2. Hari Perpisahan dan Kehidupan Baru

1275 Words
          Hari ini adalah hari terakhir ketiga sahabat itu tinggal bersama, setelah bertahun-tahun hidup menapaki jalan yang terjal mereka hampir tidak pernah terpisahkan. Itu karena masing-masing mempunyai mimpi yang harus mereka raih. Tentu tidak akan mudah hidup sendiri-sendiri setelah ini, tantangan besar untuk Vanya, Devina, dan Arin karena selama ini mereka sudah terbiasa berjuang bersama-sama.         Vanya sudah selesai mengemas rapi semua barang-barangnya, termasuk berkas persyaratan sebagai mahasiswa baru salah satu universitas terbaik di Jogja yang merupakan universitas impiannya sejak dulu, begitu pula dengan Devina. Sementara Arin belum menentukan pilihannya, padahal ia  sudah diterima dibeberapa universitas di Bandung.         Hari mulai gelap, setelah semuanya selesai dikemas dan dibereskan mereka membaringkan tubuh lelah mereka sejajar diatas kasur.         “Aku bener-bener gak percaya kita bakalan kepisah, dari kecil kita tidur bareng, main bareng, makan bareng, nyari uang juga bareng, kaya gak nyangka aja gitu cita-cita kita berlawanan.” Sahut Devina menatap kosong langit-langit kamar berbercak kuning kusam karena air hujan yang berkali-kali menembusnya, tanpa ia sadari airmatanya sudah mengalir lembut dikedua disudut matanya, membentuk aliran kecil.         “Padahal sebelum-sebelum nya kita udah tau bakalan kepisah tapi kaya ah masih lama ini kok, dan ini malam terakhir kita tidur bareng.” Ujar Arin, yang berusaha menahan tangisnya.         “Please jangan nangis dong,” Ucap Vanya kepada dirinya sendiri, ia tidak bisa lagi menahan tangisnya, membiarkan benda cair itu mengalir deras membasahi wajah. Ketiganya berpeluk erat, melepaskan kesedihan yang dirasa cukup menyesakkan, persahabatan yang terjalin erat sejak kecil sudah pasti melekat kuat dalam jiwa masing-masing.         Setelah hampir satu jam menangis mereka akhirnya terlelap secara bersamaan, salah satu lengan Vanya dan Devina bertumpuk diatas badan Arin yang kebetulan berada ditengah. Sampailah suara azan menyeru secara bergiliran dari satu masjid ke masjid yang lain membuat ketiganya terbagun dari tidurnya dan terkejut setelah melihat keadaan mata mereka yang sembab.         “Resiko abis nangis langsung tidur, hasilnya mata bengkak kaya abis dipipisin kecoa.” Ujar Devina saat  mengompres matanya dengan air hangat.         “Iya, jadi keliatan aneh. Hehe, tapi lucu juga.” Sahut Arin, ia menertawai wajahnya sendiri  saat melihatnya melalui pantulan cermin, menurutnya itu sangat lucu.         “Yang penting masih bisa kebuka, amanlah.” Jawab Vanya yang tidak peduli sama sekali.         Waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi, mereka segera bergegas menuju stasiun untuk mengantar Vanya dengan menggunakan angkutan umum. Mereka saling menatap satu sama lain seperti enggan untuk berpisah, sesampainya di stasiun mereka langsung berlari karena hampir terlambat.         Sebelum Vanya memasuki kereta ia memeluk kedua sahabatnya terlebih dahulu, memberi salam perpisahan lalu berpelukan, mengucapkan janji untuk selalu menjaga persahabatan selama-lamanya.         “Pokoknya, walaupun kita berjauhan kita harus jaga komunikasi.” Ujar Vanya dalam pelukan kedua sahabatnya.         “Pasti Nya, pokoknya kita gak boleh jaim kalo emang kita lagi butuh bantuan atau teman curhat.” Sahut Arin.         “Iya, gak akan ada yang berubah meski udah gak tinggal sama-sama lagi.” Ungkap Devina.         Vanya memasuki kereta sambil menangis, tak lama kemudian kereta menuju Jogja itu melaju secara perlahan. Meninggalkan Devina dan Arin yang terus melambaikan tanggan kepada Vanya sambil tersenyum lebar.         Kereta pun menghilang dari pandangan keduanya, ada perasaan aneh ketika mereka hanya berjalan berdua saat kembali ke kosan. Sulit melepas Vanya sebenarnya, apalagi ia adalah sosok yang humoris, banyak sekali kenangan indah bersamanya.         “Sepi ya Rin kalo gak ada Vanya,” Ujar Devina menghampiri Arin yang sedang duduk menghadap jendela, lalu duduk di sampingnya. Menyadari keberadaan Devi, Arin pun menoleh.         “Iya Dev, aku juga ngerasa ada sesuatu yang hilang gitu pas dia pergi. Terus nanti sore giliran kamu yang pergi,” Balas Arin, suaranya memelan tepat dikalimat terakhir dengan kepala terdunduk.         “Makin kosong rasanya kalo gak ada kamu Rin,” Kata-kata Devina mengundang kembali kesedihan sahabatnya.  Arin pun menangis sambil memeluknya lagi.         “Ahh Devi,” Sahutnya dalam pelukan Devina.          “Baik-baik ya Rin disana, maaf aku gak bisa nganter kamu.” Ungkap Devina, sambil mengelus kepala Arin dengan lembut.         “Iya, gak papa Dev.” Jawab Arin singkat. ia tidak tau lagi harus berkata apa,  karena pilu yang  mengusai dirinya. …..         Dikarenakan Arin akan pindah ke Bandung  ia mengambil semua tabungan yang sudah di kumpulkan selama bertahun-tahun, uang itu sebagian ia gunakan untuk keperluan kuliah, sebagian lagi untuk modal dan membayar sewa kosan selama satu tahun. Arin juga sudah menentukan universitas mana yang akan ia ambil.         Dibandung Arin sering memperhatikan beberapa anak disekitar kosan yang mencari uang setelah pulang sekolah, ada yang mengamen atau berjualan kantong plastik dipasar, karena orang tua mereka tidak mampu membiayai keperluan sekolah anak mereka secara keseluruhan. Arin merasa diingatkan kembali tentang masa kecilnya saat dipanti.           Arin anak yang kreatif dalam membuat kerajinan tangan, ia bisa menyulam dan merajut, semua keahlian itu ia dapat dari bu Aminah salah satu pengurus panti sekaligus guru seni budaya di sekolah dasarnya dulu, Keahlian itu ia manfaatkan untuk membuat beragam jenis aksesoris buatanya yang dibantu anak-anak itu, hingga tidak perlu lagi mencari uang dengan berpanas-panasan. Mereka membantu Arin setelah pulang sekolah dengan syarat mereka harus mengerjakan tugas sekolah terlebih dahulu, mereka adalah Sina, Rani, Via, Dodi dan Ari. Tidak terasa sudah hampir setengah tahun Arin mengembangkan usaha kreatif miliknya, memperkerjakan anak-anak dibawah umur memang bisa dijerat hukum toh ia hanya ingin membantu, lagi pula Arin juga sudah mencari uang dari kecil dan tiada siapa yang peduli.           Selain membantu membuat kerajinan mereka juga ikut menjualnya disekolah, Arin sangat bersyukur karena bisa membantu anak-anak itu. Begitu pun dengan orangtua anak-anak itu merasa terbantu dan berterimakasih kepada Arin karena anak-anak mereka bisa menbantu keuangan keluarga tanpa harus kehilangan waktu untuk bermain dan belajar.           Omset penjualan kali ini terus mengalami peningkatan seiring banyak nya permintaan, sebagai bentuk rasa syukur Arin mengajak Dodi, Via, Sina, Ari dan Rani jalan-jalan ke taman safari, Arin sudah terbiasa dengan anak-anak karena ia pernah tinggal dipanti. Hatinya senang bisa menghadirkan senyum dan tawa caria diwajah mereka.           “Terimakasih banyak ya ka Arin udah bantuin kita, sampai Dodi dan Sina bisa masuk SMP, terus sekarang kita diajak jalan-jalan.” Ujar Dodi tersenyum bahagia.           “Iya ka Arin, Rani juga mau ngucapin terimasih karena Rani bisa tetep sekolah dan cari uang buat bantu ibu tapi gak perlu ngamen lagi,” Ungkap Rani menambahkan.           “Via sama Ari juga mau ucapin terimakasih sama kakak,  sekarang udah bisa beli baju sama tas sekolah baru, jadi gak pake yang bolong-bolong lagi deh,” Tutur Via yang tersenyum lebar sambil memamerkan tas barunya.           “Sina seneng bisa ketemu sama ka Arin, kita bisa lanjut sekolah terus ka Arin juga ngajarin kita banyak hal, Sina sayang banget sama ka Arin.” Ucap Sina, lalu memeluk Arin yang diikuti teman-temannya sebagai bentuk rasa sayang mereka kepada Arin.           “Ia sama-sama tapi terimakasihya jangan sama kakak tapi sama Alloh, yang penting kalian gak boleh patah semangat, dan terus belajar sampai sukses,” Jawab Arin, membalas pelukan mereka yang sudah ia anggap seperti adik sendiri.           Tiada siapapun yang bisa memilih takdir, tidak ada orang yang ingin terlahir miskin, tetapi ingat akan satu hal, Alloh selalu menjamin rizki semua mahkluk asal mereka berusaha. Itulah prinsip Arin ketika memulai usaha sederhananya itu. .....           Bisnisnya tidak melulu berjalan baik, sering kali Arin mendapati kendala baik dalam proses produksi maupun pemasaran, tapi Arin tidak menyerah ia selalu menganggap semua kendala adalah proses, dan hasil itu urusan Alloh yang paling penting ia sudah berusaha semampu yang ia bisa.           Bisnis online mulai merebak, tentu Arin tidak mau melewatkan kesempatan, bersyukur kali ini ada kakak Rani yaitu Rina yang ikut membatu Arin di toko aksesorisnya, Rina sangat cekatan dalam bekerja, tidak salah Arin memilih Rina untuk meng-handle toko jika ia sedang ada urusan dikampus.            Permintaan aksesoris yang terus meningkat sejak ia menjualnya secara online. Karyawan di toko nya pun makin bertambah yaitu Dian dan Jani yang membantu proses produksi, Nuri yang bertugas untuk mencatat dan mengemas pesanan online dan Dani yang bertugas untuk melayani pesanan offline.            Keuangannya kian menebal, Arin bersyukur bisa membeli Ruko dan kendaraan untuk mempermudah bisnisnya, setelah hampir dua tahun ia merintis usahanya itu. Arin juga senang bisa membantu orang-orang yang membutuhkan pekerjaan, tidak lupa ia menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membatu adik-adiknya dipanti. …..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD