Semua orang bukannya tidak berperasaan. Namun, mereka hanya bisa melihat tidak mau ikut campur. Kasihan melihat Jira sebagai manusia yang dikeroyok dengan pedang, bukan kasihan karena Jira perempuan.
"Ini tidak seru karena kau hanya menghindar. Dengar semuanya! Sudah jelas kalau perempuan itu tidak layak menduduki posisi yang setara dengan laki-laki, benar? Dia sangat lemah!" teriak Jenderal kota menunjuk Jira dengan pedangnya.
Jira hanya meringis dan melirik Jenderal itu. Seruan kembali terdengar membenarkan kekalahan Jira.
'Ck, pertarungan apa ini?' batin Jira .
Jira berdiri sekuat tenaga. "Aku belum menyerah!" ujarnya sok kuat.
Kay mendesis seakan merasakan sakitnya Jira. Jenderal kota itu tersenyum senang dan mengatur posisi. Jira menyorot tajam, kali ini dia sungguh-sungguh akan melawan.
"Hiyaa!" seru Jira menyerang terlebih dahulu.
Sisa tenaga yang dia punya dikerahkan semua. Kay sangat serius menyaksikan setiap gerakan Jira. Tidak tahan, dia masuk ikut menyela pertarungan saat melihat kaki Jira bergetar. Mereka mundur. Jenderal itu tersentak karena Kay menarik Jira.
"Ahh!" desah Jira lemas. Seketika pedangnya jatuh, dia terhuyung ke pelukan Kay.
"Jira?" panggil Kay cemas.
Segera Kay membawa Jira lari menuju kuda Jira. Jira tidak sadarkan diri lagi. Menunggangi Cen Cen dan keluar dari lapangan dengan sangat cepat.
"Heh, ada apa ini? Kenapa jadi begini?"
"Pemuda itu malah menolong dia? Aneh sekali!"
"Iya, bukannya tadi dia terancam akan dibunuh?"
"Bagaimana ini? Perempuan itu lepas begitu saja?"
Berbagai pertanyaan semua orang lontarkan. Jenderal laki-laki itu memandang kuda Jira yang hampir menghilang. Lalu, tersenyum dan menyimpan pedangnya.
'Tidak perlu bertarung lagi secara adil. Kau sehat ataupun sekarat sama saja. Aku mengakui kekalahanku, Jenderal Jira.' batinnya kemudian pergi meninggalkan lapangan.
"Eh, Tuan Jenderal juga pergi. Aduh, bagaimana kelanjutannya? Apa perempuan itu yang menang? Atau Jenderal kita?"
"Ah, sudahlah, ayo pergi! Lagipula perempuan itu sudah mendapatkan hukumannya."
Mereka masih membicarakan pertarungan tiada hasil itu. Biarkan menjadi pertanyaan dan pendapat yang berbeda. Jira membuktikan dirinya, Jenderal kota mendapatkan jawaban, dan Kay masih dengan rasa penasaran.
~~~
Obor masih menyala, sepanjang jalan Cen Cen berlari tanpa arah. Kay bingung ingin membawa Jira ke mana. Hingga mereka keluar jauh dari daerah itu. Mungkin perbatasan kota di desa terakhir yang sangat sunyi orang. Kay menatap Jira dan langit bergantian. Mendung, lebih gelap membuat Kay mencari tempat berteduh. Mencoba memeriksa denyut nadi Jira yang sedikit lemah. Kay harus segera menghentikan pendarahan di kaki tangan Jira, baru Jira bisa pulih. Sebelum itu dia harus berlindung dari hujan yang akan datang.
Menatap sekeliling, setiap rumah masih dengan penerangan. Kay melihat satu rumah yang gelap. Dia membawa Cen Cen pergi ke sana. Perlahan dia mendudukan Jira bersandar. Cen Cen seakan mengerti keadaan, dia tidak pergi meskipun tidak di ikat. Dia lelah dan tiduran di sebelah Jira.
"Cen Cen, kau kasihan pada tuanmu, ya?" tanya Kay lirih.
Kudanya menjawab dengan dengkuran lemas. Kay tersenyum, buru-buru memeriksa Jira. Ada banyak darah di pakaiannya. Bahkan punggung Cen Cen juga terkena darahnya. Rupa Jira sudah sangat sekarat. Kay kesulitan karena tidak ada penerangan. Gemuruh mulai terdengar. Kay mendongak menatap awan hitam.
'Hewan takut api, 'kan? Apa Cen Cen juga takut api?' pikir Kay.
Melihat kuda putih itu sangat lemas seakan ingin Jira sadar, Kay mencari cara agar mendapatkan penerangan tanpa membuat Cen Cen takut. Dia mendesah, mencari sesuatu di sekitarnya. Dia mendapat beberapa kayu kecil. Kay menancapkan kayu itu di sampingnya. Dalam satu jentikan jari, kayu itu mengeluarkan api seperti lilin. Cen Cen meringkik pelan.
"Ssttt, jangan berisik! Kalau orang-orang bangun kita bisa tertangkap. Ini belum keluar dari kota Laki-laki." Kay berbisik menyuruh Cen Cen diam.
Segera dia membersihkan luka Jira. Merobek pakaian Jira yang menutupi luka. Kay bisa pastikan Jira akan marah setelah bangun. Sedikit cahaya yang dia buat, mampu membantunya. Entah mantra apa yang Kay ucapkan, luka itu menutup dengan sendirinya. Cen Cen meringkik lagi.
"Cen Cen, sudah kubilang jangan berisik! Lukanya memang sudah tertutup, tapi rasa sakitnya belum hilang. Setidaknya darahnya tidak mengalir terus. Jira akan sembuh besok asalkan dia istirahat." gumam Kay menatap Cen Cen dan Jira bergantian.
Meneliti wajah Jira sebentar. Seakan ada yang mengganjal, Kay melihat lebih dekat. Hanya berjarak satu jengkal, Kay sangat serius mengamati.
'Tidak kusangka Jenderal kota Bunga sehebat ini. Ada kekuatan tersembunyi dalam dirinya. Wajahnya... Dia punya kekuatan yang tidak dia sadari. Jika Jira tau kemampuannya lebih dari ini, apa akan berbahaya?' pikir Kay.
Sesuatu yang seakan tertahan di tubuh Jira dapat terlihat di wajah Jira. Kay bisa melihat itu dengan pasti. Kay menjauh dan membersihkan pakaiannya dari noda darah. Masih memandang Jira dengan penuh pemikiran. Banyak pertanyaan tentang Jira.
Kay juga membersihkan punggung Cen Cen menjadi putih semula. Secepat itu juga hujan turun dengan deras. Suaranya tidak mampu membuat Jira bangun. Justru kudanya ikut tertidur. Kay ingin pergi, tetapi tidak tega meninggalkan Jira sendirian. Hanya bisa mendesah dan kembali duduk bersandar tiang sedikit menjauh dari Jira dan Cen Cen.
Tidak sengaja melihat seruling Jira yang tidak lepas dari pinggang Jira. Kay tersenyum. "Buat apa dia membawa seruling? Baru kali ini aku lihat Jenderal membawa seruling." Dia tertawa kecil.
Melihat hujan dengan senyum tipis. Di balik senyum itu, dia sibuk berpikir. Tentang apa yang akan terjadi selanjutnya dan kemana dia akan melangkah. Pertemuannya dengan Jira bukanlah karena disengaja. Pasti ada suatu hal yang akan berdampak baginya juga. Kay mengambil pedangnya. Dahinya berkerut, ingat saat Jira menggunakan pedangnya melawan Jenderal kota dengan sangat lincah.
'Aku tidak pernah melihat ilmu bela diri seperti itu. Apa semua orang di kota Bunga seperti Jira? Aku dengar, kota itu baru saja memenangkan perang perebutan wilayah. Tentu saja Jira ikut serta. Kemudian, penguasa kota di sana juga ikut berperang. Mereka bukan hanya beradu fisik, tetapi juga sihir. Ini aneh... Jika kota mereka sudah damai, kenapa Jira bepergian? Misi apa yang dia lakukan?' pikir Kay.
Jira menarik penuh perhatiannya. Kembali menatap Jira yang tidak ada tanda-tanda untuk sadar. 'Jira, ini bukan sebuah kebetulan. Aku yakin di kemudian hari kita akan selalu terhubung,' batin Kay seakan tersampai pada Jira.
Kay tersentak saat merasakan kehadiran seseorang. Dia berdiri saat jumlah orang itu bertambah. Suara langkah kaki mereka semakin jelas. Kay pergi dengan cepat ke atap rumah yang lain. Mengawasi dari kejauhan. Lupa jika kayu itu masih memancarkan api. Kay membuat sedikit gerakan angin dan api itu padam. Bertepatan dengan dua orang itu melihat Jira dan terkejut.
"Siapa orang ini? Kenapa bisa ada perempuan di sini? Lalu, angin apa tadi? Sumbernya bukan dari hujan." gumam Sava satu dari mereka merasakan udara aneh.
Satunya lagi memeriksa Jira dan kudanya. "Hei, dia terluka, ada sisa darah! Bukannya dia yang di arak kemaren?" bingung orang itu.
Temannya mendekat penasaran, "Benar, dia Jenderal dari kota Bunga. Bagaimana?"
"Penjarakan saja."
"Kenapa di penjara?" bingung temannya.
"Dia Jenderal, pasti punya banyak kelebihan. Ini menguntungkan buat kita"
"Apanya yang untung? Kau tidak lihat dia terluka? Mungkin dia kesulitan saat mulai keluar dari sini. Biarkan saja dia." saran orang itu sambil berdiri dengan benar. Menunjuk kuda Cen Cen. "Kudanya juga tidur. Kita tidak boleh menambah lukanya," sambungnya.
"Dia perempuan! Kau membelanya?" tanya temannya memicing.
"Bukan begitu! Aku hanya kasihan. Sudahlah, ayo pergi!" orang itu pergi terlebih dahulu tida mau melanjutkan berdebat. Sedangkan temannya masih di tempat ragu untuk meninggalkan Jira.
"Kenapa aku harus pergi, kalau aku bisa menahannya, kemudian aku adakan pertunjukan jika perempuan memang lemah seperti dia. Dengan begitu aku akan dapat banyak uang." gumamnya tersenyum licik.
Perlahan dia membawa Jira dengan cara menyeret. Sampai ke sebuah tempat yang berbau besi. Kudanya dibiarkan di rumah gelap itu. Jira di kurung dan orang itu pergi menyiapkan sebuah pertunjukan di depan rumahnya. Berharap besok pagi Jira belum sadar, agar dia bisa bebas merendahkan Jira dan dapat uang.
Basah kuyup, Jira menggigil sendirian. Tanpa mereka sadari, kota Laki-laki sudah begitu banyak menyiksa Jira. Semakin dingin, suara air jatuh semakin keras. Bibir Jira membiru pucat. Kay yang menyaksikan di atap rumah menjadi turun dan menemui Jira di penjara itu. Penjara desa yang kecil dan banyak senjata untuk pekerjaan sehari-hari. Kay mengerti, jika tempat itu bukan untuk menahan para penjahat, melainkan tempat khusus orang tadi.
Kay menyelinap masuk, melihat Jira meringkuk tak berdaya membuatnya risau. Ingin membuka kunci penjara, tetapi seseorang kembali datang.
'Tidak, aku tidak boleh diketahui warga. Kalau aku terlihat ikut campur, hanya akan menyusahkan Jira. Lebih baik aku tunggu sampai besok pagi. Lihat apa yang akan dia lakukan pada Jira,' pikirannya.
Namun, perasaannya tidak tega. Sekali lagi Kay menggunakan kekuatan kecilnya untuk melindungi Jira dari hawa dingin. Dia menyentuh jeruji besi itu dan membuat hangat. Udara hangat mengelilingi Jira sekarang. Kay tersenyum tenang, dia segera pergi sebelum orang itu datang. Saat orang itu datang, dia bingung karena merasakan hangat di penjaranya. Orang itu hanya memastikan jika jira belum sadar, setelah itu kembali pergi.
Kay membawa kudanya Jira yang dia bangunan secara paksa. Jelas Cen Cen memberontak, tetapi Kay menenangkannya dalam sekejap. Diam-diam ke sumur salah satu rumah warga untuk membersihkan diri dan juga kuda Jira.
"Hai, kuda baik. Tuanmu sedang dalam masa sulit. Dia harus bisa sadar sendiri sebelum orang itu memalukan dirinya di hadapan warga desa. Semoga saja apiku bisa membuatnya hangat." ujar Kay sambil mengelus kepala Cen Cen.
Jira berhenti menggigil, berganti seluruh badannya terasa sakit. Sedikit demi sedikit kesadarannya kembali pulih. Menyesuaikan pandangan yang memburam. Seketika terjingkat mengingat jika dia sedang beradu dengan Jenderal kota. Lukanya kembali bereaksi, dia mendesis bingung memegang lengan atau kakinya. Namun, dia heran. Saat lukanya disentuh dia kesakitan, tetapi tidak ada luka sama sekali. Jira memeriksa lebih teliti. Dia melotot karena pakaiannya robek tak beraturan.
Satu sayatan pun tidak ada. Lalu, suhu panas yang mengelilinginya semakin terasa hangat. Udara dingin masuk lewat celah. Jira mencoba berdiri dengan tertatih. Memandang semua sudut dengan penuh tanya.
"Bukannya aku ada di lapangan? Ini... Ini seperti penjara." gumam Jira.
Dahinya berkerut. "Hujan? Kalau di luar hujan kenapa aku bisa hangat di sini? Kenapa lukaku tidak ada, tapi sakit? Sshh, kepalaku pusing!" lanjutnya pusing dan duduk di pojok.
"Huft, tenang, Jira... Tenang!" gumamnya. Membayangkan pertarungan di lapangan. Dia hanya ingat jika dia terluka karena Jenderal kota. "Setelah itu... Gelap," lirihnya.
Jira tidak mau banyak berpikir. Memilih diam dan memulihkan kondisi. Namun, penasarannya memaksa untuk dia berpikir. Jira mengusap wajahnya frustasi.
"Bagaimana keadaan kota Bunga? Aku payah! Andai saja aku lari dari pada peduli mereka, pasti aku sudah mencari bunga melati. Tunggu dulu, tapi siapa yang membawaku kemari? Mungkin ini masih di kota Laki-laki. Kalau dugaanku benar, Kay menolongku. Dia tadi berteriak tidak terima saat aku terima tantangan Jenderal. Ck, lalu, di mana Cen Cen? Hasil taruhan gimana? Belum ada yang menyerah antara aku dan Jenderal itu." gumam Jira melemas. "Berarti, aku bisa temukan jawabannya dari Kay. Sepertinya memang harus menunggu pagi. Aku punya waktu untuk istirahat. Sshh, rasanya seperti di cincang!" lanjutnya sembari merebahkan diri secara perlahan.
Hujan malam membuat kegelisahan yang sama di kondisi yang berbeda. Jira menantikan surat kabar dari Teruwang tentang keadaan kota. Berharap jika tidak ada surat, maka kota masih baik-baik saja. Ucapan Kay benar, sangat sulit baginya untuk keluar dari kota Laki-laki. Mencoba tidur, tetapi tidak bisa. Sampai satu jam Jira terus menatap atap. Kegelisahan tadi siang kini terjadi. Namun, Jira masih bisa memprediksi akan bahaya yang mengancamnya di setiap langkahnya.
~~~
Gong ditabuh menimbulkan penasaran penduduk desa. Tidak sadar Jira sudah ada di halaman rumah seseorang dengan berdiri terikat tiang. Jira bangun terkejut terlebih lagi suara ramai orang. Kapan pagi datang, kapan Jira keluar dari penjara? Dia celingukan memandang semua orang.
"Dengar sini para teman-temanku! Aku berhasil menangkap perempuan yang diarak waktu itu! Ayo, ayo kumpul kemari! Lihatlah, dia tidak berdaya, hahaha!" seru orang menabuh gong di dekat Jira.
Jira meringis karena bunyi gong itu sangat keras. Meronta ingin melepaskan diri. 'Sial! Ikatannya kuat sekali!' pekiknya dalam hati.
"Hei, lepaskan aku! Kalian keterlaluan!" bentak Jira marah.
Orang menabuh gong itu menoleh. "Eh, dia sudah bangun! Yang katanya seorang Jenderal dari kota Bunga sedang lemah sekarang! Itulah akibatnya kalau berani masuk ke kota kita, benar tidak?" tanya orang itu pada semua orang.
"Ya, benar, itu benar!" seru semua orang membenarkan.
Jira ternganga. "Lepaskan aku atau kalian akan merasakan akibatnya nanti! Lancang sekali!" Jira marah.
"Meskipun kau Jenderal, kami tidak takut padamu! Kau tetap perempuan, lemah!" bentak orang yang menabuh gong.
Jira semakin tersulut. Ingin membantah, tetapi orang itu mendahului sambil berkeliling. "Eh, jangan lupa bayar! Hanya lima koin saja. Ayo, sini bayar!"
"Lima koin? Aku tidak mau bayar!" tolak mereka.
"Ck, dia, 'kan orang hebat. Aku lebih hebat bisa menangkapnya. Ayo bayar!" orang itu masih menghasut.
Lalu, ada orang yang datang membela Jira. "Sudah aku bilang biarkan saja dia. Kenapa kau ikat seperti ini? Lepaskan!" pinta orang itu.
Jira heran kenapa orang itu membelanya.
"Ck, ini akan untung banyak. Kau lihat sendiri, ramai yang datang. Kita bisa kaya!" bisik orang yang mengikat Jira.
"Kau ini... Biar aku yang lepaskan!" orang itu akan akan mendekati Jira, tetapi di tahan oleh orang satunya. "Jangan merusak permainanku!"
Mereka berdebat. Jira tersenyum karena ingat pemilik peternakan kuda dan adiknya yang juga mempunyai sifat berlawanan. Ada yang mendukung dan ada yang menentangnya. Semua orang justru sibuk bergumam membicarakan Jira.
"Hah, tidak ada habis-habisnya. Bagaimana caraku lepas?" gumam Jira.
Tiba-tiba ada yang membuka talinya. Orang-orang juga bersorak membuat dua orang yang berdebat itu menoleh. Jira melirik. "Kay? Penipu, kenapa kau juga ada di sini?" tanya Jira sedikit berteriak.
"Berisik! Ayo lari!" jawab Kay menarik tangan Jira saat ikatannya terlepas. Namun, Jira tidak bisa berlari. Dia jatuh membuat Kay terhenti. "Ck, malah jatuh!" decak Kay membuat Jira melotot. "Ini gara-gara kau!" marah Jira sambil menunjuk Kay.
Jira berteriak saat tubuhnya melayang. "Eh, eh, lepaskan aku! Kau mau bawa aku ke mana!? Jangan gendong aku lagiiii!"
Kay justru terkikik dan pergi dari orang-orang yang kebingungan.
"Wah, mereka lari. Ada apa ini? Ah, sudah ayo pergi." ajak salah satu dari mereka dan semua orang pergi.
"Hei, tunggu! Bayar dulu baru pergi! Tunggu! Ah, uang tidak dapat. Siapa yang membebaskan perempuan itu?" decak kesal orang yang mengikat Jira.
"Sudahlah, lupakan!" seru temannya.
"Aku harus mengejarnya. Kalian, tunggu jangan lari!" teriak orang itu mengejar.
"Astaga!" temannya mendesah pasrah tidak mau ikut mengejar.
Jira terus meronta memukul Kay yang semakin cepat berlari. Sesekali Kay menoleh ke belakang melihat orang itu mengejarnya. Bukannya kesal, Kay justru tertawa membuat Jira semakin meronta.
"Kau mau bawa aku ke mana? Turunkan aku!" sewot Jira.
"Bilang saja kau suka aku gendong. Kita dikejar sekarang. Jadi diam kalau tidak mau ketahuan!" ujar Kay di sela tawanya.
"Lebih baik aku tersiksa dari pada berada di gendonganmu! Kay, turunkan aku!" Jira melotot.
Kay berbelok, membuat orang itu ikut berbelok. "Kau tidak bisa ucapkan terima kasih ya? Harusnya kau bilang begini... Kay, terima kasih sudah menolongku. Kau baik sekali... Begitu, bukannya marah-marah!" Kay menirukan gaya sok manis.
Jira menganga lebar. "Oh, kau mau di puji? Kay, terima kasih sudah membuatku dalam masalah. Kau baik sekali. Lihatlah, tubuhku seperti daging cincang dan tulangku serasa ingin lepas. Baik sekali... Kau sangat baik!" Jira mengatakannya sambil tersenyum manis. Setelah itu kembali memukul Kay.
"Aw, terima kasih. Aku memang baik. Tapi jangan memukulku terus. Ahh, geli!" setelah itu Kay tertawa.
Jira benar-benar heran dengan Kay. Dia memilih menatap ke belakang dari pada melihat wajah Kay. Seketika dia terbelalak dan memukul Kay lebih keras. "Kay, dia bawa tongkat! Ayo cepat kalau tidak dia akan memukulmu! Cepat lari, lari!" Jira histeris.
Kay melirik ke belakang. "Aaaa, jangan pukul aku! Pukul saja Jira!" teriak Kay seolah takut.
"Sembarangan! Cepat lari yang kencang, bodoh!" maki Jira memukul Kay sangat keras, sampai Kay memekik.
"Aduh, kau galak sekali!" sewot Kay dan mempercepat larinya bersamaan tongkat itu dilempar dan hampir mengenai Kay.
"Huft, hampir saja." Jira yang bersyukur.
"Aku yang hampir kena, kenapa kau yang mendesah?" tanya Kay memandang Jira.
"Jangan banyak tanya, lihat ke depan! Kalau tertabrak aku bisa jatuh nanti!" Jira masih sewot.
"Tadi katanya minta di turunkan. Sekarang beda lagi, payah!" maki Kay tanpa berhenti berlari.
"Sekarang situasinya berbeda! Apa dia masih mengejar?" tanya Jira sambil menengok belakang.
"Haha, kau takut sama orang biasa yang mengejarmu. Takut sama tongkat dari pada pedang yang tajam. Jenderal apa kau ini!?" ejek Kay berbelok lagi.
"Diam kau! Kau sendiri juga takut, 'kan? Eh, berhenti! Orang itu sudah tidak mengejar. Mungkin bingung karena kau belok arah tadi," ujar Jira masih melihat belakang.
Namun, Kay terus berlari dengan senyum di bibirnya.