SETELAH perdebatan dimobil, JK tidak langsung pulang kerumahnya. JK ke bar bersama Jimmy untuk menenangkan pikirannya. Malamnya saaat JK pulang sudah ada Maminya yang duduk sambil menatap tajam kearah JK.
“Dari mana?!” sambar Mami JK.
JK menghela nafas panjang. “Apalagi kali ini Mi? Jungkook gak ada ketemu Irene hari ini. Tanya Jimmy kalau Mami gak percaya.” ujar JK menjelaskan.
“Rosé mana?”
“Mana Jungkook tau. Dirumahnya kali, telpon aja dia kalau Mami mau tau. Ngapain tanya Jungkook.”
“Kamu gak ngantar dia pulang?!”
“Dia yang gak mau diantar Mi.”
“Segitu gak sukanya kamu sama Rosé?”
“Astaga apalagi sih Mi? Rosé yang gak mau dianter, masa iya Jungkook paksa.” Jelas JK menahan kesal.
Mami manghela nafas. “Kalian lagi ribut?”
“Enggak Mami.”
“Terus kenapa kamu gak antar Rosé pulang?”
“Mi, Jungkook harus bilang berapa kali? Rosé yang gak mau diantar pulang.”
“Kalau memang kalian gak ribut, kenapa Rosé belum pulang juga sampai sekarang?”
Deg! Mata JK membulat seketika mendengar penuturan Maminya.
“Mami udah telpon Rosé berkali-kali tapi nomornya gak aktif. Kalian beneran gak ada ribut kan?” tanya Mami lagi.
JK melihat Maminya mencari kebohongan diwajahnya, namun JK sama sekali tidak menemukannya. Detik kemudian JK langsung ngambil hp nya dari saku dan mencoba menghubungi Rosé, dan benar saja nomor Rosé tidak aktif. “Anne. Lo kemana? Kenapa nomor lo gak aktif? Jangan bilang lo ninggalin gua lagi Anne.” ujar JK dalam hati sambil terus mencoba menghubungi Rosé tapi hasilnya masih sama.
“Mi, Jungkook keluar ya.” ujar JK sambil berjalan keluar.
“Mau kemana?” tanya Mami pada JK
Setelah keluar JK langsung masuk kedalam mobilnya, tangan kanannya langsung menghidupkan mesin mobilnya sedangkan tangan kirinya mencari nomor Lisa dan segera menghubungi Lisa.
“Halo J.” sapa Lisa begitu telponnya tersambung.
“Lo dimana?” tanya JK tanpa basa-basi.
“Gua?”
“Iya lo.”
“Lo nanya gua? Lisa? Lo salah sambung atau gimana?” tanya Lisa lagi.
“Gua nanya lo Lisa!”
“Gua di apartment lah.”
“Anne?”
“Rosé? Mana gua tau. Hari ini tuh dia sombong banget. Gak ada ngechat gua masa.” ujar Lisa bernada curhat.
“Lo gak bohong?”
“Ngapain juga gua bohong. Lo tanya Jimmy nih, Jimmy lagi main ke apartment gua. Gua bener-bener gak ada chat hari ini sama Rosé apalagi ketemu dia. Lo kan tunangannya tuh, harusnya lo tau. Ngapain malah nan--”
JK memutuskan teleponnya tanpa mendengar penjelasan Lisa, dan kini JK beralih menelpon Jimmy.
“Ngapain lo nelpon gua?”
“Lo beneran di apartment Lisa?”
“Iya, lo baru nelpon dia, ngapain nelpon Gua?”
“Anne disitu?”
“Enggak, pas gua nyampek gak ada Rosé.”
“Periksa!”
“Diih apaan lo nyuruh gitu.”
“Buruan Ji!”
“Ngapainn gua merikasa apartmen anak orang.”
“Kerjain aja buruan!”
“Lo kenapa sih?”
“Anne hilang!”
“A-apa?”
“Anne belum pulang sama seklai dari tadi, dan nomornya gak bisa dihubungi, nomornya gak aktif. Jadi periksa buruan!”
“I-iya.”
JK menutup telponnya.
♥♥♥♥♥
“Kenapa si J?” tanya Lisa begitu sambungan telpon JK dan Jimmy terputus.
Jimmy hanya diam.
“Jimmy.”
“Rosé ada kesini?”
“Enggak, ngechat gua aja enggak apalagi kesini. Dia kalau kesini pasti ngechat dulu.”
“Lo serius kan? Gak bohong?”
“Astaga beneran. Kenapa sih emang?”
“Gua boleh periksa apartment lo?”
“Haa? Buat apa?”
“Bentar aja kok.”
“Yaudah periksa aja, tapi kasih tau kenapa.”
“Rosé-.”
“Rosé kenapa?” potong Lisa.
“Rosé hilang.”
“Apa? Lo bilang apa barusan? Lo bercanda kan?”
“Muka gua ada keliatan kayak bercanda Lis?”
“Enggak sih..”
“Jujur deh Rosé ada kesini atau enggak?”
“Gak ada, gua berani sumpah. Rosé emang gak ada kesini hari ini.”
“Jadi dia kemana?” tanya Jimmy.
Lisa hanya diam sambil mencerna apa yang sedang terjadi. Tanpa pikir panjang Lisa menelpon Mama Rosé untuk memastikan kebenarannya.
“Halo Lisa.” sapa Mama Rosé diujung telepon.
“Tante ro-...”
“Kamu lagi bareng Rosé gak?” tanya Mama Rosé sebelum Lisa menyelesaikan pertayaannya.
Deg! Jantung Lisa berdesir, apa ini artinya Rosé benar-benar hilang?
“Enggak Tante, Lisa nelpon mau nanya Rosé sama Tante. Rosé?”
Mama Rosé menghela nafas. “Rosé belum pulang dari siang tadi Lisa. Tante gak tau dia kemana, nomornya gak aktif.” ujar Mama Rosé lemas.
“Tan, paspor Rosé ada dirumah gak?” tanya Lisa.
“Bentar ya Tante liat dulu.” ujar Mama Rosé yang diiyakan oleh Lisa.
Beberapa saat tidak ada pembicaan diantara Lisa dan Mama Rosé. Mama Rosé Kembali bersuara setelah mengecek apa yang di tanya oleh Lisa, setelah mengecek paspor Rosé.
“Gak ada Lis.”
Boom!! Kali ini jantung Lisa seakan berhenti. Rosé hilang, setidaknya itu hipotesa pertama saat ini.
“Lisa, Tante matiin dulu ya, om nelpon. Nanti kalau Rosé ada ngabarin kamu, kasih tau Tante ya.” pinta Mama Rosé.
“Iya Tante, pasti.” jawab Lisa dengan suara serak. Air mata Lisa langsung turun begitu Mama Rosé mematikan telponnya.
“Lo kenapa nangis Lis?” tanya Jimmy bingung.
“Rosé.”
“Rosé kenapa?”
“Kayaknya dia beneran kabur..”
“Maksudnya gimana?”
“Kata Mama Rosé, paspronya gak ada.”
“Gua sama Rosé ada ngomongin tentang Rosé yang mau kabur. Tapi Rosé bilang kalau nantinya dia memilih kabur, dia bakal ngabarin gua. Tapi kenapa ini dia gak ngabairn gua.” ucap Lisa sambil menangis.
Jimmy yang melihat itu menggelus punggung Lisa mencoba menenangkan wanita yang ada di depannya itu. “Udah jangan nangis Lis, mungkin Rosé lagi disuatu tempat. Terus batrainya lowbat. Percaya Lis, bentar lagi pasti Rosé balik.”
“Kalau dia kabur beneran, dan gak ngabarin Gua gimana? Gua gak bisa tanpa Rosé Ji.”
“Udah tenang dulu ya, yakin aja Rosé pasti pulang.”
JK Kembali menelpon Jimmy.
“Hal-..”
“Gimana?” tanya JK begitu Jimmy mengangkat telponnya.
“Gak ada J. Hmm J, Lisa barusan nelpon Mama Rosé buat mastiin keberadaan Rosé.
Jimmy menarik nafas sejenak.
“Terus?”
“Katanya Rosé pergi ngebawa paspor.”
JK terdiam, jantungnya serasa berhenti saat ini, nafasnya tersekat seketika.
“Anne lo kabur? Lo beneran kabur.” batin JK.
“Tanya Lisa, negara mana yang mungkin didatangin Anne.” ujar JK pelan, tanpa berlama-lama Jimmy langsung menanya Lisa.
“Katanya yang pasti bukan New Zealand.”
“Jimmy. Tolong lo check penerbangan hari ini dari jam 3 sore tadi. Check semua baik itu domestik ataupun internasional. Bisa kan Ji?”
“Bisa J, tenang aja.”
“Satu lagi, cek pemakaian credit card gua hari ini.”
“Oke, secepatnya gua kabarin lo.”
“Thanks Ji.” ucap JK lalu menutup telponnya.
Tanpa menunda lebih lama, Jimmy langsung memerintah anak buahnya untuk ngerjain semua yang diminta JK. Satu jam setelahnya JK nelpon Mama Rosé untuk memastikan keberadaan Rosé. Tapi hasilnya masih sama, setelah itu JK langsung menelpon Jimmy.
“Gimana Ji?”
“Credit card lo di gunain berkali-kali hari ini. Buat semua perlengkapan cewek dari ujung kepala sampai ujung kaki.”
“Jam?”
“Kisaran jam 4-5.”
“Penerbangan?”
“Gak ada atas nama Rosé.”
“Penerbangan apapun?”
“Iya J.”
“Lo bisa lacak dia gak?”
“Bisa aja J, asal nomornya aktif.”
“Terakhir kali dilihat?”
“Bisa.”
“Cari tau ya.”
“Oke.”
Setelah mematikan sambungan telponnya JK melihat jam nya. “Lo dimana Anne? Lo masih di Korea kan? Lo gak kabur kan?” ucap JK sambil menatap kearah luar mobilnya.
Saat ini JK minta Jimmy untuk menyebar anak buahnya diseluruh penjuru kota. Jam berganti hari. JK belum tidur sama sekali karna menunggu kabar tentang Rosé. Anak buah JK masih belum bisa nemuin keberadaan Rosé, dan Rosé masih belum ngabarin siapapun termasuk Lisa.
♥♥♥♥♥
Keesokan harinya JK terbangun karna ponselnya berdering cukup keras, tertera nama Jimmy disana.
“Gimana Ji?” tanya JK.
“Lo dimana?”
“Di depan rumah.”
“Rumah lo atau rumah Rosé.”
“Rumah yang gua beli buat nantinya bakal gua tempati sama Anne kalau gua nikah sama dia.”
“J.” panggil Jimmy.
“Udah dapet petunjuk?” tanya JK mengabaikan panggilan Jimmy.
“Belum.”
JK menghela nafas berat.
“J, lo mending kesini. Ke apartment Lisa.”
“Gua mau kesana, tapi Anne harus ada disana.”
“J tolong, gua khawatir kalau lo kayak gini.”
“Gua lebih khawatir sama Anne! Jadi lo cari dia yang bener, gak usah pikirin gua.”
Jimmy menghela nafas dan segera mengiyakan permintaan JK. “Kalau ada apa-apa kabarin gua.”
JK berguman mengiyakan dan menutup telponnya. Setengah jam kemudian Jimmy Kembali nelpon JK.
“Nomor Rosé aktif, Busan Hotel Z nomor 1003.” ucap Jimmy begitu telpon terhubung.
JK langsung menutup telponnya dan langsung melajukan mobilnya ke hotel yang dimaksud Jimmy.
Sehari sebelumnya. Setelah turun dari mobil JK, Rosé pergi ketaman yang tidak jauh dari situ. Cukup lama Rosé berdiam diri ditaman itu tanpa melakukan apapun. Sejam kemudian Rosé pergi ke mall terdekat membeli beberapa barang yang menurutnya penting. Setelah itu Rosé pergi ke Busan dengan menggunakan kereta api. Dihotel Rosé melihat jauh keluar jendela kamar hotelnya.
“Gua harus kemana? Kalau gua pulang pasti harus nikah, gua gak mau nikah sama J. Lagian nanggung, udah kabur kesini juga masa iya langsung balik.”
Rosé mengehela nafas.
“Kalau New Zealand, pasti gampang ketemunya. Apa gua ke Kutub Utara aja, biar ada usaha nyarinya tapi itupun kalau dicariin.”
Rosé terdiam sambil memikir apa yang harus dilakukannya dan sedetik kemudian Rosé teriak sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
“Kemana? Gua harus kemana?” rengek Rosé.
“Mama, maafin Rosé ya. Mama, gak marahkan Rosé pergi? Tapi Mama pasti marah Rosé pergi kan. Sebenarnya Rosé sayang sama Mama. Tapi maaf ma, Rosé bener-bener gak bisa nikah sama J. Mama, Rosé minta maaf ya, karna pergi gak pamit dulu.”
Besoknya JK sudah di depan kamar nomor 1003 Hotel Z dimana keberadaan Rosé terlacak oleh Jimmy.
“Anne.” panggil JK begitu masuk kedalam kamar hotel tersebut.
“Anne mana?” tanya JK pada Jimmy. Jimmy hanya menanggapinya dengan geleng kepala.
“Maksud lo apa geleng kepala gitu?
“Gua sampai Rosé udah gak ada, yang ada cuman ini.” Ujar Jimmy sambil menunjuk hp Rosé yang terletak di atas tempat tidur.
“Ji?” panggil JK.
“Penerbangan ke New Zealand 3 jam yang lalu. Gua udah pesan tiket kesana. Dua jam lagi take off. Bagus sekarang kita langsung kebandara.”
JK dan Jimmy langsung bergegas kebandara. Berhubung hotel itu tidak jauh dari bandara, Jimmy dan JK bisa sampai dengan cepat.
Didalam pesawat JK tidak terlihat santai seperti biasanya, kali ini JK terlihat sangat tegang. Melihat itu Jimmy melihat menepuk pundak JK.
“Tenang aja,pasti ketemu. Peracaya sama gua.” ujar Jimmy menenangkan.
“Dia pesan tiket pesawat pake apa?”
“Credit card lo.”
“Bekukan credit card gua buat sementara.”
Jimmy kaget mendengar Permintaan JK. “J.”
“Gua gak mau dia kabur lagi.”
“Dia juga belum tentu tau kita nyusulin dia kesana.”
“Anne gak b**o Ji, dia pasti udah perkirakan ini. Kalau enggak ngapain dia ngaktifin nomornya sebelum dia pergi.”
Jimmy hanya terdiam mendengar penjelasan JK.
“Blokir sekarang.”
“I-iya. Tapi J lo kasihan apa sama dia? Kalau nanti dia kelaparan gimana?”
“Dia udah besar ji. Pandai lah dia ngisi perutnya kalau lapar.”
“Yaudah kalau itu mau lo.”
Jimmy langsung meminta anak buahnya untuk membekukan credit card JK sementara.
“Lo kemana Anne? Gua bakal ikuti permainan lo. Seperti yang gua bilang, gua gak akan biarin lo pergi kali ini.” batin JK sambil memejamkan matanya.
♥♥♥♥♥
JK dan Jimmy sudah berada di New Zealand. Setelah menanyakan alamat rumah Rosé yang di New Zealand, JK dan Jimmy langsung pergi kealamat tersebut. Begitu sampai dirumah Rosé. JK dan Jimmy langsung masuk karna Mama Rosé juga memberitahu password rumah itu pada JK.
“Siapa ya?” tanya seorang wanita paruh baya.
“Anda?” tanya JK Kembali tanpa menjawab pertanyaan wanita tersebut.
“’Saya yang ngurus rumah ini. Anda?” Jawab Wanita itu.
“Anne mana?” tanya JK to the point.
“Non Rosé ? Non Rosé udah pergi.” ucap wanita itu dengan nada takut.
“Dia kesini?”
“I-iya, tapi hanya sebentar. Kalau saya boleh tau nama anda siapa ya? Soalnya non Rosé nyuruh saya buat nyampaikan pesan jika ada yang mencari non.” ucap wanita itu terbata-bata.
“Jungkook. Ahh JK.” ucap Jimmy cepat.
Wanita memandang JK lama, kemudian tersenyum tipis seakan mengetahui tentang JK. “Tuan JK.”
“Ada gak?”
“Ada tuan. Non Rosé pesan, kalau non Rosé minta maaf karna gak bisa nikah dengan tuan. Non Rosé juga minta maaf karna ninggalin tuan buat kedua kalinya, dan juga non Rosé bilang kalau sebaiknya tuan gak usah nyari non Rosé. Karna katanya kesempatan ketiga itu tidak ada.” Ucap Wanita itu tenang.
“Ibu tau Anne kemana?” tanya JK.
“Maaf tuan, saya enggak tau tuan.”
“Ada pesan lain gak?”
“Buat nyonya dan tuan. Kata non Rosé, non minta maaf karna pergi tanpa pamit. Non Rosé juga meminta hal yang sama, jangan dicari karna dia akan pulang jika sudah saat nya dia pulang.”
“Untuk Lisa?”
“Sama sih tuan, dengan pesan untuk nyonya dan tuan. Hanya saja, non Rosé menambahkan, katanya non Lisa jangan khawatir karna dia gak akan kekurangan uang seperti yang mereka pikirkan.”
JK menghela nafas berat, “Saya boleh ke kamar Anne?”
“Boleh tuan, mari saya antarkan.”
Wanita paruh baya itu mengantar JK ke kamar Rosé, kamar tempat dia bersembunyi selama 2 tahun menghilang dari JK. Dikamar Rosé, JK memperhatikan setiap sudut kamar tersebut.
“Kenapa lo pergi kali ini Anne? Gua salah apalagi kali ini? Lo bahkan udah nyiapin semuanya buat pergi.”
“J.” panggil Jimmy.
“Kenapa lagi Ji?”
“Gimana?”
“Apanya yang gimana?”
“Lo mau langsung balik atau di sini dulu?”
JK melihat sekeliling kamar Rosé, “Di sini deh, besok kita balik.”
“’Oke, gua pesan buat penerbangan besok ya?”
“Iya. Ji, thanks ya.”
“Santai aja kali J, kayak sama siapa aja.” ucap Jimmy sambil tersenyum, setelahnya Jimmy beranjak Kembali keruang tamu.
“Maaf bu, saya dan JK kembali besok. Di sini ada kamar tamu kan?” tanya Jimmy.
“Ada tuan, sudah saya siapin. Tapi cuman satu kamar.” ucap wanita itu
Jimmy mengernyit heran, kemudian menjawab “Ohh gak apa-apa, JK tidur dikamar Rosé soalnya.”
“Ohh baik tuan.”
“Makasih Bu.”
“Iya tuan.”
Wanita itu hendak beranjak dari hadapan Jimmy, namun Jimmy menahannya dengan menodongnya dengan pertanyaan. “Hmm Bu, Rosé beneran ke sini tadi?” tanya Jimmy sambil menatap wanita itu.
“I-iya tuan.” jawab wanita itu terbata-bata
“Hmm yaudah deh, makasih Bu.” jawab Jimmy sambil tersenyum.
“Iya tuan.”
Wanita paruh baya itu pergi dari ruang tamu. Jimmy mengambil iPad nya dan langsung memesan tiket pulang untuk besok. Jari-jarinya lancar menekan keypad iPadnya, namun tiba-tiba jarinya berhenti.
“Kok gua ngerasa aneh ya sama ibu itu. Apa cuman perasaan gua aja? Tapi kemana ya tuh anak kaburnya ya? Ada masalah apa ya sama J sampek kabur-kabur segala.” tanya Jimmy bermonolog
“Jangan kan lo, gua aja bingung. Salah gua dimana.” ujar JK yang sedang berjalan kearah Jimmy.
“Kalian gak ada berantem atau apalah itu?”
“Ada sih, tapi apa iya karna itu dia kabur?” batin JK.
“Oyy J.”
“Gak ada.”
“Lo ada nyakitin perasaan dia atau karna Irene?”
JK menatap Jimmy.
“Rosé tau kan lo masih sering keluar sama Irene?”
“Tau.”
“Wah parah lo J. Seminggu lagi lo nikah, seminggu lagi loh. Lo masih keluar sama orang lain? Parahnya lagi calon Istri lo tau kelakuan lo bahkan tau siapa orang nya.” cerca Jimmy.
“Dia juga nikah sama gua karna terpaksa.” ujar JK tak mau disalahkan.
“Kalau gini ceritanya gak heran gua dia ninggalin lo seminggu sebelum kalian nikah.”
“Kok lo?!”
“Iya gimana J, lo nya aja gitu sama dia. Tapi kan J, lo gak ada kefikiran gitu dia lagi dimana? Udah makan apa belum? Gua dengar dari Lisa, Rosé kalau kelaparan udah kayak orang mau mati. Itu artinya dia harus makan banyak biar gak kelaparan, dan sekarang credit card nya lo bekukan.” jelas Jimmy panjang lebar.
“Gak jadi nikah lo kalau dia mati kelaparan.” sambung Jimmy lagi.
“Emang gak jadi nikah gua. Orangnya aja gak tau dimana.”
“Makanya jangan orang jangan bertingkah lo.”
“Kok lo mojokin gua?” kesal JK.
“Tau ahh. Semerdeka elo aja deh.” ujar Jimmy tak kalah kesal.
Keesokan harinya mereka sudah Kembali ke Korea dengan tangan kosong tentunya. Di Korea suasana semakin kacau karna hilangnya Rosé. Bagaimana tidak pernikahan tinggal menghitung hari namun pengantinnya menghilang tak tau dimana. Sepulang dari New Zealand JK langsung pulang menuju rumahnya.
“Mi.” panggil JK begitu melihat Maminya.
Mami JK langsung buang muka.
“Mami.” panggil JK lagi.
“Jangan ngomong sama Mami sampai Rosé ketemu.”
JK menghela nafas berat. “Dia sendiri Mi yang minta jangan dicari, katanya dia bakal pulang tapi nanti kalau udah waktunya.” ujar JK memberi penjelasan.
“Yaudah jangan ngomong sama Mami sampai Rosé pulang.”
“Terserah Mami deh, Jungkook pusing liat ini.” ucap JK sambil berlalu naik kekamarnya.
Ditempat yang berbeda, dirumah Rosé suasana sangat tidak menentu. Bukan hanya Mama dan Papa nya namun Lisa juga merasa kepanikan hilangnya Rosé.
“Tante.” panggil Lisa saat masuk kedalam rumah Rosé.
“Lisa..”
“Rosé gimana tan?” tanya Lisa.
Mama Rosé hanya menggelengkan kepalanya. “Rosé gak ada ngabarin kamu Lis?”
“Gak ada Tante, Rosé benar-benar gak ada ngehubungi Tante sama sekali.”
“Gak ada Lisa. Tante khawatir sama Rosé Lis, dia bakal baik-baik aja kan?”
“Rosé, gua ngerasa bersalah sekarang. Gua nyesal pernah ngasih lo saran itu. Lo bilang lo mau ngabarin gua, kenapa lo bohong sekarang.” batin Lisa.
♥♥♥♥♥
Detik berganti menit. Menit berganti jam. Jam berganti hari. Hari ini sudah 4 hari Rosé hilang. Dan 2 hari lagi mereka seharusnya menikah. Semuanya masih seperti hari-hari sebelumnya, masih mengkhawatirkan keberadaan Rosé yang tidak diketahui keberadaannya. Tapi JK sekarang bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.
Saat ini dikantor JK, Jimmy bergegas masuk kedalam ruangan JK dengan keadaan panik.
“JK.” panggil Jimmy dengan nafas memburu.
JK mengernyit heran, “Kenapa lo?” tanya JK.
Jimmy ngeliat Irene yang ada didalam ruangan itu juga. Seakan peka, JK meminta Irene untuk keluar. “Ren, bisa keluar?”
“Kenapa babe?” tanya Irene.
“Ada urusan kerjaan, penting.”
“Yaudah sih aku di sini aja.”
“Irene!”
“Oke-oke aku keluar.”
Setelah Irene keluar, JK menatap Jimmy Kembali. “Kenapa?”
“Rosé.”
“Kalau lo mau ngomongin dia, bagus lo keluar. Gua udah malas ngurusinnya lagi. Lo kasih tau Lisa aja sana.” ujar JK santai.
“J!” Ucap Jimmy meninggikan suaranya.
“Ini kantor! Gua atasan lo!” bentak JK.
“Gua kesini sebagai teman lo, bukan sebagai wakil lo!” ucap Jimmy tak kalah besar.
“Gua tanya sama lo, lo benar-benar gak mau tau?” sambung Jimmy.
“Enggak!”
“Oke, kalau lo gak mau tau. Berarti sekarang dia udah bebas kan dari lo? Dia udah bisa pulang tanpa terbebani dengan perjodohan dia sama lo lagi?” tanya Jimmy.
Pertanyaan Jimmy pas, tidak meleset sedikitpun. Terbukti dari reaksi JK yang terdiam saat mendengar pertayaan Jimmy.
“Lo bener-bener gak perduli kan?” tanya Jimmy lagi memastikan.
JK masih terdiam. Jimmy mengeluarkan smirknya dan melangkahkan kakinya pergi keluar dari ruangan JK. Tapi sampai diambang pintu, Jimmy berhenti dan menghadap kearah JK.
“Gua tau lo udah gak mau tau lagi soal Rosé. Tapi gua rasa gua perlu untuk tetap ngelaporin hasil pencarian Rosé, karna yang minta gua buat nyari Rosé itu lo. Gua harus tetap menyelesaikan tugas gua kan.” ucap Jimmy berbasa-basi.
“Rosé, tunangan lo, aahh sebentar lagi akan jadi mantan tunangan lo kan ya.” ujar Jimmy sambil membalas tatapan JK.
“Dia sama sekali gak pernah terbang ke New Zealand.” ujar Jimmy lantang.
Deg! Mata Jk membulat seketika. “Apa lo bilang?”
“Gua izin ngantor hari ini. Semua tugas gua, gua limpahkan ke sekretaris gua. Kalau ada apa-apa hubungin dia aja ya.” ucap Jimmy santai dan langsung pergi dari ruangan JK.
“Maksudnya apa? Anne gak pernah ke New Zealand? Jadi Anne selama ini?” tanya JK pada dirinya sendiri.
Setelah mencerna semuanya JK langsung berdiri dan keluar dari ruangnnya.
“Babe.” Panggil Irene yang berada diruang tunggu tidak jauh dari ruangan JK.
“Beb, kamu mau kemana? Babe.” panggil Irene lagi namun tidak digubris oleh JK.
“JK!” Teriak Irene.
JK melihat Irene sekilas. “Gua ada urusan. Lo pulang aja.” ujar JK.
“Urusan apa?” tanya Irene.
“Bukan urusan lo.” ujar JK, JK langsung masuk kedalam lift begitu lift nya tebuka. Didalam Lift JK mencoba menelpon Jimmy.
“Apa lagi J?” tanya Jimmy diujung telpon.
“Dimana lo?”
“Di jalan ke apartment Lisa, kan lo sendiri yang minta gua buat ngasih tau Lisa. Gua udah ngasih tau Lisa dan gua mau ngejemput Lisa.”
“Temui gua dulu.”
“Buat apa? Gua buru-buru.”
“Gua-..”
“Udah ya J, seriusan gua buru-buru banget. Gua sama Lisa mua nyusul Rosé.”
“Ji.”
“Gua udah bilang kan. Keluar gua dari ruangan lo, lo gak ada hak minta Rosé Baliksama lo. Gua matiin ya.” ujar Jimmy dingin, setelah Jimmy mematikan telponnya, JK langsung merempar hpnya kekursi penumpang dan teriak tidak jelas.
“b**o lo J!” caci JK pada dirinya sendiri.
JK langsung melajukan mobilnya keapartment Lisa. Sesampai di depan apartment Lisa, JK bertemu dengan Jimmy.
“Ji.”
“Kenapa lagi J?”
“Anne..”
“Lo bilang lo gak mau tau.”
“Gua salah.” aku JK cepat.
“Ngapain lo di sini? Mending lo pergi deh.” sambar Lisa begitu melihat JK.
“Gua--”
“Gua gak tau kalian berdua ada masalah apa kali ini. Tapi lo udah kelewatan banget sama Rosé. Lo tau pasti dia kabur karna lo dan lo dengan gampangnya ngebekukan credit card lo yang sama Rosé. Bahkan parahnya lagi lo gak ada niat buat nyari dia, dan lo malah sibuk pacaran sama cabe-cabean lo.” kesal Lisa pada JK.
“Setelah gua ketemu Rosé, gua bakal bawa dia jauh dari lo, dan gua akan pastikan sendiri kalau Rosé gak akan dekat apalagi nikah sama cowok kayak lo!” sambung Lisa lagi.
Lisa jalan kearah mobil Jimmy. Tapi tangannya ditahan oleh JK. “Bisa gak gua aja yang jemput dia?” ujar JK memohon.
“Lo pikir gua bakal ngasih?” ujar Lisa sambil menatap JK datar.
“Gua mau nanya sendiri ke dia, dia masih tetap mau ngelanjutin nikah sama gua atau enggak.”
“Semuanya udah tau jawabannya J, lo sendiri juga pasti sangat tau apa jawabannya.” ujar Lisa menggebu-gebu.
“Gua mau dengar penjelasan dari dia, kenapa dia ninggalin gua kemarin dan ninggalin gua dulu.” ujar JK masih dengan nada memohon.
“Lo---”
“Please Lis, kali ini aja.” ujar JK dengan wajah dan nada bicara memohon.