“AKHIRNYA Mami dapat cucu!” seru Mami begitu aku tiba. Pelukan Mami jadi sambutan begitu aku masuk ke rumah. Dengan begini aku bisa menginjak bumi lagi. Aku merasa masih hidup dalam dunia yang waras di mana Mamiku ada. Bukan dunia gila di mana ada Lian yang ingin mengambil anakku. “Bawa Siwi ke atas, jangan buat dia stres!” Mami berkata kepada Lian yang sejak tadi berdiri di belakangku. Aku menaiki anak tangga satu per satu menuju kamar di lantai dua. Kecepatanku untuk sampai lebih cepat dari biasanya. Bagai dikejar setan karena orang itu mengikuti. Ketika akan mengatupkan daun pintu, sebuah tangan menghalangi. Lian Wiratama Juanda, suamiku. Aku tidak ingin melihat wajahnya, berbicara, dan bersentuhan dengannya. Semakin kuat mendorong, makin keras dia menahan hingga sebuah teriakan

