Mia membuka pintu setelah mengetuk pelan, masih sempat mendapati bagaimana bossnya mengulum senyum sambil menatap gadis yang nampak sibuk di sofa sebelum keduanya mengangkat wajah ,” Makan siangnya.” Diaturnya makanan di meja makan kecil dipinggir jendela kaca lebar.
“ Ada yang bisa dibantu,mbak ?” Ayu menghampiri.
“ Sudah siap kok, selamat makan.” Mia tersenyum sambil mengamati sekilas gadis diisampingnya.
“ Mbak ikut makan ?”
Mia menggeleng ,” Saya makan siang dibawah, Pak Saya makan siang sambil jemput Alif.”
Arfa mengangguk ,” Makasih, Mia.” ditariknya kursi ,” Duduklah,” ujarnya melihat Ayu masih berdiri dengan kikuk.
“ Cuma buat kita ?”
“ Iya … kurang ?”
Ayu menggeleng sambil duduk ,” Banyak banget. Saya pikir tadi Mbak Mia ikut makan.”
“ Dia lebih sering makan bareng suami sambil jemput anaknya sekolah.” Arfa meneguk minumnya ,” Gak sesuai seleramu ? Kok dari tadi dilihatin aja ?”
Ayu berdehem, meraih centong nasi ,” Lagi pak ?”
Arfa menatap piring yang disodorkan Ayu ,” sedikit lagi, itu porsi gadis lagi diet.” sahutnya sambil tersenyum ,” Makasih.”
Ayu menutup mulutnya menyadari Arfa menatapnya dalam ,” Maaf …. kebiasaan.”
“ Apanya ? Mengambilkan nasi begini sudah menjadi kebiasaan ?” ditatapnya wajah yang lagi lagi memerah.
Aduuuh …. semoga pak Arfa gak berpikir macam macam ….
“ Lagi mikirin pacarmu ya ?”
“ Nggak Pak …..”
“ Sudah punya ?”
Ayu menggeleng.
“ Dekat dengan seseorang ?”
Ayu kembali menggeleng sambil menyendok nasi ke piringnya ,” Terima kasih.” ujarnya saat Arfa menyedokkan sayur dan meletakan potongan lauk di piringnya.
“ Lalu kebiasaan sama siapa ?”
Ayu menelan ludah ,” Kakek dan almarhum ayah. Itu yang diajarkan nenek dan almarhum ibu.”
“ Orang tuamu sudah almarhum ?”
“ Sejak saya kelas tiga SMP, kecelakaan.”
“ Maaf.”
Ayu tersenyum ,” Sudah takdirnya.”
“ Jadi kamu tinggal bersama kakek nenekmu ?”
“ Sebelum kuliah. Sekarang saya tinggal di asrama kampus.”
“ Pulang berapa kali sebulan ?”
“ Setiap Jumat sore sepulang kerja, kalau tidak ada acara khusus.”
“ Kerja ?”
“ Sambilan pak, di tempat kursus untuk anak SD SMP.”
Arfa meletakkan gelasnya, menatap piringnya yang bersih. Sudah lama ia tidak menikmati makan siang dengan santai seperti ini.
“ Biarkan saja …" cegahnya saat Ayu mulai membereskan piring ,” Kebiasaan juga ?”
Ayu tertawa kikuk, menumpuk piring dan mangkuk kotor ditengah meja ,” Saya lanjutkan sebentar Pak ….” segera beranjak ke sofa, menggigit bibir saat Arfa duduk di sampingnya dengan kaki terjulur santai. Samar harum parfumnya menguar lembut.
“ Waktumu jadi terbuang disini.”
Ayu melirik sekilas sambil tersenyum tipis ,” Gak masalah Pak, saya kosong hari ini.”
“ Jenny dan Rayyan sempat menyebut kamu menolak beasiswa ke luar negri.”
“ Ya …., “ bertanya dalam hati mengapa mereka membicarakan dirinya.
“ Kalau kampus sudah merekomendasikan, bukannya itu kesempatan ?”
Ayu menarik nafas panjang ,” Saya sadar bukan Maudy atau Rio … bisa mempertahankan beasiswa lokal sampai sejauh ini saja saya harus belajar tiga kali lebih keras daripada mereka.”
“ Keberatan belajar lebih keras lagi ? Menyerah untuk jadi nomor satu ?”
Ayu tertawa kecil sambil menggeleng ,” Saya gak berpikir untuk selalu menjadi nomor satu, karena … itu artinya saya harus mencurahkan semuanya untuk itu. Saya gak mau, prioritas saya bukan itu.”
“ Apa ? Kalau boleh tahu “
Mata bulat coklat itu melembut seperti anak rusa ,” Kakek dan nenek … Saya udah kehilangan kesempatan bersama orang tua saya. Saya gak mau menghabiskan waktu sampai tidak punya waktu untuk mereka.”
“ Tapi kamu memilih tinggal di asrama.”
“ Karena kalau saya tinggal dirumah, mereka akan sibuk memanjakan saya dan kehilangan waktu untuk diri mereka sendiri. Sudah cukup sering melihat kakek dan nenek tidak jadi pergi dengan teman temannya, atau sekedar pergi berdua hanya karena tidak mau meninggalkan saya sendiri dirumah.”
“ Saat tinggal bersama mereka bukannya kamu sudah cukup besar untuk sesekali ditinggal sendiri ?”
Ayu mengusap bahunya yang kembali terasa ngilu tanpa sebab ,” Kecelakaan yang menewaskan orangtua saya menyebabkan saya menyelesaikan SMP dari tempat tidur.”
Arfa menggenggam tangan yang masih mengusap bahu itu ,” Maaf, saya gak bermaksud ….”
Dan sekarang ngilu itu menjalar sampai ke perutku ….. Beringsut gelisah ,” Gak apa apa, pak. Semua sudah lewat.”
“ Fokus ke kakek dan nenekmu itu juga jadi alasan untuk tidak punya pacar ?”
Perlahan wajah Ayu memerah ,” Gak juga ah … Belum bisa bagi fokus aja mungkin.”
“ Pernah pacaran ?”
“ Apaan sih Pak ?”
“ Pernah ?”
Ayu mengangguk
“ Lama ?”
Ayu menggeleng ,” Beberapa bulan saja … karena ternyata sama aja rasanya dengan berteman dekat seperti Leon, Aldo, Rika atau Rani.”
“ Kok bisa sama ?”
Ayu mengangkat bahu ,” Nyatanya begitu, dan dia selalu komplain saya perlakukan sama. Jadinya yaaah “
“ Lha kalau begitu ngapain diterima, non .”
Ayu mengeryitkan hidung ,” biar gak jadi obat nyamuk terus.” terkekeh geli menertawakan dirinya sendiri.
Arfa tergelak, mengacak rambut Ayu dengan gemas.
Ayu tercekat, segera membereskan berkas yang sudah selesai diimputnya. Berusaha memunggungi Arfa untuk mengatur detak jantungnya yang tak beraturan ,” Kalau ini sudah selesai, saya pamit dulu, Pak.”
Kali ini Arfa mengutuki pekerjaannya yang masih bejibun, kalau tidak dia akan mengantarkan gadis ini pulang.
Terburu buru Ayu mengemasi tas punggung dan jaketnya ,” Permisi, Pak. Terima kasih makan siangnya.”
“ Saya yang terima kasih sudah ditemani dan dibantu.” Arfa berdiri, tersenyum geli melihat Ayu memilih memutari meja dibanding memintanya bergeser ,” Sampai ketemu lusa di kelas.”
Ayu hanya mengangguk dan bergegas keluar ,” Mari mbak …..” Sapanya saat berpapasan dengan Mia di depan lift.
Mia mengangguk sambil tersenyum, mengamati gadis yang nampak bingung dan salah tingkah itu sampai pintu lift tertutup. Senyumnya tak dapat disembunyikan saat masuk ke ruangan untuk membereskan makan siang bossnya dan melihat lelaki itu mengulum senyum tipis sambil menekuni pekerjaannya.
“ Ada apa Mia ? Kelihatannya istirahat siangmu menyenangkan.”
“ Lumayan pak, dan kelihatannya bukan hanya saya.”
Arfa mengerutkan dahi sebelum tertawa kecil melihat senyum sekretarisnya.
“ Akhirnya ada juga yang bisa menghilangkan kerutan dahi bapak.”
“ Hei …. aku punya banyak mantan untuk bersenang senang, kamu tahu itu”
Mia menggeleng ,” Mereka malah menambah kerutan. Maaf …. itu yang saya lihat.”
Arfa tersenyum ,” Mungkin yang kamu lihat lebih nyata daripada yang aku pikir selama ini. Terima kasih, aku selalu bisa mengandalkanmu.”
Mia tersenyum pada boss sekaligus sahabat suaminya sejak dibangku kuliah itu ,” Kelihatannya bapak mesti berusaha meyakinkannya. Kalian dalam fase yang berbeda untuk suatu hubungan.”
Arfa menghela nafas ,” Ya … lihat saja nanti.”
Mia tersenyum dan beranjak keluar.