Masa Perkuliahan akan berakhir beberapa bulan lagi, Arin bersyukur memiliki orang-orang baik yang memudahkannya dalam menjalankan bisnis, sehingga ia bisa fokus mengerjakan skripsinya. Dikampus Arin cukup dikenal karena selain parasnya yang cantik ia juga memiliki bisnis industri kreatif dimana produknya sangat digemari termasuk oleh teman-teman kampusnya.
Setelah Devina tinggal di Jepang dan Vanya di Yogya, kini Rayhan lah yang menjadi sahabat Arin dikampus, hampir setiap hari mereka bersama seperti ikan dan air yang tak bisa terpisahkan, mereka sudah menjalin pertemanan sejak awal kuliah, Rayhan juga turut andil dalam bisnis aksesoris Arin, selain memberi berbagai ide Ray lah yang mendesign logo kemasannya.
Bukan karena Arin tidak memiliki teman perempuan dikampus tapi Rayhan seperti dinding pembatas yang memisahkan Arin dan teman-temannya yang lain. Sudah lama dekat, secara alami mereka saling mengenal satu sama lain dengan baik, tentu benih cinta tak dapat dihindari salah satu dari mereka, semakin lama dipendam malah semakin membesar itu lah yang Rayhan rasakan selama ini.
Untuk itu Ray akan mengungkapkan perasaan yang selama ini ditutupinya rapat-rapat, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya termasuk keluarganya, kecuali bundanya, itu pun Ray ungkapkan beberapa hari sebelum ia melamarnya. Ray memberanikan diri untuk melamar Arin setelah pelajaran usai. Ray sangat menantikan hari ini, yang bahkan sudah ia rancang dari satu tahun sebelumnya.
Disebuah taman kampus di salah satu Universitas negeri di Bandung, tampak sepasang sejoli yang tengah menikmati udara segar yang dihasilkan dari pohon rindang disekitar mereka, mereka sedang membicarakan prihal tugas akhir dari salah satu dosen yang terkenal dengan ke killer-annya.
“Widih udah mau kelar aja tu tugas Pak Seno,” Rayhan mengintip laptop Arin, yang sebenarnya itu adalah modus agar ia bisa memandangi wajah cantiknya, walau hanya sekejap.
“Iya kan dikerjain, kamu juga dari tadi bukannya ngerjain malah bengong aja.” Jawab Arin datar, ia enggan pengalihkan pandangan dari laptopnya.
“Kan belum ada inspirasi buat diketik, siapa tau dengan natap wajah cantik kamu kaya gini bisa bikin otakku bekerja.” Ujar Rayhan saat memandangi gadis itu lekat, Arin pun menoleh dan menghentikan kegiatannya.
“Ada-ada aja kamu, nyari inspirasi itu dibuku, artikel bukan diwajahku, emangnya wajahku ini wikipedia apa.” Gerutu Arin yang malah membuat Ray gemas terhadapnya, lalu Arin melanjutkan pekerjaannya.
“Tapi aneh deh Rin, aku bisa liat masa depan disana.” Tutur Rayhan membuat Arin terkekeh tapi tidak menggubrisnya.
“Rin, Aku mau nikah sama kamu setelah kita lulus nanti boleh gak?” Kata-kata Rayhan membuat Arin terdiam lalu memandang Rayhan dengan ekspresi yang cukup serius.
“Gak lucu Ray, beneran deh.” Jawab Arin kesal, jelas saja gadis itu tidak percaya. Rey mengungkapkannya di tempat, waktu dan dengan cara yang tidak tepat.
“Ya lagian siapa yang ngelucu, aku serius mau nikah sama kamu Arinda.” Ucap Rayhan menegaskan, namun Arin tetap tidak mempercayainya.
“Udah ah, aku mau pulang.” Ujar Arin, ia menghentikan aktivitasnya lalu merapikan barang-barangnya, karena merasa tidak nyaman dengan obrolan Rayhan yang merusak mood-nya.
“Loh kok kamu jadi marah gini sih,” Ucap Rayhan mencoba menahannya.
“Ya Kamu kira nikah bisa dibuat candaan gitu !” Jawab Arin sedikit membentak.
“Aku serius Arinda, kita kan udah saling kenal . Ya kalo gak ada hambatan setelah lulus kita bisa langsung menikah. Aku udah siapin semunya kok,” Ucap Rayhan menjelaskan dan Arin hanya terdiam tak percaya jika Rayhan memang serius dengan perkataannya.
Rayhan sudah menyukai Arin sejak pertama bertemu Arin diawal kuliah, Rayhan tau Arin tipe gadis yang cukup religius, dan pasti menolak untuk berpacaran maka dari itu ia menunggu sampai bertahun-tahun untuk mempersuntingnya. Jelas ia sudah memikirkannya masak-masak.
Diam-diam Rayhan sudah menyiapkan rumah dan kendaraan dari jeri payahnya sendiri dengan mengelola bisnis percetakan yang berikan bundanya, Rayhan sudah mengira dari awal jika Ayahnya tidak akan setuju dia menikah dengan Arin yang merupakan seorang gadis yatim piatu juga sederhana. Dan hal itu benar-benar terjadi.
Bunda Rayhan tentu bisa merasakan begitu besarnya Rayhan meyukai Arin, dari caranya menceritakan tentang gadis itu ketika Ray meminta restunya, ikatan batin antara mereka cukup kuat. Berbeda dengan sang Ayah, bundanya justru memberikan dukungan penuh kepada Rayhan lagi pula menurutnya Arin adalah gadis yang baik, dan yakin Arin adalah orang tepat untuk Rayhan.
Rayhan memberikan Arin waktu untuk menimbang berat tawarannya, agar mereka sama-sama siap mengarungi kehidupan sebagai sepasang suami istri. Tetapi jika gadis yang di cintainya menolak pun ia akan berusaha menerimanya dengan hati yang lapang.
…..
Setelah beberapa minggu Arin meminta Ray untuk menemuinya ditaman seperti biasa, gadis itu menunggu Ray dengan sebuah surat berwarna putih yang di genggamnya.
“H-Hai, assalamu’alaikum Rin.” Sapa Ray gugup, Arin menoleh lalu menjawab salam sambil tersenyum.
“Wa’alaikumussalam,” Jawab Arin, Ray menghampirinya sedikit malu-malu. Selalu ada gejolak dalam dadanya saat bersama Arin, tapi anehnya kali ini berkali-kali lebih kuat dari yang pernah ia rasakan sebelumnya.
“Ini buat kamu, maaf aku gak bisa menjawabnya secara langsung. Aku duluan ya, wasalamu’alaikum.” Katanya saat mengasongkan surat, lalu pergi dengan wajah yang sumringah.
“Wa’alaikumussalam.” Jawab Ray, dengan pandangan yang lulus memperhatikan belahan jiwanya.
Setelah Arin menghilang, perlahan Ray membuka lalu membaca isi surat itu.
Teruntuk Rayhan Hardi Sukandar yang waktu itu melamar Arinda Pramudina.
Assalamu’alaikum, apa kabar setelah beberapa minggu ini kita tidak bertemu ?Aku tau kamu baik-baik saja tadi itu aku cuma basa basi hehe. Jujur sebenarnya aku belum memikirkan tentang pernikahan sampai kamu melamarku tanpa membawa keluargamu, itu tidak sopan. Harusnya aku menolakmu saat itu juga tapi karena beberapa hari ini Alloh memberiku petunjuk jadi ya…
AKU MENERIMANYA
Hanya itu saja yang ingin aku sampaikan, semuanya sudah ku tulis dengan jelas jadi jangan bertanya lagi, ok ? Wasalamu’alaikum, sampai bertemu di pelaminan.
Rayhan tersenyum bahagia setelah membacanya, matanya sudah berkaca-kaca bahkan hampir menangis, tapi kata-kata Arin juga membuatnya ingin tertawa. Rayhan menyeka air matanya lalu pergi untuk memberitahukan berita baik itu kepada bunda dan keluarganya.
“Bun, bunda !” Panggil Rayhan, membuat semua orang yang ada dirumah menatapnya.
“Bunda mana kak ?” Tanya Ray kepada Roni kakak tertuanya.
“Bunda ditaman belakang,” Jawabnya, dengan segera Ray menemui bundanya sedikit berlari.
“Ada apa nak ?” Tanyanya, saat melihat Ray mendekat kearahnya.
“Hah .. Arin mau nikah sama Ray bun,” Jawab Ray sambil mengatur nafasnya karena kelelahan. Bundanya tersenyum lebar saat mendengar kabar baik itu.
“Oh ya, syukurlah. Tapi, kamu harus tetap menemui ayahmu, siapa tau ada ilham yang membuatnya berubah.” Saran sang bunda, dan Ray menyanggupinya.
“Baik bun, nanti setelah makan malam ya?” Ujarnya lalu pergi menuju kamar untuk membersihkan diri.
Ray masih takut untuk memberitahukan niatnya, ia tidak ingin cintanya yang sudah bersambut harus pupus, seperti saudara-saudaranya. Baginya menikahi Arin adalah cita-cita terbesar dalam hidup setelah masuk surga, Ray tidak begitu dekat dengan ayahnya karena sifat arogan dan kesombongannya. Meskipun ia adalah putra yang paling ayahnya sayangi.
Semua anggota keluarga sudah berkumpul diruang makan, Ray duduk dikursi kedua, disamping bundanya. Setelah makan malam usai dan semua hampir beranjak, Ray membuka pembicaraan.
“Tunggu ! Ada yang ingin aku sampaikan, terutama untuk ayah.” Ucap Ray cukup lantang, wajah bundanya menunjukan kecemasan seperti takut hal yang tidak diinginkan terjadi. Sementara semua orang memasang wajah penasaran.
“Semua orang disini tau sahabat baikku yang bernama Arin, aku sudah melamarnya dan kami akan segera menikah.” Ucap Ray membuat semua orang terkejut bukan main, tidak ada anak dari keluarga Sukandar yang menikah dengan wanita ataupun laki-laki pilihan mereka sendiri. Tentu saja ini sebuah peristiwa yang mustahil terjadi.
“Untuk itu, dengan segenap hati aku meminta restu dari ayah.” Ucapnya lagi, sambil bersimpuh dihadapan sang ayah, berharap hatinya akan melembut.
“Tidak ! Ayah tidak akan merestui hubungan kalian, gadis itu tidak layak untuk mu.” Jawab ayahnya dengan tegas, Ray bangkit.
“Kalau begitu Ray tetap akan menikahi Arin tanpa restu dari ayah,” Ucap Rayhan lalu “Plak !” Tamparan keras mendarat di wajahnya menghasilkan aliran darah yang keluar dari hidung, tidak ada yang bisa membelannya kecuali sang bunda. Ibu mana yang tidak terluka melihat putranya disakiti tepat dihadapannya.
“Hentikan ! Dia juga anakku, aku yang mengandung dan melahirkannya, tidak ada seorang pun yang berhak melukainya.” Jawab bunda Ray kepada ayahnya. Lalu mengusapi luka putranya dengan lembut.
“Dia akan menikahi gadis yang tidak sepadan, tidak memiliki keluarga, miskin, semua orang pasti akan menertawakanku.” Ucap Ayah Ray yang dengan segera Ray membantahnya karena merasa cukup muak mendengarnya.
“Cukup, aku tetap dengan pendirianku. Malam ini juga aku akan pergi dari rumah ini.” Ucap Ray, dia benar-benar pergi dari rumah itu dengan membawa barang seadanya.
…..