Sebentar lagi gerbang keluar desa akan terlihat. Setelah itu jalanan bebas menuju perbatasan kota. Kay akan sampai jika saja orang itu tidak muncul secara tiba-tiba di depannya membuat Kay berhenti mendadak dan spontan tangannya lebih erat menggendong Jira. Tersenyum bodoh membuat Jira menepuk dahinya.
"Jangan senyum dan diam saja. Ayo berbalik, cari tempat sembunyi!" desis Jira sambil melotot.
Kay mengerjap. Melihat Jira sebentar dan mengangguk polos. Lalu, berbalik arah, lari lagi mencari persembunyian.
"Hey, jangan lari!" teriak orang itu mengejar.
"Aduh! Kenapa dia masih mengincarku?" gumam Jira.
"Karena dia butuh uang. Orang bisa lakukan apa saja kalau dibutakan uang. Lima koin untuk melihatmu tak berdaya, haha. Murah sekali! Seperti membeli kuali saja!" jawab Kay dengan napas memburu. Dia kebingungan membawa Jira di antara rumah-rumah sepi. Kemudian ada sebuah sumur tua yang tertutup ilalang. Kay berhenti, menurunkan Jira bersembunyi di sana.
"Kau mengejekku apa merendahkanku!?" sewot Jira.
"Sstt, di sini sepertinya aman. Kita tertutup ilalang," Kay tidak memperdulikan ucapan Jira.
Dia melihat apakah orang itu masih mengejarnya atau tidak. Jira ikut mengintip, tetapi Kay menahannya.
"Eh, diam saja!" suruh Kay.
Jira menganga. "Berani, ya, menyuruhku?" bingung Jira.
"Kenapa tidak berani?" Kay menantang Jira dengan tatapannya.
Jira menunjuk wajah Kay membuat Kay mendelik. "Setelah semua yang kau lakukan padaku, kau berani...," ucapan Jira dipotong Kay. "Iya-iya, aku minta maaf. Tidak lagi membuatmu dalam masalah. Jangan berisik! Kalau ketahuan kita akan lari lagi. Aku capek menggendongmu, berat!" ujar Kay mirip berbisik.
"Apa? Aku berat? Dalam tiga hari aku baru makan sekali. Lalu, tidak ada habisnya aku di buat seperti mainan yang di lempar sana-sini dan kau bilang aku berat? Kau minta aku sihir jadi pohon, ya!?" desis Jira tidak terima.
Kay kembali tersenyum tanpa bersalah. "Oh, kau punya sihir semacam itu? Kenapa tidak rubah semua orang di kota ini jadi pohon saja? Mudah, 'kan? Kau juga tidak akan terluka seperti ini." Kay menunjuk Jira dari atas sampai bawah. Jira ikut melihat kondisinya yang tidak terawat. "Lagipula bukan itu yang aku maksud. Kau berat karena banyak yang kau alami di sini. Hah, harusnya aku biarkan kau pergi, bukannya menahanmu berujung taruhan dengan Jenderal itu." sambung Kay mendesah dan menunduk di akhir ucapannya. Membuat duduknya lebih nyaman dan memainkan rumput.
Jira cemberut. "Aku tidak punya kekuatan seperti itu, tapi orang di kota Bunga bisa," Jira sedikit kesal.
Tahu jika Kay akan bertanya, Jira terlebih dahulu melanjutkan ucapannya. "Kalau kau menyesal membuatku terluka, kenapa melakukannya?" tanya Jira dengan ekspresi menuntut.
"Karena aku... Kenapa aku melakukannya, ya?" Kay justru berpikir bodoh membuat Jira berdecak dan memukulnya lagi.
"Dasar penipu payah! Tapi bagaimana hasil tantangan kemarin?" tanya Jira.
Kay meringis. "Aku tidak tau," jawabnya polos.
"Jangan menipuku! Aku tau kau mengetahui segalanya. Kau juga tau kenapa aku ada di sini. Ini... Seperti jalan akan ke perbatasan kota, benar, 'kan?" tanya Jira lagi.
Kay mendesah. "Iya, ini menuju perbatasan kota. Desa terakhir di kota ini. Meskipun kau tanya seluruh warga, mereka juga tidak tahu bagaimana hasilnya, karena kau pingsan di pelukanku dan Jenderal kota pergi. Kemudian semua orang juga pergi. Tentu saja kau ada di sini karena aku. Kudamu juga aku selamatkan, tenang saja. Semua aman jika bersamaku." terang Kay bangga.
"Aku sekarat bersamamu, bukan aman!" desis Jira melotot tajam.
"Hah, Jenderal Jira... Bisakah kau renggangkan dulu ototmu itu? Jangan terlalu banyak marah. Aku tidak pernah melihatmu tersenyum. Coba senyum sepertiku." Kay menunjukkan deretan giginya.
Jira hanya menatap Kay tanpa berkedip. 'Senyumnya sama seperti pertama kali bertemu. Menjengkelkan!' batinnya.
Namun, perlahan senyumnya terangkat. "Bagaimana aku bisa tersenyum? Kota ini menyiksaku termasuk kau." kata Jira sambil menatap sumur tua.
Kay berhenti tersenyum. "Aku membuatmu terluka, tapi aku juga yang meyembuhkanmu," ucap Kay pelan.
Jira menoleh bingung. Kay menarik kaki Jira hingga lurus dan menyentuh pakaian yang dia robek. "Heh, kau mau apa?" Jira sudah curiga.
"Bagaimana kondisimu? Lebih baik atau semakin parah?" tanya Kay tanpa menghiraukan pertanyaan Jira. Dia fokus memeriksa kaki Jira yang terluka, tetapi lukanya tidak ada.
Jira heran. "Kenapa tanya?" memandang Kay aneh.
'Anehnya aku tidak bisa marah padamu, Kay. Kenapa? Harusnya aku menghukummu, paling tidak membalas setiap perbuatanmu. Aku terluka, harusnya aku juga membuatmu terluka. Sayangnya aku tidak bisa, wajahmu itu terlalu naif. Aku sendiri bingung,' batin Jira.
"Mau sembuh tidak?" tanya Kay berganti memeriksa lengan Jira.
"Siapa kau yang sebenarnya? Kenapa tau aku Jenderal? Kenapa mengikutiku terus? Aku tau kau yang menutup lukaku, 'kan? Lalu, jawab kenapa aku ada di penjara orang itu dan di mana kudaku?" tuntut Jira menelisik wajah Kay.
Kay mendongak. Pandangan mereka beradu.
"Aku Kay. Jangankan kau, seluruh pejabat di penjuru negeri aku mengetahuinya. Kenapa aku mengikutimu? Entahlah, aku hanya ingin. Memang aku yang menutup lukamu, tapi aku lihat sepertinya masih belum sembuh. Masih terasa sedikit sakit, 'kan? Istirahat saja dulu. Lalu, aku meninggalkanmu saat dua orang yang berdebat itu datang. Tentu saja aku tidak mau dalam masalah. Aku membawa kudamu pergi. Tenang, dia juga sedang istirahat. Kudamu sangat baik, dia sedih melihatmu terluka. Aku menolongmu lagi karena aku tidak suka orang itu mengambil keuntungan darimu. Lima koin? Yang benar saja!" jawab Kay bercerita tanpa henti.
"Kenapa kau cerewet sekali?" tanya Jira kagum sambil menggeleng.
"Karena kau juga cerewet!" jawab Kay tersenyum manis.
Jira kembali melotot. Sebelum Jira marah, Kay memilih menyentuh luka Jira, membuat Jira mendesis.
'Kekuatan apa yang Kay miliki sampai bisa menutup luka? Dia tabib? Tidak mungkin! Pakaiannya sangat berbeda dengan tabib,' batin Jira.
"Sekarang giliranku bertanya. Siapa kau sebenarnya? Sejak kemaren pertanyaan kita masih sama. Penasaran satu sama lain. Meskipun kita menjawab, masih ada sisa yang membuat penasaran." Kay menatap Jira lagi, kini dengan serius.
Jira tersentak kemudian tersenyum miring. Sedikit mendekat membuat Kay mengerutkan dahi.
"Aku? Aku perempuan cantik!" Jira bermain tersenyum ceria membuat Kay berekspresi ingin muntah.
"Cantik? Kau belum mandi dan bajumu buruk! Lihat, rambutmu saja seperti sarang burung! Cantik dari mana?" ejek Kay menarik sedikit rambut Jira.
Jira kesal dan Kay terkekeh. "Kau tidak ada rasa sopan, ya, padaku? Seakan kau memang lebih hebat dariku!"
"Kalau iya kenapa? Lihat ini, aku akan buat keajaiban!" seru Kay seakan lupa jika mereka sedang bersembunyi.
Jira mengerutkan dahi. "Keajaiban apa?" tanyanya.
Kay mengambil sesuatu dalam saku pinggangnya. Jira melihat dengan serius.
"Apa itu?" tanya Jira penasaran.
"Bubuk sihir!" Kay mengedipkan sebelah matanya membuat Jira mendelik menahan senyum.
"Tutup matamu!" pinta Kay.
Jira bingung, tetapi tetap menutup mata. Kay mengambil sejumput bubuk itu dan menempelkannya di dahi Jira. Serius Kay menutup matanya seolah melakukan keajaiban. Tiba-tiba Jira merasakan tubuhnya segar dan semua rasa sakit menghilang. Dia tersenyum nyaman menghirup aroma menenangkan yang keluar dari bubuk itu. Kay masih belum membuka mata sampai bubuk itu masuk keseluruhan dan menyebar di tubuh Jira. Kay tersentak dalam diam. Kembali dia merasakan sesuatu dalam tubuh Jira yang tidak pernah Jira keluarkan. Saat bubuk itu menghilang, Kay membuka matanya dan tersenyum.
"Sudah selesai. Gimana? Ajaib, 'kan?" tanya Kay dan Jira perlahan membuka matanya.
"Wah, ini hebat! Aku kembali segar seakan tidak pernah merasa sakit. Kau pakai apa itu? Dapat dari mana?" tanya Jira semangat dengan senyum lebar.
"Kau cantik saat tersenyum," racau Kay tanpa sadar.
"Apa?" Jira mengernyit bingung.
Seketika Kay mengerjap, "Emm, hehe. Itu ramuan luar biasa yang aku gunakan hanya di saat terdesak. Kau beruntung mendapatkannya." kata Kay sambil menyimpan kembali bubuk itu di pinggangnya.
Jira percaya dan mengangguk-angguk. Menghirup lagi sisa aroma bubuk itu. "Aroma ini... Sepertinya aku kenal," gumam Jira.
Kay hanya diam tersenyum meskipun otaknya bekerja. 'Jira punya kekuatan dahsyat!' pikirnya.
Lalu, Jira membuka matanya. "Ini seperti aroma bunga, tapi aku tidak tau. Sepertinya aku pernah mengenal aroma ini," ucapnya pada Kay sungguh-sungguh.
'Aroma ini tidak asing. Sudah lama aku tidak menghirupnya. Seakan sudah lenyap,' lanjut Jira dalam hati.
"Kau yakin sekali kalau ini bunga," bingung Kay.
"Aku dari kota Bunga, pasti tau kalau ini bunga," jawab Jira.
'Benar juga. Dia pasti mengenal semua jenis bunga,' pikir Kay.
"Bunga apa ini?" tanya Jira.
Kay menatap langit sambil mengetuk dagu, "Bunga apa, ya? Aku juga tidak tau."
"Dari mana kau dapat ini?" tanya Jira lagi.
Kay kembali menatap Jira sambil berdecak. "Banyak tanya! Yang penting sekarang kau sudah kembali pulih!"
Jira mengerutkan dahi. "Aku yakin itu terbuat dari bunga. Bunga apa sampai punya efek begitu besar?" gumam Jira berpikir.
Kay tiba-tiba mendekatkan wajahnya. "Bunga permintaan maaf dariku. Indah, 'kan?" goda Kay tersenyum.
Jira ternganga dan mendorong dahi Kay menjauh. "Jelek! Tapi terima kasih bubuk sihirnya," Jira cuek.
Kay mendesah pelan, "Kau sendiri? Kekuatan apa yang kau miliki? Kau bilang tidak bisa merubah orang menjadi pohon, tetapi orang lain di kota Bunga bisa. Aku bingung." Kay menggaruk rambutnya bodoh.
Jira tersenyum, "Hanya untuk mainan. Kekuatanku tidak ada istimewanya selain dapat menghibur. Itupun kalau orang yang melihat terhibur." Jira mengendikkan bahunya.
"Misalnya?" tanya Kay penasaran.
"Seperti ini." Jira akan merubah warna rumput tanpa curiga pada Kay dan Kay sudah menanti, tetapi beberapa tombak mengepung mereka membuat Jira menahan sihirnya.
Jira dan Kay mendongak terkejut. Beberapa prajurit kota mengelilingi mereka. Lalu, mereka membuka jalan untuk penguasa kota. Jira lebih tersentak lagi.
"Penguasa kota?" gumam Jira dan Kay bersamaan.
"Jenderal Jira, aku harus menahanmu!" seru penguasa kota.
~~~
Penjara istana ketat dengan pengawasan. Jira tidak bisa keluar sebelum penguasa kota memanggil dirinya. Jira berdecak karena pakiannya buruk. Di lengan dan kaki bekas lukanya robek, masih ada sedikit darah kering. Semua pakaian Jira ada di kain perbekalannya dan itu bersama kudanya. Jira bahkan tidak tahu kudanya ada di mana. Dia berharap Kay tidak menipu dan membuat kudanya aman.
"Hei, sampai kapan penguasa kota menahanku? Ini sudah hampir sore. Aku lapar!" seru Jira kepada para penjaga.
Tidak ada jawaban dari penjaga. Jira tidak mengerti masalah apa lagi yang dia alami. Dia duduk malas di sisi pojok penjara. "Kenapa penguasa kota menahanku? Aku hanya ingin mencari bunga melati, kenapa susah sekali? Tabib kota benar, perjalananku sangat sulit," gumamnya.
Dari pagi hingga menjelang sore Jira belum juga di panggil. Sedangkan Kay tengah berdiri gagah di ruang persidangan istana kota Laki-laki. Cen Cen sudah menunggu di gerbang perbatasan dengan tali terikat di pohon. Sejak kemaren malam, Kay menyuruh Cen Cen mmenunggunya datang dengan Jira. Kay pikir akan keluar dari kota tadi pagi, tetapi ini di luar dugaannya.
"Katakan siapa kau, Pemuda?" tanya penguasa kota yang duduk di singgasana.
Kay diam. Suasana hening membuat semua orang di ruangan bingung. Penasehat yang berdiri di sebelah penguasa kota, dia berbisik. "Yang Mulia, dia tidak akan membongkar jati dirinya. Sepertinya dia dan Jenderal Jira tidak ada keterikatan. Mereka dari daerah yang berbeda."
"Dua pendatang berada di kotaku dan membuat masalah. Aku tidak ingin nama kota Laki-laki tercemar. Jika kau menjawab maka sedikit membantu," ucap penguasa kota.
"Membantu apa, Yang Mulia? Rakyatmu sendiri yang membuat nama kotamu tercemar. Apalagi Jenderal kota yang dengan percaya diri menyerang Jenderal Jira dari belakang," jawab Kay tanpa rasa takut.
"Lancang sekali!" penguasa kota tidak terima.
Para prajurit mengarahkan pedangnya dan tombaknya mengelilingi Kay. Namun, Kay hanya tersenyum miring.
"Aku sudah mengetahui semuanya. Kau menentang Jenderal Jira, setelah itu menolongnya. Apa tujuan kalian kemari? Semuanya harus jelas di kotaku!" ujar penguasa kota.
"Sayangnya, aku tidak bisa memperjelas diriku. Hanya sedikit informasi...," Kay menggantung ucapannya dan melesatkan batu kecil dengan jentikan jari. Sangat cepat mengenai tangan para prajurit sehingga senjata mereka jatuh. Penguasa kota terkejut dan berdiri. Kay kembali menatapnya datar.
"Aku Kay berasal dari barat. Tujuanku tidak bisa ditebak. Aku melakukan apapun yang aku mau. Jika aku dan Jenderal Jira mengganggu di tempatmu Yang Mulia, maka biarkan kami pergi dan tahan semua rakyatmu untuk menghakimi Jira." dengan lantang suara Kay menggelegar di ruangan itu.
"Kurang ajar! Kau yang membuat Jenderal Jira dihakimi, anak muda!" penguasa kota sedikit tersulut amarah. Penasehat memohon agar penguasa kota bersabar.
"Itu benar! Tapi aku masih menghargainya. Kenapa kau penjarakan dia? Apa dia seorang penjahat? Rakyat dan jenderalmu yang jahat, kenapa Jenderal Jira yang salah? Biarkan aku pergi. Aku pastikan Jenderal Jira tidak akan menginjakkan kaki di sini lagi! Permisi!"
Kay tidak memberikan kesempatan pada penguasa kota berbicara dan pergi begitu saja. Penguasa kota dan penasehat tidak percaya Kay bisa seberani itu. Prajurit juga bingung tidak melawan lagi tanpa perintah penguasa kota.
"Siapa dia sebenarnya? Kay? Nama itu tidak asing terdengar, tapi siapa nama aslinya? Dia sampai berani bicara dengan caranya sendiri." Penguasa kota marah sambil kembali duduk.
"Yang Mulia, ada banyak nama Kay di penjuru negeri. Jika melihat dari keahlian bela dirinya, dia bukan orang biasa." kata penasehat.
"Hmm, kau benar. Gerakannya sangat cepat!" penguasa kota bersabar dan mengangguk.
Penguasa kota mencerna ucapan Kay. Dia mengurung Jira karena khawatir jika Jira akan melawan, tanpa alasan Jira sudah bersabar membuat pikiran penguasa kota terbuka. Dia menyuruh prajurit untuk membebaskan Jira.
Namun, Kay terlebih dahulu membebaskan Jira secara paksa. Tentu saja membuat semua penjaga pingsan. Sangat mudah membawa Jira lari dari istana kota. Kay mencuri salah satu kuda istana untuk menuju perbatasan kota yang lumayan jauh. Jira ingin bertanya, tetapi Kay menyuruhnya diam hingga mereka sampai.
Matahari di barat membuat langit sangat indah. Perjalanan ke sekian kalinya Jira lalu bersama Kay keluar-masuk dari desa ke desa. Sekarang Jira melukis jejak di kota Laki-laki, setiap jalannya pernah Jira lewati dengan jalan kaki. Tiba-tiba Jira sedih mengingat hal itu. Kay terpaksa berhenti.
"Kenapa sedih? Kau menangis?" tanya Kay merasa bersalah, tetapi Jira menggeleng dan memalingkan wajahnya.
"Aku sudah membawamu kembali keluar, jangan menangis! Sebentar lagi kita akan sampai pada kudamu." Kay menyuruh kuda itu berlari lagi lebih kencang.
Jira dapat melihat pandangan Kay yang serius. Tanpa sadar dia tersenyum. 'Sedihku karena banyak perasaan yang kurasakan sekarang. Kau mengerti, Kay?' tanya Jira dalam hati.
Kay menunduk menatap Jira membuat Jira kembali melihat ke depan. Kembali fokus pada jalan. Malam datang, gerbang perbatasan sudah terlihat. Rasa lega Jira melihat kudanya ada di bawah pohon sedang menunggunya.
"Kay, Cen Cen di sana!" Karena senang Jira memberi tahu Kay jika ada Cen Cen, meskipun Jira tahu jika Kay yang mengikat kudanya.
Kay ikut tersenyum melihatnya. Kuda itu berhenti tepat di hadapan Cen Cen, membuat Cen Cen bangun dan meringkik. Jira langsung turun dan memeluk kepala kudanya. Kay ikut turun, melipat tangannya melihat pertemuan yang dramatis. Kay melihat Jira dan kudanya yang sangat dekat, seakan ikatan mereka sangat kuat. Kay jadi ingin punya kuda.
Kuda istana itu lari kembali ke kota Laki-laki. Kay berbalik memandang jalanan yang sedikit pelita. Berbeda dengan malam kemaren, malam ini sangat cerah. Bintang bertaburan di langit, membuat Kay mendongak. Jira masih sibuk berbicara dengan kudanya.
'Tujuan yang tidak pasti. Sampai kapan aku bertahan?' tanya Kay dalam hati kepada langit.
Dia duduk di hamparan rumput yang sedikit menusuk. Tanpa berkedip melihat bintang dengan senyum. Mengernyit saat tidak mendengar suara Jira lagi. Dia menoleh dan Jira tidak ada. Kay kebingungan.
"Cen Cen, mana Jira? Kau makan dia, ya!?" tuduh Kay panik.
Cen Cen meringkik membuat Kay semakin bingung. Lalu, Jira muncul dari balik pohon dengan pakaian serta tatanan rambutnya sudah berubah. Membuat Kay ternganga.
'Sejak kapan dia mengganti pakaian?' batin Kay.
"Tutup mulutmu! Nanti ada serangga yang masuk!" ujar Jira sembari menata pakaiannya di wadah perbekalan.
Kay mengerjap dan menutup mulutnya. "Aku pikir kau hilang. Kenapa pakai serba hitam? Mau melayat?" sindir Kay menutupi rasa penasarannya. Dia salah tingkah. Jira mendekat dan duduk di sebelahnya.
"Aku sedang berduka cita karena banyak pertanyaan yang tidak terjawab. Menurutmu, kota itu akan merubah pola pikir mereka?" tanya Jira menatap kota di depannya.
"Entahlah. Sangat sulit mengubah sudut pandang manusia." jawab Kay ikut memandang kota.
"Hah, melelahkan." desah Jira menatap langit. "Wah, cerah sekali!" lanjutnya senang.
Kay ikut tersenyum. "Cantik!" ujar Kay.
"Iya," Jira masih mengagumi langit. Kay menoleh padanya, "Kau yang cantik!" lanjut Kay membuat Jira menoleh tanpa senyum. "Kau menggodaku, ya? Penipu!" tuduh Jira.
"Haha, tidak. Aku berkata jujur. Kau cantik jika tersenyum. Jangan memasang wajah seperti Jenderal kejam setiap hari. Cantikmu bisa terpendam nanti!" canda Kay mengalihkan pandangannya ke sekitaran.
Jira tersentak dalam hati. Bingung tidak tahu harus menjawab apa. Hanya bola matanya yang berputar-putar dan ikut mengalihkan pandangan.