Bagaimana ?

505 Words
Arfa meletakkan jas dan tas disofa sebelum duduk disamping mamanya ,” Drama baru lagi, ma ?” Perempuan parobaya itu mengguman tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi,“ Dari mana ? Kantor ?” “ Tadi cuma ke kantor pagi, trus makan siang sama klien. Ngajar dua kelas sore ini.” “ Kelasnya Ayu, bukan ?” Arfa menarik sudut bibirnya melihat perempuan kesayangannya itu memutar arah duduknya ,”Iya, salah satunya kelas Ayu.” “ Bagaimana ? Sudah berapa kali ketemu ?” Arfa menarik nafas panjang ,” Sabar deh ma … ketemu seminggu sekali, dikelas lagi.” “ Katanya Ayu kordinator kelas, harusnya kamu bisa cari alasan untuk memanggilnya.” “ Ish …. sabar kenapa sih ma.” “ Bang …..” Oma yang duduk di sofa tunggal menurunkan gulungan benangnya ,” Dari beberapa kali ketemu, kesan awalmu bagaimana ? “ Simple.” sahut Arfa cepat. “ Cepet banget jawabnya ?” “ Karena itu kesan yang aku daptkan begitu melihatnya. Dalam beberapa minggu ini gak berubah.” “ Suka ?” Arfa berdecak ,” Setidaknya aku bisa berharap untuk tidak menebak nebak maunya. Dia juga selalu meminta penjelasan kalau ada yang kurang dipahami. Bukan menebak nebak atau sok pintar.” “ Kalau begitu kasih dia tugas yang gak jelas, lalu minta menemuimu sendiri diluar kelas.” Arfa tertawa melihat omanya begitu bersemangat ,” Ya ampun Oma … masak iya yang gitu harus dikasih tahu juga.” “ Bisa dicoba, abang.” Arfa tergelak melihat mamanya juga antusias ,” Semangat banget sih ?” “ Setidaknya kali ini kamu gak menunjukkan penolakan di pertemuan pertama atau kedua.” Arfa meringis, selama ini tiga kali pertemuan merupakan batas untuk mengambil kesimpulan. Kalau mamanya tahu ini, pasti sudah jingkrak jingkrak dan segera mengatur rencana lamaran. “ Ayu, cantik kan ?” Arfa mengangguk samar ,” Natural.” “ Isi kepalanya juga cantik ?” “ Cukup smart ." " Sejauh apa interaksi kalian ?" " Masih sebatas mengamatinya, ma ..." " Sudah berapa bulan ini, amatilah lebih dekat lagi." Arfa mengangkat bahu, berharap mamanya tidak tahu bagaimana dia menunggu hari mengajar di kelas Ayu. " Dia jadi salah satu penggemarmu gak, Bang ?" " Gak ma ...." Jenny mendekat dan mencium ppi mama, oma dan abangnya ," Ayu suka meledek teman sekelasnya yang masuk fansclub abang." Arfa tertawa, senang melihat bagaimana tampang jahil Ayu setiap kali mengumpulkan tugas atau absensi, karena Arfa hanya membuka akses untuknya. " Abang membatasi interaksi diluar kelas dengan mahasiswanya, ma. Bahkan di kelas lain dia sengaja menujuk kordinator kelas laki laki, jadi Ayu dapat perlakuan kusus." " Ribet tahu berurusan dengn gadis gadis seusia itu ... lagi heboh hebohnya." " Ayu heboh gak ?" tanya Jenny jahil " Benerkan aku bilang, dia jauh dari kata genit, centil dan sebagainya." lanjutnya melihat Arfa menggeleng tipis. " Jadi .... mau mengambil satu langkah lagi untuk mengenalnya lebih dekat ?" kejar Oma " Percayalah, Bang ... ngobrol sama Ayu itu mengasyikkan." Jenny menepuk bahu kakaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD