Menghadapi kenyataan bahwa suamiku tak bisa kutemukan, aku hanya bisa tersedu dan tergugu di depan keluargaku. Erwin dan Vito yang menyaksikan kepanikan ini segera mendekat dan coba menenangkanku dengan berbagai usaha mereka. "Bunda, Bunda kenapa? Kenapa nangis, apa ada yang terjadi dengan Pak Hamdan?" tanya Vito. "Entahlah, aku merasa punya firasat buruk," jawabku sedih. "Tenangkan dirimu, minumlah segelas air," timpal ibu mertua sambil menyodorkan segelas air. Kuterima gelasnya dan kuminum sedikit dari sana, kedua anakku mencoba mendudukkanku. "Katakan yang sebenarnya apa ada yang terjadi?" "Tidak." Aku masih ragu untuk mengatakan bahwa saat ini Suamiku sedang bergelung di selimut yang sama bersama mantan tunangannya. Tidak bisa kubayangkan betapa syoknya ibu, dia bisa naik darah

