Intermezzo

1300 Words
Salah satu hal yang menjadikan dirinya kembali merana adalah perkataan ibunya. Humaira terduduk dalam diam. Kepalanya menengadah mengamati bintang-bintang bertaburan. Pikirannya menerawang pada kenangan yang perlahan menyeruak ke permukaan. "Ingatlah, Nak. Siapapun itu, entah seorang raja maupun orang tua jika ia menghendaki kamu berbuat salah, jangan lakukan! Apapun yang terjadi, bagaimanapun nantinya, perintah Allah yang harus kamu dahului." Suara ayahnya sayup-sayup terdengar. Tangannya bergerak mengusap pipi. Tangisnya luruh seiring terembus napasnya yang kian sesak. "Abi... apa Ira bisa mendapatkan pemuda yang baik? Seseorang yang akan membimbing Ira ke jalan yang benar? Seseorang yang akan menyelamatkan Ira dari situasi ini?" Harapannya ia lambungkan untuk sekali saja mendengar lantang suara ayahnya menyemangati, meski hanya kekosongan yang ia dapati. Terbuai dengan lamunan, Humaira tidak menyadari bahwa dari balik semak-semak, Romeo memasang telinga. Dia menjentikkan jari, nyaris melompat begitu mendapatkan informasi yang dibutuhkan bosnya. Mengendap-endap, Romeo meninggalkan Humaira yang masih tersedu sedan, berlari menuju sebuah rumah sederhana terbuat dari papan-papan kayu bambu, tempat tinggal mereka sementara waktu. "Bos. Bos," Romeo berbisik. Fahmi masih diam menekuri laptop yang dibawanya. Sesekali ia buka, karena listrik hanya akan ada di saat malam tapi tidak di siang hari. "Bos!" Fahmi terjingkat, digeplaknya kepala asistennya itu dengan kipas waru merah jambu yang dikibaskannya sejak tadi. "Jangan ngagetin!" "Laa, bos sih dipanggil juga." "Ada apaan?" "Ayok ikut, Bos." "Apaan sih, Meo?" "Ikut aja." Fahmi menuruti Romeo yang berjalan mendahuluinya. Asistennya itu memintanya merendahkan kepala untuk mengintip. Humaira kemudian menyadari suara-suara aneh dari balik semak-semak. Bulu romanya bergidik ngeri memikirkan kemungkinan terburuk. Cepat-cepat ia hendak turun dari atap tempatnya duduk. Ia tergelincir. Pada awalnya Romeo membayangkan bosnya akan berakting seperti para macho guy yang menyelamatkan seorang gadis jatuh dan berakhir dengan saling pandang, bukannya menjadikannya sebagai tumbal. Humaira langsung bangkit, sesaat menyadari ia jatuh tepat di atas punggung Romeo yang terlungkup sehabis didorong Fahmi dengan kasar. Di tengah kegelapan menyelimuti ketiganya, Humaira berteriak sambil memukul-mukul keduanya. Romeo tak diberinya kesempatan bangkit. Ia menendang bagian berharga Romeo tanpa ampun. Sehabis melakukan pemukulan sadis tanpa sebab, gadis itu berlari sambil berteriak membangunkan warga. "Maling! Maling!" Fahmi yang sudah babak belur, melotot mendengar langkah masyarakat yang mulai berdatangan. Ia bergegas membantu Romeo bangkit. Jangan sampai mereka tertangkap, atau rencana mereka akan benar-benar habis. Ketika diperiksa, Fahmi dan Romeo telah pergi dari tempat kejadian perkara. "Mana to, Nduk?" "Ada di situ tadi." Salah seorang warga menyorotkan senter pada tempat yang dimaksud, namun juga nihil. Humaira meyakinkan penglihatannya tak salah, dia bahkan memukuli mereka. Kedua orang tuanya yang turut terbangun, memandang tak suka dengan kelakuan anak gadisnya. Berangsur-angsur warga yang berkumpul kembali ke rumah masing-masing, setelah Pak RT meminta warga tetap tenang dan berjaga-jaga karena hal meresahkan tersebut. Naasnya, Rahma mengunci pintu rumahnya untuk Humaira. Humaira mengetuk beberapa kali, namun tak kunjung ada jawaban. Ia menyerah dan berbalik hendak tidur di luar masjid bagian muslimah saja. Di tengah jalan, ia berpapasan dengan Rayyan bersama sang istri yang hendak pulang setelah berkunjung ke rumah mertuanya. Rayyan adalah seorang ustadz di desa mereka. Pria yang diam-diam Humaira kagumi, meski kini sudah beristri. "Kamu mau kemana, toh? Ndak baik seorang wanita berada di luar rumah saat malam, sendirian lagi." Rayyan membenarkan perkataan sang istri. Humaira mengungkapkan bahwa ia bingung harus kemana, karena ibunya menutup pintu rumah untuknya. Rayyan menawarkan padanya untuk tinggal di rumahnya sementara waktu. Humaira menolak, karena itu akan memberatkan keduanya. "Ndak apa-apa. Ira permisi mau numpang di masjid saja." "Betul, Ir. Tinggallah di rumahku sementara waktu, biar Rayyan bermalam di rumah mbah dulu," Farah meyakinkan. Humaira merasa tak enak untuk memisahkan keduanya. Ia meyakinkan sekali lagi, kalau kemarahan ibunya pasti akan surut esok hari. "Makanya, bermalam-lah di rumah sesekali, Farah kadang butuh teman wanita untuk bicara." Meski Rayyan masih sepupu jauhnya, ia tak seakrab itu untuk tinggal dan masuk ke dalam kehidupan rumah tangga mereka. Pada akhirnya, Humaira luluh dan mengiyakan, namun dengan syarat, ia hanya akan tinggal selama beberapa hari saja. Ketiganya berjalan kembali ke rumah Rayyan sekitar lima menit dari tempat mereka berjumpa. "Kalau boleh tahu, kenapa Ama Rahma sampai marah begitu?" Humaira menceritakan apa yang terjadi tadi pagi. Farah nampak terkejut, sekaligus kagum dengan keteguhan Humaira. "Bagaimana pun perintah Allah yang harus diutamakan." Ia jadi teringat ayahnya yang mengatakan hal yang sama. Farah dan Rayyan mendoakan kemudahan dari segala urusannya. Humaira tersenyum, hatinya jadi lebih tenang sekarang. *** Duduk permasalahan dari isu maling di rumah Humaira, adalah dua orang yang sekarang membebatkan pembalut luka pada beberapa memar yang didapatnya dari pemukulan sadis Humaira tadi. Fahmi mengumpat sepanjang jalan sekembalinya mereka secara diam-diam. Romeo tertatih-tatih menyeimbangkan jalan bosnya. Gara-gara gadis itu dia harus berjalan sambil mengangkang seperti orang habis sunnatan. Sunnatan kedua gue, pikir Romeo. "Gadis udik, sialan!" Masih dikuasai emosi, Fahmi menendang batu ke sembarang arah. Tepat, mengenai salah seorang penjaga pos ronda yang tertidur. Fahmi tersentak karena yang bangun adalah kembaran buto ijo. Kebetulan hari itu petugas yang berjaga adalah Uripman, si binaragawan juara commonwealth kelas berat tingkat nasional tahun 19-an. Pria itu terjaga dan mencari-cari seorang yang telah melempar batu dan menyebabkan jidatnya benjol. Fahmi langsung menggunakan jurus seribu kaki, sedangkan Romeo meraung di belakangnya minta jangan ditinggal. "Huwaaa... Bos, jangan tinggalin saya!" Sekilas Romeo melirik Uripman yang menyadari keberadaannya. Mampus gue, pikirnya. *** Fahmi merebahkan dirinya pada kasur tipis di atas amben sebagai tempat tidur. Dia mengaduh, alih-alih semakin baik, punggungnya menjadi semakin sakit dari sebelumnya. Angin berembus beberapa kali menggerakkan pintu hingga berkeriut. Dengan kesal, Fahmi beranjak menutupnya. Bahkan pintu bersekongkol membuatnya kesal. "Awas aja itu cewek! Grrr, kenapa sih gue harus nyusahin diri sendiri cuma gara-gara cewek kampungan kayak dia!" Brakkk! Fahmi melompat terkejut mendengar sesuatu membentur pintu. Kedatangan Romeo yang tiba-tiba berlari sampai menabrak pintu karena tidak memperhatikan dia yang sedang menutupnya. Fahmi mengamati keadaan asistennya yang mengenaskan. Menyeret kaki dan tubuhnya yang pingsan, lalu menutup pintu kembali. Romeo kembali dalam keadaan utuh, itu berarti pria cebol itu belum tertangkap si Uripman. Fahmi membiarkan Romeo dalam posisinya dan kembali ke ranjang ranjaunya. Ia sebut ranjau, karena siapapun yang merebah di sana justru tidak akan mendapat kenikmatan tidur. Baru sekejap ia memejamkan mata, suara ketukan terdengar berkali-kali. Fahmi menjambak rambutnya frustrasi. Kenapa orang-orang ini tidak dapat tenang barang sekejap?! Itu juga yang berhasil membangunkan Romeo dari pingsan. Romeo mengusap liurnya, mengecek hidungnya yang terasa sakit. Fahmi yang turun tak sengaja menendangnya. Ia bangkit dari posisinya setelah menyadari tertidur di lantai. Begitu pintu dibuka. Sosok yang tidak dikenalnya muncul. "Assalamualaikum. Saya Pak Pariaman, yang punya rumah ini." Fahmi mengangguk-angguk dan mengizinkan pria itu masuk. "Jadi, rumah ini mau panjennengan pakai selama sebulan?" Pariaman menuangkan air panas ke dalam cangkir dan mengaduk cairan pekat yang telah diberinya gula sedikit. "Benar, Paman. Dan kita minta Paman berpura-pura jadi sepupu jauh dari saya, dan bos saya ini jadi ponakan saya dari pihak istri. Betul 'kan, Bos?" "Tidak perlu terlalu lama. Seminggu juga mungkin misi kita akan selesai," ujar Fahmi datar, tak menggubris ocehan Romeo. "Mohon maaf, kalau boleh tahu, maksud dan tujuan, panjennengan ini apa?" Fahmi berdecak dalam hati, pria ini banyak bicara. Romeo sebagai juru bicaranya tergagap. Bingung hendak menjelaskan bagaimana. "Saya menyukai seorang gadis dan saya ingin memilikinya." "Wah wah, perempuan, toh. Kenapa ndak cepat pergi ke rumahnya dan temui orang tuanya saja?" "Tidak bisa begitu, Mang. Dia belum tau dengan saya dan saya ingin mengenalnya lebih dekat." Fahmi juga menjelaskan mengapa dia tak mau memberitahu siapa, meski Pariaman hendak memberinya bantuan. Pariaman tampak berpikir dan menyetujui keputusan yang diambil Fahmi. Dia akan memberi seorang lover seperti Fahmi kesempatan itu. By the way, dia menanyakan mengapa wajah mereka babak belur. Romeo menyela dan mengatakan mereka habis dicegat penjagal. Pariaman takjub karena kebanyakan penjagal di daerah mereka tidak akan membiarkan mereka hidup. Romeo bergidik. Fahmi membenarkan dalam hati. Dia bahkan lebih sadis dari penjagal, pikirnya. Kehidupan nerakanya baru saja dimulai, dan dia masih ingin mengajak Humaira turut serta merasakannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD