Chapter VIII

1004 Words
Salah satu hal yang menjadikan dirinya kembali merana adalah perkataan ibunya. Humaira terduduk dalam diam. Kepalanya menengadah mengamati bintang-bintang bertaburan. Pikirannya menerawang pada kenangan yang perlahan menyeruak ke permukaan. "Ingatlah, Nak. Siapapun itu, entah seorang raja maupun orang tua jika ia menghendaki kamu berbuat salah, jangan lakukan! Apapun yang terjadi, bagaimanapun nantinya, perintah Allah yang harus kamu dahului." Suara ayahnya sayup-sayup masih dia ingat. Tangannya bergerak mengusap pipi. Tangisnya luruh seiring terhembus napasnya yang kian sesak. "Abi... apa Ira bisa mendapatkan pemuda yang baik? Seseorang yang akan membimbing Ira ke jalan yang benar? Seseorang yang akan menyelamatkan Ira dari situasi ini?" Harapannya melambung untuk sekali saja mendengar lantang suara ayahnya menyemangati, meski hanya kekosongan yang dia dapati. Terbuai dengan lamunan, Humaira tidak menyadari bahwa dari balik semak-semak, Romeo memasang telinga. Dia menjentikkan jari, nyaris melompat begitu mendapatkan informasi yang dibutuhkan bosnya. Mengendap-endap, Romeo meninggalkan Humaira yang masih tersedu sedan, berlari menuju sebuah rumah sederhana terbuat dari papan-papan kayu bambu, tempat tinggal mereka sementara waktu. "Bos. Bos," Romeo berbisik. Fahmi masih diam menekuni laptop yang dibawanya. Sesekali dia buka, karena listrik hanya akan ada di saat malam tapi tidak di siang hari. "Bos!" Fahmi menggeplak kepala asistennya itu dengan kipas waru merah jambu yang dipegangnya sejak tadi. "Jangan ngagetin!" "Lah, Bos sih dipanggil juga. "Ada apaan?" "Ayok ikut, Bos." "Apaan sih, Romeo?" "Ikut aja." Fahmi menuruti Romeo yang berjalan mendahuluinya. Asistennya itu memintanya merendahkan kepala untuk mengintip tak jauh dari tempat gadis itu. Humaira mendengar suara-suara aneh dari balik semak-semak. Bulu roma miliknya bergidik ngeri memikirkan kemungkinan hal-hal mistis. Cepat-cepat dia hendak turun dari atap tempatnya duduk, namun dia tergelincir. Pada awalnya Romeo membayangkan bosnya akan berakting seperti para macho guy yang menyelamatkan seorang gadis jatuh dan berakhir dengan saling pandang, bukannya menjadikannya sebagai tumbal. Humaira langsung bangkit, sesaat menyadari dia jatuh tepat di atas punggung Romeo yang terlungkup sehabis didorong Fahmi dengan kasar. Di tengah kegelapan menyelimuti ketiganya, Humaira berteriak sambil memukul-mukul keduanya. Romeo tak diberinya kesempatan bangkit. Dia menendang bagian berharga Romeo tanpa ampun. Sehabis melakukan pemukulan sadis tanpa sebab, gadis itu berlari sambil berteriak membangunkan warga. "Maling! Maling!" Fahmi yang sudah babak belur, melotot mendengar langkah masyarakat yang mulai berdatangan. Dia bergegas membantu Romeo bangkit. Jangan sampai mereka tertangkap, atau rencana mereka akan benar-benar habis. "Mana, Mbak, malingnya?" "Ada di situ tadi." Salah seorang warga menyorotkan senter pada tempat yang dimaksud, namun keduanya berhasil melarikan diri. Humaira meyakinkan penglihatannya tak salah, dia bahkan memukuli mereka. Kedua orang tuanya yang turut terbangun, memandang tak suka dengan kelakuan anak gadisnya. Berangsur-angsur warga yang berkumpul kembali ke rumah masing-masing, setelah Pak RT meminta warga tetap tenang dan berjaga-jaga karena hal meresahkan tersebut. Naasnya, Rahma mengunci pintu rumahnya untuk Humaira. Humaira mengetuk beberapa kali dan tak kunjung ada jawaban. Dia menyerah dan berbalik hendak tidur di dalam mushalla atau luar masjid bagian muslimah saja Nasibnya kurang mujur hari ini. Di tengah jalan, dia berpapasan dengan Rayhan bersama sang adik yang hendak pulang setelah mengisi pengajian di desa sebelah. "Kamu mau kemana, toh? Ndak baik seorang wanita berada di luar rumah saat malam, sendirian lagi." Rayhan membenarkan perkataan sang adik. Humaira mengungkapkan bahwa dia bingung harus kemana, karena ibunya menutup pintu rumah untuknya. Farah menawarkan padanya untuk tinggal di rumahnya sementara waktu. Humaira menolak, karena tak ingin menyusahkan orang lain "Tinggallah di rumahku sementara waktu, biar Rayhan bermalam di rumah Pariaman dulu," Farah meyakinkan. "Ndak apa-apa. Ira permisi mau numpang di masjid saja. Paling besok Ummi marahnya sudah reda." "Bermalam-lah di rumah sesekali, Farah kadang butuh teman wanita untuk bicara." Kali ini Rayhan yang mengajaknya Humaira luluh dan mengiyakan, namun dengan syarat, dia hanya akan tinggal selama beberapa hari saja. Ketiganya berjalan kembali ke rumah Rayhan sekitar sepuluh menit dari tempat mereka berjumpa. Sesampainya di rumah Rayhan, Ama Nissa ternyata telah tidur, sedangkan Rayhan langsung pergi lagi ke rumah Pariaman. "Kalau boleh tahu, kenapa Ama Rahma sampai marah begitu?" Humaira menceritakan apa yang terjadi tadi pagi. Farah nampak terkejut, sekaligus kagum dengan keteguhan Humaira. Farah telah memperhatikan Humaira sejak lama. Humaira tidak buruk, termasuk cantik dan baik, hanya saja dia melihat Humaira seperti menunggu datangnya seseorang selama ini. Padahal jika ingin sudah beberapa kali orang mencoba masuk, masih saja Humaira memasang tameng tidak tersentuh. Auranya yang sulit didekati, membuat sebagian pria segan. "Bagaimana pun perintah Allah yang harus diutamakan." Dia jadi teringat ayahnya yang mengatakan hal yang sama. Farah mendoakan kemudahan dari segala urusannya. Humaira tersenyum, hatinya jadi lebih tenang sekarang. "Mbak Humaira gimana kalau nikahnya sama Bang Rayhan." Humaira tersedak ludahnya sendiri. "Apaan sih, Far. Bang Ray sama aku mana cocok kan." Farah menangkap semburat semu di pipi Humaira. Dia tidak salah mengartikan gadis itu mungkin memiliki perasaan terhadap kakaknya. "Siapa yang tahu kan. Jodoh gak akan kemana." Dalam hati Humaira membenarkan. Seandainya saja apa yang diucapkan Farah terkabul, bagaimana dia akan bereaksi Bang Rayhan, apakah bisa melihat hatinya? *** Duduk permasalahan dari isu maling di rumah Humaira, adalah dua orang yang sekarang membasuh beberapa memar yang didapatnya dari pemukulan sadis Humaira tadi. Fahmi mengumpat sepanjang jalan sekembalinya mereka secara diam-diam. Romeo tertatih-tatih menyeimbangkan jalan bosnya. Gara-gara gadis itu dia harus berjalan sambil mengangkang seperti orang habis sunatan. Sunatan kedua gue, pikir Romeo. "Gadis udik, sialan!" Seumur-umur, baru kali ini dia diperlakukan tidak manusiawi. Dan mengesalkan gadis itu yang melakukannya. Masih dikuasai emosi, Fahmi menendang batu ke sembarang arah. Tepat, mengenai salah seorang penjaga pos ronda yang tertidur. Fahmi yang pada awalnya tidak menggubris dan seenaknya menendang batu lagi, tersentak karena yang bangun adalah kembaran buto ijo. Kebetulan hari itu petugas yang berjaga adalah Urip man, binaragawan juara commonwealth kelas berat tingkat nasional tahun 19-an. Pria itu terjaga dan mencari-cari seorang yang telah melempar batu dan menyebabkan jidatnya benjol. Tanpa basa-basi, Fahmi langsung menggunakan jurus seribu kaki, sedangkan Romeo meraung di belakangnya minta jangan ditinggal. Kakinya masih sulit berjalan dengan benar. "Bos, jangan tinggalin saya!" Romeo melirik Urip man yang menyadari keberadaannya. Sedangkan Fahmi sudah tak terlihat batang hidungnya, benar-benar setiakawan. Urip man lantas menuding Romeo yang masih mencoba berlari. "Jangan lari kamu!" Mampus gue! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD