Temui Saya Di Perpustakaan

727 Words
Arfa menyudahi kelasnya, menunggu Ayu menyerahkan absensi dan lembar jawaban quis ," Makalah saya tunggu hari kamis sebelum jam makan siang. Itu akan jadi nilai UTS kalian, jangan ada yang terlambat." ujarnya disambut gerutuan penghuni ruangan. " Ini, Pak." Ayu merapikan lembar jawaban dan absensi kedalam map. " Kamu ada kuliah lagi hari ini ?" " Ada satu lagi setalah makan siang, Pak. Jam satu sampai jam tiga kurang seperempat." " Setelah itu ?" " Kosong sampai jam empat, Pak." Arfa melirik jam tangannya ," Temui saya di Perpustakaan setelah kelasmu selesai." Dia masih bisa makan siang dengan klien dan kembali ke kampus. " Baik Pak, permisi." " Hmm ..." Arfa meraih ponselnya, menghubungi sekretarisnya di kantor ," Sudah reservasi makan siang ditempat yag kemaren ? Saya berangkat kesana sekarang." Sebenarnya bisa saja ia meminta Ayu untuk datang ke cafe yang tidak terlalu jauh dari kampus ini, tapi ia tidak ingin menimbulkan pertanyaan dari gadis itu, Perpustakaan lebih aman, dan lebih sesuai dengan topik pembicaraan mereka. " Sudah lama ?" Arfa menarik kursi dihadapan Ayu, kursi disalah satu sudut diskusi di perpustakaan yang ia minta melalui pesannya pada gadis itu beberapa menit yang lalu. " Baru saja, Pak ... baru selesai juga kuliahnya." Ayu menutup lapotopnya. " Sedang apa, bikin tugas ?" " Iya pak." Arfa megusap tengkuknya, entah mengapa ia semakin risih mendengar panggilan Pak dari gadis dihadapannya itu tapi bisa apa ? ," Ayu memelihara diamnya, menunggu lelaki yang tengah melepas dasi dan melipatnya sebelum memasukkan ke dalam saku celana. Kelihatannya berita yang beredar bahwa Pak Arfa merupakan seorang pengusaha sukses adalah benar. Barang dan pakaiannya walaupun sederhana tampak jelas berkelas. " Sudah terbagi topik setiap kelompok ?" " Sudah, Pak." Ayu mengulurkan kertas bertuliskan kelompok dengan masing masing topiknya. Arfa mengamati sekilas ," Bagaimana penentuannya tadi ?" " Diundi, Pak ... tapi tetap saja yang dapat giliran pertama minta tukar." Ayu terseyum. " Dan kelompok kamu mengalah ?" Arfa melihat nama kelmpoknya ada diurutan pertama. Ayu nyengir ," Ambil kesempatan, Pak. Bukannya materi kelompok satu sampai tiga malah sudah pernah bapak bahas beberapa minggu lalu dengan lebih detail ?" Arfa manrik ujung bibirnya ," masuk akal." " Lalu makalahnya saya kumpulkan di meja Bapak ?" " Iya, kamis sore biar dibawakan Bu Jenny." Ayu mengangguk ," Ada lagi, Pak ?" " Tolong sampaikan pada setiap kelompok untuk memuat resume dari hasil diskusi setiap minggunya." " Resume presentasi atau hasil diskusi termasuk tanya jawabnya ?" " Hasil diskusi, lengkap dengan poin poin tanya jawabnya." sahut Arfa ," Dan itu kumpulkan di kamu saja. Kalau sudah lengkap baru berikan saya diakhir semester." " Baik, Pak." " Ada yang keberatan dengan metode mengajar saya ?" Ayu menggeleng ," Sejauh ini tidak Pak, karena Pak Rayyan pun juga sering melakukan seperti ini. Hanya beda prosentasenya, pemaparan Pak Rayyan lebih banyak." " Atau tentang saya ?" Ayu menggeleng. Kening Arfa berkerut melihat Ayu nampak berusaha keras menahan senyumnya ," Ada apa ? Ada yang lucu ?" " Tidak, Pak ..." Ayu tersenyum ," Gak ada yang keberatan dengan metde dan personal bapak, setidaknya tidak di kelas kami." ... bagaimana mungkin aku katakan kalau mereka lebih antusias melihat sosokmu daripada materi dan metode kuliahmu ... ? Arfa meraih kertas di hadapannya ," Kamu punya salinannya ? Ini saya bawa ya ?" " Boleh Pak, saya ada kok." Arfa melirik jam tangannya ," Hampir jam empat. Kamu ada kuliah lagi " " Bukan, Pak ... saya hanya harus bergeser ke kegiatan lain." " Kemana ? Mau bareng keluar ?" lanjutnya saat Ayu menyebutkan tujuannya ," Itu searah dengan saya pulang." Ayu menggeleng cepat ," Gak usah, Pak ... terima kasih." " Baiklah." Ayu membereskan barangnya ," Kalau begitu saya permisi dulu, Pak. Selamat sore." " Sore, terima kasih." " Sama- sama, Pak. Permisi." ujar Ayu lalu bergegas meninggalkan perpustakaan. " Keluarlah." ujar Arfa begitu Ayu meinggalkan tempat. Jenny tersenyum dan duduk dikursi yang tadi ditempati Ayu ," Pembicaraan seperti itu gak perlu pertemuan khusus kali, bang." " Berisik." " Asyik anaknya, kan ?" Arfa membereskan barangnya," Ayo, pulang." " Antar aku ke rumah sakit, ya ?" " cck ... jangan terlalu sering mendatangi tempat kerjanya." " ish ... aku mau nengokin Bu Ratih, mau ikut ? Pasti langsung sembuh kalau kamu tengokin." Arfa mendengus ," Biar saja istirahat lebih lama, jadi mejaku sedikit tenang." Jenny tertawa. lalu mengikuti langkah panjang kakaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD