Chapter LI

1002 Words
“Rahma, apa yang mau kamu lakukan dengan uang itu! Kembaikan sini!” “Tidak akan. Mas Damiri sudah keterlaluan, mau saja terima uang dari orang semacam dia!” “Kita butuh uang dan kebetulan saja mennatu kita punya uang. Memang salah minta sama menantu sendiri?” “Tapi dia yang sudah mempermainkan Humaira. Apa Mas Dam tidak bisa meihat itu!” “Ya ya saya tahu dia anak semata wayang kamu yang berharga, dia ditipu karena kesalahannya sendiri. Toh Fahmi pasti sudah meminta maaf. Saya sudah berjanji padanya untuk menjauhkan anak kamu. Maafkaanlah dia. Cuma anak itu yang bisa memperbaiki kualitas hidup kita. Kita tidak perlu lagi hidup melarat, Rahma.” “Aku lebih baik mati kelaparan daripada menerima uang dari orang itu.” “Sudah kuduga kamu terlalu idealis. Apa salahnya kalau anak kamu jadi wanita simpanan yang tidak diakui, yang penting bisa menghasilkan.” “Mas, Dam sudah keterlaluan! Aku tidak bisa menerimanya, jangan pernah menyakiti Humaira dengan kata-kata Mas tadi. Dan apa yang Mas lakukan selama ini? Perbuatan Mas udah tidak bisa diteolerir.” Rahma tidak menggubris Damiri yang terus membujuknya mengurungkan niat untuk pergi menemui Fahmi sendirian. Tidak bisa tidak, Rahma harus turun tangan. Beraninya pria itu menggunakan Damiri untuk memastika Humaira tidak mendekatinnya, setelah semua rasa sakit yang dia torehkan. Pada awal Humaira menceritakan penemuannya tentang kisah masa lalu Fahmi yang merupakan seorang anak konglomerat, Rahma meragukan pendengarannya. Sekarang seteah melihat bukti langsung, pria itu memang harus dihancurkan. Bermodal nekat dan kedongkolan dalam hati, Rahma pergi ke kota untuk pertama kai dalam dua puluh tahun. Sudah sangat lama dia tidak menyaksikan kebisingan kota, suah semaju apa dan bagaimana mereka saat ini. Rahma dibonceng Afifah tanpa istirahat setelah perjalanan panjang langsung menuju kantor Fahmi. Beberapa orang terihat berbisik saat dia masuk. “Belakangan ini sering datang orang kampuung yang ingin menemui Bos Fahmi.” “Mungkin mereka orang-orang yang diberikan bantuan atau pinjaman.” Lalu terkekeh dengan asumsinya sendiri. Wajah Rahma mengeras. Jadi begini hidup Fahmi yang sebenarnya, dan dia berpura-pura menderita dalam suratnya hanya untuk menipu Humaira. Tidak tahukah dia betapa HUmaira amat memikirkannya siang dan malan berharap dia baik saja. Rahma sampai ke lobi, mengatakan pada resepsionis untuk bertemu Fahmi. Dia tidak membuat janji tapi Fahmi pasti akan menyetujui jika namanya disebut sebagai ibu mertuanya. Resepsionis tersenyum geli, tetapi menuruti permintaan dan menelpon sekretaris. “Bos mengizinkan Ibu Rahma masuk.” Resepsionis yang awalnya meremehkan dan memandang curiga segera mempersilakan. Di atak menyangka orang seperti itu mau ditemui bosnya. Dan lagi dia tadi mengatakan ibu mertua, apa itu semacam sandi nama? Afifah mengajari cara menggunakan ift agara keduanya cepat sampai ke lantai teratas. “Amma yakin mau menemui Fahmi sendiri?” “Kmau tenang saja. Amma cuma mau mengembalikan sesuatu.” “Aku juga sebenarnya enggak nyangka kalau bukan temenku yang kasih tahu kemungkinan Fahmi yang Ira cari adalah dia.” “Dia tidak lebih dari penipu ulung yang menjerat gadis-gadis, walaupun Ira tidak memberitahu apa tujuannya, tapi jelas sesuatu sudah terjadi di antara mereka.” Dan mungkin lebih parah dari yang dia ketahui. Rahma menyadari retak yang ditinggalkan Fahmi kepada Humaira cukp dalam hingga membuat Humaira kehilangan diri dan tidak bersikap normal seperti biasa. Dia melihat Udin yang mendekati keduanya. “Ah, Udin, kamu juga adalah renacananya ya, kan!” “Ma-maaf, Nyonya, saya diminta memberitahu agar Ibu Rahma saja yang bisa memasuki kantor.” “Hei, apa-apaan ini!” Afifah berupaya protes, namun percuma. “Ini sudah ketentuan, Bos Fahmi.” “Baiklah, tapi sebelum itu….” Rahma melayangkan bogem besar yang membuat Romeo terdorong cukup jauh. Begini-begini kekuatannya tidak kalah dari gorilla hutan. Rahma berjalan memasuki pintu besar yang dibukakan wanita cantik. Heran dia setiap kali mata memandang selalu saja ada wanita cantik. Apa Fahmi bahkan tidak puas dengan mereka dan justru memilih puterinya yang berharga. Saat dia masuk, Fahmi tengah sibuk dengan pekerjaan. Dia terlihat leih berwibawa dan rapi dengan stelan jas. Ya, meskipun semua itu tidak bisa menutupi bau busuknya. “Sudah datang ya. Ummi, apa kabar? Silakan duduk.” Fahmi sudah beranjak dari kursi dan mendekat. “Tidak peru basa-basi. Dan jangan pernah panggil saya Ummi. Saya datang ke sini untuk mengembalikan uang kamu.” “Uang?” Rahma mengeluarkan amplop dalam tas dan membuangnya tepat di wajah Fahmi yang tak siap, berbarengan dengan sebuah tamparan yang mendarat mlus di wajah tampannya. Kekuataan wanita memang tidak sebanding. Fahmi tidak merasakan sakit secara fisik, tetapi penghinaan semacam ini melukai harga dirinya. “Kamu pikir anak saya sebuah benda yang bisa kamu permainkan seenaknya! Kmai tidak butuh uang haram yang kamu berikan.” Dengan tenang Fahmi menatap Rahma. “Apa saya meakukan kesalahan? Saya tidak pernah meminta Humaira menerima saya secara paksa. Setidaknya bukan saya yang memaksanya melakukan pernikahan.” “Apa yang mau kamu katakan!” “Bukankah ini kesalahan Anda yang terus menekannya sampai batas. Saya memberinya kebahagiaan dan kepuasana pada keinginan Anda. Seharusnya Anda berterima kasih.” “Tutup mulut kamu!” “Andalah yang sudah bertanggung jawab atas kemalangan puteri Anda sendiri.” Kalimat itu terdengar menggelikan, tetapi Rahma tidak bisa menyangkal. Dia yang memaksa Humaira menikah tidak peduli dengan siapa saja. Ini semua karena kesalahannya. “Kamu pikir saya akan terprovokasi dengan perkataan kamu.” “Saya tidak perlu melakukannya. Ini adalah kenyataan. Apa Anda tahu yang dipikirkan Humaira saat menerima pernikahan? Saya membujuknya dengan mengatakan kalau pernikahan akan menguntungkannya, dia akan terbebas dari tekanan ibunya yang tiada henti menyuruhnya mencari pendamping hidup. Sejak awal putri Anda sudah terpaksa menerima pernikahan ini.” Rahma tertegun. Dia bersalah, tetapi Fahmi juga tidak lepas dari kesalahan ini. “Lalu apa yang kamu lakukan akan termaafkan? Kamu bermain dengan perasaan orang lain dan menyakiti seorang wanita, jangan salahkan kalau dunia yang akan menajdi musuh kamu. Akan datang saatnya kamu menyadari kekeliruan yang kamu perbuat. Kamu akan menyesal, Fahmi, karena sudah menyia-nyiakan wanita sebaik Humaira. Saya akan pastikan kamu tidak akan bisa menemuinya meski bersujud dan meminta. Saya tidak akan memaafkan kamu sampai saya mati. Camkan itu, Fahmi.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD