Arisan minggu ini dilaksanakan dirumah bu Anna sepupu jauh bu Mira, seperti biasa urusan konsumsi bu Anna sudah mempercayakan nya kepada Arin, karena beliau lah yang pertama kali memesan kue Arin untuk menjamu teman-teman grup arisannya. Ini adalah ketiga kalinya bu Mira bertemu dengan Arin, entah kenapa ia semakin penasaran dengan wanita cantik yang pandai membuat kue tersebut.
Usai acara, bu Anna, Bu Mira dan Bu Noni terbiasa berbincang terlebih dahulu sebelum pulang, dan tempat yang paling nyaman untuk bergosip adalah diteras rumah bu Anna yang dipenuhi tanaman-tanaman mahalnya. Ketiganya sudah bersahabat sejak masih didunia modeling.
“Ann, pertama kamu kenal Arin darimana ? Kata Noni kamu yang pertama kali mengenalkan Arin ke grup Arisan.” Ujar bu Mira, ia duduk disamping sepupunya yang sedang asik menikmati kue dengan secangkir teh di tangannya.
“Waktu itu aku ke tempat kue langganan ku, tapi mereka tidak bisa menerima pesanan mendadak, ya maklum lah aku sibuk dibutik jadi lupa pesan kue buat arisan, nah akhirnya aku nyuruh Sinta buat nyari, ketemulah sama Arin di sos-sosmed awalnya ragu sih soalnya dia baru buka, tapi pas aku cobain ternyanya kue buatannya lebih enak dari tempat langgananku jadi ya aku rekomendasiin ke temen-temen arisan. Eh ternyata banyak yang cocok, gitu.” Jawab bu Anna menjelaskan dengan rinci.
“Hmm” Respon bu Mira, terlihat sedikit berfikir.
“Eh mbak, kenapa tiba-tiba nanyain Arin ? Apa jangan-jangan…” Belum selesai sepupunya itu berbicara bu Mira langsung menjawab.
“Iya, aku lagi berusaha deketin dia ke Fei.” Ucap bu Mira, bu Anna menoleh karena kaget.
“Hah ? Aku gak mikir kesana loh, aku ngiranya dia bikin mbak kecewa waktu arisan minggu lalu.” Jawab bu Anna mengklarifikasi.
“Enggak ko, semuanya baik. Aku cuma ada postif feeling aja sama dia.” Sahut bu Mira.
“Kenapa gak dikenalin ke Janeta aja, anaknya jeng Vivi dia katanya baru pulang dari Ausie. Kalo Arin kan cuma… Ya mbak tau sendiri lah.” Ucap bu Anna, beliau merasa Fei terlalu sempurna untuk Arin.
“Cuma penjual kue maksud nya? Fei kan muslim dia pasti nyari yang muslim juga.” Jawab bu Mira.
“Kalau begitu anaknya jeng Amel, siapa tu namanya ?” Bu Anna berusaha mengingat sambil memejamkan kedua matanya.
“Adisa ?” Jawab bu Mira sedikit ragu.
“Nah itu.. Dia kan dokter juga.” Ucap bu Anna yang langsung membuka matanya lega.
“Tapi kan usianya diatas Fei, Fei sukanya yang lebih muda dari dia.” Jawab bu Mira yang begitu yakin dengan Arin, sebenarnya ia tidak tau seperti apa tipe ideal Fei, ia menjawab seperti itu, karena mengira almarhum Rania lebih muda dari putranya. Bu Anna menghembuskan nafasnya kasar.
“Ya udah, aku ngalah deh,” Ujarnya pasrah, tiba-tiba bu Noni datang mendekati mereka setelah kembali dari kamar mandi.
“Pasti kalian lagi ngegibahin Arin ya,” Sahut bu Noni, menunjuk keduanya bergantian.
“Ya terus kenapa? Gimana udah dapet info belum?” Sahut bu Mira tidak mengelak.
“Udah dong,” Jawab bu Noni dengan bangga.
“Arin… Seorang janda, tapi belum punya anak kok.” Jawabnya lagi, ada sedikit kekecewaan ketika bu Mira mendengarnya.
“Masa? Orang keliatannya masih muda gitu.” Bu Anna mengerutkan dahinya.
“Iya! Orang aku tanya sendiri sama orangnya.” Jawab bu Noni tak mau kalah.
“Mmm. Fei mau gak ya?” Ucap bu Mira pelan sedikit lesu.
“Mbak gak keberatan punya mantu janda?” Ucap Bu Anna mencoba meyakinkan sepupunya.
“Yang penting dia baik, Fei mau nikah sama siapa aja, aku udah seneng.” Jawab bu Mira pasrah.
“Kalo udah jodoh gak bakalan kemana Mir,” Ucap bu Noni menyemangati lalu bu Mira tersenyum.
…
Di sebuah toko furniture Fei tengah asik memilih vas bunga pesanan ibunya, setelah menemukan beberapa vas yang sesuai, ia mengedarkan pandangan nya, dan melihat seseorang yang seperti ia kenal sedang mengalami masalah dikasir, Fei yang penasaran kemudian menghampirinya karena posisinya tidak jauh dari tempat kejadian.
“Ada apa ?” Ucap Fei pada petugas kasir.
“Ini Pak, dompet mbaknya hilang jadi semua barangnya dicancel tapi ada satu barang yang tidak sengaja beliau pecahkan, sehingga tidak bisa di return, mau tidak mau tetap harus dibayar.” Jawab seorang petugas kasir, sementara Arin hanya terdiam tidak tau harus bersikap seperti apa, toh apa yang kasir itu katakan memang benar.
“Biar saya yang bayar, berapa semua nya?” Ucap Fei sambil merogoh sesuatu disaku celananya. Arin menunduk malu.
“Totalnya Rp. 209.000 pak” Jawab petugas kasir itu ramah.
“Oh ya sekalian dengan yang ini ya,” Ujarnya, sambil memberikan keranjang belanjaanya, karena kebetulan kasir itu sedang sepi, jadi Fei bisa sekalian membayar belanjaanya.
“Ini,” Ucapnya, menyerahkan sebuah kartu debit miliknya.
“Terimakasih.” Ucap Arin, setelah semuanya selesai, Fei hanya tersenyum lalu membawanya keluar Area toko.
“Ini punya kamu,” Fei meyodorkan goodie bag berisi belanjaan Arin.
“Sekali lagi terimakasih banyak, nanti pasti akan saya mengganti.” Jawab Arin merasa tak nyaman, namun ia bersyukur karena ada Fei yang membantunya.
“Tidak usah, mari saya antar pulang.” Ucap Fei, Arin mengngguk pelan, tidak bisa membantah. Tidak ada pilihan lain karena ponselnya mati sehingga ia tidak bisa memesan ojek oline, sementara semua uang dan kartu debitnya ada didompet yang hilang, tidak mungkin ia pulang berjalan kaki.
"Maaf ya mas jadi ngerepotin." Ucap Arin, kaki nya terasa berat untuk melangkah menuju parkiran.
"Iya gak papa, sama sekali gak ngerepotin ko." Jawab Fei ramah.
Setelah sampai ditempat parkir, Fei membukakan pintu mobilnya untuk Arin, kemudian mobil itu melesat melewati ramainya jalanan ibu kota, tak obrolan dari keduanya, mereka terlalu canggung untuk memulai pembicaraan.
“Oh iya saya baru ingat, kamu Arin kan?” Ucap Fei, setelah berhasil mengingat seseorang yang sekarang berada di sampingnya. Arin mengangguk.
“Iya, mas putra bu Mira kan?” Jawab Arin menoleh kearah Fei.
“Kamu masih ingat saya ternyata.” Jawab Fei tersenyum, entah kenapa hatinya merasa senang ketika Arin juga mengingat namanya.
“Kamu ikut Arisan ibu-ibu itu?” Tanya Fei penasaran sambil menaikan satu alisnya.
“Enggak ko, saya hanya membuat kue untuk mereka.” Jawab Arin sambil menggelengkan kepalanya.
“O, begitu. Oh iya rumah kamu dimana ?”
“Di jalan kebangsaan, perumahan anggek mas.”
“Ok,”
Mereka larut dalam obrolan, padahal keduanya merupakan tipe orang yang tidak mudah akrab dengan orang yang baru dikenal. Setelah mengantar Arin, Fei segera pulang karena ibunya sudah menunggu, saat sedang menyetir sesekali ia mengingat obrolannya bersama Arin membuatnya tersenyum beberapa kali.
Setelah sekian lama gadis impiannya meninggal baru perempuan itu yang mampu membuat jantungnya berdebar lagi. Fei merasa seperti ada kupu-kupu terbang didalam perutnya sekarang, ia sudah mengagumi wanita itu sejak pertama kali mereka bertemu. Di lingkungannya sangat jarang sekali melihat wanita berhijab seperti Arin, wanita yang mampu menjaga kehormatannya dengan pakaian dan sikapnya.
Ibu dan adik-adinya merupakan penganut Budha yang taat, namun mereka sangat menghormati keputusan Fei untuk menjadi seorang muslim, Mereka hidup rukun dan saling menyayangi tidak pernah ada perdebatan mengenai kepercayaan mereka masing-masing.
…..
Fei keluar dari kamarnya setelah selesai membersihkan diri, lalu menuruni tangga menuju ruang makan, diamana ibu dan Fadina adik bungsunya menunggu. Fei menghampiri mereka dengan wajah yang berbinar.
“Aneh, biasanya kalo pulang kerja mukanya lusuh. Tapi sekarang kaya lagi happy. Lagi naksir siapa nih, cerita dong.” Ujar Fadina menggoda Fei, ia sedikit heran melihat sikap kakaknya itu tidak seperti biasanya.
“Apaan sih, sok tau kamu.” Jawab Fei mengelak. Lalu mengambil nasi hangat didepannya.
“Tapi kayanya kamu bener Fa, kakakmu dari tapi senyum-senyum terus.” Ucap bu Mira, karena raut wajah bahagia putranya mudah sekali ia tebak.
“Ibu, ko jadi ikut-ikutan Fadina sih, Fei seneng karena bisa pulang cepet aja.” Jawab Fei terpaksa berbohong, tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya sekarang.
“Ya sudah kalau begitu,” Ucap bu Mira, tidak memperpanjang perdebatan. Iya tau Fei akan bercerita ketika ia mulai menyukai seseorang.