SETELAH selesai berdrama ria, kini Rosé dan Lisa memutuskan untuk pulang. Setelah berbincang tentang dengan siapa Rosé akan pulang. Lisa pamit pulang pada JK dan Jimmy, begitu juga dengan Rosé yang pamit pada Jimmy. Setelah Rosé hendak pergi JK menahan tangan Rosé.
“Lo balik sama gua.” ucap JK singkat.
“Gu--”
“Gua gak nerima penolakan!” ucap JK sebelum Rosé menyelesaikan kalimatnya.
“Tap--”
“Perlu gua nelpon nyokap lo dulu?” potong JK lagi.
Rosé mengendus kesal.
“Rosé?” panggil Lisa.
“Gua pulang sama dia.” ucap Rosé menunjuk JK.
“Yakin?”
“Dari pada denger Mama ceramah.”
“Yaudah, kalau ada apa-apa telpon gua.”
“Iya.”
“Jangan lo apa-apain anak orang.” peringat Jimmy.
“Mau gua apain emang?”
“Ya mana tau gua, kan otak lo.”
“Gak gua apa-apain, tenang aja.”
“Rosé nanti kalau lo dia-apain jambak aja dia. Yang kuat kalau bisa sampai rambutnya pada rontok.” ucap Jimmy mantap yang mendapat tatapan tajam dari JK.
“Kalau itu, gak perlu lo suruh.”
“Yaudah gua duluan ya.
“Ingat Rosé, kalau ada apa-apa kabarin gua.” ujar Lisa yang disambut anggukan oleh Rosé.
Setelah saling berpamitan, Jimmy mengantar Lisa sampai ke mobilnya yang terparkir di basement mall. Sedangkan JK pergi ke mobilnya yang terparkir dihalaman depan lobby mall dengan diikuti Rosé dibelakangnya yang sedari tadi menundukkan kepalanya.
“Ahh! Lo bisa gak kalau berhenti ngasih tau dulu?! Sakit kan kepala gua jadinya kepentok badan lo!” teriak Rosé saat JK berhenti tanpa aba-aba yang menyebabkan kepalanya bertabrakan dengan punggung JK.
“Lo itu yang kalau jalan itu liat-liat makanya!” jawab JK tanpa rasa bersalah.
“Lo tuh yang ngapain berhenti tiba-tiba!” teriak Rosé tak mau kalah.
“Kaki gua ya suka-suka gua lah!”
“Capek gua ngomong sama lo! Mana mobil lo?!”
JK menunjuk Lamborghini Veneno berwarna abu-abu.
“Buruan antar gua atau gua telpon supir gua.”
“Gua telpon nyokap lo.”
“Gua telpon nyokap lo juga.” ucap Rosé tak mau kalah.
JK awalnya hanya diam sampai Rosé ngeluarin ponselnya dari tas nya. “Buruan masuk!”
Dengan malas Rosé masuk kedalam mobil JK. “Tutup atapnya!” perintah Rosé.
“Gak!”
“Banyak debu J.”
“Perduli apa gua?”
Rosé membuka pintu mobil JK. Dengan cepat JK menjawab “Iya iya gua tutup atapnya. Tutup pintunya!”
Rosé menutup pintu mobil.
“Ngancam aja taunya!” ujar JK.
Setelahnya itu JK melajukan mobilnya keluar dari pekarangan mall. Dimobil mereka saling diam, sampai akhinya perut Rosé memecahkan keheningan diantara mereka. Mendengar bunyi perut JK, JK otomatis ngeliat Rosé.
“Apa lo liat-liat?!” ujar Rosé kesal.
“Kalau lapar ngomong.” ucap JK.
“Gua gak lapar!” ucap Rosé mengelak.
Dan lagi perut Rosé berbunyi lagi.
“Kayak gitu bunyi nya lo bilang gak lapar?” tanya JK sambil menoleh pada Rosé.
“Emang gak lapar!” elak Rosé lagi tanpa henti.
“Mau makan apa?”
“Gak ada!”
“Buruan.”
“Lo ngeyel banget sih dibilangin! Gua bilang enggak ya enggak.” kesal Rosé.
JK tidak menghiraukan lagi ucapan Rosé, tapi JK menghentikan mobilnya disebuah restoran tanpa berbicara terlebih dahulu pada Rosé.
Rosé menatap kedepannya dan menggernyit heran, kemudian menatap JK, “Gua Gak lapar J, lo paham bahasa indonesia gak sih?!”
“Yaudah, tapi gua lapar.” ucap JK.
“Gua mau pulang.” ucap Rosé tak mau kalah.
“Lo mau mati sebelum sampai rumah karna gua kelaparan?”
“Lo yang lapar kenapa gua yang mati?”
“Nanti gua gak konsentrasi nyetirnya.”
“Yaudah gua pulang naik taxi.”
“Lo mau credit card yang gua kasih tadi gua sita juga?”
“Hak lo apa main nyita nyita?”
“Gua punya hak atas lo Anne!” ucap JK dengan nada tinggi.
“Lo masih calon J, masih calon! Jadi lo gak ada hak apapun atas gua!” bentak Rosé tak mau kalah.
“Mau nikahannya gua majuin?”
“Gak!”
“Yaudah nurut sama gua. Sekarang yok turun.” ucap JK menutup perdebatan.
JK turun dari mobilnya, kemudian JK mengitari mobilnya kedepan mobil JK, lalu JK membukakan pintu untuk Rosé.
“Perlu gua gendong Anne?” tanya JK karna Rosé tidak juga bergeming dari duduknya.
Rosé langsung turun dan masuk kedalam restoran tanpa menunggu JK yang masih berdiri di depan pintu penumpang.
“Kenapa giliran sama orang lain lo bisa sangat hangat Anne? Dan giliran sama gua muka lo selalu aja dingin Anne?” batin JK.
♥♥♥♥♥
Didalam restoran JK memesan makanan untuknya dan untuk Rosé, sedangkan Rosé sibuk mainin ponselnya tanpa memperdulikan JK.
“Simpan hp lo.” ucap JK menatap Rosé namun Rosé masih main hp tanpa memperdulikan ucapan JK.
“Anne, jangan sampai hp lo gua banting Anne. Simpan selagi gua masih baik.” peringat JK lagi, mau gak mau Rosé menyimpan hp nya.
“Jangan terlalu keras kepala bisa? Kalau setelah nikah lo masih kayak ini, diancem dulu baru bisa nurut. Habis barang dirumah gua banting lagi nanti.” ucap JK lagi.
“Lagi? Apa maksudnya kata lagi?” batin Rosé.
“Kurangin keras kepala lo. Bukan cuman lo yang punya ego, gua juga punya.”
Rosé hanya diam membuat JK menghela nafas panjang. “Gak ada yang mau lo omongin ke gua? Gua ingetin ya Rosé. Lo masih ada hutang penjelasan sama gua.”
Berhasil, ucapan JK barusan berhasil membuat Rosé menoleh JK dan melemparkan tatapan sinis pada JK.
“Tapi kali ini gua gak bakal minta penjelasan sama lo. Gua mau nanya, lo terpaksa nikah sama gua Anne?” tanya JK.
“Menurut lo?”
“Terpaksa?” tanya JK singkat yang lebih tepatnya ditujukan untuk dirinya sendiri.
“Itu lo tau, ngapain nanya lagi.”
“Kenapa?”
“Kenapa juga gua harus lapang d**a nikah sama lo?” ucap Rosé yang membuat JK terdiam mendengar penjelasan Rosé tersebut.
“Lo punya pacar J. Kenapa lo gak nikahin dia aja? Bilang ke nyokap lo kalau lo punya pacar. Bawa dia ketemu sama nyokap lo. Terus lo bilang lo cinta mati sama dia dan lo cuman mau nikah sama dia.” jelas Rosé panjang lebar.
“Gua cinta mati sama dia apalagi pengen nikahin dia.” jawab JK santai.
“Kenapa lo pacarin kalau lo gak pengen nikahin dia?!” kesal Rosé melihat sikap santai JK.
“Gua cuman mau make dia. Gua beliin apapun yang dia minta dan gua bebas pake kapan pun. Just it.”
“Ck! Sesantai itu lo ngomongin ini ke gua?” tanya Rosé dalam hati.
“Lo terpaksa nerima perjodohan ini?” tanya Rosé.
“Enggak, gua mau nikah sama lo. Dan apapun yang terjadi gua harus nikahin lo.” ujar JK dengan penuh penekanan.
“Maaf.” ujar Rosé sambil menunduk..
“Untuk?” tanya JK sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Gua gak bisa nikah sama lo.”
JK diam sesaat mengambil jeda atas ucapannya. “Alasannya?”
“Gua gak mau.”
“Setidaknya kasih gua satu alasan yang jelas.”
“Buat apa?” tanya Rosé membuat JK terdiam.
“Gua mohon sama lo. Batalin perjodohan ini, lo nikah aja sama pacar lo tadi. Gua bener-bener gak bisa nikah sama lo.” ujar Rosé memohon.
“Tapi kenapa?”
“Gua cuman gak mau.”
“Lo mutar-mutar Anne. To the point aja kenapa.”
“Gua gak mau sama lo, gua gak bisa. Gua--”
“Sorry Anne.” potong JK.
“Gua juga gak bisa ngelepasin lo lagi kali ini.” sambung JK lagi..
“Gua mohon sama lo.”
JK senyum kecut. “Mohon sampai lo sujud dikaki gua pun, gua gak akan pernah batalin perjodohan ini. Dari pada lo mohon-mohon sama gua, lebih bagus lo siapin diri buat jadi Istri gua.” ucap JK dengan nada lembut.
Rosé menangis dalam diamnya.
“Nangis lo gak ngaruh lagi sama gua Rosé. Keputusan gua udah bulat, mulai hari ini gua bakal jumpai lo. Jadi jangan berpikir buat kabur lagi, karna gua gak akan biarin lo kabur lagi kali ini.” ujar JK mantap.
Pelayan datang nganter makanan untuk mereka.
“Makan makanan lo, habis itu gua antar pulang.”
Rosé masih diam.
“Harus Gua yang suapin Anne?”
“Gak! Gua bisa sendiri.”
“Yaudah buruan habisin.”
“Gua harus gimana?” tanya Rosé dalam hati
“Setelah semua yang lo lakuin gua gak bisa kalau harus nikah sama lo. Kenapa lo gak ngerti.” sambung JK lagi.
“Sorry Anne, gua bener-bener gak bisa ngelepas lo kali ini. Gua bakal pastiin kalau lo gak akan bisa kabur dari gua lagi kali ini.”
♥♥♥♥♥
Setelah sampai Rosé masuk kedalam rumah dengan membawa paper bag hasil belanjanya. Rosé meletakkannya diruang tamu dan pergi kedapur untuk mengambil air minum. Namun selagi Rosé meneguk air minumnya, teriakan Mamanya berhasil membuatnya hampir tersedak.
“Astaga rosé!” teriak Mama Rosé
“Apa ma?” jawab Rosé sambil batuk-batuk.
“Kamu habis ngapain? Ngerampok mall?” cerca Mama Rosé sambil menunjuk paper bag belanjaan Rosé.
“Astaga Ma, Rosé kirain apaan sampai Mama teriak-teriak gitu.”
“Ini apa? Jelasin sama Mama.” tanya Mama Rosé mengabaikan ucapan Rosé sambil menunjuk paper bag Rosé .
Rosé melihat yang ditunjuk Mamanya.
“Kamu habis ngerampok mall apa gimana?”
“Enggak lah Ma, kalau Rosé ngerampok mall. Mama ketemu Rosé itu dipenjara sekarang bukan dirumah.” Jawab Rosé santai.
“Jadi ini apa? Jelasin sama Mama.”
“Itu ma, Rosé cuman beli Channel kok.”
“Sisanya?”
“Calon menantu Mama yang gila itu yang beli.”
“Jungkook?” tanya Mama Rosé lembut.
“Ya siapa lagi Ma. Emang Mama ada stok calon menantu yang lain?”
“Loh kamu pergi sama Jungkook bukan sama Lisa?”
“Sama Lisa Mama, tapi pas lagi makan Rosé disamperin sama Jimmy temen Rosé. Nah Jimmy itu temennya Jungkook juga. Jadi Jungkook ikut gabung juga sama Rosé.”
“Terus kan Ma, habis makan kan Rosé pergi ke Gucci tuh, pas mau bayar credit card Rosé ditarik sama calon menantu Mama. Katanya dia aja yang bayar.”
“Gak bohong kamu?”
“Enggak Mama.”
“Berarti kamu udah terima Jungkook?” tanya Mama Rosé dengan nada senang yang membuat Rosé terdiam.
“Rosé .”
“Belum Ma.”
“Dan kayaknya gak akan bisa.” batin Rosé.
“Kenapa? Ini udah belanja bareng.”
“Kan bukan Rosé yang minta Ma.”
“Ro-..”
“Mama, boleh ga-.”
“Gak!”
“Emang Rosé mau ngomong apa?”
“Pokoknya enggak.”
“Ma, dengerin Rosé dulu. Ya Ma?” ucap Rosé sambil mengeluarkan jurus puppy eye nya. Membuat Mama Rosé menghela nafas panjang.
“Yaudah apa? Tapi kalau aneh-aneh Mama gak mau lanjut dengar.”
“Iya Ma.”
“Boleh gak Ma, Rosé gak nikah sama Jungkook?”
Mama Rosé langsung berdiri saat mendengar permintaan Rosé.
“Mama, dengerin Rosé dulu sampai selesai.”
Dengan sedikit terpaksa Mama Rosé duduk lagi.
“Rosé gak bisa Ma buat nikah sama Jungkook.
“Kenapa? Apa alasannya?”
“Rosé gak mau sama dia. Rosé gak cinta sama dia ma, Rosé gak ada rasa sama dia.” jelas Rosé dengan air mata yang sudah turun sejak tadi.
“Sayang sama cinta itu bisa tumbuh Rosé kalau kalian udah nikah.”
“Tapi ma-..”
“Dicoba aja dulu, kita gak tau kedepannnya gimana.”
“Emang Mama mau nanti Rosé cerai kalau nikah sama Jungkook.”
“Sayang, pikiran kamu udah negatif duluan. Mama percaya kok kalau nanti kalian bisa saling sayang dan kalian bisa saling mencintai satu sama lain. Tapi memang semuanya butuh waktu nak.” ujar mama Rosé memberi saran.
“Tapi Ma--”
“Jangan kebanyakan tapi. Dicoba aja dulu, kan masih ada waktu sebelum kalian nikah. Kalian bisa coba buat saling mengenal dan mengerti satu sama lain.”
“Mama gak tau apa yang udah J lakuin ke Rosé. Rosé mau ngasih tau Mama, tapi Rosé takut.” batin Rosé.
“Denger kan Rosé?
Rosé diam sejanak, detik kemudian Rosé berkata. “Jungkook punya pacar Ma.” Rosé berkata sambil menutup matanya.
“Kamu jangan bohong.”
“Buat apa Rosé bohong Ma?”
“Kamu tau dari mana?”
“Tadi di mall Jungkook itu dateng sama pacarnya.”
“Cuman teman kali Rosé.”
“Temen apa yang ngebeliin barang branded Ma?”
“Sayang.”
“Beneran Mama, kalau Mama gak percaya tanya Lisa deh.”
Mama ngeliat Rosé dalam.
“Sorry J, gua benar-benar gak bisa nikah sama lo. Kita udah berakhir 2 tahun yang lalu.” batin Rosé.
“Rosé telpon Lisa ya Ma?”
“Gak usah, Mama telpon Jungkook aja.”
“Mama, mana mungkin Jungkook ngaku kalau itu pacarnya.”
“Mama telpon Maminya Jungkook.”
“Mama, telpon Lisa aja.”
“Mama gak percaya sama Lisa. Takutnya kalian udah sekongkol.”
“Terserah Mama aja deh.”
Mama Rosé mengambil ponsel dan langsung menelpon Mami Jungkook unuk mastiin apakah Jungkook beneran punya pacar atau tidak.
“Gimana Ma?”
“Katanya gak punya.”
“Makanya Ma, Mama tanya Lisa. Yang ikut sama Rosé tadi itu Lisa bukan Maminya Jungkook Ma.”
“Katanya nanti mau di tanyain lagi sama Jungkook.”
“Ribet banget Ma, Mama tanya Lisa masalahnya selesai.”
“Udah sana kamu masuk kamar terus mandi. Nanti turun makan malam sama Mama Papa.”
“Perjodohannya batal kan Ma?”
“Enggak, info kamu gak jelas.”
“Makanya Mama tanya Lisa.”
“Udah Rosé naik sana mandi. Gak usah Lisa terus.”
“Ihhh, serah Mama deh. Nanti Mama jangan nyesal, kalau anak Mama dibilang pelakor atau anak Mama diselingkuhin.” ucap Rosé kesal sambil beranjak berdiri dan pergi dari hadapan Mamanya.
“Rosé!” panggil Mama tapi tidak digubris oleh Rosé.
“Mulut anak satu itu.”
Tak lama Rosé turun lagi kebawah.
“Kenapa lagi?!”
“Rosé mau ngambil ini kok, bukan mau ngomong sama Mama.” ucap Rosé sambil mengambil satu paper bag yang isinya toiletries yang baru dibelinya tadi. Lalu naik lagi keatas.
“Yang lain gak dibawa sekalian Rosé ?!”
“Gak Ma, nanti aja. Mama jangan ambil, Rosé ingat semua isinya.”
“Mama bisa beli sendiri.”
Mama Rosé meenghela nafas. “Itu anak nurun dari siapa sih sifatnya?”
“Kenapa ma ngomel-ngomel sendiri?” ucap Papa Rosé sambil melihat Istrinya.
“Ehh Pa, kapan pulang?”
“Barusan Ma, ini apa?” tanya Papa sambil menunjuk belanjaan Rosé .
“Belanjaan anak kesayangan Papa. Mama aja syok liatnya.”
“Ohh jadi karna ini Mama ngomel-ngomel.”
“Ini salah satunya.”
“Salah dua nya?”
“Rosé minta pertunangannya dibatalin.”
“Loh kenapa? Kemarin Papa liat nerima-nerima aja kayaknya.”
“Katanya Jungkook punya pacar. Gak tau bener apa enggak, Mami nya Jungkook lagi mastiin.”
“Kalau Jungkook punya pacar beneran, Papa juga mau batalin pertunangannya.”
“Kok Papa gitu.”
“Papa gak mau ngasih anak Papa sama cowok yang kayak gitu.”
“Kan Jungkook bisa mutusin pacarnya pa. Itupun kalau bener Jungkook punya pacar.”
“Papa tetap gak mau Ma. Papa mau mandi dulu ya. Mama lanjut aja ngomel-ngolenya lagi.”
“Gak anaknya gak Papanya sama aja.”
♥♥♥♥♥
“Dari mana kamu?” sambar Mami JK begitu JK masuk kedalam rumahnya.
“Ehh Mami.”
“Jawab Mami kamu dari mana?!” ucap Mami JK tanpa basa-basi.
“Habis nganter Rosé pulang. Kenapa Mi?”
“Siapa Irene?”
“Kok Mami bisa tau Irene?” batin JK.
“Pacar kamu?”
“Enggak Mi.”
“Jujur Jungkook.”
“Itu jujur Mi. Mami denger dari siapa?”
“Rosé mau batalin pertunangan kalian. Katanya karna si Irene Irene itu.”
“Dari Anne. Segitu gak maunya lo nikah sama gua Anne?” batin JK lagi.
“Jungkook!”
“Apa Mami?” ucap JK malas.
“Kata Rosé tadi kamu ke mall sama si Irene itu?”
“Hm, terus Rosé bilang apa lagi?”
“Kamu beliin barang branded buat si Irene Irene itu.”
“Terus?”
“Kalau bukan pacar apa namanya Jungkook?”
“Jungkook juga beliin buat Rosé tadi.”
“Mami bukan mempermasalahkan kamu beliin Rosé, yang Mami permasalahin itu kamu beli juga buat si Irene.” ucap Mami JK kesal.
“Mami, Irene itu cuman temen aja bukan pacar. Dan Jungkook beliin juga karena dia lagi ulang tahun.” alibi JK.
“Gak bohong itu?”
“Gak Mami.”
“Bohong lah dikit. Kalau jujur habis lah Mami omelin.” seru JK dalam hati.
“Kamu bujuk Rosé supaya gak jadi batalin pertunangannya.” titah Mami.
“Iya Mi, Jungkook naik dulu ya Mi.”
“Iya.”
JK berdiri dan bersiap naik keatas.
“Jungkook.”
“Apa Mi?”
“Mami suka sama Rosé, dia menantu yang Mama mau.” ucap Mami JK serius.
JK hanya terdiam mendengar penuturan Mami.
“Jadi awas aja kamu kalau bohong. Mami pecat kamu jadi anak!”
JK tersenyum tipis, kemudian menjawab, “Iya Mami iya.”
Dua minggu berlalu namun tidak ada perubahan signifikan yang terjadi. Rosé masih sama bertahan dengan sikap cueknya pada JK dan JK masih disibukkan dengan Irene dan Rosé tau itu. Namun selama 2 minggu ini Rosé sudah bisa menormalkan termor yang dialaminya kalau ada JK disekitarnya. Hari ini Rosé akan bertemu dengan JK, bukan karna dia mau tapi Karna hari ini adalah jadwal untuk Rosé dan JK fitting baju yang akan mereka gunakan di hari pernikahan mereka.
“Eh Jungkook udah datang nak.” sapa Mama Rosé begitu melihat Jk calon menantunya.
“Udah Ma. Rosé mana ya Ma?” tanya JK dengan senyum manis.
“Lagi siap-siap. Kamu ke kamarnya aja sana.”
“Gak apa-apa Ma?”
“Asal jangan diapa-apain anak Mama.”
“Enggak lah Ma. Jungkook naik ya Ma.”
“Iya nak.”
Setelahnya JK naik keatas dan langsung masuk kedalam kamar Rosé tanpa ngetuk pintu terlebih dahulu. Rosé langsung teriak begitu melihat JK yang berada diambang pintu kamarnya. Spontan JK langsung berlari untuk menutup mulut Rosé.
“Jangan teriak kali Anne. Nanti Mama ngira nya kenapa.”
“Le..pa..sinn.. Ma.ka.nya..” ucap Rosé terbata-bata.
JK ngelepasin tangannya yang ada dimulut Rosé.
“Ngapain lo dikamar gua?!”
“Disuruh liat lo siap-siap.” ucap JK santai.
Rosé mengehela nafas. “Capek gua ngeladenin oarang kayak lo.”
“Sabar ya, sebentar lagi lo akan ngeladenin orang kayak gua setiap hari.”
“Mikirinnya aja gua udah jijik!”
“Mulut lo Anne!” tegur JK.
“Mulut gua suka suka gua lah. Toh lo juga gak ngasih mulut gua makan, jadi gak usah ngatur ngatur!” ucap Rosé dingin.
“Hmm, berarti kalau gua ngasih tu mulut makan, gua bisa ngatur ngatur lo dong?”
“Yaenggak lah!”
“Mulut gua, gua yang ngatur. Udah sana lo keluar!” usir Rosé.
“Enggak.”
“Gua mau ganti baju.”
“Gua heran deh, kenapa setiap mau ganti baju lo selalu bilang sama gua? Lo minta gua gantiin gitu?”
“Gantiin pala lo! Otak lo tuh lo ganti sama yang pinteran dikit!”
JK mendekat kearah Rosé .
“Gak usah macam-macam lo!”
“Gua cuman mau satu macam kok sama lo.”
“Jangan sampai gua teriak!”
JK berhenti. Tapi bukan karna Rosé ngancam mau teriak, karna emang Rosé udah mentok ke dinding kamarnya. JK mendekatkan mukanya.
“J, gua peringatin sekali lagi.”
JK tersenyum, “Yang cantik, gua tunggu dibawah.” bisik JK ditelinga Rosé.
“Ahh satu lagi, nafas. Gua gak mau calon Istri gua mati karna kehabisan nafas.” ucap JK sambil tersenyum puas.
Rosé diam tanpa menggubris perintah JK.
“Nafas Anne.”
Rosé menghela nafas. JK senyum miring dan mengacak rambut Rosé. “Buruan siap-siap, gua tunggu dibawah.”
JK keluar dari kamar Rosé. Sedangkan Rosé masih terpaku diposisinya sampai akhirnya dia tersadar dan bergegas buat ganti baju dan segera turun kebawah.
“Heeh. Baju lo ganti!” ucap JK begitu melihat Rosé turun dengan crop top hitam dan kulot dengan warna yang sama.
“Baju gua. Badan gua. Suka-suka gua!” ujar Rosé.
“Lo mau ganti atau gua yang gantiin?”
“Lo mau pergi sekarang atau lo gak jadi nikah?” ujar Rosé tak mau kalah.
“Ganti baju lo!”
“Yaudah gua pergi ya. Bhay!” ujar Rosé sambil beranjak pergi. Setelah nyampai pintu Rosé Balik lagi nyamperin JK.
“Gua Balik setahun lagi, gak usah nyariin gua. Nikah aja sama pacar lo aja sana.” ujar Rosé lagi, setelahnya Rosé pergi tanpa menunggu reaksi JK. JK langsung narek tangan Rosé.
“Buruan jalan, udah telat.” ujar JK pasrah.
Tanpa sadar Rosé menyunggingkan senyum dibibirnya saat mendengar reaksi pasrah JK. Sejurus kemudian dia sadar apa yang dilakukannya barusan dan langsung mengutuk dirinya didalam hati.
“Astaga Rosé , b**o banget sih. Lo ngapain senyum-senyum sendiri barusan?”
♥♥♥♥♥
Selama diperjalan keduanya diam seribu bahasa. JK sibuk memperhatikan jalanan sedangkan Rosé sibuk dengan pikirannya, sibuk menggerutui dirinya yang tersenyum karna kepasrahan JK sebelumnya. Tanpa sadar dalam keterdiaman keduanya, kini mereka sudah sampai dibutik tempat mereka janjian untuk fitting baju.
“Hai sayang.” sapa Mami JK saat melihat Rosé.
“Hai Tante.” ujar Rosé membalas pelukan Mami.
“Kok Tante sih.” ujar Mami sambil melepaskan pelukannya.
“Mami.” ujar JK yang baru tiba di samping Rosé.
“Hmm?” dehem Rosé sambil menoleh pada JK.
“Panggil Mami.”
“Nah tuh sayang..”
“Hehe iya Mami.”
Mami tersenyum lembut, “Mami udah pilihin baju buat kalian, coba kalian liat terus coba.”
“Iya Mami.” Ujar Rosé.
“Anaknya gak mau disapa dulu Mi?”
“Gak! Sana kamu ganti baju!” ujar Mami ketus.
“Gak usah lah Mi.”
“Terserah!” ujar Mami tak perduli.
Mami JK marah karna Irene, karna 3 hari yang lalu Mami JK ngelihat JK jalan berdua sambil gandengan tangan dengan Irene. JK udah ngejelasin tapi Mami gak percaya.
Rosé pergi masuk kedalam fitti room untuk mencoba gaun yang diesan oleh Mami JK, calon mertuanya. Setelah Rosé ganti baju, dua pegawai butik itu menarik tirai pembatas antara Rosé dan kedua orang yang menunggunya.
“Astaga, cantik sekali anak Mami.” ujar Mami sesaat setelah tirai tersbut dibuka. Rosé hanya senyum mendengar pujian calon mertuanya tersebut.
“Jungkook!” panggil Mami melihat JK sibuk dengan ponselnya.
“Apa Mi?” jawab JK masih memainkan hp nya.
“Liat dulu itu Rosé pakai gaunnya.”
JK melihat Rosé dengan tatapan datar, seketika itu juga Rosé langsung mengalihkan pandangannya.
“Dikomentari Jungkook!”
“Cantik. Udah kan Mami?”
“Mi, Rosé ganti baju nya ya.”
“Iya sayang.”
Sebelum tirai yang sebelumnya menutupi Rosé itu Kembali menutupi Rosé lagi JK ngeliat Rosé sekali lagi dan tersenyum.
“Gua gak perlu liat lo. Karna gua tau kalau lo akan selalu cantik pakai apapun.” ucap JK dalam hati.
Setelah tirai itu tertutup Rosé mengganti bajunya lagi. Setelah rangkaian fitting baju itu selesai, Mami menyuruh JK untuk ngajak Rosé jalan-jalan sebelum ngantar Rosé pulang. Alasannya supaya mereka bisa lebih dekat lagi. Dan saat ini keduanya sedang berasa didalam suasana mencekam didalam mobil, bukan mencekam karna hal lain, namun karna keduanya saling diam dan saling sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
“Turunin gua di depan situ.” ucap Rosé tiba-tiba.
“Mau kemana lo?” tanya JK sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Bukan urusan lo!”
“Pasti lo mau ngomong yang enggak-enggak lagi.”
“Iya nanti gua mau bilang. Kalau lo ngedrop gua dipinggir jalan setelah lo dapat telpon dari Irene pacar lo!”
“Bohong dong lo?”
“Biarin, demi gak jadi nikah sama lo. Gua siap buat bohong apapun.”
JK langsung ngerem mobilnya, dan menahan badannya dengan sebelah tangannya.
“Gila ya lo!” teriak Rosé pada JK.
“Turunin nada lo!”
“Kenapa? Lo mau bunuh gua?” ujar Rosé dengan nada menantang JK
“Kalau boleh.” ujar JK sambil menunjukkan smirknya.
“Tapi gua masih baik dengan nahan badan lo barusan.” sambung JK lagi.
Rosé mau ngebuka pintu mobil tapi JK langsung ngunci pintunya. “Buka!” bentak Rosé lagi.
“Mau kemana? Mau kabur lagi dari gua? Bisa gak kalau ada masalah selesaikan dulu gak langsung kabur?”
“Gua gak ngerasa ada masalah.”
“Anne, seminggu lagi, cuman seminggu lagi. Bisa gak lo jangan kayak gini? Gua nikahin lo bukan karna mau gua tapi karna Mami. Gua ngelakuin ini buat Mami, bukan buat gua!” ujar JK dengan nada bicara yang semakin lama semakin tinggi.
“Kemaren lo bilang karna lo mau. Omogan lo gak ada yang bisa gua percaya J.” batin Rosé
“Jadi bisa gak lo baik sama gua?” tanya JK melihat Rosé masih diam.
“Setelah apa yang lo lakuin ke gua dulu. Sekarang lo minta gua baik sama gua? Lo sadar gak sih?” ujar Rosé dengan tatapan tidak percaya.
“Masalah yang dulu? Gua rasa kita udah impas.” ujar JK tanpa rasa bersalah.
“Apa yang lo lakuin ke gua dulu gak setimpal dengan gua ninggalin lo.” batin Rosé.
“Buka pintunya! Buka sebelum gua nelpon Mami lo!” ujar Rosé dengan nada tinggi.
JK menghela nafas berat sebelum akhirnya ngebuk pintu mobil. Rosé langsung keluar begitu JK ngebuka pintu mobilnya. Setelah Rosé keluar, JK hanya ngeliat Rosé yang semakin lama semakin menjauh.
“Kenapa lo harus ungkit masalah itu lagi Anne? Gua rasa kita udah impas kan? Setelah apa yang gua lakuin ke lo, lo ninggalin gua gitu aja. Lo hilang dari hidup gua bertahun-tahun. Bahkan setelah gua berjuang nyari lo, gua tetap gak bisa nemuin lo.”
“Jadi gua rasa kita impas Anne.”