4. Hari pernikahan

1203 Words
        Wisuda telah berakhir Rayhan melamar pekerjaan di beberapa tempat, agar bisa mendapat pekerjaan sesegera mungkin, ia ingin benar-benar terlepas dari bantuan finasial keluarga, setelah sang ayah enggan memberikan restunya, yang justru malah merendahkan Arin, membuatnya semakin geram.         Ia diterima sebagai eksekutif di perusahaan asing yang tak jauh dari rumah barunya, Ray ingin mandiri dalam menafkahi Arin sekalipun bisnis yang ia jalani sebelumnya sudah diberikan secara penuh oleh sang bunda, yang juga berasal dari keluarga berkecukupan, namun Ray tetap menolak.           Hari pernikahan tetap berjalan meskipun tanpa restu dari ayah Rayhan, berlangsung sederhana karena Arin yang menginginkannya lagi pula tak banyak keluarga yang hadir, mengingat Arin adalah anak yatim piatu. Ditambah Vanya yang berhalangan hadir karena sakit dan Devina yang disibukkan dengan tugas akhirnya yang tidak bisa ia tinggalkan.           Pernikahan berjalan sebagaimana semestinya, kini Rayhan yang merupakan sahabat laki-laki satu-satunya itu telah resmi menjadi suaminya. Batin Arin berkecamuk, dan hatinya tidak tenang karena pernikahan ini tak direrestui ayah mertua juga sebagian keluarga besar suaminya. Rayhan bersyukur masih ada keluarga dari bundanya dan Roni yang turut bahagia atas pernikahannya.         Acara pernikahan telah usai, momen paling membahagiakan di seluruh dunia bagi siapa saja. Do'a dan harapan dari keluarga, teman dan anak-anak panti mengalir deras untuk mereka. Untuk sementara waktu Ray tinggal dirumah Arin.          "Alhamdulillah, akhirnya aku bisa milikin kamu sayang," Ujar Rayhan memandangi lekat wajah cantik sahabatnya yang kini sudah sah menjadi istrinya.         "Iya alhamdulillah, tapi jangan panggil sayang dulu ya ? Aku masih geli dengernya.” jawab Arin, melukiskan senyum manis yang membuat Rayhan mencubit pipinya gemas.         "Ah gak kuat liat  senyum kamu semanis itu, aku yakin nih, kalo gula ngeliat senyum kamu pasti dia insecure." Ucap Ray berhasil membuat Arin tertawa dengan lepas. Ray bahagia bisa melihat Arin tersenyum setiap hari, memberinya kekuatan agar bisa menjadi suami yang lebih bertanggungjawab.            Setelah beberapa hari tinggal dirumah Arin, Ray langsung memboyongnya ke rumah yang memang sudah ia disiapkan untuk Arin dan dirinya. Sesekali ia mencuri pandang wajah sang istri yang duduk disamping kemudinya, membuat Ray selalu bersyukur karena bisa menjadikannya teman hidup.         Sesampainya dirumah dua lantai berkonsep modern minimalis tersebut, Rayhan tampak sangat bersemangat memperlihatkan semua sudut ruangan rumah hasil jeri payah nya itu, terlihat nyaman juga tertata rapih. Tiba-tiba suara memalukan terdengar dari perutnya membuat Arin tertawa.         “Dikulkas ada apa aja ?” Ujar Arin saat hendak membuka pintu lemari pendingin yang ternyata kosong, ia memakluminya karena beberapa hari ini Ray tinggal di rumahnya, wajar jika tidak ada bahan masakan disana.         “Aku gak bisa masak, biasanya ada makanan kalengan itupun bunda yang belikan.” Jawab Ray sambil menggaruk-garuk kepalanya tak gatal.         “Mmm, yaudah gak papa, lagian supermarket kan gak jauh dari sini.” Ucap Arin, mereka pun pergi berbelanja bersama.          Setibanya dirumah, Arin langsung meracik semua bahan masakan kesukaan suaminya. Ray mendekatinya, memeluk tubuh mungil nan molek itu dari belakang. Pikiran liarnya terbangun meleburkan rasa laparnya, ia membalikan tubuh itu lalu memandangi wajahnya yang terlihat gugup, saat Ray mencoba menciumnya namun Arin menghindar.          Raut kekesalan terpancar jelas diwajah Rayhan, sudah kesekian kalinya ia dibuat kecewa oleh sikap Arin. yang sudah tidak bisa ia sembunyikan lagi.         “Maaf Ray, aku masih belum siap.” Tolak Arin halus, Rayhan menghempaskan tubuh Arin dari pelukannya hingga nyaris terjatuh lalu pergi meninggalkannya.         Setelah kejadian itu tentu Arin merasa sangat menyesali sikapnya, walau bagaimana pun suaminya itu berhak atas dirinya termasuk hal yang paling intim sekalipun. Malam mulai larut Rayhan  masih mengabaikannya, ia tertidur dengan menghadapkan tubuhnya kearah yang berlawanan.          “Ray, maaf ya? Aku belum bisa jadi istri yang baik.” Ucap Arin, ia memberanikan diri memeluk punggung Rayhan. Laki-laki itu tidak menjawab.          “Udah tidur ya ?” Ucapnya lagi, karena Ray masih belum merespon, kemudian ia menutup tubuh suaminya dengan selimut sampai ke dadanya. Ray menahan lengan Arin membuat istrinya terkejut.          “Janji ya jangan kaya gitu lagi ?” Sahut Rayhan, membalikan tubuhnya lalu menghadap Arin.          “Belum tidur?” Tanya Arin menaikan satu alisnya, Ray menggeleng. Arin memasukan tubuhnya kedalam selimut yang sama, memasang wajah paling manis untuk merayu suaminya.          “Dimaafin kan Ray ?” Tanyanya lagi.          “Tapi janji, tidak akan mengulanginya.” Ucap Ray, Arin mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum.          “Iya janji,” Jawab Arin. Ray menarik Arin lebih dekat, ia bisa merasakan deru nafasnya yang begitu halus.          “Kalo gitu, mulai hari ini gak boleh panggil Ray lagi, panggil mas  aja”          “Mas ?” Arin mengulang kata-kata Ray sambil mesang wajah heran.         “Iya, mas, kan aku udah jadi suami kamu.” Sahut Ray. Arin menaikan kedua alisnya sambil tersenyum.         “Hmm, iya deh, mas.”         “Iya tau kita lahir ditahun yang sama, tapi mas kan tetap lebih tua darimu sayang.” Ujar Ray menambahkan.         “Iya-iya mas Rayhan.” Ucap Arin lalu terkekeh.          Rayhan menenggelamkan Arin kedalam d**a bidang nya “Berarti udah boleh cium kan ?” Ucap Ray, Arin menggangguk malu,  Ray mengusap lembut wajah Arin lalu perlahan mendaratkan bibir tebalnya dibibir kecil merah muda istrinya, dengan perlahan melumatnya.         Rayhan gemas dengan Arin yang tidak bereaksi apa-apa, wajar saja wanita itu baru pertama kali melakukannya. Rayhan merebahkan tubuh mungil  itu, memperhatikan lekat rupa sang istri yang semakin bertambah cantik, lalu menciuminya lagi. Arin hanya terdiam kaku, membiarkan Ray menyusuri setiap lekuk tubuhnya.         Desahan pertama Arin membuat Ray semakin b*******h, ia membuka satu demi satu kancing piama bermotif bunga sakura yang Arin kenakan dengan perlahan, sementara istrinya hanya bisa pasrah sambil meremas sprei dengan mata terpejam kuat. Hasrat suaminya  makin meluap ketika melihat dua tumpukan kecil dibalik branya.         Dengan kasar Ray melepaskan benda yang menutupi p******a istrinya, kemudian meremasnya dan memainkan kedua putingnya secara bersamaan, ketika Arin hendak menutupinya dengan kedua tangan, Ray mengikatnya dengan bra, lalu memainkannya dengan mulut. Arin menangis namun tersamarkan oleh keringatnya sendiri.         Rayhan tersenyum melihat ekspresi Arin yang belum pernah ia lihat sebelumnya, sebelum “Ray, ah .. Udah, Aku lagi haid.” Ucap Arin yang lupa memanggil suaminya dengan benar, ia tak kuat menahan perasaan akibat perlakuan suaminya, sebelum tangan kekar itu turun menerobos celana dalamnya, dan ya, lagi-lagi Rayhan dibuat kecewa. Ia menghentikan aktifitasnya.         “Aish ! Kenapa gak bilang dari tadi sih, liat tuh ? Udah tegang gini.” Ucap Rayhan sambil  mengguncang-guncangkan pundak Arin kesal lalu menunjukan betapa besar miliknya yang tertutup boxer. Dengan segera ia menutup wajahnya dengan selimut.         “A-aku cuma takut mas Rayhan marah.” Jawab Arin yang menunduk karena gugup. …         Secara mendadak Rayhan ditugaskan ke Yogyakarta untuk urusan pekerjaannya, dengan berat hati Ray meninggalkan Arin, karena pria itu tengah berada diatas puncak mencintai istri yang baru saja dinikahinya.         “Mas janji sepulang dari sana kita pergi bulan madu ya, Mas akan memberimu hal terindah nanti ” Ucap Ray, dengan Arin yang berada dalam dekapannya terus menciumi bibirnya terus-menerus. Arin tersenyum ia tak bisa melarangnya, atau Ray akan marah besar.         Ray memang sangat menyayangi istrinya tapi ia juga sedikit tempramen, apalagi jika keinginannya tidak terpenuhi. Belum melakukan hubungan suami istri yang sebenarnya saja, beberapa bagian ditubuh Arin terlihat membiru karena ulahnya.         “Hati-hati disana, jangan lupa jaga kesehatan.” Arin membenarkan kerah baju kemeja suaminya sebelum ia pergi.         “Siap sayang,” Jawab Ray lalu hormat ala tentara, Arin kembali terkekeh melihat tingkah suaminya. Sebelum pesawat take off Ray sempat mengirimkan pesan kepada Arin “Sayang do’ain mas ya, mas janji akan segera pulang. Kamu baik-baik disana. Love you“.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD