AKU mendiamkan Lian sepulangnya kami ke apartemen. Setelah menyusun belanjaan, aku menarik selimut untuk tidur membelakanginya. Jujur aku tidak tahu kenapa merasa sakit melihat dia berciuman dengan kekasihnya. Seharusnya aku biasa saja sebab selama ini telah terbiasa dengan hubungan mereka. Aqila dulu sering menceritakan kepadaku bagaimana cara Lian menciumnya. Oh Tuhan, jangan ingatkan lagi. Ketika terbangun paginya, Lian memeluk tubuhku dari belakang membuat kemarahanku memudar. Lian bangun dengan gegas. Dia mengemas beberapa pakaian kami ke dalam koper. Lelaki yang baru saja mengkhianati pernikahan kami itu mengambil surat-surat penting dari dalam lemari dan menyimpannya ke dalam koper. Dia juga mengambilkan jaketku dan memasangkan ke tubuhku secara tergesa-gesa. Lalu dalam diamnya

