MENCINTAI dia sungguh sulit. Telah banyak air mata yang jatuh. Aku tidak bisa membencinya sebab rongga dadaku terus-menerus berteriak cinta. Mencintainya terasa rumit. Aku ingin dia membalas perasaanku sama besar tapi itu bukan sesuatu yang pantas aku angankan. Impian untuk dicintai sangat tak mungkin. Sampai jasadku hilang dimakan tanah barangkali cintanya untukku tidak akan pernah ada. Aku ingat cerita Mami tentang kisah istri pertama yang selalu tegar saat melihat suaminya memedulikan wanita lain yang tidak lain istri kedua sang suami. Aku ingin menjadi istri yang tegar, kuat, dan pantang menangis walau sesakit apa pun kehidupan rumah tangga yang kujalani. Namun, aku belum mampu setegar itu. Diam-diam aku menangis. Hanya sehari aku dia berikan kesempatan tertawa menikmati keindahan a

