DIKAMARNYA, Rosé sedang memandangi langit-langit kamarnya sambil menggigit bibirnya dan sesekali menghela nafas berat. Seakan-akan sedang menghadapi masalah yang sangat besar.
“Gak, enggak.. Gue gak mau nikah sama dia.” ucap Rosé lagi entah untuk yang ke berapa kalinya.
Dering ponsel Rosé memecahkan fokusnya. Dengan cepat Rosé mengangkat telpon tesebut..
“Hai yo watsup.” sapa Lisa di ujung telepon dengan nada sok asik.
“Lisaaa.” teriak Rosé sambil merengek.
“Eehh.. Kenapa lagi lo? Gue telpon nangis. Segitu kangennya lo sama gua?” ucap Lisa bertubi-tubi.
“Gue Gak mau..”
“Gak mau kangen sama gua?” batin Lisa.
“Gak mau apa?” tanya Lisa bingung.
“Gua gak mau nikah.” ujar Rosé merengek.
“Kenapa tiba-tiba gak mau?” tanya Lisa heran..
“Lisa..”
“Apaan?”
“Gimana caranya supaya gue gak jadi nikah?” tanya Rosé dengan nada frustasi.
“Jawab dulu pertanyaan gua, kenapa gak mau?”
“Gua gak mau nikah sama dia..”
“Dia? Dia siapa? Lo udah tau orang nya siapa?”
“Udah..”
“Terus kenapa gak mau? Mukanya jelek atau orangnya pendek?”
“Ihh body shamming!!” teriak Rosé.
“Yakan maksud gua itu..”
“Bukan, bukan itu.”
“Jadi apa? Hitam? Dekil? Bau?”
“Astaga Lisa lo kok jahat sih ngomong gitu?”
“Yaelah Rosé ribet banget sih hidup lo.”
“Lebih parah lagi Lis..”
“Atau jangan bilang om om atau jangan bilang kakek kakek?”
“Hmm, itu masih mending. Ehh, tapi kalau gitu beneran, gua ogah juga..”
Ditempatnya Lisa memutar matanya jengah. “Jadi apa Rosé ? Lo bisa gak kalau ngomong sama gua to the point, gua orangnya gampang penasaran.”
Bukan menjawab ucapan Lisa, Rosé malah memanggil Lisa. “Lisa.”
“Apa?!” teriak Lisa.
Rosé menjauhkan poneslnya sambil mengusap telinganya. “Kok ngebentak gua?”
“Habis gua kesel, buakannya langsung ngomong aja. Capek gua muter-muter.”
“JK.”
“Astaga, bukannya dijawab yang tadi. Kenapa lagi JK? Lo ketemu dia? Ngapain lagi dia kali ini?” kesal Lisa pasrah.
“Tuhan, gua gak apa-apa gak nikah asal temen gua ini bisa pinteran.”
“Emang pertanyaan gua salah?”
Rosé nangis kejer mendengar ucapan Lisa. “Kayaknya gua harus cari temen baru. Gua udah stress makin stres kalau ngoomong sama lo!”
“Tunggu tunggu. Gue cerna dulu omongan lo. Lo diem jangan nangis, ntar gua jadi gak fokus mikirnya.” ujar Lisa cepat.
“Ingin ku berkata kasar!” batin Rosé.
“Kasar!” teriak Rosé.
“Haa?”
“Mikir aja lo dulu! Gak usah gubris gua!” ucap Rosé menahan kesal.
Lisa diam dan mulai berfikir..
“Apa salah ku tuhan. Kenapa punya temen b**o bener..” Batin Rosé sedih.
“What?! Rosé, jangan bilang dia!” teriak Lisa membuat Rosé menjauhkan ponselnya.
“Rosé jawab gua!” ujar Lisa masih dengan berteriak.
“Suara lo kecilin!” ujar Rosé menahan kesal.
“Jangan bilang yang diotak gua bener?” ucap Lisa yang berbicara dengan nada yang sangat pelan.
“Haa? Apa? Lo ngomong apa? Kalau ngomong kencengan dikit!” ujar Rosé yang semakin kesal pada Lisa.
“Tadi lo suruh gua ngecilin suara!” teriak Lisa lagi yang membuat Rosé Kembali menjauhkan ponselnya lagi.
“Tapi gak kecil kali b**o! Lo kira gua semut!” ujar Rosé melepaskan kekesalannya pada Lisa.
“Ehh anak Mami jangan marah marah. Gak baik loh.” ujar Lisa yang membuat Rosé kesal.
“Bodo Lis bodo gak perduli gua, sumpah!” ujar Rosé yang Kembali meluapkan kekesalannya pada sahabatnya itu.
“Sekarang jawab gua. Yang diotak gua bener?”
“Apa yang ada diotak lo? Kayak ada aja isi otak lo!”
“Orang yang dijodohin sama lo itu JK?”
“Iya..” rengek Rosé kencang.
“Sumpah Rosé?!”
“Iya Lisa. Gua harus gimana sekarang?”
“Ganteng sih dia, terus kaya lagi. Lumayan lah, gak rugi-rugi banget.”
“Gua juga cantik kok, kaya juga.” ucap Rosé tak mau kalah.
“Yaudah berarti kalian cocok. Yang satu ganteng yang satunya cantik..”
“Makasih udah mau ngakui kalau gua cantik. Tapi walaupun gitu gua masih gak mau nikah sama dia.”
“Eehh, gua bilang lo cantik emang?”
“Iya tadi..”
“Khilaf gua itu, gak mungkin mata gua memandang lo gitu..”
“Bodo lah, yang penting gua cantik. Sekarang gimana ini? Gua gak mau nikah sama dia, kasih gua solusi..”
“Terima aja udah, kan udah cocok..” ujar Lisa pasrah.
Rosé menarik nafas panjang. “Lisa, sebelum gua pecat lo jadi temen.. Bagus gua lo kasih gua solusi segera..”
“Dihh ngancem. Bentar-bentar gua pikir dulu...”
“Buruan!”
“Ahaa!” Ucap Lisa setelah diam bebrapa waktu.
“Apa? Apa? Lo punya ide?”
“Kenapa gak lo bawa aja cowok kerumah, kan Mama minta lo ngebawa pacar lo kerumah terus tuh..”
“Oke, tapi siapa?”
“Ya lo cari Rosé.”
“Tapi itu pasti berhasil?”
“Ya mana gua tau, tapi ya semoga aja berhasil. Tapi Rosé, btw nih kan, kalian belum tunangan apalagi nentuin tanggal nikahan kan?”
Rosé diam sejenak. “Hmm, udah. Gua sama dia udah tunangan tadi. Kalau gua gak salah dengar bulan depan nikahnya.”
“Astaga, gua punya temen kok b**o bener sihh.”
“Siapa ? Gua? Gua b**o apa?” ujar Rosé tak terima dengan ucapan Lisa.
“Kalau udah nentuin tanggal ya bakal susah lah! Nyokap lo mana mungkin terima cowok yang lo bawa. Lo sama JK udah terlanjur diikat..”
“Huaa.. Lisa gua harus apa?” rengek Rosé.
“Gua ada satu cara lagi..”
“Apa?”
“Tapi gua gak rekomendasikan cara ini..”
“Gimana buruan..” tanya Rosé tidak sabaran.
“Lo kabur aja dari rumah kayak 2 tahun lalu. 2 tahun lalu dia sama sekali gak dapet jejak lo kan.”
“Iyaa.. Tapi kemana?”
“Jangan New Zealand, orang tua lo pasti tau dan jangan juga di negara yang ada kantor cabang perusahaan bokap lo atau perusahaan JK. Thailand?”
“Panas..”
“Gak apa-apa kali Rosé, biar kulit lo eksotis atau kalau mau dingin, kutub utara..”
“Bisa mati kedinginan gua disana..”
“Gak usah lebay deh..”
“Tapi seriusan deh Rosé, gua sama sekali tidak rekomendasikan lo untuk kabur..”
“Kenapa?”
“Karna terkadang ada satu fase hidup yang gak bisa lo hindari. Kalau lo kabur, lo harus siap ninggalin hidup mewah. Gak ada barang brended lagi tapi gua berani jamin lo gak akan bisa.” ujar Lisa menjelaskan.
Rosé terdiam..
“Gak apa-apa, asal gua gak nikah sama tu cowok.”
Tok. Tok. Tok. Suara ketukan pintu membuyarkan obrolan Lisa dan Rosé.
“Bentar Lis, ada yang dateng.”
“Oke.”
“Masuk.” teriak Rosé dari dalam kamar.
Seorang pria yang mengenakan bomber dongker dan celana ripped jeans hitam, berhasil menyita perhatian Rosé. Rosé tidak bisa menyembunyikan kekagetannya begitu melihat pria itu masuk kedalam kamar Rosé .
“Hai sayang.” sapa pria itu, pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah JK, tunangannya.
“Ngapain lo masuk kamar gua?! Keluar lo!”
“Mama lo yang nyuruh gua masuk, gua udah nolak tapi Mama lo bilang masuk aja gak apa-apa..”
“Mama!!” Kesal Rosé dalam hati.
“Woi Rosé, kenapa lo marah-marah?” tanya Lisa yang masih berada diujung telepon.
“Lis, nanti gua telpon lagi ya. Ada setan masuk kamar gua..”
“Haa? Lo bisa liat setan? Sejak kapan Rosé?” tanya Lisa panik mendengar penuturan Rosé.
“Tau ahh. Udah yaa, lo pikirin aja yang gua tanya tadi. Bye!”
Rosé langsung menutup telpon tanpa mendengar jawaban dari Lisa. Sedangkan JK beranjak mendudukan tubuhnya ditepi ranjang Rosé.
“Ngapain lo duduk di sini?!” seru Rosé dingin.
“Bentar lagi ini juga bakal jadi tempat tidur gua.”
“Mending lo keluar! Gua mau tidur!” ujar Rosé yang sama sekali tidak ramah.
“Perlu gua temenin atau mau gua nyanyiin?”
“Gak sudi gua!”
JK mendekatkan wajahnya dengan wajah Rosé sampai tidak ada jarak diantara mereka. Berbeda dengan sebelumnya, kini Rosé membuka matanya lebar dan melemparkan tatapan sinis pada JK, sedangkan JK tersenyum melihat Rosé.
“Ingat lo masih ada hutang penjelasan sama gua..”
“Semua nya udah jelas! Gak ada yang perlu gua jelasin lagi! Jadi mending sekarang lo keluar! Gua muak liat muka lo!” ujar Rosé tanpa rasa takut sedikitpun.
Baru saja JK ingin menjawab ucapan Rosé, namun ponsel JK berdering tanpa berlama-lama JK langsung melihatnya. Rosé juga melihat sekilas chat yang ada diponsel JK. JK menghela nafas dan langsung melihat Rosé.
“Karna udah malam, gua malas bedebat sama calon Istri gua ini. Jadi kali ini lo gua lepasin.”
Rosé berdecak mendengar penuturan JK.
“Gua bawa makanan kesukaan lo, turun sana makan.”
Rosé sama sekali gak memperdulikan JK bicara. Akibatnya JK semakin mendekatkan wajahnya ke Rosé hingga hidung mereka bersentuhan. Dengan refleks Rosé menutup matanya dan mengatupkan bibirnya dalam. JK tersenyum tipis lalu tanpa pikir panjang JK mencium kening Rosé.
“Gua pergi ya.” pamit JK.
Rosé ngebuka matanya dan menatap punggung JK diujung pintu kamarnya. “PERGI AJA LO SANA GAK USAH BALIK LAGI!” teriak Rosé kesal.
Setelah itu Rosé langsung lari kekamar mandi dan mencuci mukanya kasar. Rosé melihat pantulan wajahnya dicermin wastafelnya.
“Gak mau debat sama calon Istri? Hahaha bullshit! Cewek lo ngechat makanya lo pergi! Dasar cowok bajingan..”
♥♥♥♥♥
Dua hari sudah berlalu, hari ini Rosé janjian mau ketemu sama Lisa di salah satu mall. Tapi tenang mereka bukan bertemu untuk merencanakan aksi kabur Rosé, mereka hanya ingin makan dan shopping.
“LISA!” teriak Rosé dibelakang Lisa sambil menepuk punggung lisa.
“Gak kaget gua..”
“Gua gak ngangetin kok.”
Lisa mencibir.
“Beli apa lo?”
“Lucu kan?” ucap Lisa sambil menunjukkan tas yang dipegangnya.
“Hmm, tenyata selera lo gak jelek jelek banget..”
“Itu tuh kebisaan jelek lo. Gak pernah berfikiran baik sama gua, taunya ngehina gua aja..”
“Hahaha sorry sorry..”
“Lo gak pengen beli?”
“Enggak.”
Lisa menatap Rosé sambil menggeritkan dahinya. “Yakin lo? Lo gak berniatan untuk kabur beneran kan?”
“Rencana..”
“ROSÉ!” teriak Lisa.
“Tennag aja, gua bakal kasih tau elo kok nanti. Biar nanti kalau gua kekurangan uang, gua bisa minta uang sama lo.”
“Lo kira gua apa, minta uang sama gua?”
“Lo teman tersayang gua.” ucap Rosé sambil nyium pipi kiri Lisa yang disabut dengan Lisa mengusapi pipinya.
“Rosé, gua masih normal. Jadi, please banget jangan sama gua.” ucap Lisa yang membuat Rosé langsung melancarkan tangannya menjitak kepala Lisa.
“Lo kira gua belok apa?! Gua masih sangat sangat normal Lisa!
“Mana tau kan, 2 tahun hidup sendiri bikin lo belok.”
“Sialan lo. Udah aah, gua mau pergi. Bhay!”
“Mau kemana lo?”
“Mau liat-liat. Siapa tau ada yang lucu.” ucap Rosé pergi meninggalkan Lisa yang masih sibuk ngedumel.
“Katanya tadi enggak! Emang susah dipercaya kalau udah urusan ginian.”
Rosé dan Lisa pisah jalannya. Setelah beberapa lama, Lisa bertemu dengan Rosé di kasir.
“Astaga rosé! Lo gila apa gimana?!”
“Kenapa?” tanya Rosé polos.
“Kayak gini lo mau kabur?” Tanya Lisa sambil menghela nafas berat melihat sahabatnya yang duduk dengan hampir 3 paperbag yang mengelilinginya.
“Emang kenapa sih?” tanya Rosé lagi tanpa menghilangkan kepolosannya.
“Gua jamin lo gak bisa! Kalau lo mau kabur jangan minta uang sama gua! Gua bukan pabrik uang!”
“Kok lo gitu sih?”
“Gua beli 1 lo beli 3! Yakali gua ngidupin hidup mewah lo! Bisa bangkrut 7 turunan gua! Kalau lo beneran mau kabur, mulai belajar hidup hemat! Kalau gak lo rampok dulu dollar dibrankas bokap lo! Apapun lah itu asal lo jangan minta ke gua!” runtun Lisa dengan nada menggebu-gebu.
“Diih, temen apaan lo. Masa gak mau nolongin temennya.”
“Kalau gini bukan nologin lagi tapi morotin gua!”
“Whatever deh. Gua mau ke Gucci.”
“Kan! Apa gua bilang!” Kesal Lisa.
“Tapi gua laper, makan dulu ya.” Ujar Rosé tanpa menghiraukan kekesalan Lisa.
“Serah lo deh. Lo nikmati aja hidup mewah lo sebelum lo kabur.”
Rosé dan Lisa keluar dari store Channel dan berpindah ke restoran jepang yang ada tidak jauh dari store Gucci yang ingin dikunjunginya. Sampai di restoran, Rosé langsung memesan makanan sesuai dengan yang dia inginkan.
“Makin yakin gua lo Gak akan bisa kabur.” ujar Lisa sambil menatap tidak percaya pada makanan yang dipesan oleh Rosé.
“Tenang aja bakal habis kok ini.”
“Bukan masalah habis atau enggak. Gua tau lo manusia omnivora dan terlebih lo adalah tong sampah makanan. Sebanyak apapun gua yakin itu akan masuk. Tapi, kalau niat lo kabur gak gini caranya Rosé.” cerca Lisa.
“Tau ahh, gua laper.” Ucap Rosé santai dan kemudian mulai melahap makanan yang ada di depannya.
Disaat Rosé sedang menikmati makanan, ada seseorang yang memanggil namanya.
“Rosé? Lo Rosé kan?” panggil seseorang.
“Lo? Ji--Ji?” ingat Rosé setelah melihat orang yang memanggilnya.
“Jimmy.” ucap pria yang menyapa Rosé tersebut.
“Ahh iya Jimmy.”
“Lo di Korea?” tanya Jimmy setelah bersalaman dengan Rosé.
“Hmm ya, Baru balik.”
“Dari?” Tanya Jimmy.
Rosé terdiam.
“Sorry gua nanya itu..” ucap Jimmy saat Rosé tak kunjung menjawab pertanyaannya.
“Ngapain minta maaf? Gua habis dari New Zealand.” ucap Rosé santai.
“Pantes gua gak pernah liat lo lagi.”
“Ini siapa Rosé?” tanya Lisa setelah merasa tidak dianggap ada beberapa menit yang lalu.
“Ehh iya Jimmy, kenalin ini temen gua Lisa.” ujar Rosé sambil menunjuk Jimmy.
“Lisa, kenalin ini Jimmy.” ujar Rosé lagi sambil menunjuk Lisa.
Lisa melihat Jimmy tak berkedip.
“Apa ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?” batin Lisa saat menatap Jimmy.
“Gua Jimmy.” ujar Jimmy sambil mengulurkan tangannya pada Lisa.
“L-Lisa.” ujar Lisa sambil membalas uluran tangan Jimmy.
“Lo sama siapa Ji?” tanya Rosé menghiraukan tatapan kagum Lisa pada Jimmy.
“Sendiri, tapi lag-..”
“Gabung di sini aja..” ajak Lisa tanpa basa-basi.
“Gak apa-apa nih?” tanya Jimmy.
Lisa ngeliat Rosé sambil ngasih kode-kode morse. Seakan mengerti kode-kode yang diberikan oleh Lisa, Rosé berkata. “Iya, gak apa-apa kok, santai aja.”
Jimmy duduk diseberang Rosé dan Lisa.
“Ini makan aja gak apa-apa.” ujar Lisa ramah sambil menunjuk makanan yang ada dimeja mereka.
“Ehh enggak usah, gua pesen lain aja.”
“Udah ini aja gak apa-apa. Dari pada ini semua masuk kedalam perut Rosé.” ujar Lisa lagi
“Gak usah jual nama gua Lis!!” kesal Rosé.
Lisa hanya terkekeh mendengar kekesalan Rosé.
“Lo bakal stay di Korea sekarang Rosé?”
“Mau gak mau.” ujar Rosé santai.
“By the way, lo sama J-.”
“Gak usah bahas itu tolong.” potong Rosé.
“Oke, jadi kalian emang beneran udahan ya?” tanya Jimmy memastikan.
“Yap! Benar sekali.”
“Lagi ngebahas JK ya?” tanya Lisa bicara santai sambil mengunyah sushi, dan langsung disambut dengan tatapan sinis dari Rosé.
“Ehh sorry, lupa gua sensor nya.”
Jimmy tertawa pelan melihat tingkah Lisa.
“Lo kerja Ji?”
“Iya, di perusahaan JK.”
“Eeh namanya lo sensor itu.” ujar Lisa spontan
“Lisa, bagus lo diem deh.” kesal Rosé.
“Iya Rosé iya.”
“Bukannya keluarga lo punya perusahaan sendiri?”
“Iya, tapi bukan bidang gua.”
“Cerita apaan sih?”
Rosé memasukkan sushi kedalam mulut Lisa. “Makan yang banyak ya. Jangan ikut campur urusan orang tua!” ujar Rosé setelahnya.
“Iya Mami..”
Rosé hanya bisa geleng-geleng ngeliat sahabatnya. “Maafin ya, anaknya emang agak aneh.” ujar Rosé pada Jimmy.
“Gak apa-apa kok, temen lo lucu malah.”
Lisa langsung tersipu-sipu dan membuat Rosé bergedik ngeri. “Lisa, jangan buat gua jijik sama lo please.”
“Apaan sih Rosé.” ujar Lisa dengan nada yang dibuat-buat.
“Lis, sumpah gua geli banget!” ujar Rosé saat melihat Lisa yang berubah menjadi kalem detik itu dan hal itu membuat Rosé geli tapi Jimmy menganggapnya lucu.
“Jim.” teriak seseorang.
“Ehh Bro.” ujar Jimmy saat melihat orang yang memanggilnya.
Rosé terperanjat kaget melihat sosok yang memanggil Jimmy. Dia adalah JK calon Suami Rosé, manusia yang paling dihindari Rosé. Kali ini JK tidak sendiri, JK pergi dengan Irene.
“Siapa yang lo bawa kali ini?” tanya Jimmy menatap Irene yang menggandeng tangan JK.
“Temen.” ucap JK sambil melihat Rosé yang enggan melihat ke arahnya.
“Ehh Lisa.” panggil JK saat mengalihkan pandangannya ke Lisa.
“H-hai J.” ujar Lisa canggung.
“Kalian saling kenal?” tanya Jimmy.
“Hmm iya.” jawab JK santai
Jimmy langsung melihat arah mata JK yang tak lain adalah Rosé. “Ahh yayaya, paham gua paham.”
“Gua boleh gabung kan Lis?” tanya JK.
“Haa?” kaget Lisa dan langsung melihat kearah Rosé.
“Gua harus izin sama dia dulu?” ujar JK sambil menunjuk Rosé.
“Haa?” kaget Lisa lagi saat JK menunjuk Rosé.
“Eehh, dia cewek yang dibar itu kan?” ujar Irene saat melihat Rosé.
Rosé melihat ke arah JK dan Irene sekilas dan langsung menyeringai.
“Hai Anne..” sapa JK dengan senyum.
“Jimmy, gua duluan ya.” ujar Rosé sambil berdiri.
“Eeh Rosé, mau kemana? Lo kan makannya baru dikit.” ujar Lisa panik.
“Gak selera makan gua. Yok!” ajak Rosé pada Lisa.
“Jangan ngeluh sama gua nanti kalau lapar!” ujar Lisa yang membuat Rosé diam.
“Duduk, makan lagi!” perintah Lisa.
Rosé bener-bener baru makan sedikit sushi sebelum Jimmy datang. Dan Rosé adalah tipe orang yang gak kuat kalau lapar. Kalau lapar sedikit aja udah kayak orang yanng gak makan seminggu. Jadi bagi Lisa lebih bagus Rosé makan satu meja dengan JK dan pacarnya dibandingkan harus mendengar Rosé mengeluh kelaparan nantinya.
“Rosé, duduk!” perintah Lisa lagi.
Mau gak mau, Rosé duduk Kembali dikursinya. Karna sejujurnya dia masih sangat lapar.
“Jadi gua boleh gabung Anne?” tanya JK lagi sesaat setelah Rosé duduk.
“Masih manggil Anne? Masih pacaran gak sih?” tanya Jimmy dalam hati.
“Dih di tanyain juga, bukannya jawab malah diam aja. Sok banget jadi orang.” cerca Irene.
“Kayaknya udah enggak, toh JK udah bawa gandengan baru.” ujar Jimmy lagi.
“Terserah lo mau duduk dimana. Gua gak bisa larang, ini bukan resto gua!” ujar Rose tanpa menoleh pada JK ataupun Irene.
Irene duduk di sebelah Jimmy sedangkan JK duduk di sebelah Irene yang mana posisinya bersebrangan dengan Rosé. JK melihat Rosé sambil menopang dagunya dengan tangannya.
“Babe, aku nanti mau ke Channel.” ujar Irene yang hanya dijawab dengan gumaman oleh JK.
“Beneran babe.” tanya Irene lagi memastikan.
“Iya!” ujar JK malas.
Jimmy kemudian manggil pelayan buat pesan makan lagi.
“Kenapa pesan lagi? Ini udah banyak kan.” tanya Irene sambil menunjuk makanan dimeja.
“Itu--”
“Ini makanan anak gua! Jangan lo sentuh!” ujar Lisa dingin.
“Babe.” panggil Irene sambil menatap JK.
“Apa lagi Ren?!” jawab JK kesal.
“Mereka temen kamu?” tanya Irene sambil menunjuk Lisa dan Rosé.
“Ya bukanlah!” kesal Rosé.
“Gua gak nanya lo!” ujar Irene sesaat Rosé menjawab.
“Itu udah diawab.”
“Makan aja anak Mami, gak usah ngejawabin orang.” ujar Lisa yang dihadiahkan tatapan sinis oleh Rosé.
“Habis ini kita ke Gucci deh.” bujuk Lisa.
“Lo yang bayarin!” jawab Rosé menangkap umpan.
“Iya, tapi gua pulang dulu ngerampok brankas bokap dulu.”
“Dih, gak modal!” celetuk Irene.
Rosé dan Lisa mengabaikan celetuk Irene tersebut, karna menurutnya itu tidak penting. Setelahnya mereka makan dengan dengan tenang kecuali Rosé. Rosé sangat terlihat tidak tenang dan tidak nyaman karna keberadaan JK disitu. Selesai makan Rosé dan Lisa pergi ke store Gucci. Irene yang tadinya minta ke store Channel berubah pikiran ke Gucci, sedangkan Jimmy dan JK mereka hanya ngikutin kemana pun cewek-cewek itu pergi.
♥♥♥♥♥
Begitu sampai di store Gucci Rosé langsung misahin diri. Rose pergi melihat-lihat barang yang ada di store itu. Setelah memilih beberapa baju, Rosé langsung segera pergi keruang ganti untuk mencobanya. Diruang ganti saat Rosé hendak nutup pintu seseorang menahan pintunya dari luar. Melihat orang yang menahan pintu tersebut membuat Rosé kesal.
“Mau ngapain lo?” tanya Rosé pada JK.
JK hanya diam tidak menjawab pertanyaan Rosé dan langsung menutup pintu ruang ganti tersebut.
“Keluar.” ucap Rosé sambil menahan kekesalannya. Namun JK hanya diam tak berniat mengubris ucapan Rosé.
“Keluar!” teriak Rosé tak bisa menahan lagi kekesalannya.
“Ngapain teriak-teriak sih Anne?”
“Please keluar.” ujar Rosé melembut.
Bukannya keluar, JK malah memegang tangan Rosé dan langsung ditepis oleh Rosé sesaat setelahnya. “Kenapa Anne?” tanya JK dalam hati
“Keluar please, gua mau ganti baju.” ujar Rosé lagi.
“Tinggal ganti. Kenapa gua harus keluar? Nanti juga lo bakal nikah sama gua. Jadi kalau mau gantibaju ya ganti aja.
“Masih nanti kan! Sekarang please keluar!” ujar Rosé dengan nada yang naik satu tingkat.
“Kenapa kalau masih nanti?! Lo ada rencana buat ninggalin gua lagi?!”
Rosé terdiam, dia tidak bisa menampikkan itu. Rosé memiliki keinginan untuk pergi meninggalkan JK, lagi. Melihat tidak keterdiaman Rosé. JK bertanya Kembali, “Lo beneran mau ninggalin gua lagi?”
Rosé masih terdiam, rasanya masih sangat berat untuk menjawab.
“Jawab anne!” bentak JK dengan nada tinggi.
Rosé langsung jongkok dan menutup mukanya disela lututnya. JK menghela nafas melihat Rosé. “Lo gak bisa dibentak tapi kerjaan lo minta dibentak.” ujar JK ikut jongkok di depan Rosé.
“Gak usah nangis.” ujar JK sambil meluk Rosé.
“Lepasin gua.”
“Diam makanya!”
Tanpa berfikir lama Rosé langsung menghapus air matanya. “Sekarang keluar tolong.”
“Berdiri.”
Karna malas berdebat Rosé langsung mengikuti ucapan JK.
“Ganti baju lo. Gua gak bakal liat.” ucap JK sambil menutup kedua matanya.
“Keluar, nanti cewek lo nyariin.”
“Gak perduli gua.”
“Gua gak mau dia mikir yang enggak enggak sama gua. Jadi please keluar ya.”
“Lo calon Istri gua. Dia bisa apa?” ujar JK dengan mata yang masih tertutup.
“Dia bahkan gak tau itu sama sekali.”’
“Nanti gua kasih tau.”
“Tapi gua gak ngarepin itu!” ujar Rosé membuat JK membuka matanya dan melihat Rosé, kemudian Rosé menghela nafasnya panjang.
“Yaudah deh. Gua gak usah nyoba bajunya lagi. Awas gua mau keluar!”
“Coba aja, nanti gak muat.”
“Ini ukuran gua dan badan gua gak segede itu! Minggir lo!” Ujar Rosé berapi-api.
JK ngambil baju yang ada ditangan Rosé dan langsung keluar dari fitting room.
“Baju gue!” teriak Rosé saat JK ngebawa baju Rosé ke kasir dan diikuti oleh Rosé.
“Ada lagi yang mau lo beli Anne?”
“Pertama nama gua Rosé! Kedua urusan sama lo apa, masih ada yang gua beli atau enggak!” ujar Rosé tanpa mengurangi intensitas ketajaman matanya.
“Buruan pilih.” ujar JK seakan tak perduli ucapan Rosé sebelumnya.
“Kok lo ngatur ngatur gua!”
“Pilih sebelum gua yang milih Anne.” ucap JK sambil menatap Rosé.
Dengan segera Rosé pergi mengambil sepatu yang diincarnya dari pertama masuk dan langsung membawanya kekasir setelah ukurannya sesuai..
“Ada lagi?” tanya JK.
“Enggak!”
JK meminta petugas kasir untuk langsung memproses barang yang dibeli Rosé. Saat belanjaannya sedang diproses Rosé membuka dompetnya dan mengeluarkan credit card nya.
“Mau ngapain lo?” tanya JK saat melihat Rosé mengeluarkan credit card nya.
“Bayar lah!” ujar Rosé ketus.
“Simpen credit card lo!” perintah JK.
“Apaan sih lo.”
“Simpan Anne. Gua yang bayar.”
“Ini barang gua dan gua masih sanggup buat bayar sendiri.”
“Gua calon Suami lo, jadi gua aja yang bayar.”
“Masih calon JK! Bayarin aja cewek lo sana!” Kesal Rosé.
Rosé langsung memberi credit card nya ke kasir tanpa pikir panjang JK langsung merebut credit card Rosé dan JK memberikan credit card nya ke kasir yang sedari tadi melihat 2 orang itu adu mulut.
“JK!”
“Gua deket lo Anne dan gua gak tuli. Jadi gak usah teriak-teriak please.”
“Kembaliin credit card gua.”
“No, Credit card lo gua tahan!”
“Hak lo apa J!”
“Gua calon Suami lo. Calon Suami!”
“Serah lo deh. Capek gua ngomong sama orang gila.” ucap Rosé pasrah sambil berlalu meninggalkan JK.
“Lisa.” Panggil Rosé saat melihat Lisa.
“Kenapa anak Mami? Eeh tumben gak ada tentengan.”
“Ada kok.”
“Mana?”
“Tuh dikasir.” ujar Rosé sambil menunjuk kasir.
Lisa menatap Rosé, sadar sedang ditatap oleh Lisa. Rosé berkata “Gak usah tanya apa pun! Gua lagi pusing!”
“Kalian ngomongnya emang gini? Cuman dengan liat-liatan langsung ngerti?” tanya Jimmy yang sedari tadi berada didekat dua wanita yang bersahabat itu.
“Ehh kok lo di sini?” tanya Rosé.
“Kenapa emang kalau dia di sini?” tanya Lisa.
“Kok lo nyambar?” tanya Rosé lagi. Setelahnya Rosé mengendus sambil mengipas udara ke mukanya seperti salah seorang talent yang ada di acara televisi.
“Gua mencium aroma PDKT di sini.” ucap Rosé mengikuti gaya bicara talent yang ada di televisi.
“Gak usah mengada-ngada Rosé.” ujar Lisa.
“Hahaha.. Kok lo gak protes Ji?”
“Haa?”
“Tukan mulai aneh..”
“Apaan sih Rosé”
Rosé mengobrol dengan Lisa dan Jimmy dan sesekali ketawa dengan lepas. Tanpa sadar sedari tadi JK memperhatikan Rosé.
“Lo bisa senyum sama orang lain. Tapi kenapa sama gua gak bisa Anne?”
“Heeh lo.” ucap JK sesaat setelah dia berada disekitar Rosé dan kedua orang lainnya.
“Siapa J? Gua?” tanya Jimmy.
“Anne.”
Rosé memutar matanya jengah. “Apa lagi?!” tanya Rosé tak bersahabat.
“Barang lo nih bawa sendiri.”
“Guna nya lo apa?” batin Rosé sambil ngambil belanjaannya ditangan JK tapi JK menahannya.
“Gak usah main-main!?” ucap Rosé.
“Babe.” panggil Irene.
Rosé menarik belanjaannya dari tangan JK.
“Apa?”
“Bayarin.”
“Ngomongnya gua gak modal. Dia nya minta bayarin.” ujar Rosé dalam hati.
JK mengambil credit card dari dompetnya sembarangan dan memberikannya pada Irene. Irene langsung pergi kekasir.
“Ehh tunggu. Tadi gua ngasih credit card siapa?” tanya JK pada dirinya sendiri sambil melihat dompetnya.
“Mati gua.” ucap JK keras.
Mendengar ucapan JK, Rosé langsung menoleh pada JK yang sedang kalang kabut dengan dopetnya. “Jangan bilang credit card gua.” batinnya.
“Nanti gua ganti.” ujar JK sambil menatap Rosé.
“Tuh kan credit card gua!” ujar Rosé dalam hati.
“Kenapa kalian?” tanya Lisa bingung.
“Lo mau ganti apa J?” tanya Jimmy.
“Ini muka lo kenapa tiba-tiba ketekuk Rosé?” tanya Lisa lagi.
“Papa.” rengek Rosé seketika membuat Lisa dan Jimmy heran.
“Hee Rosé, kenapa lo?” ujar Lisa lagi.
“Elah lebay lo, nanti gua ganti 2 kali lipat deh.”
“Apaan yang diganti.” tanya jimmy menanggapi ucapan JK.
“Gua ngasih credit card dia ke Irene tadi.”
“Tunggu tunggu. Kenapa credit card dia ada di lo?” tanya Lisa pada JK.
“Temen lo tu bandel. Udah dibilang gua yang bayar masih aja ngotot mau bayar sendiri. Yaudah gua ambil aja credit card nya.”
“Terus kenapa gak langsung dikasih lagi?”
“Credit card nya gua tahan!”
“Lagian kenapa lo ngebayarin Rosé? Kan yang cewek lo dia..” tanya Jimmy sambil menunjuk Irene yang sedang dikasir.
“Anne, calon Istri gua.” ujar JK santai.
“Haa?” ueriak Jimmy kaget.
“Fix temen lo itu gila Ji..” ucap Lisa pada Jimmy.
Rosé cuman diam sambil meratapi credit card nya.
“Udah lah Rosé.”
“Mana credit card gua?!” ucap Rosé menghiraukan ucapan Lisa.
JK ngasih credit card nya, Rosé memperhatikan credit card yang diberi kepadanya.
“Ini bukan punya gua!!” tolak Rosé.
“Pake itu aja.”
“Gak mau. Gua mau credit card gua.”
“Lo kasih J credit card dia..” perintah Lisa pada JK.
“Gimana mau dikasih, kan credit card nya masih dikasir.” ujar JK yang membuat Rosé malah makin kejer nangisnya. Sampai akhirnya JK mutusin buat pergi kekasir buat ngambil credit card Rosé. Rosé langsung mengambil credit card nya begitu diulurkan oleh JK dan ngeliatin credit card nya.
“Sabar yaa.” ucap Rosé sambil ngelus-ngelus credit card nya. JK geleng kepala ngeliat kelakuan Rosé dan langsung narek lagi credit card dari tangan Rosé.
“Kok?!”
“Lo pake punya gua, punya lo gua sita.”
“Biar apa coba?”
“Biar lo gak lari lagi.” ucap JK santai membuat Rosé terdiam.
“Kok gua bingung ya sama situasi ini.” ucap Jimmy yang sedari tadi sedang menelaah keadaan.
“Nanti gua jelasin Ji. Kalau nunggu penjelasan dari mereka, keburu melahirkan ayam tetangga gua.”
“Haa?” kaget Jimmy namun Lisa hanya menepuk pundak Jimmy seakan mengisyaratkan ‘tenang nanti gua jelasin’.
“Lisa! Jangan PDKT dulu! Gua lagi menderita!”
“Dimana letak menderitanya anak Mami?” ucap Lisa santai sedangkan Rosé malah nangis sambil menghentakkan kakinya.
“Lebay lo makin parah kayaknya Rosé.”
“Biarin! Dari pada kayak lo! Udah b**o jomblo lagi!” ejek Rosé ditengah tangisnya.
“Lo-..”
Rosé menunjukkan cincin tanangan yang tersemat dijari manisnya sebelum Lisa selesai berbicara.
“Ehh ngakui udah tunangan. Berarti gak jadi kaburnya?” ujar Lisa tanpa rasa bersalah.
“Jadi lo beneran mau kabur..” batin JK sambil memperhatikan Rosé.
Rosé ngeliat Lisa sinis.
“Hehe sory sensor gua lagi rusak.”
Rosé nangis makin kencang yang membuat beberapa mata di store itu melihat kearah nya.