Chapter VII

1019 Words
Ketukan sepatu kuda, pecutan cambuk pedati terdengar mengiringi gerobak yang ditumpangi Humaira. Ia telah sampai di desa tempatnya tinggal. Rerumputan hijau dan keemasan sawah terlihat elok dan asri. Ia memegang pinggiran gerobak yang membawanya. Jalanan tak mulus membuat delman yang dia naikin berguncang agak keras. Dia menghidu napas lega. Akhirnya bisa kembali ke rumah. Dia rindu semua yang ada di sana, meski hanya bepergian selama seminggu saja. "Assalamualaikum! Mi, Ira dah balik!" Dengan riang dia masuk ke rumah kecil milik keluarga mereka. Rahma, ibunya hanya menatapnya sebentar tanpa berniat menyambut, masih memotong sayur dan menaruhnya di baki. "Ooo, Ira. Mana oleh-olehnya?" Hanya itu yang akan ditanyakan ibunya. Humaira memberikan beberapa keresek berisi jajanan bakpia dan kue khas Surabaya. Ibunya menerima dengan senang. Humaira menyalami singkat. Ayahnya datang tak lama kemudian. Humaira menyambut ayahnya yang hanya diam ketika dia salami. Tidak ada percakapan berarti karena memang begitulah ayah tirinya. Dia juga tak terlalu dekat dengan orang tuanya, kecuali ayah kandungnya tentu saja. Ibunya? Entahlah, Humaira seolah tak lagi mengenali wanita yang telah melahirkannya itu. Dia masuk ke kamar serba putih miliknya. Merebahkan diri sejenak, sesaat dering ponsel di HPnya menginterupsi. Nama Afifah is calling terpampang di layar. Afifah? "Ira!" suara pekikan afifa terdengar dari seberang. "Ada apa kamu teriak-teriak begitu?" "Pak Arman ke sana, enggak?" "Pak Arman siapa?" "Duh, itu tu bosku." "Oh, terus?" Afifa menceritakan bagaimana saat malam hari pria itu datang menanyakan alamat rumahnya. "Enggak tuh." "Syukur deh, kalau gak jadi. Kamu pokoknya jangan mau kalau entar dilamar. Dih, amit-amit." "Hus, ndak boleh bicara begitu." "Abisnya dia itu playboy. Suka main cewek aja." "Sudah-sudah, gak usah ghibah. Dia gak dateng juga tuh." "Ya udah kalau ada apa-apa kabarin ya, Ira." "Ira!" Humaira menghentikan aktivitas memotong bawang sambil menelponnya. Dengan segera dia memutus sambungan, menghadap pada panggilan darurat dari ibunya. "Iya, Mi, ada apa?" Rahma memegang pundak anaknya dengan sayang. "Nak. Ada Pak Sharman mau ngelihat kamu. Sana, kamu mandi terus dandan pakai bedak punya Umi." Ira mengernyit mendengar nama Sharman disebut. Ingatannya berpindah pada seorang Sekretaris Kepala Desa dengan kepala botak, gigi emas dua menonjol di depan bibirnya. Pria itu memang punya mobil. Istrinya sudah dua, Ijah dan Painem. Humaira tahu karena dia segrup pengajian dengan mereka. "Tapi, Umi. Pak Sharman bukannya punya dua istri? "Iya, Nak. Tapi kamu 'kan tahu sendiri kalau Pak Sharman tuh lebih dari cukup menafkahi." Dia tidak menyangsikan jumlah finansial Pak Sharman sangat sehat untuk saat ini. Tetapi, entah mengapa hatinya kurang greg dengan pria berusia empat atau lima puluhan itu. "Kamu mau ya?" Humaira mengiyakan untuk menyenangkan hati ibunya. Pilihan orang tua terkadang juga tidak sepenuhnya salah, dia meyakinkan dirinya. Tak lama, tiba sebuah sedan hitam terparkir manis di depan rumahnya. Tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan keluar dari dalam mobil. Humaira telah berganti pakaian baru untuk menyambut tamu yang diundang ibunya. Setelah mengucap salam dan beramah tamah, Pak Sharman mengatakan maksud kedatangannya. Humaira keluar setelah dipanggil. Sharman menekuk alis, bingung karena melihat Humaira dengan jilbabnya. "Bisa tolong dilepas saja jilbabnya. Itu sedikit mengganggu pemandangan." Humaira tersentak dengan pernyataan