ChapterLII

1013 Words
Ting tong Romeo sembari menenteng bunga dan mengibas rambutnya, menekan bel apartemen istri pertama Fahmi. Mereka sudah sepakat akan menjalankan misi Mencari Hati yang Tulus yang disingkatnya operasi MENTUL.   “Siapa?”   Wajah dengan pupil mata lebir menatapnya dari balik layar kamera pengawas. Wajah yang tidak asing dan menyebalkan. Romeo torpedo mengajak seseorang bertubuh tinggi dan misterius bersamanya. Dia agak ngeri karena tidak bisa melihat wajah pria di sampingnya yang mengenakan hoodie. Romeo terlihat seperti tengah membawa tukang pukul ke rumahnya.   Yang benar saja!   Berani benar asisten mantan suaminya itu datang tanpa berkabar atau membuat janji. Flo menyuruh pria yang diajaknya ke kamar mandi untuk bersembunyi. Dia sendirian akan menghadapi orang menjengkelkan itu.   “Selamat siang, Nyinya Flo,” sapa Romeo setelah lima belas menit yang panjang menunggu pintu terbuka.   “Oh, itu kamu. Ada masalah apa sampai kemari? Kamu cuma sendirian? Mana Fahmi?”   Romeo melirik Fahmi yang ingin kabur. “Ini bunga yang cantik untuk wanita cantik dari Bos Fahmi.”   “To the point aja, apa yang kamu inginkan dari saya? Apa Fahmi sudah mau menerima saya lagi?”   Romeo harus menghentikan Flo yang mulai meninggi.  “Anu, sebenarnya bunga itu memang berasal dari Bos Fahmi, hanya saja ada hal yang penting yang ingin kami bicarakan. Bisakaha kami masuk ke dalam?”   “Masalah penting apa sampai kamu ingin masuk ke rumah saya, huh? Ya sudahlah. Masuk.” Romeo masuk dengan Fahmi, tetapi, Flo menghentikannya. “Bodyguard kamu boleh tetap di luar. Saya tidak sudi rumah saya jadi kotor karena kemauskan rakyat jelata.”   Betapa mengecewakan, jika Flo tahu siapa yang berada di balik tudung.   “Ehem. Tolong izinkan dia, karena hal ini juga berkaitan dengannya.”   “Dia? Ada apa ini? Kamu tidak sedang membodohiku kan?”   “Tenang Nyonya Flo akan segera saya jelaskan, jadi tolong izinkan dia untuk ikut.”   Dengan berat hati Flo menyetujui usulan Romeo, dia juga penasan apa yang akan terjadi nantinya.   Romeo menjilat bibirnya yang mendadak kering. “Ada sebuah pesan dari Bos Fahmi. Silakan.” Dia mendorong Fahhmi dalam jubah untuk segera memotong. Daritadi dia hanya diam menunggu pembicaraan selesai.   “Aku… aku ingin minta maaf karena telah menyakiti hati kamu.”   “Hmmm? Apa ini? Kenapa kamu berbicara seolah mewakili Fahmi?”   “Aku tidak mewakili Fahmi. Aku memang Fahmi.”   Fahmi membuka tudungnya untuk memperlihatkan kengerian dan mimpi buruk di hadapan Flo. Flo seorang anak milyarder yang sangat menyukai keindahan dan estetika seni.   “Aaah! Hantu! Tolong ada hantu!” Romeo mencoba menenangkan Flo yang terus melempar barang-barang. “Pergi! Pergi sana, Monster!”   Romeo tidak bisa menenangkan Flo yang terus berteriak ketakutan sampai terjungkal dari kursinya.   “Romeo sialan, kamu membawa monster ke rumahku! Awas saja saya akan habisi kamu!”   “Nyonya Flo tolong tenanglah. Nyonya Flo!”   Flo menekan tombol darurat dan memanggil satpam ke tempatnya. Romeo panik, tetapi Bosnya terlihat amat tenang. Melihat keadaan yang sebelumnya kondusif menjadi terbalik, Romeo hanya punya dua pilihan, menenangkan Flo dan kembali berbicara dengan tenang yang sama seklai mustahil, atau pergi sekarang juga tanpa tahu ada kesempatan kembali atau tidak. Daripada itu prioritasnya adalah menyembunyikan keadaan buruk rupa Fahmi.   “Flo ini benar-benar aku. Aku Fahmi!”   “Mana mungkin Fahmi sejelek kamu! Kalau Fahmi sampai sejelek kamu, saya mana sudi menemuinya seumur hidup!”   Perkataan itu jelas menyakitkan harga dirinya. Fahmi yang dipuja karena rupanya, baru saja dimaki karena keburukrupaannya.   Mendengar teriakan Flo, laki-laki topless yang bersembunyi di dalam toilet berlari keluar. Flo terkejut, pun dua orang lainnya.   “Sedang apa pria itu keluar, dasar bodoh! Bisa ketahuan kalau aku menyembunyikan pria id apartemenku. Apalagi ada si ember Romeo.”   “Flo Cintaku, ada apa ini? Kenapa kamu berteriak keras sekali? Kalian! Kalian yang menyakiti pacarku!”   “Eh, itu... bukan masalah.”   Flo tersenyum ke arah dua orang yang melongo di sampingnya, merangkul pria itu dan menjauhkannya dari pandangan Romeo. Bisa berbahaya kalau Fahmi tau.   Baru satu hal selesai, para pengaman mulai berdatangan akibat panggilan darurat Flo. Ini keadaan yang gawat untuk bosnya, dan keberadaan pria lain cukup mengejutkan bagi mereka. Flo sudah kembali bergabung dan mendekati Romeo. Ini juga kesempatan untuk kabur tanpa ketahuan.   “Tolong jangan katakan apapun soal ini kepada Fahmi. Dan saya akan melupakan kejadian hari ini. Termasuk soal kamu yang membawa teman yang mengerikan itu.”   Syukurlah mereka selamat berkat kebodohan selingkuhannya. Dan meskipun Flo mengatakan begitu, Fahmi sudah melihat semuanya sendiri. Flo masih merasa takut dan menyuruh Romeo segera pulang. Padahal tadinya dia mengira Romeo membawa kabar bagus karena Fahmi mencoba minta maaf.   “Sepertinya hari ini kita cukupkan saja, Bos.”   “Maaf karena sudah membuang kesempatan emas kita. Karena saya kamu juga disusir.”   “Bukna itu masalahnya. Kesimpulan hari ini, Flo bukan pemilik hati yang tulus, dia juga tidak pernah berubah sejak dulu.”   “Jadi, kamu sudah tahu ya kalau dia suka main serong?”   “Eh, soal itu… bisa dibilang, selama dua minggu pernikahannya dengan Bos Fahmi dia masih aktif berhubungan dengan pacarnya.”   “Ya, itu bagus karena saya jadi punya alasan untuk segera lepas dari pernikahan bodoh dengannya.”   Romeo mengingat saat-saat mereka mencoba menjebak para gadis pertama kali. Fahmi mempelajari latihan khusus dengan sering mengajak berkenalan dan pendekatan siapapun wanita yang ditemuinya. Semua tidak berjalan mulus di awal. Dengan perangai kaku dan canggung Fahmi, tidak mudah mengajarinya.   Ada saat Fahmi mulai membuat rekor punya teman wanita, punya tiga pacar secara bersamaan, atau wanita yang paling ama bisa berhubungan dengannya. Namun, jauh disudut hatinya Fahmi mungkin jga memikirkan ini, dia tidak menginginkan hubungan pasu yang hanya didasari hasrat semata. Dia belum pernah ditampar maupun ditolak, didukung dengan wajah tampan pastinya.   Percobaan pernikahan pertamanya amat toxic, Flo bak ular yang licin, sangat mudah menggoyahkan niat Fahmi dengan jurus wajah manisnya. Dalam hal ini, Romeo satu-satunya pria yang berperan penting mengumpulkan informasi target, dan terakhir mengeksekusinya dengan matang. Tidak ada skandal yang luput dari pemantauan Romeo. Kerana itu juga Fahmi begitu mempercayainya. Fahmi hampir saja jatuh ke pelukan Flo yang licik. Dan dari setiap kegagalan pernikahan dan perpisahan itu Fahmi belajar dari pengalaman dan semakin mahir menggunakannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD