Aku Tidak Keberatan

1064 Words
Ayu mengatur nafasnya yang sedikit memburu setelah berlari dari halte menghindari hujan. Dikibaskannya butiran air di jaketnya sebelum melipat dan menyampirkan di lengannya. “ Selamat siang, ada yang bisa dibantu ?” Sapaan ramah menyambut Ayu saat pintu terbuka. “ Siang mbak, mau ketemu dengan pak Arfa. Dari Ayu, mahasiswanya.” “ Sudah ada janji ?” tanyanya sambil mengangkat gagang telepon “ Tadi pak Arfa pesan diminta mengantarkan tugas kesini sebelum makan siang.” Perempuan dengan senyum ramah itu mengangguk dan bicara pelan pada seseorang diujung telepon ,” Naik aja ke lantai tujuh ya mbak …. keluar dari lift nanti ke kanan. Itu lift nya, dan ini tanda pengenal. Bisa minta tolong isi buku tamu dulu mbak ?” Ayu mengangguk dan berlalu setelah mengisi buku tamu. Kelihatannya bukan kabar burung kalau dibilang pak Arfa pengusaha sukses. Kenapa juga dengan kesibukannya masih mau menggantikan Pak Rayyan … pasti mereka dekat sekali. Apa benar perkiraan Aldo tentang hubungannya dengan bu Jenny ? Ah …. kenapa juga aku memikirkannya ? Bukan urusanku ini.... Ayu menepuk dahinya, menarik nafas saat pintu lift terbuka di lantai tujuh. “ Ayu ? Mari silahkan.” satu lagi perempuan dengan senyum ramah tetapi lebih serius menyambutnya saat mencapai ruangan di ujung koridor. “ Terima kasih,” ujar Ayu sambil mengikuti tubuh semampai dengan penampilan sempurna itu. “ Pak … mbak Ayu sudah disini.” dibukanya pintu setelah mengetuknya pelan ,” Silahkan masuk.” tersenyum sambil kembali menutup pintu setelah Ayu masuk. “ Siang, Pak.” Arfa mengangkat kepalanya, tersenyum tipis pada gadis yang masih berdiri di dekat pintu ,” Siang Ayu … duduklah.” digerakkannya leher yang terasa kaku sambil berjalan ke sofa tamu. Kelihatannya lelah sekali ….. tapi sial, kenapa makin keren dengan tampang begini … Ayu menarik nafas menghilangkan pikiran yang mulai aneh aneh dengan menunduk mempermainkan ujung tas nya. “ Maaf ya, ngrepotin kamu untuk mengantar kesini.” dilambaikannya tangan pada setumpuk dokumen diatas meja kerjanya ,” “ Gak apa apa pak, kebetulan hari ini cuma ada kuliah pagi.” “ Materimu hampir habis ya ?” “ Iya pak … tinggal dua mata kuliah semester depan. Mudah mudahan bisa nyicil tugas akhir,” “ Great.” …. Dan saat itu semakin dekat …, mungkin sudah waktunya kami memperkenalkan diri secara jelas. Mungkin event pernikahan Jenny bisa dijadikan moment.... “ Ini, Pak ….” Ayu meletakkan sebundel berkas dalam amplop coklat ,” Sudah lengkap semua.” ujarnya saat Arfa hanya diam. Arfa sedikit tersentak ,” Maaf. Terima kasih ya …. tinggal ngantri memasukkan nilai. Ada tiga kelas lagi yang akan diantar hari ini. “ Bang …..” pintu terbuka “ Bu Jenny ….” “ Hai Ayu …..” Jenny meletakkan tiga bendel berkas ,” Tega ya kamu suruh mereka menyerahkan ke aku, berat tahu.” Sambil manyun duduk disamping Arfa. “ Cuma segitu aja, jangan manja.” tangannya mengacak rambut Jenny yang tengah bersandar dibahunya ,” Gak malu dilihat Ayu ?” Jenny meringis dan mengecup pipi Arfa ,” Nggak, dia yang malu ngelihatnya. Tuh mukanya merah.” ditunjukknya Ayu yang sibuk mengalihkan pandangan dengan muka memerah. Arfa tertawa, menahan diri untuk tidak menyentuh pipi yang makin memerah itu ,” Dasar. Udah makan siang ? Kita makan siang bareng aja.” “ Ayu, kamu temani Pak Arfa makan siang atau kalau gak dia tenggelam dimeja kerjanya. Aku mau makan siang di rumah sakit … setelah itu mau perawatan ke salon. Bye.” ditepuknya bahu Ayu masih diam dengan pandangan bingung. “ Ada yang mau kamu tanyakan ?” Arfa menatap Ayu lekat lekat Ayu menggeleng ,” Tidak pak ….” “ Tentang saya dan Jenny ?” Ayu menggeleng ,” Bukan kapasitas saya untuk bertanya hubungan pribadi bapak dengan bu Jenny.” ujarnya, dengan penekanan lebih pada dirinya sendiri yang merasa sedikit tidak nyaman atas pemandangan dihadapannya barusan. Baiklah …. kami akan bermain main sebentar denganmu sampai acara Jenny. “ Kita pesan aja ya … sambil nunggu bisa kamu bantu memasukkan nilai kelas lain yang sudah saya periksa ? Kamu mau makan apa ?” “ Apa saja, terserah bapak.” “ Mia, pesankan makan ditempat biasa untuk dua orang. Tambahkan es kelapa muda jeruk.” diangkatnya alis saat Ayu menatapnya ,” Aku beberapa kali melihat kamu membawanya dalam kemasan plastik.” dibawanya sekaligus dua amplop coklat dan laptopnya ,” Nih ….” dibukanya file yang dimaksud .” carilah tempat senyaman mungkin. Bisa saya lanjutkan pekerjaan sebentar ?” Ayu mengangguk, berpindah ke sofa panjang dan menumpuk berkas di sebelah kirinya. Menyamankan diri memangku laptop dan mulai memasukkan nilai dengan konsentrasi yang dipaksakan penuh untuk melupakan keberadaannya berduaan dengan lelaki ini. Ponsel dimeja Arfa bergetar .. Mama : Jenny bilang Ayu di kantormu Arfa : Iya, mengantarkan tugas kelasnya Mama : Jenny bilang kelas lain dititipkan padanya Arfa : Dasar ember Mama : Mau memperkenalkan diri sekarang ? Arfa : Belum, ma …. tunggu, dia pikir aku tunangannya Jenny Mama : Mulai jahil Arfa : Oma jadi mengundang Nenek Ayu pernikahan Jenny secara langsung kan ? Mama : Ya Arfa : Aku ikut pas nganterin undangan. Mama : Mau jadi pihak laki laki yang mendatangi calon mempelainya Arfa : Terlalu cepat ma …. dia masih anak anak Mama : Saat selesai kuliah dia sudah duapuluh satu menjelang duapuluh dua Arfa : terserah mama sajalah, beri waktu … beri kesempatan Ayu berpendapat. Mama : Kalau kamu ? Masih mikir mikir ? Masih mau menyelidikinya lebih lanjut ? Arfa tersenyum, menatap gadis yang nampak serius dihadapannya. Sesekali menyelipkan helaian rambut yang tergerai ke belakang telinganya. Arfa : Aku gak keberatan. Sudahlah, masih banyak pekerjaan. Nanti aku makan malam kesana, masakkan semur daging ya …. Mama : Baiklah, mama gak akan ganggu kalian berduaan Arfa tertawa kecil sambil menatap ponselnya, Ayu mengangkat kepala menatap sumber tawa kecil itu … Wajah yang biasanya tenang itu nampak sedikit malu malu. Dihembuskannya nafas dan kembali melanjutkan pekerjaannya Kenapa juga aku harus medapatinya dalam situasi yang sangat pribadi seperti ini ? Dan mengapa kelas lain dititipkan sementara aku harus kesini ? Ah … sudahlah jangan mikir macam macam. Ayu menggerutu pada dirinya sendiri. Berusaha berkonsentrasi pada pekerjaannya. Arfa mengulum senyum melihat ekspresi wajah Ayu yang berubah ubah, antara jengah, bingung dan kesal. Kelihatannya gadis itu senang berbicara dengan dirinya sendiri., gemas melihat bibir gadis itu bergerak gerak lucu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD