Tanpa berhenti berlari, matanya serius mencari sesuatu. Atap rumah-rumah itu sepi tidak ada apapun. Jira yakin ada seseorang seperti bayangan.
'Ada yang mengintaiku. Kemana perginya?' batin Jira.
Menggelengkan kepala mengacuhkan hal itu. Hingga berhasil melewati semua desa dan kembali ke pusat kota saat matahari sudah agak tinggi. Banyak orang yang menantikannya. Jira datang dengan napas terengah, kelelahan kakinya gemetar. Menoleh ke kanan-kiri melihat ekspresi semua orang yang sama seperti kemaren. Melangkah perlahan menuju tengah-tengah kerumunan semua orang. Para prajurit yang mengaraknya sudah kembali untuk beristirahat. Hanya Jira, kini berdiri menatap sekeliling dengan kondisi tidak wajar.
"Astaga, kasihan sekali dia!"
"Tapi itu sudah jadi hukumannya, bukan?"
Jira mendesah pasrah mendengar pembicaraan tentang dirinya. Lelah sejak kemaren, dia menunduk. 'Cukup. Aku mohon, cukup. Aku lelah... Perempuan sangat mulia, bukan rendahan seperti yang mereka bilang. Aku sudah puas mendengarnya,' batin Jira.
Sesekali berkedip menyesuaikan pandangan yang memburam. Dia tidak tidur dan istirahat. Bahkan masih mempertahankan diri untuk berdiri tegap. Gemetar kecil sekuat tenaga Jira tahan. Tempat penguasa kota dan jajarannya masih kosong, Jira menatapnya berharap cepat selesai.
Bunyi sebuah gong ditabuh. Menggelegar menarik perhatian. "Penguasa kota akan segera tiba!" seru orang yang menabuh gong.
Senyum tipis Jira terbit. Penguasa kota datang dengan penuh wibawa. Meskipun penampilan yang sedikit membuat Jira merinding ngeri, tetap saja dia penguasa kota yang cukup baik karena memikirkan pendapat rakyatnya. Jira sangat menghargai pemimpin yang bersikap adil. Dia menjadi teringat pada Yang Mulia Rui Cenchana. Secepatnya Jira ingin mencari bunga langka lagi.
"Sesuai ucapanku, silahkan pergi. Aku tidak ingin rakyat menghakimimu saat ini juga. Pergilah, sampaikan salamku pada penguasa kota Bunga, jika dia punya Jenderal yang tabah." ujar penguasa kota dengan senyum.
Jira menautkan tangannya tanpa menundukkan pandangan. "Aku akan pergi, tapi aku tidak bisa menyampaikan salammu. Yang Mulia, semoga kota Bunga dan kota Laki-laki hidup berdampingan dengan baik. Semoga Yang Mulia panjang umur. Aku pamit." ucap Jira sebagai Jenderal dan berbalik pergi setelah penguasa kota mengangguk.
Menghampiri prajurit meminta dipertemukan dengan kudanya. Jira sangat senang melihat kondisi kuda putihnya baik-baik saja. Rasa sayangnya sangat besar terhadap kuda itu. Teman yang paling mengerti Jira disetiap langkahnya.
"Hiyaa!!!" seru Jira menggelegar menarik tali kudanya. Menunggangi Cen Cen yang berlari sangat kencang keluar dari pusat kota. Orang-orang kembali memberi jalan takut tertabrak sekaligus bingung dengan pikirannya masing-masing yang menilai Jira.
"Kenapa dia tidak bisa menyampaikan salamku?" penguasa kota bingung memandang Jira yang sudah menjauh. Penasehat mendekat dan berbisik, "Mungkin itu menjadi tujuan Jenderal Jira, Yang Mulia. Pasti terjadi sesuatu mengenai penguasa kota Bunga."
Penguasa kota itu hanya menjawab gumaman sambil mengangguk. Sayangnya dari sekian banyak orang yang sangat kuat, Jenderal kota Laki-laki menaruh pandangan buruk pada Jira. Sebagai laki-laki di posisi yang sama merasa telah diremehkan. Tangannya mengepal dan meninggalkan pusat kota. Dengan kudanya dia mengikuti Jira sangat cepat.
"Perempuan menjadi Jenderal? Omong kosong!"
Tidak tahan karena Jira sudah ada di hadapan, Jenderal itu melesatkan pedangnya tanpa berpikir, tanpa berhenti.
Sringg!!!
Tangkisan pedang sangat cepat hingga jatuh tertancap tanah. Bunyi nyaring itu membuat Jira dan Jenderal kota Laki-laki berhenti.
"Ha! Sial!" decak Jenderal itu terkejut sekaligus tidak suka pada orang yang meggagalkannya.
Jira berbalik, melotot melihat apa yang terjadi. "Dia? Pedagang senjata itu?" gumamnya. Lalu, melihat satu orang lagi yang juga naik kuda.
Pedang masih dalam pegangan, pedagang senjata itu berdiri tegap memandang Jenderal kota Laki-laki.
"Sepertinya, Tuan Jenderal sangat memperhatikan gadis dari kota Bunga. Kenapa dengan serangan dari belakang?" sindir pedagang senjata sembari melirik Jira.
"Apa? Serangan?" gumam Jira menatap mata tajam yang menghunusnya itu.
Masih mengatur napasnya karena lelah, pura-pura kuat di depan rakyat sudah tidak dilakukan. Kini tubuhnya lemah. Pandangan mengernyit beradu dengan orang yang menatapnya tajam. Jira mengerti, jika orang itu adalah Jenderal kota Laki-laki, menyerangnya tanpa alasan dari belakang. Lalu, pedagang senjata itu menangkis pedang yang melesat ke arahnya.
'Ada apa lagi ini? Aku mau istirahat bukan berkelahi,' batinnya.
"Ck, pedang siapa itu?" decak Jira menunjuk pedang yang tertancap tanah.
Dengan perlahan dia turun dari kudanya dan sedikit kehilangan keseimbangan. Pedagang senjata itu segera mendekat. Namun, sebelum Jira mengambil pedang itu, Jenderal kota Laki-laki terlebih dahulu mengambilnya, membuat pedagang senjata berhenti mendekat. Jenderal itu menodongkan pedangnya tepat di wajah Jira. Jira menatap ujung pedang mengkilat itu dengan pandangan kabur.
"Mengakulah kalau kau penipu! Siapa kau!" seru Jenderal itu.
Jira mengerjap-ngerjap berusaha tetap terjaga. "Aku? Kau menyerangku seperti pengecut hanya karena tidak percaya dengan kedudukanku? Hah, terserah! Lebih baik, Tuan Jenderal pergi saja. Aku juga mau pergi. Hoamm, ngantuk sekali!" ujar Jira tanpa waspada. Pedang itu bisa menusuknya kapan saja.
Pedagang senjata tertawa lagi tanpa suara. Saat Jira berbalik, Jenderal kota Laki-laki geram dan akan menyerangnya. Seketika pedagang senjata itu menahan serangan dan mendorong sang Jenderal. Jira kembali menoleh dan melebarkan matanya. Dia berada tepat di belakang pedagang senjata seakan melindunginya. Jira heran memandang Jenderal dan pedagang senjata itu bergantian.
"Kau merendahkan dirimu sendiri dengan menyerang perempuan. Kalau berani lawan aku!" ucap pedagang senjata serius.
Jira tersentak dalam hati. Tidak menolak, Jenderal itu menyerang sungguhan dan beradu senjata. Bunyi tangkisan dan serangan membuat mata Jira melebar. Dia tidak bisa melibatkan orang lain berkelahi untuknya. Dalam sekali gerakan, Jira menangkis kedua pedang itu hingga mereka menjauh. Seruling itu tidak patah dan tidak membiarkan pedang pedagang senjata ikut campur. Jira terus menanggapi serangan dari Jenderal kota Laki-laki. Hingga keduanya sedikit menjauh dari kuda mereka.
Pedagang senjata itu memilih diam. Melihat Jira yang masih begitu lihai bermain dengan gaya bela diri yang tidak dia mengerti. Dia mengerutkan dahi. 'Gerakan apa itu? Aku tidak pernah melihatnya,' batin pedagang senjata.
Terus memperhatikan Jira yang masih bertahan dengan kondisinya. Sampai keduanya saling menjauh karena sama-sama terluka.
"Bagaimana bisa? Tidak mungkin kalau kau Jenderal!" pekik Jenderal kota Laki-laki masih tidak terima.
Dengan napas terengah Jira menjawab. "Kau mau bukti?" Jira mengambil sebuah benda yang tersembunyi di dalam pakaiannya. Saat Jira mengambilnya, pedagang senjata itu mengarahkan pandangannya ke tempat lain.
"Ini, kau percaya, Tuan Jenderal?" Jira menunjukkan sebuah besi berbentuk bunga dengan lambang kota Bunga. Hanya pejabat kota yang memiliki benda itu.
Jenderal kota Laki-laki terperangah, "Itu, lambang kota Bunga."
Jira kembali memasukkan benda itu ke dalam pakaiannya. Pedagang senjata itu kembali menoleh.
"Kenapa kau menyerangku? Aku tidak ada urusan denganmu. Aku akan pergi, itupun dengan sisa hukuman yang kuterima. Apa kau belum puas? Kalau kau berada di kota Bunga, aku pastikan akan merubahmu menjadi pohon. Beraninya menyerang perempuan dari belakang." ucap Jira menyimpan serulingnya lagi.
'Seruling? Dia melawan pedang dengan seruling?' batin pedagang senjata kemudian mendekati Jira.
"Ini konyol! Bagaimana bisa perempuan ada di posisi seperti laki-laki? Aku merasa direndahkan, tidak akan kubiarkan perempuan setara dengan laki-laki. Kalau kau memang hebat, buktikan. Kita bertarung sampai ada yang menyerah" tantang Jenderal kota Laki-laki.
Jira mengepalkan tangannya. "Kenapa perempuan tidak boleh setara dengan laki-laki? Posisi sama bukan berarti kami kehilangan jati diri sebagai perempuan, Tuan Jenderal! Baiklah, ayo! Lawan aku!" Jira geram.
Langsung menarik pedang milik pedagang senjata yang baru tiba di sampingnya. Memainkan pedang itu sedikit kemudian menyerang terlebih dahulu.
"Eh, eh... Biaya sewa sepuluh koin. Kalau ada yang lecet atau rusah, atau mungkin terkena darah, biaya naik dua kali lipat. Hati-hati, itu pedang bagus!" oceh pedagang senjata yang tidak dihiraukan Jira. "Hah, aku diacuhkan," sambungnya sambil mendesah tersenyum.
Jenderal kota Laki-laki itu semakin gencar membuat Jira kalah. Sayangnya, pertarungan mereka seimbang. Pedagang senjata hanya diam menyaksikan, dia kira Jira tidak bisa menggunakan senjata. Ternyata justru Jira sangat lihai tanpa rasa takut. Namun, itu membuat pedagang senjata merasa waspada karena kaki tangan Jira sedikit gemetar. Jika sedikit saja Jira lengah maka dia akan terluka.
"Ah, sshh!" desis Jira saat pedang itu menggores lengannya. Dia menjauh sambil memegangi lengannya yang berdarah.
"Ck, sudah kuduga dia akan terluka!" gumam pedagang senjata itu, tetapi masih diam di tempat.
'Sial, aku tidak bisa berkelahi dengan baik. Tubuhku lemah.' batin Jira sembari memainkan pedangnya lagi.
"Kenapa? Sakit?" Jenderal kota Laki-laki itu tersenyum meremehkan.
Kembali menyerang Jira tanpa ampun. Jira hanya menangkis dan bertahan tidak bisa melawan lagi. Sakit di lengannya membuat kondisinya semakin parah. Darah terus keluar, kakinya lemas. Pusing mulai datang dan pandangannya kabur. Jira tidak bisa melihat pedangnya sendiri dengan jelas. Tahu jika Jira akan pingsan dan Jenderal itu akan mengambil kesempatan, pedagang senjata ikut bergabung dan merebut pedangnya dari tangan Jira kemudian menangkis serangan dan menahannya tetap berada di udara.
Jira tidak bisa menjaga keseimbangan. Berkali-kali mengerjap, tetapi kepalanya terasa berat. Memandang pedagang senjata itu kemudian dia jatuh hilang kesadaran. Pedagang senjata itu tersentak.
"Jira!"
Dia mendorong Jenderal itu hingga pedangnya terhempas lagi. Rasa panik datang dan melihat kondisi Jira.
"Jira, bangun." menepuk pundak Jira berharap Jira sadar. Namun, tidak ada jawaban. Dia membawa Jira dalam gendongan dan naik ke kuda Jira. Menyimpan pedangnya dan memegangi Jira yang terduduk lemas di depannya agar tidak jatuh.
"Aku pikir kota Laki-laki kota yang terhormat. Tidak kusangka punya Jenderal memalukan sepertimu." tajam pedagang senjata itu sambil memegang tali kendali kuda.
"Ck, siapa kau? Melindungi perempuan di sini melanggar hukum. Bukankah kau yang membawa dia ke penguasa kota kemarin? Kenapa sekarang membelanya? Kau pasti bukan dari sini." tanya Jenderal itu.
Bukannya menjawab justru berbalik arah dan pergi begitu saja. Kuda Jira berlari sangat tenang sesuai arahan pedagang senjata. Jenderal itu sangat kesal. Meskipun terbukti jika Jira ada di posisi yang sama dengannya, tetap saja merasa tidak terima. Baginya perempuan itu lemah. Membawa nasib buruk dan tidak bisa diharapkan. Namun, setelah bertemu Jira dia terheran.
'Aku Jenderal di sini, jangan sampai kalah dengan perempuan! Apalagi kemarin dia membuktikan hukumannya seakan sangat ringan. Aku bahkan tidak bisa berjalan seharian penuh mengelilingi kota. Hah, ini tidak bisa dibiarkan,' batin Jenderal kota Laki-laki.
Meskipun pertarungan dimenangkan olehnya, tetapi masih ingin mencoba kekuatan Jira. Karena Jira dalam kondisi tidak baik, dia ingin pertarungan yang adil, baru dia bisa membuktikan jika dirinya lebih baik. Jenderal itu mengikuti Jira lagi tanpa terburu-buru menyerang. Sayangnya kuda Jira sudah menghilang di antara rumah-rumah. Dia bingung menyusuri setiap jalan dan tidak berhasil menemukan Jira. Berdecak kecewa memilih kembali dan menyuruh orang untuk mencari Jira secara diam-diam.
~~~
Di peternakan kuda, pedagang senjata sibuk mengobati Jira. Lengan yang terluka cukup dalam itu kini terbalut kain perban. Dia tidak berani membersihkan pakaian Jira yang kotor terkena darah karena Jira perempuan. Tidak ada yang bisa dia lakukan lagi selain menunggu Jira sadar.
"Hah, sepertinya dia sangat kelelahan. Kasihan kalau terus ada di sini. Kenapa kau bawa dia kemari?" tanya pemilik peternakan kuda sembari mendesah. Ikut duduk di samping pedagang senjata yang meneliti pedangnya.
"Kemana lagi aku bawa dia? Hanya kau yang peduli dengannya. Aku melihat semuanya di pusat kota." jawab pedagang senjata dengan senyum tanpa menoleh.
Pemilik peternakan kuda itu terkekeh. "Kau sendiri siapa?" tanyanya lagi.
Pedagang senjata itu menoleh. "Aku penjual pedang. Aku juga yang membongkar penyamaran Jira, haha. Penyamarannya buruk sekali. Lain kali akan aku ajarkan cara berdandan seperti laki-laki." jawabnya tertawa.
Pemilik peternakan kuda itu justru tersentak. "Kalau kau tahu siapa dia, berarti kau juga bukan orang biasa." ujarnya dengan pandangan menelisik.
"Haha, aku hanya pedagang dari kota lain. Anggap saja aku pengembara. Berkelana kesana kemari, tidak heran aku mengetahui Jira sebagai Jenderal. Jangan Jira, setiap Jenderal dari masing-masing kota aku mengetahuinya. Aku berkelana kemanapun aku mau." jawabnya tanpa beban sambil memasukkan pedangnya dalam sarung pedang.
"Jenderal Jira juga mengatakan jika dia pengembara. Mengaku namanya adalah Ji dan dia punya misi penting. Nyatanya itu semua bohong, hanya misinya yang benar. Aku rasa kau juga bohong. Ah, tapi tidak masalah. Katakan, siapa namamu?"
Pedagang pedang itu tertawa kecil saat dikatakan bohong. "Panggil saja aku Kay," senyumnya tidak pernah hilang.
"Kay? Nama sungguhan atau samaran?" tanya pemilik peternakan kuda dengan sedikit bercanda.
"Ahaha, nama asli, Tuan. Semua orang memanggilku Kay. Kalau tidak percaya, tanya saja orang-orang di pasar. Kemaren aku berdagang di sana."
"Kay?" suara lirih berasal dari ranjang kayu di belakang mereka.
Kay tersentak, menoleh dan segera menghampiri Jira. Pemilik peternakan kuda itu juga ikut menghampiri. Jira mengernyit pusing, duduk dan menyesuaikan keadaan. Pandangannya perlahan semakin jelas.
"Eh, sudah sadar? Tadi itu tidur atau pingsan?" tanya Kay bercanda dan duduk di sampingnya.
Jira mengernyit sewot. Ingin mencerca, tetapi merasakan sakit di lengannya. Dia mendesis sambil memegang lukanya.
"Sudah terbalut? Siapa yang merawatku?" batin Jira melihat lukanya yang tidak berdarah lagi.
"Siapa lagi kalau bukan aku? Gara-gara kau, aku jadi tidak berdagang. Harusnya aku dapat ucapan terima kasih. Sudah membawamu ke sini, aman tanpa ketahuan warga. Bukannya mata melotot mau marah." sindir Kay terang-terangan.
Jira menganga. "Dasar gila! Kau menggendongku lagi? Dua kali? Penipu tidak waras, akan kupatahkan tanganmu! Kemari! Ahh, sshh... Kenapa rasanya sakit semua?"
Jira ingin menarik tangan Kay, tetapi kesulitan karena badannya terasa kaku. Dari pinggang hingga kaki terasa sangat berat dan pegal. Jira menarik tangannya kembali membuat Kay ikut meringis sakit.
"Keadaanmu masih lemah. Kau mengitari satu kota bukan satu desa. Jangan bergerak terlalu banyak, istirahatlah beberapa hari di sini. Kudamu juga akan kurawat bersama kuda yang lain. Tenang saja, di rumahku akan aman," ucap pemilik peternakan kuda yang berdiri di depannya.
Jira menatapnya. "Tuan, kalau aku di sini akan menghabiskan waktu. Niatmu sangat baik, tetapi aku harus segera pergi, ahh!" pekik Jira saat ingin berdiri. Dia kembali duduk, kesal karena badannya sakit semua.
"Begitu pentingnya tujuanmu sampai tidak mau singgah sebentar?" tanya Kay dengan tatapan aneh.
Jira menoleh. "Apa pedulimu? Penipu!" Jira kembali menatap pemilik peternakan kuda sambil tersenyum.
"Ck, menurutlah! Tinggallah satu hari saja, aku akan mengobatimu. Sebelum itu kau mandi dulu. Baumu busuk sekali, penuh keringat dan... Ih, aku sampai tidak tahan!" ucap Kay sambil bergidik menutup hidungnya dan pergi.
Jira sangat kesal. "Pergi sana! Pergi yang jauh! Aku tidak butuh bantuanmu! Gara-gara kau aku jadi begini tau!" sewot Jira.
"Ish, Jenderal jangan banyak bergerak. Jangan marah dengan pemuda itu. Kau tau? Dia terlihat sangat peduli denganmu. Diam-diam membawamu kemari tanpa sepengetahuan orang padahal di luar ramai. Itu pasti sangat sulit. Aku melihat sendiri dia mengobati lukamu dengan sangat baik. Aku rasa, dia pandai ilmu pengobatan." tutur pemilik peternakan kuda dengan sangat sopan.
"Benarkah? Apa kami tidak tertangkap?" tanya Jira menggeleng pelan.
Pemilik peternakan kuda itu menggeleng. "Tidak. Tidak ada yang tau. Ah, istirahat dulu, aku akan siapkan air untukmu. Kenapa kau tidak terus terang jika kau perempuan dan Jenderal dari kota Bunga. Aku akan sangat senang bisa melayanimu." ujarnya tersenyum bahagia sembari ingin pergi, tetapi Jira menahannya.
"Tidak perlu siapkan air, Tuan. Aku bisa sendiri. Lagipula, jika aku memberitahu penyamaranku akan sia-sia, bukan? Justru menjadi sia-sia sungguhan gara-gara pedagang senjata konyol itu! Siapa tadi namanya? Kay?" Jira mencebikkan bibirnya.
"Iya, namanya Kay. Dia bilang dia juga pengembara sembari berdagang senjata." jawab pemilik peternakan kuda.
Jira tersenyum manis. "Emm, jangan percaya sama ucapannya. Dia penipu, sama sepertiku bisa saja dia berbohong." Jira mencoba menghasut.
"Aku tidak tau. Yang aku tau dia pemuda yang baik. Ah, kalau kau ingin mandi, kamar mandi ada di sebelah sana. Aku permisi dulu." ucap pemilik peternakan kuda sambil mengangguk sebentar menunjuk arah kamar mandi dan pergi.
Jira menanggapinya dengan senyum. Susah payah dia mencoba untuk bangun menuju kamar mandi. Jira memakai pakaiannya dan membuang pakaian laki-laki itu. mengikat rambutnya menjadi satu. Keluar dengan waspada untuk menemui kudanya. Baru sampai di ambang pintu kakinya sudah tidak kuat. Dia terjatuh, tetapi Kay menangkapnya. Jira segera melepaskan diri dan berdeham. Celingukan mencari kudanya di antara kuda-kuda yang lain.