Chapter XLV

1020 Words
Dia berpakaian indah mengenakan sepatu mahal dan riasan yang membuatnya lupa siapa dirinya. Fahmi tak tanggung-tanggung membawanya ke salon terbaik. Dia bahkan terlihat lebih cantik dari saat mengenakan baju pengantin. Melihat sisi berbeda Humaira Fahmi tak tergerak sedikit pun untuk setidaknya memelankan laju jalan mereka. Dan kenyataan dia dimanfaatkan karena kedua orang tua itu sungguh membuatnya terluka. Seandainya saja Pak Chu tidak menyukainya, mungkin tidak akan ada nama Fahmi yang terukir di hatinya. Mereka tak akan menikah. Dan mungkin saja hanya akan menjadi orang asing untuk selamanya. Humaira merasa itu opsi yang lebih baik. Dia terus menangis sejak awal, tetapi kali ini dia cukup tegar untuk tidak menumpahkan air mata. Meremas gaun indah yang dia kenakan, Humaira menahan amarah yang menggunung seolah dia akan melahap apa saja. Dia harsu erpikir jernih. Setelah beberapa waktu lalu mendengar perkataan Bapak Chu. Fahmi terlihat terlalu ambisius, dia tengah mengejar sesuatu yang jauh. Mengemban semuanya seorang diri, dan menempuh jalan penuh diri. Bisnis bukan sesuatu yang bisa dibangun hanya dari dua tahun pengalaman, tidak ada jalan instan menuju keberhasilan. Sesuatu yang dicari Fahmi dengan cepat kemungkinan tidak akan bertahan lama. Bapak Chu bersyukur bahwa Fahmi telah bertemu dengannya dan sangat yakin bahwa hanya Humaira yang baik hati yang akan mengerti kemalangan Fahmi. Bapak Chu mungkin terlampau memujinya. Bagaimana bisa Humaira? Dia hanya gadis desa yang kebetulan mendapatkan takdir sebagai pendampingnya untuk sementara. Dia juga tidak bisa memahami apa yang diinginkan Fahmi. “Jadi itu alasannya kamu pergi? Kamu sudah tidak membutuhkanku lagi?” “.…” “Jangan bercanda! Kamu mau menimpakan semuanya pada orang lain? Hei, Fahmi. Bukannya kamu terlalu pengecut?” “Jaga kata-kata kamu. Dan sadarilah posisi kamu saat ini.” “Lalu apa? Apa yang mau kamu lakukan padaku?” “Tidak ada. Tapi kalau kamu melampaui batas, terpaksa saya akan menghukum kamu.” Menghukumnya? Setelah semua yang dia ambil dari Humaira. Apa yang masih tersisa darinya. Pernahkan bahkan sedetik saja Fahmi memikirkannya. Semua kata-kata cinta itu tidak berasal dari hatinya. Semua tidak lebih dari umpan untuk memancingnya. Sudah cukup. Dia tidak tahan lagi. “Apa yang salah? Itu adalah kenyataan. Kamu bukan orang baik-baik, tetapi memanfaatkan wanita demi keuntungan bisnis lalu meninggalkannya, terlalu brengsek.” Ingin Humaira mengatakannya, tetapi bukan itu ang terucap bibirnya. “Apa kamu senang? Apa kamu bahagia setelah mendapatkan yang kamu mau?” “Jangan menanyakan hal konyol. Dan berhentilah bicara omong kosong.” Nada bicaranya terdengar dingin dan terjangkau. Adakah cara yang benar untuk menjangkau hatinya. “Tidakkah kamu pikir, apa yang kamu dapatkan saat ini tidaklah berharga. Apa yang kamu inginkan hanya hasrat sesaat yang semu. Kamu hanya ingin dihargai ayah kamu, bukan?” Tubuh Fahmi menegak saat dia mengucapkannya. Humaira isa melihat titik temu setelah mengamati ketidakakrabannya dengan keluarga, juga perkataan Udin, pamannya. Hubungan kedua orang itu tidak begitu baik. “Apa kamu pikir akan menang darinya dengan cara seperti ini? Kamu tidak akan pernah dia akui. Pasti.” “Sudah cukup! Apa yang kamu tahu tentangku? Kamu berbicara seolah tahu segalanya. Apa kita bahkan pernah saling kenal. Jangan sampai saya mengatakan hal yang tidak ingin kamu dengar. Lebih baik tutup mulutmu.” “Aku tidak akan diam! Enam bulan sudah cukup buatku mengenal kamu. Kamu tetaplah Fahmi seperti saat kita bertemu pertama kali, seperti buku yang terbuka. Fahmi yang ada di hadapanku sekarang hanya mencoba terlalu keras agar terlihat seperti orang lain.” Apa? Apa yang wanita ini katakan? “Berhenti membual. Kamu tidak tahu apapun tentangku!” “Lalu kenapa kamu mencoba menyenangkanku? Apa kamu merasa bersalah? Atau karena harga diri kamu yang tinggi? Aku pernah mengenal seorang lelaki yang bahkan menghadapi preman begal sendirian untuk menolong orang lain. Pria yang kukenal tidak sepengecut ini.” Fahmi tertawa getir. “Wanita desa yang tidak tahu apa-apa. Kamu pikir semua itu nyata? Apa yang kamu ketahui, pria yang kamu kenali hanya sebuah karakter fiksi yang kubuat. Kamu pikir kamu yang pertama? Kalau kamu belum tahu, saya akan memberitahu. Saya sudah menikahi sembilan gadis kaya dan pernikahan bisnis tidak berjalan lebih dari seminggu. Begitulah Fahmi. Sekarang kamu mengerti kan betapa brengseknya b******n Fahmi? Jadi, jangan berlagak seolah kamu tahu segalanya. Kamu tidak lebih dari wanita kemarin sore.” Raut kejut terpampang di wajah boneka Humaira, tetapi mata itu tak bergeming memandangnya bukan dengan sorot jijik, melainkan rasa iba. Wanita sialan. Malah menatapnya dengan mata teguh seolah badai apapun tak lagi membuatnya goyah. Dan sialannya mengapa dia mendandani Humaira, membuat otaknya berkabut saja. “Bukankah kamu hanya seorang pengecut. Padahal kamu sangat cakap dan berkemampuan, tetapi kamu justru menggunkan cara yang tidak wajar. Kamu masih mneggunakan cara yang sama anehnya seperti saat membuat puisi payah untuk mengesankanku.” Apa? Apa yang dia katakan? “Hei, Fahmi, apa derajat wanita begitu rendah di mata kamu? Apa kamu tidak mengingat ibu kamu? Bukankah beliau wanita yang baik?” Fahmi seolah terhipnotis pada setiap kata yang dia ucapkan. Sulit sekali membuat wanita itu goyah. “Diam! Jangan bicara lagi.” “Aku mengerti yang kamu rasakan. Karena aku pernah merasakan rasa kehilangan. Dan aku sangat membenci perpisahan. Tidak atahu ke mana harus melampiaskan. Sama seperti Rayhan satu-satunya yang kupunya saat itu, aku akan jadi kekuatan kamu. Izinkan aku tetap di sisi kamu.” Dia terpengaruh. Wanita ini mulai mempengaruhinya. Sial. Harus dia hentikan. “Kamu benar-benar ingin dihukum.” Fahmi menyeretnya ke luar dari mobil, tanpa memelankan langkah kakinya yang panjang, seolah diburu oleh waktu. Keduanya memasuki salah satu kamar hotel yang terbuka. Petugas yang tengah membersihkan ruangan itu diusirnya pergi dengan mudah. Entah apa yang akan dilakukan Fahmi, Humaira menjadi was-was. Fahmi begitu marah. Apa dia akan dibunuhnya. Dia mulai memahami Fahmi, setelah melihatnya begitu tersiksa. Betapa banyak beban yang sudah ditanggung di pundak itu. Fahmi mendorongnya ke pojok dinding, mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Humaira menutup mata, Fahmi akan memukulnya? Pemikirkan itu membuatnya kalut. Apa yang harus dia lakukan. Selama beberapa detik, dia tidak merasakan rasa sakit di pipinya, yang dia rasakan justru kerudung yang melilit kepalanya terlepas seketika. Sensasi tangan yang sedikit kasar merambati pipinya dan menjalar sampai ke rambut. Humaira membuka mata lalu menutupnya kembali saat dia rasakan sensasi bibir Fahmi menciumnya dengan dalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD