Jika paling berisik adalah Safa maka yang paling aneh adalah Meira. “Mas Arkan ini beneran enggak papa?” tanya Ayu memang khawatir ke arah Arkan. Pria itu sendiri juga mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya melihat tingkah sang kakak, baru perlahan mengangguk. “Enggak papa kok, Yu. Ci Meira emang seleranya beda.” “Ih, kok kalian ngelihatin gue gitu banget?” tanya Meira yang tengah mencolek bakwan dengan selai coklat. Iya, selai coklat yang digunakan Ayu untuk membuat roti panggang pagi tadi. “Ini enak tahu,” lanjut Meira lalu menggigit bakwan itu sedangkan Ayu dan Arkan yang melihat itu langsung meringgis. “Gurih, asin, lembut terus manis!” seru Meira. Ayu buru-buru mengalihkan pandangannya, takut bisa saja ia mual membayangkannya. Semenjak hamil ia memang sedikit lebih sensitif dan

