Jira merasakan hangat menjalar di tubuhnya. Tidak ada pembicaraan, hanya suara hewan malam membuat suasana menjadi sunyi. Jira melirik Kay yang tengah senyum memandang langit dengan kedua tangan bertumpu tanah di belakang.
"Kenapa diam? Tidak pernah dipuji cantik, ya?" tanya Kay tanpa menoleh.
Jira mencebikkan bibirnya. 'Nada bicaranya memang bercanda, tapi menyebalkan!' batin Jira.
"Ah, benar juga. Siapa yang mau memujimu? Mereka pasti akan takut karena pedangmu, haha," lanjut Kay.
"Siapa yang punya pedang? Aku hanya bawa seruling," bantah Jira.
Kay menoleh. "Seruling kecil itu? Jenderal apa yang tidak bawa pedang? Ternyata persiapanmu sangat buruk!" bingung Kay.
"Ck, aku bahkan selalu berperang menggunakan seruling. Kemaren menggunakan pedang karena lawannya laki-laki yang tangguh. Aku akui, kekuatan mereka seperti kekuatan gajah." Jira bercerita.
"Tapi aku lihat kau sangat mahir menggunakan pedang," ucap Kay.
"Menurutmu apa aku tidak punya keahlian jika menjadi Jenderal? Semua itu butuh kerja keras." terang Jira.
Kay tertawa, "Haha, baiklah, aku percaya. Ini sudah malam. Aku sarankan kau istirahat. Semua sudah selesai untuk kota ini. Kau bisa lanjutkan perjalananmu. Aku juga tidak akan mengganggumu lagi. Jadi, lebih baik aku pergi saja sekarang." Kay tetap tersenyum sambil berdiri dan sedikit merapikan pakaiannya.
Jira memandangnya redup. "Kenapa kau harus pergi?" tanya Jira tanpa berpikir.
Kay menatapnya polos. "Kau menahanku tetap di sini?" Kay berbalik bertanya.
Jira kelagapan. "Aku.. Maksudku, setelah ini kau mau ke mana? Malam begini tidak mungkin kau berkeliaran. Memangnya kau punya tujuan sampai harus pergi?" elak Jira memandang ke segala arah.
Kay mengerutkan dahi. Terlintas ide jahil membuatnya tersenyum mendekat. "Bilang saja kau tidak mau aku pergi, iya, 'kan?" bisik Kay tepat di telinga Jira.
Jira menoleh dengan mata melebar. "Apa maksudmu!? Aku tidak bilang begitu!"
Kay menunjukkan deretan giginya. "Lalu, apa, Jenderal? Kenapa menahanku?" tanya Kay jahil sedikit menjauhkan wajahnya.
"Aku tidak menahanmu!" Jira membantah.
Kay kembali berdiri tegap, "Hmm, ya, sudah. Kalau begitu aku pergi." Kay melangkahkan kaki, tetapi Jira menahannya. "Eh, tunggu! Setidaknya jangan pergi malam ini. Bagaimana jika ada bahaya mengancammu?" Jira mendongak dengan mata melebar.
Kay tidak jadi melangkah, "Kau mencemaskanku? Aku lebih pandai menjaga diri darimu."
Jira memutar bola matanya mencari alasan. "Ck, istirahatlah sebentar, Kay! Kau juga manusia yang punya lelah. Bukan hanya aku saja yang butuh istirahat!" seru Jira pura-pura kesal.
Kay tergelak. Dia kembali duduk memandang Jira penuh selidik, "Kau cemas padaku tanpa alasan, Jira. Baiklah, akan tetap di sini. Hah, nyamannya tidur di atas rumput yang menusuk."
Kay merebahkan diri dengan tangan terlipat sebagai bantalan. Langit menjadi pemandangan dan Jira menatapnya heran. "Setelah apa yang terjadi, kenapa aku tidak bisa marah padamu?" tanya Jira polos.
"Hahaha, jawabannya ada padamu sendiri, Jira. Kenapa tanya aku?" tawa Kay.
Jira mengangguk pelan membenarkan Kay. Melihat Kay merebahkan diri membuat Jira merasa aneh da kembali menatap ke depan. Dia menghembuskan napas panjang. Menekuk lutut dan membuat dirinya sendiri hangat.
"Aku akan melanjutkan tujuanku. Kau sendiri akan apa?" tanya Jira dengan suara mirip berbisik tanpa melihat Kay yang terus menatap punggungnya.
"Aku bebas kemanapun yang aku mau. Kalau aku mau berdagang senjata, ya, maka aku berdagang. Pastinya tidak kembali ke kota Laki-laki lagi," jawab Kay menerawang.
Jira mengangguk mengerti. "Lalu, apa kita bisa bertemu lagi? Maksudku, kita bertemu hanya dalam tiga hari," tanya Jira.
"Haha, tentu saja. Kita akan bertemu suatu saat nanti. Mungkin akan selalu bertemu?" jawab Kay sekaligus bertanya.
Jira menoleh. "Kau yakin sekali," ucapnya.
"Karena itu kau. Percayalah, kita akan bertemu jika waktunya tiba." Kay memandang Jira redup.
Jira terdiam. Kay seakan memberinya harapan yang justru membuat hatinya senang. Jira tidak mengerti. Dia menahan sekuat tenaga agar tidak terpengaruh dengan Kay. Namun, Kay telah membawa dampak besar baginya. Seakan dirinya sangat dekat dengan Kay.
"Bagaimana kalau bicara tentang tadi? Apa yang kau lakukan selama aku di penjara?" tanya Jira lagi.
"Hmm, aku jawab jujur. Penguasa kota mengajakku bicara di ruang sidang istana kota. Dia bingung karena kita membuat ulah di kotanya. Jelas aku menjawab dengan meninggalkan pertanyaan. Itu sama saja pertanyaannya tidak terjawab, haha. Aku yakin sekarang dia masih bertanya-tanya tentang siapa aku dan tujuanmu. Setelah itu... Aku menyelamatkanmu lagi," jawab Kay terus terang.
Jira tersenyum mengerti. "Aku tidak mau bertanya lagi. Biar waktu yang menjawab. Hah, aku lelah." ujar Jira merebahkan diri di samping Kay dengan sedikit menjauh.
"Kau mudah sekali mengeluh padaku." ucap Kay menatap Jira.
"Karena aku rasa kita dekat karena perselisihan. Buat apa menjaga nama baik? Saat ini aku Jira, bukan Jenderal," jawab Jira memandang langit.
Kay terkekeh. "Aku ingin mendengar serulingmu. Apa kau mau bermain seruling untukku?" tanya Kay memohon.
Jira menoleh, "Kalau aku tidak mau, bagaimana? Buat apa bermain seruling untukmu? Kau, 'kan penipu." ejek Jira.
"Ayolah! Kita, 'kan teman," bujuk Kay.
"Sejak kapan kita berteman?" Jira mendelik.
"Sejak aku membongkar penyamaranmu! Jira, mainkan serulingmu sampai aku tertidur!" pinta Kay.
"Tidak mau! Ini malam, kalau suara serulingku terdengar sampai desa, bisa bahaya!" tolak Jira.
"Tidak akan terjadi! Kau pelit sekali!" Kay pura-pura kesal. Jira justru menoleh ke tempat lain. "Ck, ya sudah. Aku tidur saja! Pelit!" maki Kay kemudian menutup matanya.
Jira tersenyum dalam diam. Menunggu beberapa saat dan melihat Kay sudah tidur. Dia diam-diam bangun dan memainkan serulingnya. Nada yang sangat menenangkan. Tidak dia sadari, Kay tersenyum mendengarnya. Dia tidak tidur karena tahu Jira akan bermain seruling untuknya. Namun, lama kelamaan nada itu berubah sedih. Sangat menyayat hati. Kay meringis ikut merasa perih. Dia melirik Jira yang justru lebih sedih.
Tidak berani bertanya dan memilih kembali pura-pura tidur dan terlanjur tidur. Jira menangis mendengar suara serulingnya sendiri. Nada perpisahan yang sudah lama tidak dia mainkan. Lubang demi lubang di bambu kecil itu Jira tutup dengan jarinya yang gemetar. Hingga Jira tidak kuat lagi bermain seruling. Dia menghapus sisa air matanya dan merebahkan diri.
'Kenapa aku menangis? Untuk siapa? Kenapa menjadi nada sedih yang aku mainkan?' batin Jira bingung.
Berharap Kay tidur sungguhan dan tidak melihatnya menangis. Jira menatap wajah Kay. Begitu tenang, jauh berbeda saat berdebat dengannya. Jira menggeleng kuat dan kembali membelakangi Kay. Dia mengingatkan diri sendiri agar fokus pada pencarian bunga melati. Seketika Jira ingat bubuk sihir milik Kay. Aromanya masih teringat jelas. Membuat Jira berpikir jika aroma bunga itu adalah bunga melati. Di perkuat dengan kekuatan luar biasa yang dapat menyembuhkan luka dalam sekejap. Namun, Jira tidak bisa menyimpulkan tanpa keterangan bukti. Apalagi Kay memilikinya.
'Selagi bunga melati masih dalam pencarianku, tidak ada kabar tentang bunga itu, tidak mungkin jika bubuk itu berasal dari bunga melati,' pikir Jira.
Setelah itu Jira terlelap. Saat Jira bangun, dia tersentak karena Kay sudah tidak ada di sampingnya. Celingukan mencari Kay yang mungkin masih di dekatnya. Namun, ternyata Kay benar-benar pergi. Jira mendesah dengan senyuman. Berharap ucapan Kay menjadi nyata jika mereka akan bertemu kembali.
Jira membulatkan tekad menuju bukit tempat banyak tumbuhan obat. Melihat bukit di depannya, hati Jira berdebar. Dia mengemas kembali barang yang di bawa. Kali ini Jira menuntun kudanya. Berjalan menuju bukit dengan penuh harapan.
Jira menghitung hari. Hampir satu minggu dia lewati. Mengucapkan selamat tinggal pada kota Laki-laki dalam hati, dia yakin akan menemukan masalah baru. Kay memang sudah pergi tanpa sepengetahuan Jira. Namun, Kay masih mengawasinya hingga Jira menghilang di balik bukit. Lalu, barulah Kay pergi menuju jalannya.
Matahari sebentar lagi tepat di atas kepala. Jira serius memilah satu per-satu tumbuhan obat yang liar. Mencium, meraba, dan meneliti dengan serius. Jira memang tidak mengerti obat-obatan apalagi masih dalam bentuk tumbuhan. Namun, Jira bisa membedakannya sedikit demi sedikit. Bunga, daun, akar hingga batang penuh memenuhi jalanan bukit.
"Paman Uang ternyata tidak bohong. Di sini banyak sekali bahan herbal dan aku bingung sekarang. Aku tidak bisa membawa meskipun salah satu dari mereka. Bunga melati juga tidak ada di sini." gumam Jira sambil memegang beberapa daun dan bunga.
Ada pohon buah yang tumbuh di tepi bukit. Jira mengambil beberapa buah untuk persediaan.
"Bukit ini luar biasa. Orang-orang bisa memanfaatkannya dengan baik. Hmm, aku harus pergi." Jira berbicara sendiri sambil memakan buah.
Perjalan hamparan rumput untuk menuju tempat selanjutnya. Sangat luas sehingga Jira menunggangi kudanya. Tiduran membiarkan kuda putihnya berjalan tenang. Dia masih makan buah sambil mengernyit menatap langit.
Tidak terasa hari sudah menjadi sore lagi. Malam akan datang dan Jira belum menemukan tempat singgah. Semuanya masih hamparan luas penuh rumput. Jira sudah jauh dari bukit. Kini kudanya lelah dan ingin istirahat. Jira membawa kudanya di salah satu pohon yang berjarak sekitar seratus langkah. Anehnya hanya ada beberapa pohon di sekitarnya.
"Cen Cen, mau makan buah? Aku ada beberapa untukmu," tawar Jira.
Namun, kudanya tidak menjawab. Rasanya sunyi seakan hanya Jira manusia di bumi ini. Tidak ada hewan, bahkan burung terbang pun tidak. Jira ikut duduk bersama kudanya. Bibirnya mengerucut bingung.
"Kalau ada Kay, dia pasti sudah mengoceh. Tidak sunyi seperti ini," gumam Jira.
Seketika Jira mengerjap bodoh. "Kenapa aku ingat Kay? Biarkan saja dia pergi!" lanjutnya kesal.
Lalu, Jira menghembuskan napas panjang, "Huft, kemana Kay pergi? Bubuk ajaib yang beraroma bunga langka. Kay itu misterius sekali." Jira menekuk lutut dan menyangga kepalanya.
Dia hanya diam. Kudanya tidur tanpa makan buah Jira satu pun. Tiba-tiba Jira mendengar kicauan burung yang sangat banyak terbang melewatinya dengan sangat cepat seakan sedang dikejar sesuatu. Jira berdiri melihat burung-burung itu.
"Sejak tadi tidak ada burung, sekali ada burung langsung banyak. Kenapa mereka terburu-buru?" Jira bingung.
Tanpa gemuruh, tanpa pertanda, kabut tebal menyelimuti daerah barat tempat burung-burung itu berasal. Jira tidak percaya. Dia pikir itu awan mendung, tetapi sangat banyak dan terlihat jelas. Jira pikir lagi jika itu akibat letusan gunung, tetapi tidak ada gunung di daerah barat. Jira sedikit takut. Dia memberanikan diri untuk melihat lebih dekat.
"Cen Cen, bangun! Kita lihat apa yang terjadi." Jira membangunkan kudanya paksa dan berlari ke sumber awan tebal.
Pandangan Jira menelisik. Semakin dekat, semakin buram. Kudanya meringkik juga tidak bisa melihat dengan jelas. Tidak sadar matahari sudah terbenam dan dia telah melewati sebuah gerbang. Jira diselimuti kabut membuatnya batuk. Kudanya kebingungan.
"Hei, lewat sini!"
Jira tersentak mendengar teriakan dari bawah.
"Siapa itu?" tanya Jira dengan suara keras.
"Ayo ikut aku!" seru orang itu lagi.
Jira celingukan, tetapi tidak melihat apa-apa selain kabut. Jira mendengar orang itu berdecak dan merebut tali kuda Jira secara paksa. Menuntun kudanya padahal Jira masih berada di atas kuda.
"Siapa kau? Lepaskan tali kudaku! Ada apa di sini?" bingung Jira sibuk mengusir kabut yang menutupi wajahnya dengan tangan.
"Jangan takut! Kalau kau ingin selamat, maka ikuti aku!" teriak orang itu lagi. Semakin cepat dia menarik kuda Jira. Kudanya juga ikut begitu saja karena tidak tahan.
Jira merasakan jalanan turun. Lalu, kudanya berhenti dan orang itu menyuruh Jira membawa kudanya masuk.
"Ayo masuk! Hati-hati kepalamu!" seru orang itu seakan ingin Jira agar cepat.
Jira penuh waspada, tetapi dia mengikuti perkataan orang itu. Tidak tahu dia masuk ke mana, yang jelas kepalanya menunduk dan tiba-tiba kabutnya menghilang.
"Sudah aman. Sekarang kau bisa berdiri tegap," orang itu kembali bicara.
Kuda Jira meringkik dari tadi seakan menghilangkan sisa kabut di kepalanya.
"Siapa yang bicara?" tanya Jira celingukan.
"Kami di sini. Di bawah," suara yang berbeda dari yang sebelumnya membuat Jira semakin penasaran.
"Jangan takut, kami orang baik. Hei, nyalakan obornya!" suruh orang yang menarik kudanya tadi.
'Apa? Apa ada banyak orang di sini? Aku tidak melihat apa-apa!' batin Jira.
Api menyala di tiap dinding batu. Menerangi ruang gelap menjadi bersinar jingga. Jira terbelalak bisa melihat dengan jelas.
"Ini... Gua?" gumam Jira menatap sekeliling.
"Iya, ini tempat paling aman agar terhindar dari kabut itu." jawab orang itu lagi.
Jira menoleh. "Siapa? Di mana kalian?"
"Kami di sekelilingmu! Lihat ke bawah!" decak orang itu.
Jira menunduk. Seketika Jira menganga. Ada banyak manusia kecil sehingga pinggangnya yang tersenyum menatapnya.
"Hai!" seru mereka bersamaan sambil melambaikan tangan.
Jira sampai mundur karena terkejut, tetapi ada yang menahan kakinya membuat Jira menoleh ke belakang.
"Astaga! Masih ada banyak lagi!?" pekiknya tidak percaya.
Orang-orang kerdil itu menyebar masuk ke dalam gua. Jira masih menganga sampai orang yang membawanya masuk berbicara.
"Kau siapa? Kenapa bisa masuk ke tempat kami malam-malam begini? Kau tidak tahu ada bahaya di luar sana?" tanya orang itu.
Jira kembali menghadap pintu gua yang orang itu masih berdiri di sana. "Ada apa ini? Aku di mana? Kalian ini apa? Kenapa ada di gua ini? Bahaya apa yang kalian maksud?" tanya Jira beruntun.
Mereka justru saling pandang dan ikut bingung. Kemudian mereka pergi membentuk sebuah kelompok dan berbicara sendiri-sendiri. Jira merasa diacuhkan.
"Kau ada di desa para Kurcaci." jawab orang itu tenang.
"Apa?!" pekik Jira.
~~~
Sebagian besar dari mereka sudah tidur dengan keluarganya masing-masing. Seakan gua menjadi satu rumah bagi penduduk desa. Mereka saling berbagi tanpa rasa iri. Cen Cen juga ikut tidur di samping Jira. Percikan api sesekali mengenai tangan Jira. Dia duduk bersama pemimpin desa Kurcaci, dia yang membawa Jira ke gua. Di tengah mereka api unggun kecil menghangatkan suasana. Gua yang cukup dingin jika ditinggali terlalu lama.
"Kabut beracun itu telah banyak membunuh warga desa. Hanya gua ini yang tidak mampu melindungi kami dari kabut. Gua ini memiliki pelindung yang tidak bisa ditembus bahkan kabut sekalipun. Penyihir itu sangat keji! Kami tidak bisa terus-menerus hidup bergantung pada gua." keluh kesah pemimpin desa yang sangat sedih.
Jira terbawa suasana. "Jadi, kalian ini kurcaci, ya?" tanya Jira basa-basi. Pemimpin desa mengangguk.
"Lalu, gua besar ini punya sihir pelindung?" tanya Jira lagi dan pemimpin desa mengangguk.
"Aku tidak tau jika ada masalah seperti ini. Apa tidak ada yang membantu kalian?" tanya Jira merasa prihatin.
"Siapa yang mau membantu kami? Bahkan tidak ada satu orang pun yang datang ke desa kami," jawab pemimpin desa.
Jira tersentak. 'Kabut yang selalu datang saat menjelang malam membuat tingkat kematian tinggi. Lalu, tidak ada yang membantu? Ke mana desa dan kota yang dekat daerah ini? Apa mereka tidak melihat desa ini dan punya rasa manusiawi? Atau mungkin, desa ini yang tidak terlihat. Aku bahkan tidak tau kalau melewati gerbang masuk desa,' pikir Jira.
"Siapa penyihir itu? Kenapa desamu di serang?" tanya Jira penasaran.
Pemimpin desa mendongak. "Kau mau membantu kami?" tanyanya penuh harap.
Jira hanya mengerjap dan tersenyum. 'Aku sendiri sedang dalam tugas penting. Bagaimana bisa membantu kalian?' pikirnya.
Namun, melihat kondisi para kurcaci, Jira tidak tega. "Huft, aku akan berusaha," jawab Jira dengan senyum.
"Sungguh? Kau tidak menipu kami? Kau mau membantu kurcaci seperti kami?" tanya pemimpin desa beruntun dengan wajah berseri.
Jira meringis bingung. "Kalian juga manusia. Sudah sewajarnya orang saling membantu," jawab Jira.
"Yey! Ada penyelamat datang! Gadis ini akan menyelamatkan kita!" sorak senang pemimpin desa membuat kurcaci yang masih terjaga mendekat dan ikut bergembira. Mereka bertanya pada Jira dengan sangat buru-buru. Jira hanya tersenyum mendengar ocehan mereka.
'Aku harap Yang Mulia Rui Cenchana bisa sabar menanti. Tidak mungkin aku biarkan masalah ini terus terjadi,' batin Jira.
"Tapi siapa kau? Kabut itu beracun, kau bisa mati dalam beberapa hari jika sering menghirupnya," tanya pemimpin kota lagi.
Semua kurcaci yang terjaga itu ikut duduk melingkar bersama Jira.
"Aku Jira Sieli War. Jenderal perang kota Bunga," jawab Jira memandang mereka.
Mereka terkejut dan menangkupkan tangan memohon ampun. "Ampun! Mohon ampun, Jenderal! Kami tidak mengenalimu!" ujar pemimpin desa ketakutan.
"Ah, sudah jangan begitu! Aku bukan penguasa kota sampai kalian ketakutan." Jira menyuruh mereka melepaskan tangkupan tangannya.
"Tapi kau Jenderal," ucap pemimpin desa polos.
Jira tertawa renyah. "Benar juga. Kalian pasti takut karena aku Jenderal. Tenang saja, aku bukan Jenderal yang kejam," jawab Jira.
Mereka saling pandang bingung.