pria itu. Dia mungkin akan mempertimbangkan, jika pria itu benar-benar berniat akan mengecek, mungkin rambutnya, tetapi perkataan pria itu sudah membuktikan pandangannya keliru dengan adanya tiga orang laki-laki lain yang berada di sana. "Lebih baik Anda cari seseorang yang akan melakukannya. Karena saya tidak akan melepas aurat saya sendiri." Tanpa kata, Humaira kembali masuk ke dalam. Sharman merasa terhina dengan kelakuan Humaira. Dia menggebrak meja kayu tempat teh dan kudapan tersaji. "Apa-apaan ini! Saya tidak suka dengan perlakuan anak tiri Anda, Pak Damiri." Keenam tamunya beranjak pulang selepas permohonan maaf Damiri dengan sangat, Sharman masih merasa terhina dan berniat mencabut perjanjiannya dengan Damiri, entah apa yang telah mereka diskusikan. Apa a yang dipikirkan Humaira, Rahma dan Damiri tak habis pikir. "Kamu anak enggak tau di untung! Awas saja, kalau bapakmu ini sampai dipecat! Kamu gak akan bapak biarkan tinggal di sini lagi!" Bergantian dengan Bapak tirinya, ibunya juga merundungnya dengan kata-kata pedas. "Kamu lepas kerudung ini! Gara-gara itu kamu enggak laku-laku!" "Astaghfirullah, Umi. Allah tidak akan memberi perintah kalau bukan demi kebaikan manusia itu sendiri." "Halah, dak usah menceramahi Umi, kamu! Bapak sudah ndak mau tau, kamu bakal diusir dari rumahnya!" Humaira lebih tercengang dengan pernyataan terakhir ibunya. *** Humaira merenung di dalam kamarnya. Sudah berapa tahun dia tinggal bersama sang ibu, tiada satu hari pun dia dibiarkan tenang. Selama ini Humaira banyak berpikir mengapa dirinya diberi ujian belum mendapatkan pengisi hatinya. Dia juga pernah mengenal cinta, Walaupun satu pihak dan hanya ada satu orang di kepalanya. Orang yang ditunggu pun tak pernah mengetahuinya. Menunggu dan menunggu. Memendam dan memendam. Satu orang yang terus dia lantunkan dalam doanya semoga kelak mereka benar-benar berjodoh dan bisa bersama. Humaira menatap nyalang langit-langit kamarnya. Dia tidak bisa tidur jadi dia naik ke atas atap. Hanya di sana dia bisa menumpahkan segalanya *** Dua orang laki-laki berpakaian mau ke sawah--kaos oblong, celana hitam seperempat, dan sepatu bot--mendengar kegaduhan itu dari kejauhan. "Romeo!" "Siap, Bos!" "Sudah kamu bereskan si Arman?" "Kelar, Bos." "Romeo!" "Ada lagi, Bos?" "Cari tahu apa yang terjadi di rumahnya. Barangkali kita bisa dapat kartu untuk menjebak gadis itu." Romeo berdecak pelan. "Kenapa enggak pake cara biasanya sih, Bos? Gadis itu orang miskin, pasti gampang disogokkan. Kenapa juga harus repot-repot dandan begini?" Sudah tiga tahun dia mengikuti bisnis Fahmi, ini pertama kali dia merasakan frustrasi memikirkan tingkat keberhasilan misi mereka. Misi kali ini cukup berisiko. Dia sudah mengamati berulang bosnya melaksanakan aksi, namun baru kali ini Fahmi mau turun langsung bahkan menyamar menjadi orang lain hanya untuk menarik seorang gadis. "Saya juga berpikir begitu awalnya. Tapi, melihat dari sumber yang kamu dapatkan, dia orang yang berprinsip, meskipun bukan orang berada ataupun anak konglomerat. Gadis itu tidak akan suka jika ditawarkan perjanjian kawin kontrak." Romeo mengangguk-angguk paham. "Lagipula tanpa kontrak semua akan jadi lebih cepat, bukan? Saya cuma tinggal masuk dan keluar tanpa hambatan." "Terus gimana caranya, Bos? Kita ancam dia?" "Enggak perlu. Just playing with her innocence. Buat dia terbang tinggi, lalu jatuhkan dia ke bumi." Fahmi tersenyum miring. Romeo bergidik. Hal itu bahkan lebih buruk dari permainan mereka yang biasanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD