Jenny dan mamanya bertukar pandang sambil mengulum senyum melihat Arfa menghela nafas saat lagi lagi bukan Ayu yang keluar dari dapur.
“ Ayu ngapain dibelakang ?” mama akhirnya menyerah.
“ Bikin sambel, bu.” sahut Imas dan kembali ke dapur.
Jenny menggigit bibir menahan tawa ,” Jenny mau bantuin ya Nek ?”
“ Pergilah.” sahut Nenek.
“ Ay …. dibantuin apa nih ?”
Ayu tersentak, menghembuskan nafas saat tahu Jenny hanya sendiri ,” Gak usah bu ….Sudah hampir kelar kok.” sahutnya sambil kembali menghaluskan sambel di cobek batu.
“ Panggil bu lagi, aku jitak loe.”
“ Ish …. trus gimana dong ?”
“ Panggil nama aja.”
“ Udah kebiasaan. Ntar kalau di kampus gimana ?”
“ Terserah, pokoknya jangan panggil bu diluar kampus.”
Ayu mengangkat bahu.
“ Eh …. kamu marah ya ? Karena kami gak bilang dari awal ?”
“ Emang boleh marah ? Anak kecil mah bebas dikerjain.”
Jenny memeluk gadis yang memajukan bibirnya itu Apa abang bisa tahan dengan gadis menggemaskan seperti ini …. ha ha ha …. bisa uring uringan dia kalau terus menerus menahan diri.
“ Bu …..” Ayu menggerakkan bahunya.
“ Panggil apa kamu ?”
“ Kak … Mbak …. teteh …. ?”
“ Panggil nama ajalah …. cuma beda dua atau tiga tahun doang.”
Ayu mengangkat bahu ,” Ayo, sambelnya sudah siap.” dicucinya tangan sebelum membawa cobek ke ruang makan ,” Kek, mau makan sekarang ?”
“ Ayolah ….” kakek mendahului berdiri.
“ Kok diem aja sih ?” Arfa menahan lengan Ayu.
“ Emang harus ngomong apa, Pak ?”
“ Emang aku bapakmu ?”
“ Mungkin.” sahut Ayu sekenanya ,” Sudahlah, yang lain udah nunggu.”
Arfa melepaskan pegangannya, mengikuti ke ruang makan. Tersenyum melihat Ayu cemberut saat mendapati dua kursi berdampingkan dikosongkan untuk mereka.
“ Ayolah, sudah lapar ini.” Seru papa.
Arfa menerima piring yang sudah berisi nasi ,” Kebiasaan.” bisiknya, tersenyum saat Ayu cemberut dengan wajah memerah ,” Aku juga mau bikin kebiasaan baru.” diletakkanya sepotong ikan goreng di piring Ayu.
Keduanya sibuk dengan dirinya tanpa menyadari penghuni meja makan lainnya bertukar pandang sambil tersenyum. Membiarkan Arfa dan Ayu makan dalam diam sementara suasana meja makan begitu ramai.
Arfa menarik tangan Ayu lembut, mengajaknya meninggalkan ruang tengah saat Jenny berlalu ke ruang tamu untuk menerima telepon dari tunangannya.
“ Apaan …" Ayu menarik tangannya, ikut duduk di ayunan besar di teras samping saat Arfa menepuk dudukan disebelahnya.
“ Maaf ya ….. Maaf aku tidak langsung memperkenalkan diri.”
“ Orang tua mah bebas ….”Ayu cemberut.
“ Orang tua … enak aja.” diacaknya rambut Ayu, menarik nafas saat aroma segar yang mulai dikenalinya menguar lembut “ Hari ini atau beberapa hari lagi Opa pasti akan membicarakan ini dengan kakek, nenek atau bisa jadi langsung membicarakannya denganmu.”
“ Membicarakan apa ?”
“ Mereka mencoba memberikan pilihan terbaik sebagai calon istriku.”
Ayu tersedak, Arfa menggosok dan menepuk lembut punggungnya sampai nafas Ayu kembali normal,” Maksudnya menjodohkan ….” dengan pandangan ngeri ia menunjuk dirinya dan lelaki disampingnya.
Arfa mengangguk ,” Dan setelah beberapa bulan ini mengenalmu, aku tidak keberatan sama sekali.”
Hening …. Ayu sibuk mengatur nafas dan berusaha untuk tidak kabur ,” Kenapa ? Apa Pak Arfa gak bisa cari sendiri ? Apa Bu Jenny atau Pak Rayyan juga dicarikan jodoh seperti ini ?"
“ No …., mereka menemukan jalannya sendiri. Orang tuaku bukan tipe seperti itu.”
“ Lalu Bapak ?”
Arfa menghela nafas ,” Aku bisa cari sendiri, percayalah … kedepannya kamu akan mendengar begitu banyak perempuan yang akan mengatakan pernah dekat dan menjalin hubungan denganku.”
Tentu saja …. dengan tampang, pekerjaan, harta dan keluarga Raharsya yang menempel padamu.
“ Tapi mereka keluargaku, mereka semua terlalu mengenalku untuk mengetahui tidak ada dari mereka yang bersama hatiku. Pada dasarnya aku posesif, dan semua yang pernah terjadi pada keluargaku, termasuk padaku membuat aku menjaga jarak dari semua, secara perasaan. Kecuali pada orang orang tertentu.”
“ Atau karena sudah masuk usia kejar tayang ?”
Arfa tersenyum ,” Mungkin …” sahutnya ringan ,” Tapi aku lebih percaya pada keinginan orang tua memberikan yang terbaik bagi anaknya.”
“ Dan bapak tahu itu saya ?”
“ Opa sempat menyebut cucu kakek, tapi sebenarnya mereka ingin membiarkan semua berjalan sewajarnya dengan memperkenalkan kita. Sejak sekolah menengah aku nyaris tidak berhubungan lagi dengan kakek, kecuali saat pemakaman ayah dan ibumu.”
“ Bapak datang ?”
Arfa mengangguk,” Aku tidak melihatmu saat itu, dan tidak tahu ceritanya bahwa kamu juga ikut dalam kecelakaan itu. Selesai ke makam aku kembali ke asrama.”
“ Tapi bapak udah tahu dari awal semester …. dan bersikap seolah olah gak tahu.”
Arfa menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, lebih pada menahan diri melihat gadis yang memajukan bibirnya ,” Kalau itu, lebih pada pertimbangan Rayyan dan Jenny.”
Ayu menatap Arfa dengan sebal Bagus …. kalian bermain begitu rapi mempermainkanku.
“ Sekali lagi, maaf ….” Arfa meraih tangan Ayu, menggenggamnya erat saat gadis itu berusaha menariknya ,” Rayyan dan Jenny sangat menghargaimu. Mereka takut aku akan bersikap keterlaluan, karena jujur aku sering keterlaluan.”
Ayu menggoyang nggoyangkan kakinya, sedikit merutuki desir lembut diperutnya dan tangannya yang merasa nyaman dalam genggaman tangan besar kecoklatan itu.
“ Mereka ingin aku mengetahui siapa dan bagaimana kamu … jadi aku bisa bersikap lebih bijak kalau toh tetap menolak, mengingat hubungan baik keluarga kita.”
“ Apa bapak gak berpikir sebaliknya, bagaimana kalau saya menolak ?”
Diremasnya lembut tangan Ayu ,” Kalaupun kamu menolak, dengan apa yang aku perhatikan selama ini … dan dari pengamatan adik adik dan oranguaku … kamu akan melakukannya dengan lebih baik dari aku.” kali ini digenggamnya dengan kedua tangan ,” kamu gadis yang tumbuh dengan cinta yang berlimpah, kendati harus kehilangan orangtuamu disaat masih sangat muda. Kamu bisa menyikapi keadaan jauh lebih dewasa dari umur dan tingkahmu …..”
“ Maksudnyaaaaa ?” Ayu melotot.
Arfa tertawa ,” Tingkahmu kekanakan, bahkan untuk usia dua puluhmu.”
“ Enak aja …..”
Tawa Arfa reda ,” Jadi … mau terima atau tolak ?”
“ Kalau saya nolak ?”
“ Menolak aku atau menolak dijodohkah ?”
“ Emang masih musim dijodohkan seperti ini ?”
“ Tolak aja kalau begitu. Dan aku akan mengejarmu, murni sebagai laki laki yang mengejar perempuannya.”
“ Kalau menolak personilnya ?”
Arfa menatap dalam gadis disampingnya ,” Kamu meremehkan aku. Dengan pengalamanku … aku akan membuatmu jatuh cinta.” Suaranya terdengar dalam saat mengucapkan kalimat terakhir.
Ayu begidik dan terdiam beberapa saat sebelum menghentakkan kaki ,” Aaaah …. itu sih sama aja.”
Arfa tertawa, beranjak menjauh mumpung masih bisa menahan diri untuk tidak memeluk gadis itu ,” Pelan pelan aja …. pastinya kakek juga ingin kamu lulus dulu.”
“ Habis lulus aku pengen kerja yang bener, ngajak kekek nenek jalan ….”
“ Kamu tahu semua perempuan di keluargaku bekerja, kecuali Oma karena opa juga sudah pensiun.”
“ Aku masih kecil ….”
“ Kalau begini ngakunya kecil.” sahut Arfa geli ,” Kan sudah dibilang, kita masih punya waktu. Teman seusiamu sudah pacaran bahkan bisa lebih dari sekali. Jadi kita bisa pacaran aja dulu …...”
“ Iiiih … orang pacaran itu karena yakin akan perasaannya .”
“ Kamu sendiri yang pernah pacaran hanya karena gak ingin jadi obat nyamuk” tergelak ketika Ayu menutup wajahnya ,” Deal ?”
“ Nggak …..” Ayu setengah berlari meninggalkan Arfa.
“ Aku gak akan menyerah.” serunya dibalas leletan lidah Ayu. Arfa membiarkan gadis itu menghindari berbicara maupun bertatapan dengannya sampai saat keluarganya pamit. Diusapnya rambut Ayu kendati gadis itu mendengus sambil cemberut.