Entah apa yang terpikir oleh janda cantik itu, ia rela menghabiskan waktunya untuk membuat kue, yang upahnya tidak begitu besar, selain itu juga ia mengantarnya sendiri, karena ingin memberikan pelayanan maksimal, apalagi para pelanggan yang mayoritas ibu-ibu itu juga sangat baik kepadanya. Padahal bisnisnya di Bandung lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan nya.
Meski sibuk dengan bisnis barunya Arin tetap bertanggung jawab dengan toko aksesorisnya dengan berkunjung minimal satu bulan sekali ke Bandung, ia tenang karena memiliki Rina yang bisa ia andalkan. Gadis itu tidak pernah telat mengirimkan laporan toko-toko Arin yang sekarang makin berkembang, tidak hanya menjual aksesoris saja tetapi juga aneka kerajinan lain yang didapat dari pengrajin didesa-desa.
…
Waktu baru menunjukan pukul empat tiga puluh pagi, Arin masih saja sibuk dengan peralatan masak dan aneka ragam kue yang sedang ia rapihkan, setiap hari minggu pesanan kue basah dan kue jajanan pasarnya selalu membludak. Dan harus siap sebelum pukul sembilan pagi, kali ini ia mengantarnya kerumah ibu Mira Nadia, wanita paruh baya cantik yang pernah memperhatikan dirinya tanpa ia ketahui.
“Haah.. alhamdulillah akhirnya selesai juga, tinggal bersiap lalu ku antar kue-kue ini” Ucap Arin kepada dirinya sendiri setelah menghela nafas panjangnya, kemudian tersenyum, rasa lelah terlihat dari wajah ayu nya yang bepeluh, membuat ratusan buah jajanan pasar dan beberapa kue basah itu sendirian, apalagi mereka beraneka ragam jenis sudah pasti menguras banyak tenaganya.
Arin membawa tentengan berisi kue itu ke depan rumahnya, seperti biasa ia memesan taksi online karena ia tidak bisa menyetir mobil, bukan tidak mau belajar ia masih sangat trauma dengan kecelakaan yang menewasan semua anggota keluarga waktu itu. Sesampai nya di area perumahan yang terbilang cukup mewah itu Arin mencari rumah bu Mira.
“PERUM ARTHA GADING RESIDENCE BLOCK B NO. 21. Ah sepertinya yang itu rumah Bu Mira” Gumamnya ketika melihat rumah mewah yang didominasi warna putih abu, wanita itu melirik kembali gadget-nya memastikan alamatnya benar, lalu menekan bell rumah tersebut, beberapa kali ia menekan bell namun belum juga di bukakan pintu. Kebetulan satpam di rumah bu Mira sedang izin keperluan keluarga.
Arin terkejut saat mendengar bunyi klakson mobil di belakangnya, tak lama kemudian seseorang dari dalam rumah membukakan pintu gerbang, mobil itu pun perlahan masuk dan Arin memperhatikannya, tiba-tiba kaca mobilnya terbuka, seorang pria tampan dengan rambut klimis melihat ke arahnya.
“Bell-nya rusak, orang rumah gak tau kalo ada tamu. Silahkan masuk.” Ucap pria itu ramah. Membiarkan Arin masuk lebih dulu.
“Oh, apa benar ini kediaman ibu Mira Nadia?” Tanya Arin sedikit ragu.
“Ya benar, ibu ada didalam” Jawab Fei, matanya memperhatikan wanita dihadapannya itu penuh dengan tentengan di kedua lengannya.
“Terimakasih.” Ucap Arin tersenyum.
“Biar saya bantu, kelihatannya berat.” Ucapnya, saat hendak keluar dari mobil.
“Oh tidak usah.” Tolak Arin halus, kemudian memasuki rumah mewah itu, lalu mobil Fei mengikutinya dari belakang, bu mira menyambut Arin begitu hangat.
“Akhirnnya kamu sampai. Terimakasih banyak ya nak sudah mau mengantarnya, ayo masuk dulu.” Sambut bu Mira begitu ramah kepadanya, ia belum menyadari keberadaan putranya yang berada tepat dibelakang Arin.
“Ahh.. iya” Jawab Arin mengangguk.
“Ehem, Fei pulang.” Ucap Fei, membuat ibunya tersadar akan kepulangannya. Arin terlonjak kaget karena Fei berbicara tepat dibelakang telinganya.
“Ya ampun, kok baru pulang nak?” Jawab bu Mira yang terkejut, Arin menggeserkan tubuhnya memberi jalan masuk untuk Fei, pria itu menoleh, kontak mata antara mereka pun tak dapat dihindari.
“Semalam Fei kelelahan, jadi tidur di rumah sakit.” Jawab Fei lalu menyalami tangan ibunya.
“Hmm, oh ya, Arin ini Fei putra pertama sekaligus anak laki-laki ibu satu-satu nya dan Fei ini Arin ibu mengenalnya dari teman-teman ibu, dia jago bikin kue lo.” Ujar bu Mira ramah.
“Fei,” Kata Fei, mengulurkan tangan kekarnya seraya tersenyum.
“Arin.” Jawab Arim membalas senyuman Fei , menyalamkan kedua lengannya didada karena tidak bisa menjabat tangan Fei yang bukan muhrimnya. Fei mengerti, rasa kagumnya muncul pada saat itu. Sayangnya Arin pamit, tak lama setelah mereka berkenalan.
.....
Acara Arisan mingguan telah usai dan satu per satu teman-teman arisan bu Mira meninggalkan kediamannya, bu mira tampak sedih, ia iri dengan teman-teman nya yang sudah memiliki cucu. Sedangkan dirinya masih menunggu Fei, yang sampai detik ini masih nyaman dengan statusnya. Jangankan menikah, kekasih saja dia tidak punya.
Bukan karena putranya seorang gay atau tidak bisa menarik hati wanita, ia hanya malas bermain-main, ditambah lagi Fei seorang dokter yang banyak menghabiskan waktu dirumah sakit. Apapun yang terlihat darinya nyaris tidak bercelah, ia tampan, tinggi, bertubuh atletis, kepribadiannya baik, cerdas dan juga kaya raya.
Andai saja Rania gadis hitam manis asal Yogyakarta itu, mampu melawan penyakit kanker darah yang mengerogotinya sedari kecil, mungkin Fei sekarang sudah menikah bahkan memiliki anak, malangnya Rania meninggal saat operasi berlangsung 8 tahun yang lalu.
Kepergian Rania bukan hal mudah untuk Fei, mengingat Rania adalah orang yang menjadi alasan atas profesinya saat ini. Status nya sebagai seorang mualaf juga berawal dari rasa kagumnya kepada Rania, sangat wajar jika ia begitu sulit melupakannya.
…..
Rumah mewah bu Mira akan sepi ketika putra sulungnya sudah pergi bekerja dan putri bungsu nya pergi kuliah, Ketika ia sedang dirumah beliau hanya ditemani bi Anah dan bi Ati pembantu rumah mereka, saat-saat seperti ini lah beliau mengharapkan suara tangisan bayi terdengar nyaring dirumah sepinya.
Bu Mira adalah pemilik beberapa restoran yang cukup terkenal di ibu kota, ia menjadi pebisnis kuliner yang cukup sukses berkat hasil kerja kerasnya. Restoran pertamanaya dirintis setelah suaminya meninggal beberapa tahun silam. Dan sekarang beliau hanya bertugas mengawasi jalannya Resto-resto tersebut. Tetap saja meski memiliki harta berlimpah pun keinginan terbesarnya adalah melihat Fei menikah dan memberinya cucu.
Waktu menunjukan pukul sebelas malam, Fei baru sampai dirumah setelah seharian bekerja, hari ini sama seperti biasanya sangat melelahkan. Fei memasuki rumahnya tanpa membunyikan klakson dan membuka sendiri gerbang juga pintu rumahnya, bu Mira sudah menyadari kepulangan Fei dari suara mobil nya, lalu menyambutnya didepan pintu.
“Nak,” Sambut bu Mira kepada putranya, Fei langsung mencium tangan ibunya.
“Ibu, kenapa ibu belum tidur ?” Tanya Fei
“Ibu gak bisa tidur jadi nungguin kamu pulang,” Jawab bu Mira, kemudian Fei merangkulnya setelah mengunci pintu.
“Ya sudah, berhubung anak tampanmu ini sudah dirumah jadi ibu tidur yah?” Sahut Fei sambil menuntun ibunya menuju kamar.
“Ibu belum makan, karena sengaja nungguin kamu, ayo kita makan dulu, kamu juga pasti lapar.” Ucap bu Mira menggandeg tangan Fei menuju dapur dan Fei tidak menolak toh memang ia sangat lapar, meskipun ia tau ini bukan waktu yang baik untuk makan malam.
Bu Mira mengambilkan satu colek nasi untuk Fei beserta lauk kesukaanya yaitu tumis tripang brokoli, Fei menyantapnya dengan sangat lahap. Tiba-tiba bu Mira menanyakan hal yang sebenarnya paling tidak ia sukai, karena terlalu sering menerimanya.
“Fei, kapan kamu akan menikah?” Tanya bu Mira tanpa merasa takut Fei akan kesal. Pertanyaan itu membuat Fei terhenti sejenak dari kegiatannya, lalu meneguk air putih setelah itu menjawab pertanyaan dari sang ibu.
“Fei kan sudah pernah jawab bu, Fei akan menikah setelah menemukan pengganti Rania. Jika sudah, pasti Fei langsung memperkenalkannya pada ibu,” Jawab Fei halus, selalu mengakhirinya dengan senyuman kala berbicara dengan sang bunda, berusaha untuk meredam kekesalannya.
“Iya tapi sampai kapan? Kamu setiap hari sibuk begitu, ibumu ini sudah tua, mau ibu meninggal tanpa sempat melihat cucu?” Ujarnya sedikit cemberut, nyatanya bu Mira sama seperti Kim Hee-ae, berusia lebih dari setengah abad tapi masih terlihat bak wanita tiga puluh tahun,
“Hush, ibu jangan bilang gitu ah, iya nanti Fei cari toh gak mungkin kan hari ini ketemu langsung dinikahin.” Jawab Fei mengelus pundak ibu kesayangannya,
“Jangan lama-lama ya, atau mau sama yang kemarin ? Dia cantik,” Ujarnya bersemangat, berharap Fei menyetujuinya.
“Cantik itu bonus bu, belum tentu kita cocok,” Sanggah Fei, tetap kukuh dengan pendiriannya.
“Iya makanya coba dulu,” Ucap Bu Mira tetap berusaha membujuk, Fei menyudahi makan malamnya karena ibunya membuat selera makannya hilang.
“Nanti Fei pikirkan ya, selamat malam bu.” Ucap Fei sebelum beranjak dari tempat duduknya, lalu pergi setelah mencium kening bu Mira. Bu Mira ngendus kesal karena upayanya belum berhasil.
Saat menuju kamar, Fei mengingat kembali wanita yang pernah dikenalkan ibunya waktu itu, terlihat segaris senyum dibibir tipisnya, yang hanya ia dan Sang Pencipta saja yang tau.