Dia tak bisa lepas dari jeratan Fahmi. Tangannya dan jari-jarinya seolah melekat di tangan besar Fahmi yang terus menariknya tanpa ampun. Mereka belum pernah bergandengan seperti sekarang. Rasanya begitu hangat, meskipun kasar. Ada desiran aneh yang berdenyar di dadanya. Perasaan nostalgia saat ayahnya mengajaknya pergi bergandengan tangan, Humaira merasa aman dan nyaman hanya berada di dekat orang-orang yang dia sayangi.
Mau di bawa ke mana atau apa yang hendak pria itu lakukan padanya, Humaira hanya pasrah, selain karena kekuatannya tak sebanding, dia sungguh ingin tahu ke mana Fahmi akan membawanya. Seharusnya tidak begini, mustahil dia bisa merasa aman, sedangkan baru saja Fahmi memakinya, mengatainya menjijikkan. Dia semestinya waspada Fahmi mungkin berniat melakukan hal buruk padanya. Apa dia telah menjadi wanita yang semenyedihkan ini?
“T-Tunggu! Fahmi, lepaskan!” Fahmi masih tetap menyeretnya hingga ke mobil mewah warna merah mengkilap yang terletak di basemen. “Fahmi kamu menyakitiku. Lepaskan!”
Pintu mobil dibuka dan Fahmi melemparnya ke dalam. Bau wangi pengharum mobil menyengat hidungnya, dan walaupun ini pertama kalinya dia menaiki mobi mewah Humaira sama sekali tidak merasa senang. Dengan cepat tanpa jeda untuknya turun, Fahmi sudah masuk ke dalam dan mulai mneyalakan mesin. Dia tidak bisa kabur dari situasi ini.
Dia berada sangat dekat dengan pria yang membuatnya tidak enak tidur dan menjalani hari-hari karena merindukannya. Bukannya tertawa, dia justru ingin terus menangis. Namun, menunjukkan kelemahan tidak seperti dirinya. Dia harus berhenti bersikap seperti wanita bodoh yang tersakiti. Oh, itu memang benar, itu kenyataan bahwa dirinya telah ditipu oleh suaminya sendiri. Di mana Fahmi yang dia kenali dan cintai? Mengapa jalan pernikahannya harus begini? Tidak bisakah waktu kembali, sebelum Fahmi menjadi dirinya saat ini?
Inilah kenyataan, inilah wajah Fahmi yang sebenarnya di balik topeng. Dia sudah kehilangan Fahmi sejak menemuinya pertama kali.
Humaira tidak sanggup, dan secara spontan air matanya mengalir. Tidak, dia seharunya tidak menunjukkannya. Meskipun Fahmi telah menginjak-injaknya, dia harus melawan selama diperlukan.
“Turunkan aku di sini!” Humaira mencoba berontak. Bodohnya, dia bahkan tak tahu cara melepas seatbelt.
“Bukankah kamu ingin tahu alasannya?”
Alasan? Benarkah dia ingin tahu? Dia takut bahwa alasan itu justru menghancurkannya lebih dalam.
“Kemana kamu membawaku?!”
“Berhenti berteriak di mobil.”
“Aku tidak akan diam sebelum kamu jelaskan!” Fahmi mengabaikan pertanyaannya dan terfokus melihat lurus ke arah jalan. “Turunkan aku! Sekarang!”
Hanya helaan napas yang diberikannya sebagai jawaban. Pria ini benar-benar! Humaira menutupi wajah, air matanya tak mau berhenti mengalir. Kenapa justru begini? Dia jadi terlihat menggelikan. Ada suara gesekan di dashboard mobil, sekotak tisu tepat di hadapan wajahnya. Dia menoleh ke samping, memperhatikan Fahmi yang tidak peduli, dan sekarang mencoba berbaik hati menyediakan tisu?
Air matanya seketika mengering. Malang sekali nasibnya. Dia tidak bisa membenci Fahmi. Dan sesakit apapun hatinya, dia masih mengharap Fahmi kembali menjadi dirinya yang dulu. Dia melihat kehangatan dan kepedulian yang masih tersisa. Tetapi, apa yang menghalangi Fahmi darinya?
Humaira menarik napas panjang. Dia perlu menenangkan diri. Fahmi memeiliki alasan yang tidak mungkin dibaginya ke sembarang orang. Sangat terlihat kalau Fahmi sama sekali tidak mempercayainya. Dia pasti menghayal, jangan kan percaya, dia bahkan tidak sadar sedang digunakan.
Humaira sudah cukup tenang sesampainya di sebuah toko lebih tepatnya salon kecantikan yang terhubung dengan toko pakaian. Fahmi mengajakna berbelanja? Apa? Kenapa?
Humaira ternganga melihat pakaian-pakaian dengan label harga di atas ratusan ribu yang diserahkan padanya tanpa berkata apa-apa. “T-tapi, ini….”
Pria itu langsung mengacuhkannya dan memilih berbicara dengan seseorang yang sepertinya pemilik toko. Humaira digiring oleh serang wanita muda yang tadi berbicara dengan Fahmi.
“Cantiknya.” Humaira tersipu karena wanita itu memperhatikannya dari atas ke bawah. “Tenang saja Mbak Humaira, di tangan Mama Peri, akan saya buat keajaiban yang akan membuat Pangeran jatuh hati.”
Fahmi tidak menunggunya dan keluar sembari menelpon. Humaira masih kebingungan dengan yang terjadi. Apa-apaan ini? Kenapa dia harus didandani?
Dia jadi teringat drama-drama yang ditontonnya di TV. Seorang CEO yang membawa gadis miskin, melemparkan pakaian-pakaian mahal tanpa melihat harganya, lalu mendandaninya dan mengajakna kencan. Apa kejadian fiktif itu akan terjadi padanya? Tak terbesit sedikit pun bahkan dalam imajinasi terliarnya.
Setelah siap, Fahmi menjemputnya. Tidak seperti Humaira yang mengagumi hasil riasan dirinya, pria itu hanya diam tidak tertarik.
Dia dibawa ke sebuah ballroom hotel. Tampaknya mereka akn menghadiri seuah pesta. Pantas saja Fahmi mendandaninya. Aneh. Tadi pria itu bilang akan memberitahu alasan dia ditipu, sekarang Fahmi membawanya ke pesta, jelas bukan tanpa sebab. Jawaban dari pertanyaan itu muncu tak lama kemudian.
Fahmi menggandengnya untuk menyapa suami istri paruh baya yang merupakan tuan rumah acara.
“Selamat atas ulang tahun pernikahn Anda yang ke tiga puluh.”
“Ah, Nak Fahmi. Bagaimana kabarnya? Saya senang kamu meluangkan waktu untuk datang. Dan ini… astaga! Saya sampai tidak mengenalinya. Perkenalkan saya Chu Jhonson.”
Pria bermata sipit dan terlihat baik itu beralih pada Humaira yang terlihat tegang. Bisa dibilang ini pengalaman pertamanya hadir di pesta kau sosialita. Memberi kesan buruk sama saja dengan mempermalukan Fahmi. Lagipula untuk apa dia berada di sana.
“Saya Humaira. Senang bertemu Anda.”
“Nak Humaira masih mengingat saya?”
Apa? Mengingat? Mana mungkin dia mengenal rang-orang kaya ini. Setelah memperhatikan wajah wanita di hadapannya, dia ingat wanita itu adalah orang yang pernah ditolongnya.
“Ah, Ibu yang waktu itu.”
“Benar. Perkenalkan saya Maria. Kamu gadis yang sangat baik, saya berhutang nyawa sama kamu.”
“Itu tidak benar. Saya tidak melakukan apa-apa kok. Sebagai sesama manusia memang harus saling tolong-menolong.”
Bapak Chu tampak senang mendengar jawaban polos Humaira. Perbincangan terinterupsi oleh MC yang akan memulai acara.
Melihat kedua orang tua itu hati Humaira tersentuh. Dia ingin seperti mereka. Menghadapi hari tua, bersama sampai ajal yang memisahkan. Mengapa mereka harus seperti ini. Tanpa sadar air matanya tergenang. Fahmi menepuk pundaknya dan menyeretnya menjauh dari kerumunan di dekat tempat minuman tersedia.
“Minum dan nikmati pestanya. Ini akan jadi pesta awal dan terakhir kamu.”
Selepas mengatakan itu Fahmi menghilang dan akan berbaur dengan kerumunan. Acara berlangsung dengan cepat, alunan musik lembut terdengar sayhdu. Beberapa tamu muai berdansa. Ibu Maria mengajak Humaira ikut serta. Mau tak mau Fahmi menemaninya. Ini seperti sebuah mimpi, hanya saja dalam keadaan yang tidak mengenakkan. Dan walaupun Fahmi memintanya menikmati, mereka tidak bisa menghilang perasaan dan jarak yang tercipta.
Humaira pernah melihat adegan ini di TV. Dia tidak bisa berdansa, jadi Fahmi mengajarinya sebentar. Waktu singkat yang sangat berkesan, dia begitu dekat, napasnya, bau parfumnya. Momen itu terhenti karena kesalahannya, dia tidak bisa belajar dengan cepat, Fahmi menggerutu karena dia terus menginjak sepatunya. Seperti lelucon di tengah bencana dan Humaira sedikit tersenyum karenanya.
Bapak Chu meminta waktu berbincang dengannya. “Kamu pasti merasa asing dengan semua ini.”
“Sebenarnya saya sedikit gugup.”
“Hahaha. Saya tahu perasaan kamu. Dulu saya membangun usaha dari bawah. Untuk makan saja kami kesulitan. Setelah saya menikahi Maria, saya menjadi rang paing beruntung di dunia. Sesulit apapun keadaannya Maria tidak pernah menyerah kepada saya.”
“Bu Maria orang yang sangat sabar ya, Pak.”
“Dia seperti bidadari. Kamu tahu, saya melihat kamu seperti melihat Maria sewaktu muda.”
“Anda terlalu memuji saya. Bagaimana bisa saya seperti Bu Maria.”
“Saya tidak berbohong mengatakan ini. Kalau itu kamu, pasti bisa membantu Nak Fahmi. Dia punya potensi, punya tekad kuat dan ambisinya yang hebat, tetapi masih hijau untuk mengendalikan diri. Jika dia terus tergerus keinginannya sendiri, dia bisa jatuh dengan mudah.” Bapak Chu menatapnya dengan serius. “dengan kebaikan hati kamu, kamu pasti bisa meluluhkannya. Tidak akan ada batu yang tidak hancur jika terus ditetesi air.”
Fahmi memiliki ambisi yang lebih besar dari kemampuannya, dia tidak sabaran dan selalu mencoba jalan pintas. Dengan semangat menggebu-gebu, sangat wajar karena dia masih muda. Namun, di balik setiap tantangan, terdapat resiko yang sepadan. Begitulah inti dari pembicaraannya dengan Bapak Chu Jhonson. Dan Humaira diserahi tugas berat untuk membesarkan hati seorang pria besar. Dia tidak tahu apa yang terjadi di depan, dia akan melakukan apa saja jika itu bisa meringankan.
Waktu berlalu dengan cepat hingga kemeriahan yang singkat itu pun berakhir. Pesta pertama dan terakhirnya, dia tidak akan melupakan pemandangan kedua orang tua itu.
“Kenapa kamu membawaku ke sini?” Tanya Humaira sesampainya mereka di mobil.
“Mereka berdua adalah alasan kamu ada di sini sebagai istri seorang Fahmi.”
“Apa maksud kamu?”
“Bapak Chu menjanjikan pinjaman untuk membantu bisnisku dengan syarat aku menikahi kamu.”
“Apa?”
Tidak mungkin. d**a Humaira seperti digebuk sekuat tenaga. Jadi begitu. Karena itulah Fahmi mendekati wanita miskin sepertinya. Dan saat dia sudah mendapatkan yang dia inginkan dia dibuang.