"Kak ayo pergi aja, Kak," ucapku pada di sulung, Aku berusaha mengajaknya kabur sebelum Mas Imam menyadari bahwa yang datang adalah kami.
"Gak usah Bunda, ini kuenya sayang," jawab anakku berusaha menahan perasaan meski matanya mulai berkaca-kaca.
Mas Imam perlahan mendekat sementara aku menahan napas menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Dan ketika kami berpapasan di depan pagar rumahnya, suamiku terlihat kaget, syok, dan salah tingkah.
"Ka-kalian, kalian lagi ngapain di sini?" tanyanya terbata-bata.
"Ini Pak kuenya, totalnya 560 ditambah ongkir," ucap anakku dengan wajah dan suara yang datar.
"I-iya, Dek," ujar Mas imam sambil menelan ludah.
"Buruan Imam, acara mau dimulai," panggil Ibu mertuanya sambil berkacak pinggang.
Ternyata wanita yang memesan kue dariku adalah ibunya Sari. Dan anak yang menunggu kami di gerbang adalah keponakannya Sari.
"Sayang ... apa perlu aku harus datang ke situ untuk membantumu?" tanya Sari dengan suara lantang yang terdengar disengaja untuk memamerkan kemesraan mereka.
Sepertinya dia tahu bahwa yang datang mengantarkanku kue adalah aku.
"Eng-enggak usah, aku baik baik aja." Ia segera merogoh saku dan menyerahkan 7 lembar uang kepada kami.
"Terima kasih Pak, selamat menikmati pesta dan kuenya, semoga keluarga Bapak langgeng sehat selalu dan bahagia," kata anakku dengan buliran bening yang akhirnya luruh juga.
Erwin membalikkan badan dan langsung mengambil motornya tanpa banyak bicara, sementara aku masih berdiri mematung, tak tahu apa yang harus kulakukan, di saat aku berjuang untuk menata perasaan, kini anakku juga harus tersakiti.
"Kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya Mas imam padaku.
"Ya Pak, kami dihubungi oleh mertua anda dan dimintai untuk membuatkan kue ulang tahun, selamat menikmati," jawabku membalikan badan.
"Aku minta maaf, Yanti ...."
"Tidak perlu minta maaf kepada orang asing Pak. Itu sama sekali tidak masuk akal, kami yang seharusnya minta maaf karena sudah membuat keluarga Anda gusar dan marah karena menunggu lama," imbuh Erwin dengan tatapan kebencian.
Lebih daripada kebencianku kepada Mas Imam.
Anakku menghidupkan motornya lalu kami pun bersiap pergi. Mas Imam masih berusaha untuk menahan kami dan minta maaf namun semuanya sudah percuma saja.
**
"Win, Bunda minta maaf karena kamu harus menyaksikan apa yang terjadi tadi," ungkapku ketika kami sampai di rumah.
Anakku tidak menjawab atau mengatakan apa-apa, dia hanya diam, membungkam dan menuju ke kamarnya.
"Kita bisa menghadapi semua ini bertiga Nak, meski tanpa ayah," ucapku pelan."
"Ya, tentu saja, jangan khawatir." Dia naik ke tangga dan pintu kamarnya sesaat kemudian terdengar ditutup.
Andai terjadi apa-apa kepada mental dan pikiran anak-anakku, sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan Mas Imam.
**
Malam hari, ketika aku sedang mengaji di ruang salat, tiba-tiba pintu diketuk dua kali, lalu terdengar suara gagang pintu yang diputar dan terbuka. Lalu asa suara langkah kaki yang familiar, ya, dia pasti Mas Imam.
Dengan segera aku bangkit dan meletakkan Alquran, lalu melihatnya ke pintu depan.
"Apa kau pikir rumah ini adalah pasar sehingga kau bisa datang kapan pun yang kau mau, tanpa mengucapkan salam?"
"Ini masih rumahku, kau lupa bahwa dengan jerih payahku rumah ini bisa dibangun?"
"Apa yang kau inginkan? Apa kau ingin datang mengusir kami? Setelah kejadian siang tadi masih bisanya kau datang dan menunjukkan wajah sendiri?"
"Aku datang minta maaf pada kalian," ungkapnya sambil menghela napas yang terdengar resah.
"Ya ... kau dimaafkan, sekarang pergilah dari tempat ini, dan jangan datang lagi."
"Aku ingin bertemu anakku dan kau tidak bisa mencegahku!"
"Memangnya siapa yang mengatakan mau bertemu denganmu, Pak?" Tiba-tiba kedua anak kami turun dari kamar mereka dan menemui kami yang sedang bersitegang di ruang tamu.
"Ayah datang minta maaf tapi kenapa kalian kurang ajar sekali, apakah ibu kalian yang sudah mengajarkan sikap demikian?"
"Jangan menghina Bunda seperti itu, padahal Anda sendiri juga adalah pria yang terhina."
"Aku datang ke sini baik-baik untuk minta maaf kepada kalian kenapa kalian memperlakukanku dengan cara itu?!" Mas imam bersiap mengangkat tangannya untuk menampar Erwin dan Vito.
"Kami berdua juga menahan diri untuk tidak menghajar anda, karena Bunda mendidik kami untuk sopan kepada orang yang lebih tua. Sekarang anda tidak lebih dari orang asing bagi kami."
"Bagus, kalau begitu berarti kalian harus mengangkat kaki dari rumahku, karena sekali lagi..ini adalah rumahku, di mana aku dan keluargaku akan menghabiskan waktu."
"Astaghfirullahaladzim, Mas, teganya kamu mengatakan itu kepada anak-anak, kejam sekali kamu!" Aku terbelalak menatapnya, dan kaget pada sikap suamiku yang tiba-tiba begitu pedas, jauh sekali dari dirinya yang dulu, yang begitu lemah lembut.
"Apa boleh buat, kalian sudah memilih takdir kalian sendiri," ungkapnya sambil mengangkat bahu, tanda masa bodoh.
"Kami tidak takut dengan pengusiran Anda, tapi kalau Anda jatuh miskin dan sakit Anda tidak akan pernah mencari kami lagi!" ucap Vito.
"Ya, tak masalah, lakukan saja apa yang kalian mau," jawabnya pada anak-anak sementara dia beralih kepadaku dan melotot,
"Katakan, inikah didikan parenting terbaik darimu? Anak-anak yang begitu sombong pada ayah mereka sendiri?" kini dia menyalahkanku, dan tidak sadar bahwa sikap anak-anak adalah refleksi dari kekecewaan mereka terhadap sikap ayahnya.
"Kau bertanya sementara kamu tahu sendiri bagaimana cara aku mendidik anak-anak? Jangan konyol!"
"Kini, aku semakin yakin untuk meninggalkan kalian."
"Ya, silakan saja, pergi peluk istri dan anak-anak Anda, kami tidak perduli!" jawab Vito dengan lantangnya, anakku terlihat emosi sampai tak mampu mengendalikan dirinya untuk menendang kursi hingga terjatuh ke lantai.
"Kami kecewa dan sudah muak kepada ayah, mulai sekarang berpapasan di jalan pun, jangan menegur kami lagi!"
"Kamu pikir aku akan berhasrat sekali untuk memanggilmu? Apa untungnya?! Aku datang kemari untuk minta maaf, namun kalian malah mengajakku bertengkar! Benar ya, diam di rumah ini membuat tensi naik saja!" Dia mendecak lalu beranjak pergi.
Aku yang saat itu masih mengenakan mukena hanya mampu mengelus d**a sambil terus mengucapkan istighfar.
"Bunda, ajukanlah gugatan perceraian karena semakin dipendam lama maka pertengkaran ini akan terus terjadi dan kita tidak akan pernah hidup tenang."
Tanpa kuduga, Erwin mengucapkan kata itu, Sebenarnya aku tidak pernah memikirkan perceraian, namun anakku tiba-tiba mengusulkan idenya, aku yakin dia pun sudah tidak tahan dengan konflik ini.
"Lalu bagaimana dengan kalian?"
"Ayah, tidak akan berani mengusir kita, kalau dia berani mengusir kita itu artinya dia ingin memutuskan hubungan."
"Tapi bagaimana jika istri dan keluarganya yang datang untuk mengusir kita?"
"Maka kita akan menuntutnya secara hukum karena secara teknis dia hanya istri yang dinikahi dibawah tangan," jawab anakku yang tidak kusangka pikirannya sudah sepintar itu.
"Baik, kita akan mempertahankan apa yang kita miliki, kita pasti bisa menjalani semua ini bertiga."
"Ya, Bunda kita bisa."
*
Kesokan harinya apa yang kukhawatirkan terjadi, ketika sedang sibuk mengerjakan pesanan kue cetak, tiba-tiba satu rombongan datang dan merangsek masuk ke dalam rumah tanpa izin dan sopan santun.
"Ayo bongkar seluruh isi rumah ini dan bersihkan!" ucap wanita tua yang kemarin memesan kue sambil menunjuk-nunjuk perabotan rumah.
Aku yang sedang sibuk bergelut dengan adonan di dapur, langsung meletakkan alat-alatku dan buru buru melihat apa yang terjadi.
"Permisi, ada apa ini?"
"Kamu yang sudah lama menghuni di rumah Ini 'kan? Sekarang saya minta kamu untuk berkemas dan meninggalkan tempat ini karena Imam dan istrinya akan pindah kemari."
"Punya hak apa dia mengusir kami? Anak anda hanya istri siri, sementara kami adalah istri dan anak-anak yang sah."
"Tapi sekarang kamu akan diceraikan jadi segera tinggalkan tempat ini," jawabnya ketus.
"Oh ya, kalau begitu sabar saja menunggu sampai perceraiannya selesai dan lihat siapa yang akan memenangkan harta gono gini," balasku santai.
"Aku sudah mengatakan ini dengan baik-baik dan jangan sampai aku membayar orang untuk bersikap kasar."
"Jangan khawatir, karena anak saya dari lantai 2 sudah memvideokan apa yang Anda lakukan, sebentar lagi berita keluarga pelakor yang ingin mengusir keluarga istri pertama akan viral di sosmed."
"Hah?!" Wanita itu terkejut raut wajahnya yang tadinya merah membara menjadi pucat.
"Saya benar-benar akan membawa kejadian ini ke pengadilan dan menuntut Mas Imam atas penipuan dan pemalsuan dokumen pernikahan. Saya akan memastikan bahwa pernikahan anak Anda dan suami saya ditolak secara hukum dan agama."
"Anak saya menikah dengan wali dan saksi," ucapnya lantang.
"Tapi mempelai pria yang sudah menipu anda! Sekarang anda ingin mengusir saya, tapi Siapa yang menjamin bahwa anak Anda pun tak akan mengalami kejadian yang sama!"
Wanita itu semakin mundur dan menelan ludah. Sementara anakku dengan santainya dari lantai dua, melambai kepada Ibunya Sari dan menyuruhnya tersenyum agar video yang mereka hasilkan lebih bagus.
"Ayo senyum, Nek, Anda sangat cantik hari ini ," ucap Vito menyindir wanita itu.