5. Di Peternakan Kuda

2618 Words
 Kay mendesah melipat tangan membiarkan Jira mengacuhkannya. Dia sendiri tidak mengerti kenapa bisa peduli dengan Jira. Awalnya hanya penasaran akan kedatangan Jira yang menyamar, tetapi terkesan dengan apa yang Jira lakukan yaitu menghargai hukum di kota orang dengan sabar. Kay terus berpikir mengenai Jira.   "Mana Cen Cen?" gumam Jira.   Kay mengerutkan dahi. "Cen Cen? Siapa Cen Cen?" ikut celingukan.   "Ck, itu nama kudaku." Jira mengibaskan tangannya.   "Hmm, nama yang bagus. Dia kuda cantik dan sangat baik." Kay memuji tanpa beban, membuat Jira meliriknya. "Penipu! Aku tau kau ada maksud tersembunyi. Kenapa memuji kudaku? Apa maumu?" tuntut Jira berbalik dan melotot.   "Hah, cobalah santai sedikit. Cerewet, pemarah, banyak tanya. Apa selain itu tidak bisa? Telingaku rasanya panas dengar suaramu." Kay mendesah, menghitung dengan jarinya dan pergi duduk di ranjang kayu.  Jira ternganga. Perlahan menghampiri Kay sambil menunjuknya. Kay hanya melihat Jira dari atas hingga bawah yang masih menahan sakit.   "Telingamu panas? Seluruh tubuhku rasanya panas apalagi hatiku dan itu semua karena ulahmu! Kalau kau tidak membongkar penyamaranku, aku tidak akan seperti ini. Sekarang aku membuang waktu yang seharusnya aku sudah berada entah di mana. Sialnya aku masih bisa mendengar ucapan-ucapan buruk semua orang. Rasanya terus berdengung tidak mau keluar dari pikiran. Kau mengerti maksudku?" cerca Jira masih baru sampai setengah jalan.   Kay menggeleng sembari tertawa. Dia berdiri menghampiri Jira dan menuntunnya. "Heh, lepaskan aku!" sewot Jira.  Kay mendesah. "Dalam hal ini kau membuktikan keberanian yang luar biasa. Satu kota berisi laki-laki dan kau perempuan sendiri di sini. Apa tidak merasa aneh? Kau sudah membungkam mereka dengan menyelesaikan hukuman. Lihatlah, Jenderal di kota ini saja sampai mengejarmu. Kenapa? Karena dia merasa dikalahkan. Dia tidak sekuat dirimu dalam fisik maupun batin. Aku yakin hatimu ada pelindung yang tidak bisa ditembus senjata manapun, karena kau menerima semua hinaan dan kau hanya menanggapinya dengan diam. Rasanya sangat menyebalkan saat kita ingin memberontak, tetapi hati hanya bisa bersabar, benar, 'kan?"   Mendengarkan perkataan Kay yang sangat jelas, tanpa sadar Jira menerima bantuannya hingga duduk di ranjang.  'Kenapa dia bicara begitu?' batin Jira.  "Kau melihatku kemarin?" Jira heran.  Kay tersenyum. "Hah, apa boleh buat? Aku mau menunggu pembalasanmu. Bukankah kau bilang begitu?" Kay menatap mata Jira dalam.  Jira mendelik. "Jadi kau mengikutiku? Seharian penuh? Sampai malam?" tanya Jira beruntun. Kay memundurkan wajahnya. "Bahkan aku mengikutimu sampai sekarang, bodoh!"   Jira menunjuk wajah Kay tidak santai, membuat Kay melotot. "Kau mengakuinya! Berarti memang benar, semalam ada yang melintas dan itu kau!"   Kay menggaruk tengkuknya tersenyum bodoh. "Hehe, ini sudah siang, jangan berteriak! Atau semua orang akan tau kau masih di sini." menaruh telunjuknya di bibir mengisyaratkan Jira untuk diam.  Jira menoleh ke arah lain. "Kalaupun ketahuan aku bisa jaga diri."   "Tapi kau tidak bisa menjaga diri dariku." kata Kay menunduk.   Jira menoleh. "Apa?"   Kay kembali mendongak. "Hmm? Apa? Bukan apa-apa," menggeleng polos.   Jira menelisik mata Kay meminta penjelasan. Kay mendesah dan mengangkat kaki Jira tanpa izin membuat Jira memekik. Kay menaruh kaki Jira di pangkuannya dan menyibak sedikit pakaian Jira hingga mata kaki.  "Hei, apa yang kau lakukan! Aku bisa menghabisimu jika kau lancang!" seru Jira mencegah tangan Kay.  Kay menoleh. "Coba saja habisi aku. Melawan Jenderal tadi saja kau sampai terluka. Bagaimana bisa menyerangku?"   Kay membuat Jira diam.  "Kau pikirkan sendiri rasanya berjalan sehari semalam tanpa berhenti." sindir Jira sembari melepaskan tangan Kay.   Kay tersenyum dan meneliti telapak kaki Jira. Dalam hati Jira mengutuk Kay jika berani macam-macam. Seakan mengerti pikiran Jira, Kay mulai memijat beberapa titik di kaki Jira hingga Jira mendesis menahan sakit.   "Kau boleh menghukumku semaumu jika aku tidak membuatmu sembuh, tapi aku juga tidak mau minta maaf sudah membuatmu menderita." kata Kay dengan terus menekan kaki Jira dengan serius.   'Pangeran Sora kalau mengobati langsung pakai obat. Tidak seperti dia yang membuatku semakin sakit. Ahh, ini sakit sekali! Awas saja kau, Kay! Kalau aku semakin parah, kupatahkan sungguhan semua tulangmu!' batin Jira kesakitan.   Kay tersenyum miring. "Seluruh kakimu membiru. Sangat kaku hampir mati rasa. Kau masih pura-pura kuat? Sehebat apapun dirimu, tidak peduli apa kedudukanmu, kau tetap manusia. Kau punya rasa lelah dan sakit, tidak mengelak hal itu. Aku akui kau cantik menggunakan pakaianmu sendiri. Lebih baik dari pada pakaian laki-laki yang kau curi, ck!" terang Kay tanpa menoleh.  Tangannya sibuk bekerja sangat hati-hati. Dari kaki kanan berganti kaki kiri. Jira masih menahan dengan tangan mengepal.   "Setelah kejadian tadi pagi, Jenderal kota ini tidak akan membiarkanmu begitu saja. Aku peringatkan kau agar tidak menunjukkan keahlianmu. Tadi kau berkelahi dengan gerakan yang tidak aku mengerti. Pasti itu rahasia bela diri kota Bunga, 'kan? Jika kau berkelahi sungguh-sungguh dengan penduduk di kota ini apalagi Jenderal itu, kau akan diserang terus dan mereka semakin tidak terima kalau perempuan juga hebat. Itu tidak akan baik. Pura-pura mengalah mungkin pilihan yang tepat, kalau kau ingin segera melanjutkan perjalanan."   Kay menatap Jira tanpa bercanda. Jira sedikit tersentak. Ucapan Kay mempengaruhi dirinya. Dahinya berkerut saat Kay menghentikan aksinya dan terus memandangnya seakan menunggu jawaban.   'Ucapannya benar juga, tapi kenapa dia menasehatiku seakan dia mengerti segalanya? Cara dia membaca situasi sangat jelas. Siapa Kay ini?' batin Jira.   Jira mendesah pelan. "Kota ini lumayan unik. Sayangnya mereka sedikit tercemar tentang perempuan. Aku rasa ada yang mempengaruhi pikiran mereka," pandangan Jira seakan mencari tahu kebenarannya.   Kay melanjutkan aksinya dan menekan kaki Jira lebih keras membuat Jira memekik dan memukul pundak Kay. "Kau sengaja, ya!? Kau mau aku pukul, ha!?"   "Sudah memukul baru mengancam. Jenderal apa kau ini?" ejek Kay.   Jira berdecak. Dia kembali bingung saat Kay melanjutkan ucapannya.   "Aku rasa kau tidak bisa keluar dari kota ini dengan mudah. Lihat saja nanti." ujar Kay.   "Apa maksudmu?" tanya Jira.  "Kau mengerti maksudku, Jenderal Jira!" jawab Kay menatap Jira dalam.  "Akan ada yang menahanku. Kali ini bukan kau, tapi Jenderal itu. Caranya menggunakan pedang seakan ingin menyiksaku. Kalau dia menahanku lagi, akan kuberi perhitungan yang sama. Goresan di balas goresan!" desis Jira menatap ke depan.   Kay hanya tersenyum dan melepaskan kaki Jira, berganti menarik tangan Jira dengan perlahan, membuat Jira menatapnya.   "Sudah kuperingatkan jangan melawan. Tidak ada yang mau membantumu jika itu terjadi." ucapnya sembari membolak-balikkan telapak tangan Jira dengan pandangan aneh. "Kau terlalu banyak mengepalkan tangan. Sampai seperti ini menahan sakit hati, ya?" tanya Kay mulai menekan beberapa titik di telapak tangan Jira.  Jira mendesis sakit lagi. "Kau ini pedagang senjata atau tabib?" Jira justru bertanya membuat Kay tertawa.   'Dia tau banyak hal. Kay memang bukan orang biasa. Kalau dia memberi peringatan, maka dia juga akan melakukan sesuatu. Apa yang dia rencanakan?' batin Jira.   Rasa curiganya sangat besar pada Kay. Orang yang datang tiba-tiba dan membongkar dirinya hingga berakibat sampai sekarang tidaklah akan Jira lepaskan. Namun, Jira berpikir dua kali untuk berurusan dengan Kay. Semua itu karena tujuan utamanya. Dia kembali dikejar waktu. Sudah tiga hari dia pergi, tetapi terjebak di kota Laki-laki.   Jira mengamati Kay dengan teliti. Dahinya berkerut berpikir keras. Membiarkan Kay melakukan sesuatu pada dirinya. Sempat berpikir akan mengancam Kay dan membalas perbuatannya, tetapi niatnya terurung.   'Tidak, tidak. Aku tidak boleh gegabah. Kay masih belum jelas,' pikirnya.   Pedang Kay menurutnya sangat bagus dan kuat. Namun, Jira tidak melihat pedang lain. Jika Kay benar seorang pedagang senjata pasti membawa banyak senjata.   "Siapa kau sebenarnya?" tanya Jira tiba-tiba.   "Ck, aku juga punya pertanyaan yang sama. Aku tahu kala kau Jenderal, tetapi selain itu aku tidak tau, termasuk tujuanmu. Apa yang kau cari? Aku lihat kau tidak membawa senjata sama sekali, kecuali seruling itu. Kau bahkan bertarung menggunakan seruling. Bagaimana bisa seruling bambu tidak patah menahan pedang besi? Ini mustahil!" Kay justru balik bertanya.   "Kenapa kau jadi cerewet? Harusnya aku yang tanya dan marah padamu. Siapa kau? Dari mana asalmu dan kenapa tau mengenai diriku? Sebelumnya aku tidak pernah bertemu denganmu. Mendengar namamu saja baru kali ini. Untuk apa mengikutiku sampai sekarang? Lalu, untuk apa juga kau membuatku dalam masalah? Aku bisa saja menghabisimu jika aku mau, tapi aku penasaran denganmu. Apa kau bisa menjawabnya?" tuntut Jira.   Mereka saling pandang. Sekilas bayangan pertemuan di pasar terulang, membuat mereka saling memalingkan wajah. Memutar bola mata bingung karena segala pemikiran. Kemudian Kay menghembuskan napas panjang. Kembali menoleh dan menarik tangan Jira yang terluka dengan perlahan. Jira juga menatap lengannya yang terluka.   "Lupakan! Aku akan membantumu keluar dari kota ini." Kay menunjukkan raut datar di sela tangannya yang bekerja.   Jira berdecih. "Membantuku agar mendapatkan masalah baru maksudmu?"   Kay tersenyum miring. "Kau sudah mengerti aku rupanya? Haha, ayolah, ini menyenangkan. Aku pikir kemarin akan ada perang kecil, tetapi justru hukumanmu diringankan. Sayang sekali, 'kan?" Kay mengangguk tanpa beban.   Jira melotot, "Sebenarnya apa masalahmu? Suka melihatku terlibat masalah, lalu kau bicara seakan melindungiku." Jira geram. Menarik serulingnya dan mengarahkan ke leher Kay seakan seruling itu tajam. Kay melirik Jira dan berhenti memijat. "Jangan main-main denganku!" sambung Jira memperingatkan.   Tatapan yang sama tajam tidak mau mengalah. Jira bisa melihat sisi lain dari Kay.   'Dugaanku benar. Kay orang yang luar biasa. Aku bisa lihat jelas dari matanya,' batin Jira.   Dalam sekali gerakan Kay berhasil memutar seruling itu menjadi menekan leher Jira. Seketika Jira mendongak terkejut.   "Kau tidak berpikir kalau aku akan lakukan hal yang sama, Jenderal Jira?" Kay mencoba bermain teka-teki.   'Sial! Dia menggertakku! Aku lupa kalau dia juga hebat berkelahi apalagi menggunakan pedang,' batin Jira lagi.   "Ck, lepaskan aku! Kalau ini di kota Bunga, aku pasti bisa membalasmu dengan mudah." ancam Jira sambil menarik seruling dan tangannya menjauh dari Kay.   "Kenapa? Kekuatanmu tidak berfungsi di sini?" tanya Kay remeh.   Bukannya menjawab, Jira justru berdiri. Merasakan tubuhnya yang lumayan membaik. Dia melirik Kay heran. "Kita lihat sampai mana kau bisa menyembunyikan identitasmu dariku."   Jira pergi menuju kandang kuda untuk melihat Cen Cen. Tidak ada merah muda, hanya kelabu yang mencerminkan suasana hatinya. Mendung seakan gundah. Isyarat itu bisa ditangkap Kay yang masih duduk memandang Jira yang menjauh.   Dia mengerti jika Jira adalah orang yang unik. Hanya saja tidak tahu apa misi Jira dan kekuatan yang Jira miliki. Seakan ada daya yang menariknya untuk mendekat pada Jira. Kay berdecak. 'Gadis dari kota Bunga berhasil menarikku. Pasti ada sesuatu yang dia miliki. Aku juga tidak bisa lalai jika dia menyerang balas dendam,' pikir Kay.   Di kandang penuh kuda yang sedang makan, Jira tersenyum mengelus kepala kudanya. Senyum yang redup, kudanya juga tidak berselera makan. Pandangan gadis itu melemah meskipun perlahan tenaganya kembali pulih. Siang ini begitu terik, Jira berpikir jika nanti malam akan sangat dingin. Rencananya akan pergi malam hari jika tidak ada gangguan. Lupakan soal Kay dan Jenderal kota Laki-laki yang mengincarnya, Jira harus fokus pada tujuan. Sayangnya, nalurinya berkata lain.   "Cen Cen, firasatku sangat buruk. Kau merasakan hal yang sama?" tanya Jira bergumam tanpa berhenti mengelus kepala kudanya. Kudanya hanya diam, membuat Jira tersenyum. "Kita akan pergi malam ini juga. Kalau terjadi sesuatu, mungkin akan sangat sulit. Lebih sulit dari yang kemaren. Laki-laki di sini sangat kejam. Penuh teka-teki seperti Kay. Ucapan mereka lebih tajam dari pedang. Tidak ada yang bisa kupercaya selain pemilik peternakan ini." lanjut Jira dengan melamun.  Mengerjap sadar kembali tersenyum. "Bagaimana keadaan kota Bunga? Aku bisa rasakan semakin berkurang auranya. Kekuatan kota semakin melemah. Ck, kenapa paman Uang tidak memberi kabar?" Jira bingung mengajak kudanya berbicara.   Apa yang bisa Cen Cen lakukan? Dia mengerti kondisi Jira, tetapi dia tetap seekor kuda. Pertanyaan Jira tidak bisa dia jawab. Hanya memberi respon ringkikan kecil dan mendekatkan kepalanya pada Jira. Seakan menghibur Jira, membuat Jira terkekeh. Hal itu tidak lepas dari pandangan Kay lagi. Di ambang pintu sambil melipat tangan, bibirnya menyungging senyum. Masih bersikeras membuat Jira agar tetap singgah di kota Laki-laki dengan berpikir memanfaatkan situasi Jenderal kota pada Jira. Masih belum tahu bagaimana caranya membuat Jira dalam masalah, tetapi akan dia ketahui nanti setelah Jira dan Jenderal itu beraksi, pikir Kay.   Di sisi lain, Jenderal kota Laki-laki sedang mondar-mandir di istana kota menunggu kabar dari orang suruhannya. Dia tidak bisa bebas keluar tanpa ada misi tertentu. Jika penguasa kota mengetahui dia masih mencari masalah dengan Jira, maka hukumannya akan sangat mengerikan. Jenderal itu terperangah saat ada yang mengetuk pintu dan dia menyuruhnya masuk. Orang itu adalah suruhannya.   "Jenderal, Jira belum keluar dari kota. Aku bertanya pada setiap orang di jalanan yang Jenderal maksud, tetapi tidak ada yang melihat Jira melintas. Aku pergi ke perbatasan kota, tetapi tidak ada tanda-tanda Jira dan kudanya yang lewat. Penciumanku tidak pernah salah. Aroma perempuan samar-samar masih bisa aku rasakan. Di tambah lagi, dia sedang terluka. Tidak mungkin baginya keluar dalam waktu singkat. Meskipun orang yang Jenderal katakan membawa Jira pergi, itu juga percuma untuk keluar kota. Dia pasti menolongnya," lapor orang itu serius.   "Apa? Itu bagus! Terus cari dia sampai dapat. Malam ini aku ingin dia tertangkap." ucap Jenderal itu dengan senyum senang.  "Baik!" orang itu kemudian pergi kembali mencari.   Jenderal itu menanti kabar selanjutnya tanpa rasa khawatir. Sudah dipastikan dia akan bertemu Jira lagi dan memperlakukan Jira dihadapan semua orang. sangat benci pada perempuan seakan merasa laki-laki yang paling hebat.   Sebenarnya, rakyat di kota Laki-laki tidak memandang perempuan buruk, karena mereka juga masih membutuhkan perempuan. Mereka saling menghormati dan hidup berdampingan. Apalagi sadar akan seorang ibu yang melahirkan mereka. Hanya saja, seluruh orang di kota ini laki-laki. Kota yang meninggalkan perempuan dan tinggal bersama. Mereka membuat keunikannya sendiri. Semakin hari, kekuatan mereka bertambah. Sering kali kota lain meminta bantuan dalam hal yang sulit. Tidak ada yang lebih kuat dari kota Laki-laki.   Namun, lambat laun pemikiran mereka menjadi kacau. Perempuan seakan tiada arti. Jira membuktikannya sendiri. Memikirkan ini semua membuat Jira pusing. Dia membandingkan laki-laki di kota ini dengan laki-laki di kota Bunga. Perbedaan yang sangat jelas. Meskipun kota Bunga identik dengan keindahan, tetapi laki-laki di sana tetaplah gagah dan menjadi dirinya sendiri. Memang tidak semuanya baik, tetapi itu manusiawi. Ada baik maka ada yang buruk.   Andai saja Jira bicara dengan penguasa kota agar mengubah pemikiran rakyat yang merendahkan perempuan menjadi lebih menghargai. Sepertinya itu mustahil dilakukan. Jira tidak keluar dari kandang kuda. Duduk bersandar tiang memandang langit yang akan berubah warna.   "Kapan malam datang?" gumamnya bertanya.   Mendesah berkali-kali sambil mencabuti rumput. Ingin bermain, merubah warna rumput itu menjadi kelabu seperti pakaiannya, tetapi dia teringat pada kakek penjaga hutan. Dia tersenyum geli.   "Kakek itu marah hanya karena warna rumput yang berubah." gumamnya lagi.  Terus mencabut rumput dengan malas. Tiba-tiba merasakan kehadiran seseorang dan dia mendongak. Tersenyum karena pemilik peternakan kuda yang datang.   "Jenderal, kenapa kau terus di sini? Istirahatlah di dalam. Apa kondisimu sudah membaik?" tanya pemilik peternakan kuda sambil duduk di depannya.   Jira tertawa pelan. "Aku tidak selemah itu, Tuan. Kalau aku lemah, tidak mungkin bisa menjalankan hukuman, bukan?" canda Jira.   Pemilik peternakan kuda itu tertawa sungkan. "Kau sangat ramah. Orang lain tidak mengira kalau kau seorang Jenderal. Jujur saja, aku khawatir dengan perasaanmu. Apa kau baik-baik saja?" tanyanya penuh rasa cemas.  Jira tersenyum tulus. "Tuan, memang banyak yang tidak menyadari posisiku. Lagipula, untuk apa mengumbar rasa takut dan kedudukan? Tidak ada gunanya bagiku. Aku lebih senang bercanda. Untuk perasaanku... Ah, sudahlah. Aku bisa mengatasinya." tawa Jira di akhir ucapannya.   "Begitu, ya? Jenderal memang sangat kuat. Boleh aku mengatakan sesuatu?" pemilik peternakan kuda meminta izin.   "Katakan saja, jangan sungkan!" ujar Jira.  "Kau akan mudah diremehkan jika terlalu ramah. Apa saat menjadi Jenderal, kau tetap seperti ini?" tanya pemilik peternakan kuda dengan hati-hati takut salah bicara.   Jira tertawa pelan lagi. "Tuan, menjadi Jenderal dan diriku sendiri itu adalah hal yang berbeda. Saat menjadi Jenderal, aku menanggung urusan kota dan semua orang. Keselamatan mereka ada ditanganku. Aku membantu penguasa kota semampuku. Tentu saja tidak main-main. Jika ada yang melakukan hal buruk, aku akan bertindak tegas. Tidak membedakan aku juga seperti Jenderal lainnya. Aku punya dedikasi yang tinggi. Tanggung jawab besar membuatku selalu waspada. Jika aku terlepas dari kedudukanku, maka aku akan menjadi Jira yang aku inginkan. Bebas tanpa halangan seperti melodi seruling kecilku. Banyak orang yang suka padaku, juga banyak yang takut padaku, begitu juga yang membenciku. Itu hal wajar, bukan?" tanya Jira setelah menjelaskan secara perlahan. Pemilik peternakan kuda itu mendengarkan dengan sungguh-sungguh. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD