Makanya, Pacaran Sana

597 Words
Hari masih pagi, tapi Ayu sudah sibuk di dapur bersama neneknya. Harum masakan memenuhi dapur yang menghadap halaman belakang itu. “ Siapa yang mau datang sih, Nek ?” “ Sahabat kakekmu, dan putranya dulu sahabat ayahmu sejak kecil.” “ Kok gak pernah dengar ceritanya.” Nenek menatap sekilas cucunya yang sibuk menghaluskan bumbu ,” Pernah, Keluarga Raharsya.” Ayu memajukan mulutnya membuat o panjang ,” Yang keluarga sukses itu ?” “ Ya … bukan karena apa yang mereka miliki.” “ Tapi bagaimana mereka memiliki itu, bagaimana keluarga mereka bangkit dari keterpurukan bersama sama.” sambung Ayu ,” Ayu udah sering dengar kalau yang ini.” “ Ini masakan favorit keluarga mereka.” “ Tumben mereka kesini, Nek … biasanya kan kakek nenek ketemu kalau lagi kumpul rutin.” “ Entahlah, nenek dengar mereka mau menikahkan cucunya, mungkin sekalian mengantar undangan.” Ayu mengguman ,” Cobain nek, kurang apa ?” “ Tambah sedikit lagi kunyitnya,” “ Nih, ikannya sudah dibersihkan.” Kakek masuk sambil membawa baskom berisi ikan mas ,” Ayu, mana kopi kakek tadi ? Kok udah habis ….” Ayu tertawa ,” Kirain kakek udah gak mau, kopi mana enak kalau udah gak panas.” “ Kebiasaan …. Bikinin lagi.” “ Iya iya …. setelah ini ya … kakek tunggu didepan, Ayu siapin lagi.” nyengir ketika nenek melihatnya sambil geleng kepala ,” Sudah sana ngopi ama kakekmu. Ini tinggal bungkus dan ngukus aja. Nenek mau mandi, biar ini diselesaikan Imas.” Ayu mencuci tangannya ,” Kek …. Ayu mandi sebentar ya …. bau bumbu nih.” “ Iya, kakek juga mau mandi.” Hari beranjak siang, Nenek sibuk membereskan ruang makan dibantu Imas, sementara Ayu memilih tiduran di gazebo berbantalkan kaki kakek sambil mendengarkan lelaki itu mengulang kembali kenangannya bersama Opa Raharsya saat mendekati nenek dan Opa Raharsya mendekati Oma yang merupakan sahabat Nenek. Cerita yang sudah puluhan, bahkan mungkin ratusan kali didengarnya. “ Gak bosen denger cerita ini Ay …" Ayu menggeleng. “ Gak kepingin mengukir cerita sendiri ?” “ Masih lama kek ….” “ Dulu seumurmu nenek sudah …" “ Iyaaaaa …. nenek sudah menikah dan mengandung ayah. Tapi kan dulu nenek gak kuliah.” “ Setidaknya pacaran, teman temanmu sudah jalan ama pacar kamu masih aja pelukan ama kakek.” Ayu cemberut ,” Kakek gak mau lagi ayu peluk begini ? Udah gak sayang ? Aduh ….” teriaknya begitu jemari keriput itu menjentik dahinya. “ Kalo gak bisa cari sendiri, kakek jodohin aja kamu. Gak boleh nolak.” Ayu meleletkan lidah ,” Asal dikasih cerita yang seperti kakek sama nenek atau opa dan oma Raharsya bolehlah ….” “ Bener ya …..” Tiba tiba Ayu merinding mendengar suara kakek berubah serius ,” Ih apaan ….. nggaaaaak.” “ Kamu udah bilang iya.” “ Nenek …... “ Ayu bergegas meninggalkan gazebo, menghampiri nenek yang baru keluar ,” Kakek tuh …. udah gak sayang lagi ama Ayu.” “ Apa sih ?” “ Kakek udah gak mau dipeluk Ayu ….” sambil cemberut berdiri dibelakang neneknya. “ Hei, kamu sudah bilang iya …" Kakek mendekat sambil mengacungkan telunjuknya ,” Dia sudah mau dijodohin.” “ Nggak ….. nek...nggak.” “ Makanya pacaran sana.” sergah neneknya sambil berusaha menghalau Ayu yang menghalangi gerakannya. “ Nek …. masak kakek malah maunya aku peluk laki laki lain. Bilang aja kakek gak mau dipeluk Ayu, maunya dipeluk nenek aja.” sahutnya jahil sambil meleletkan lidah saat sekali lagi kepalanya kena getok.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD