Tamu Istimewa

570 Words
Sementara itu dari dalam mobil besar di pinggir jalan. “ Ngapain berhenti … masuk aja.” Opa menatap cucunya. “ Opa, Abang lagi terkesima melihat Ayu.” ledek Jenny dari bangku belakang. Ikut tersenyum melihat pemandangan di beranda. Opa menghela nafas ,” Anak itu tidak pernah kekurangan perhatian dan kasih sayang sepanjang hidupnya, jangan sampai kamu membuatnya kekurangan perhatian. Kurangi sikap cuekmu.” “ Jangan meminta anak gadis orang sebelum yakin bisa membahagiakannya lebih atau minimal sama dengan yang diberikan orangtuanya.” sahut papanya ,” Itu pesan opa ke papa dulu.” Jenny terkikik di belakang ,” Halooooo …. kita kesini nganter undanganku atau mau langsung lamaran buat abang sih ? Serius amat …..” Arfa tertawa pendek dan memasukkan mobil ke halaman. “ Itu mereka datang ….” Kakek dan Nenek bergegas menyambut sahabatnya, berpelukan sebelum mama papa ikut bergabung. “ Opa, oma … Tante, om apa kabar ?” Ayu bergantian mencium tangan mereka. Ia memang pernah bertemu mereka beberapa kali saat mengantar kakek nenek. “ Katanya cucumu ikut …. Yang mau menikah itu Jenny ?” Ayu menggigit bibir melihat Jenny dan Arfa turun dari mobil sambil membawa beberapa kantong ,” Bu … Pak …" sapanya pelan. “ Apa kabar, Kek … Nek …" Jenny mendahului mencium tangan kakek dan nenek sementara Arfa mengulurkan bawaannya pada Ayu sebelum melakukan hal yang sama. “ Ini … calon suamimu ?” kakek menatap Jenny dan Arfa bergantian. Tanpa sadar Ayu menahan nafas. Arfa tertawa ,” Kakek ….. ini Arfa. Buyung …..” Kakek menatapnya lama ,” Astagaaaa ….... ini Buyung yang suka ngenyot jempol itu. Sudah berapa puluh tahun kamu gak ketemu kakek ?” dipeluknya Arfa erat. Arfa ganti memeluk Nenek ,” Masakan nenek apa masih seperti dulu ?” “ Kalau tahu kamu ikut nenek masakin sayur kesukaanmu. Lain kali kesini bilang bilang ya … nenek siapin.” “ Tenang aja Nek …. kayaknya Abang .bakal sering kesini kok.” Jenny tiba tiba mendorong Ayu dengan bahunya Ayu tersentak, masih bingung harus bereaksi seperti apa ,” Apa sih Bu ….” “ Kok Bu ?” Nenek menatap Jenny dan Ayu. Jenny tersenyum ,” Ayu kan mahasiswaku, Nek … mahasiswa Kak Rayyan dan akhir akhir ini Bang Arfa. Walaupun cuma satu semester.” Perhatian Ayu teralihkan mendapati kakek dan Opa saling bertukar pandang sambil tersenyum penuh makna. Tiba tiba bulu keduknya meremang. “ Jadi kalian sudah saling kenal nih ? Jenny, kamu gak tahu kalau Ayu cucu kakek ?” “ Tahulah …. “ Ayu menatap Jenny yang tersenyum jahil, beralih pada Arfa yang tersenyum tipis sambil mengangkat alisnya ,” Menyebalkan.” ujarnya tanpa suara. Cemberut ketika lelaki itu menepuk lembut ujung kepalanya. “ Ayo masuk …" putus kakek, membawa rombongan kecil itu langsung ke ruang tengah. Ayu meletakkan kantong di meja sudut sebelum berlalu ke dapur tanpa suara. Aaaargh …. kok jadi seperti ini ? Kenapa aku tiba tiba takut dengan pandangan kakek sama opa tadi ? Jadi apa maksudnya ….. “ Airnya sudah mendidih.” Ayu tersentak, tersenyum pada Imas ,” Mbak, anterin kedepan gih …. tolong.” “ Ih, kok mbak …. kamu anterin sana. Eh … cowok ganteng itu dari tadi gelisah ngelihat kamu gak keluar keluar.” “ Berisik.” “ Beneran ….” “ Udah.” tukas Ayu sambil menyodorkan nampan ,” Anter minumnya, aku mau siapkan sambelnya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD