Pesawat yang ditumpangi Rayhan dikabarkan hilang kontak setelah lima belas menit berada diudara, benar saja pesawat itu jatuh dan menewaskan semua penumpang dan seluruh awak kabin yang ada didalam nya, tak terkecuali Rayhan. Bisa dibayangkan seperti apa hancurnya perasaan wanita berdarah Indo-Prancis yang ia tinggalkan, Beruntung jasad Rayhan dapat ditemukan tim SAR dalam keadaan utuh.
Arin menatap kosong jasad suaminya setelah dikafani, karena sudah tidak mampu lagi menangisinya. Tidak pernah terfikir olehnya Ray akan meninggalkannya begitu cepat, membuatnya menyandang status sebagai seorang janda yang masih perawan. Wanita berusaha tegar dihadapan semua orang, tanpa mereka ketahui hatinya yang tersayat-sayat.
Almarhum Rayhan telah selesai dikebumikan, semua para pelayat sudah pergi meninggalkan area pemakaman, tinggal keluarga Rayhan, dan Arin yang masih berada dipusara suaminya sambil menangis, air matanya kembali mengalir setelah mendengar makian dari orang-orang yang tidak menyukai pernikahannya.
“Semua ini gara-gara Rayhan menikah dengan mu, dasar perempuan pembawa sial. Lihat ! baru beberapa hari dia menikah hal buruk sudah menimpanya” Ujar kaka iparnya kasar.
“Sebelum menikahimu dia adalah putra kebanggaanku, dia tidak pernah membatah, samapai kamu hadir dikehidupannya dan merusak segalanya. Pergi ! dan jangan pernah muncul dihadapan keluargaku lagi. Dasar wanita tidak tau diri.” Ucap ayah mertua yang menatap Arin penuh kebencian.
“Sudah dong yah, jangan terus-terusan menyalahkan Arin, Rayhan meninggal karena takdir, semua orang disini kehilangan Ray sebaiknya kita do’akan Rayhan agar ia tenang disana” Ucap Roni, ia muak mendengar ayah dan adiknya terus menyalah Arin lalu membawanya pergi.
Arin tidak bisa membela diri karena akan percuma saja, malah hanya akan membuatnya semakin hancur. Mereka lupa jika kematian bisa menimpa siapa saja, tidak ada satupun orang yang yang bisa merubahnya.
Kepergian sang suami yang begitu tragis mengingatkannya kembali pada kejadian beberapa tahun silam, saat kecelakaan yang merenggut nyawa semua anggota keluarganya, turut mengundang kesedihan di hatinya yang semakin kacau.
Setelah kepergian Rayhan Arin tinggal sendirian, ibu mertuanya sering berkunjung untuk sekadar mengecek kondisinya atau membawakannya makanan, begitupun dengan karyawan tokonya. Mertuanya tau perasaan menantunya ini tidak baik-baik saja, ingin sekali rasanya menemani Arin, tapi hal itu akan membuat suaminya marah besar.
Pilu rasanya melihat kondisi Arin yang bertambah kurus, karena sejak kepergian Rayhan, nafsu makannya ikut hilang. Berpisah karena kematian bukanlah perkara mudah apalagi pernikahan mereka baru berjalan beberapa hari, tetapi walau bagaimana pun Arin masih sangat muda, masih banyak hal yang harus ia jalani.
Ibu mertua Arin selalu berusaha menguatkannya, walaupun beliau sendiri masih sangat bersedih kehilangan putranya yang sangat mendadak, beliau berharap Arin tegar dan tidak terus terhanyut dalam kesedihan, melihat Arin membuatnya kembali ikut bersedih.
“Nak, ibu tau kamu sangat hancur dan terluka tapi kamu harus kuat, jangan pedulikan apa kata ayah mertua dan kaka ipar mu, masih ada ibu disini, tinggalkan rumah ini dan carilah tempat yang baru agar kamu bisa menghilangkan kesedihan mu, lihatlah kamu itu sangat cantik pantas Rayhan sampai tergila-gila tapi kamu harus kuat, Rayhan pasti sangat sedih jika tau keadaan kamu seperti ini”
“Tapi Ray meninggal tidak lama setelah menikah dengan Arin bu, semuanya gara-gara Arin. Hiks,” Arin yang menangis dipangkuan Ibu mertuanya.
“Ssstt.. Jangan bicara seprti itu, umur manusia itu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, bukan salah mu atau siapapun.” Ucap mertuanya, mengusapi kepala Arin, tanpa sadar air matanya ikut menetes.
…
Devina di sibukan oleh pekerjaanya, membuatnya tidak bisa pulang untuk melayat almarhum suami Arin, sedangkan Vanya baru bisa melayat setelah tujuh hari kemudian. Ia baru memulai karirnya, sehingga ada banyak deadline pekerjaan yang harus ia selesaikan terlebih dahulu.
“Arin !” Sahut Vanya sambil menangis saat menghampiri Arin dan langsung memeluk sahabatnya erat.
“Aku benar-benar minta maaf baru bisa datang sekarang Rin, Devi berpesan ia turut berduka atas meninggalnya Rayhan, dia sedang sibuk jadi nggak bisa kesini.” Ucap Vanya menjelaskan. Arin menggeleng titak setuju.
“Jangan minta maaf Anya, aku ngerti ko, aku senang kamu disini sekarang.” Jawabnya.
“Kamu sendirian disini ?” Vanya melihat sekeliling.
“Ibu mertua ku sering menjengukku, tapi sekarang sudah pulang setelah ayah mertuaku menelpon.”
“Pasti laki-laki tua itu masih membencimu,” Sahut Vanya kesal
“Kita menikah tanpa restu beliau dan Rayhan meninggal selang beberapa hari setelah kita menikah, jadi wajar jika semua orang membenciku.” Ucap Arin berusaha untuk tidak menangis.
“Syuuut .. Udah-udah, kamu harus kuat aku beneran prihatin liat kondisi kamu kurus begini, tapi anehnya masih tetap keliatan cantik.” Ucap Vanya mengelus pundak sahabatnya, dan berhasil membuat Arin tertawa dengan lelucon sederhananya. Vanya senang bisa sedikit menghibur Arin, ia menemani Arin selama beberapa malam sebelum akahirnya harus kembali karena pekerjaanya.
…..
Beberapa bulan kemudian Arin memutuskan untuk menyerahkan semua aset kekayaan almarhum suaminya, termasuk rumah dan kendaraan pribadi kepada keluarga Rayhan namun ibu mertuanya menolak, beliau menyuruh Arin mendonasikannya ke beberapa panti asuhan dan orang-orang yang membutuhkan, jika Arin tidak mau menerimanya, agar menjadi amal baik yang akan terus mengalir untuk Rayhan.
Pernikahan nya memang singkat tapi kenangan semasa kuliah terus mengganggu pikiranya, karena kekonyolan Rayhan yang tak pernah gagal membuatnya tersenyum dan tertawa, Rayhan selalu ada untuknya dalam setiap kesulitan mapun saat ia membutuhkannya.
Arin memutuskan meninggalkan Bandung dan kembali ke Jakarta ia membeli rumah disebuah perumahan dengan dengan tabungan pribadinya, bisnis di Bandung Arin percayakan penuh kepada Rina. Arin membuka usaha barunya yaitu menjual aneka jajanan pasar, kue keing dan juga kue basah yang ia pelajari secara otodidak.
Kehidupan Arin mulai berubah, kesibukannya kini dapat mengobati luka yang perlahan mulai berangsur mengering. Banyak ibu-ibu arisan dari komplek perumahan elit yang memesan kue-kue buatannya, selain rasanya enak mereka juga puas dengan pelayanan Arin yang ramah.
Ketika Arin tiba mengantar pesanan kuenya, ada sepasang mata yang tidak henti memperhataikan gerak-geriknya.
“Lihat apa sih sampe senyum-senyum segala,” Ucap bu Noni yang penasaran dengan apa yang sahabatnya lihat, sampai membuatnya tersenyum. Lalu ia mengarahkan pandangannya sejajar dengan bu Mira.
“O, liatin Arin rupanya.” Sahut bu Noni lega.
“Jadi nama gadis itu Arin?” Ucap bu Mira, yang masih fokus memperhatikan Arin.
“Iya sejak kamu sibuk di Bali beberapa minggu ini, dia jadi langganan baru kita. Soalnya kue nya lebih enak dan variatif dari dari toko biasa. Padahal kalo dia buka oulet pasti laris manis.” Jawab bu noni sambil menikmati kue buatan Arin.
“Cantik, aku yakin Fei menyukainya.” Ucap bu Mira yang sontak membuat bu Noni hampir tersedak karena kaget.
“Uhuk, Apa ?! Gak salah nih,” Ucap bu Noni setelah meneguk minumannya.
“Iya tidak ada salahnya kan mencoba dulu,” Jawab bu Mira.
“Bukan, tapi putramu itu sangat tampan dan lagi dia dokter dengan segudang prestasi. Kamu tidak menyesal mendekatkan Arin dengan putramu?”
“Untuk apa menyesal ? Baru melihatnya saja aku sudah tertarik, lagi pula keliahatannya dia baik.” Jawab bu Mira
“Memang baik sih, tapi dia cuma penjual kue lo Mir.” Ucapnya lagi, mencoba meyakinkan.
“Jangan menilai seseorang dari pekerjaanya, toh Fei juga belum tentu mau.” Ucap bu mira terdengar pasrah.
“Ya sudah, nanti aku bantu mencari tau tentang gadis itu.” Balas bu Noni membuat bu Mira merubah raut wajah sedihnya menjadi tersenyum.
“Thank you,” Kata bu Mira singkat.