakukanlah secepatnya agar kau bisa mengajak anakku tinggal di rumah yang lebih layak daripada kontrakan itu."
"Iya, Bu, sabar."
"Oh begitu yaa... Jadilah ayah kacung mereka, biarkan pikiran Ayah dipelintir oleh mereka sehingga Ayah terlihat seperti orang yang bodoh," ujar Erwin. Anak kami yang sulung memang pemuda yang cerdas, di sangat pandai menilai dan mengambil kesimpulan.
"Diam kamu!" Mas imam mencegah anaknya untuk ikut campur.
"Kami sudah lama diam, kami tidak datang mengganggu kehidupan Ayah itu karena kami masih menghargai ayah dan tidak ingin membuat masalah. Tapi lihatlah istri dan mertua Ayah yang kurang ajar ini, kelihatannya mereka tidak akan berhenti mengganggu hidup kami sampai kami benar-benar hilang dari muka bumi ini!"
"Aku hanya datang bicara baik-baik Mas, mereka yang menghardik ibu, menghina dan melecehkan yang seolah-olah ibuku adalah anak kecil, terutama anak kamu yang sulung Mas dia kurang ajar sekali berani memvideokan ibu." Wanita itu langsung menangis dan berpura-pura bersedih di depan suaminya.
"Bicara baik-baik apanya? ketika kalian masuk tanpa salam dan menyuruh beberapa orang untuk mengeluarkan perabotan dari rumah ini, apa itu adalah sikap dari orang yang punya adab dan pendidikan?" timpalku geram.
"Apa benar kamu sudah membercandai mertuaku?" tanya Mas Imam kepada erwin sambil mendekatinya, dia menyingsingkan lengan dan aku tahu bahwa suamiku bersiap untuk memukul anak kami.
Segera kupasang badan untuk melindungi anakku, sementara darah segar yang ada di bibir karena pukulan yang masih mengalir di wajahku.
"Cukup aku saja yang kau pukul, jangan anak-anakku! Wanita itu sedang merayakan bagaimana kita saling membenci dan bersiap untuk saling membunuh," ungkapku.
"Sekarang kau baru akan menyadarkanku?" tanyanya dengan mata melotot. Aku tahu dia bukan suamiku, bukan lagi Mas imam yang kukenal, tingkahnya aneh, temperamen dan kejam sekali.
"Hentikan! Pergi dari sini," ujarnya sambil memundurkan badan dan menyuruh Erwin pergi.
"Kau ini sungguh berani padaku, Aku tidak menyangka bahwa aku sudah membesarkan harimau di dalam rumahku."
"Siapa juga yang menyangka bahwa aku bersuamikan buaya liar yang mengerikan, kamu lebih memalukan karena di usia yang seharusnya kau lebih banyak bertobat malah masih sibuk mengurusi hasrat duniawi!"
Plak!
Lagi dan lagi dia memukulku untuk yang kedua kalinya, melihatku yang terjatuh anak sulungku langsung berteriak geram dan memegangi kerah baju ayahnya.
"Beraninya kamu!" Jarak antara wajah Erwin dan Imam hanya 1 inci saja, mereka beradu di pandangan dan badan dengan sengitnya.
"Kenapa aku tak akan berani, kalian siapa?!"
"Jadi, kau memutuskan untuk tidak mengenal kami!"
Erwin sudah berada di puncak emosinya sehingga menggunakan bahasa yang kasar, sementara Vito berusaha menarik lengan kakaknya dan mengingatkan bahwa itu adalah ayah mereka.
"Kak, lepasin aja, lupakan, kita bisa hidup tanpa dia."
"Diam kamu Vito!" Kini Mas Imam melepaskan Erwin dan beranjak mencengkeram leher anak bungsu kami.
Dia sudah gila!
Suasana di dalam rumah kami sangat mencekam, aku dan suami juga anak-anak kami saling bertengkar seperti binatang yang disabung, sementara wanita itu dan ibunya melipat tangan di d**a, sambil tersenyum puas menyaksikan konflik kami. Mereka saling melirik dengan senyum bahagia seolah-olah telah merencanakan ini sebelumnya.
Saat itulah aku sangat membencinya, tadinya, aku tidak ingin mengganggu hidup wanita itu namun sekarang, haluanku berubah untuk bangkit dan menghancurkan dirinya sampai ke akar-akarnya, sampai di titik dia tidak akan berani untuk memperlihatkan wajah di depan umum.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dengan cara seperti ini, apa ini adalah bentuk pengusiran kalian terhadap kami?!"
"Aku tidak mau mengusir, tapi kalian harus menghargai aku dan keluargaku!"
"Menghargai pelakor itu dan ibunya yang sombong, maaf saja aku tidak mau!" teriak Erwin.
"Baikkah, kalian memang minta dihajar!" Mas Imam mendorong tubuh Vito dengan cara mendorongkan cengkraman tangan yang ada di leher anakku, hingga Vito menabrak tembok dan terbatuk-batuk. Nampak sesak dan sakit sekali anakku.
Tak ayal darahku makin naik ke ubun-ubun, dan karena tidak tahan dengan perbuatannya, aku lantas mengambil sebuah vas bunga yang kebetulan ada di atas meja lalu berlari dan menghantamkan itu tengkuk Mas Imam.
Prang!
Vas itu pecah berkeping-keping.
Sementara jeritan pelakor itu dan ibunya melengking, seiring dengan ambruknya Mas Imam ke lantai.
Saat itu aku tidak punya pikiran ..
semuanya kosong ... yang ada hanya bagaimana cara melepaskan anakku dari pria kesetanan itu, dan memasrahkan diri jika pada akhirnya akan berada di balik jeruji besi.