Bungkus makanan ringan semakin menumpuk di ranjang. Minggu ini dia memilih bermalas-malasan. Dia biasanya akan memilih nongkrong dan nontn bareng teman-temannya. Entahlah, dia sedang tidak mood menemui siapa saja. Fahmi menyeukai keheningan rumahnya.
Dia menonton sinetron yang disukai ibu-ibu, mencoba CD bajakan dan melakukan sesuatu di luar kebiasaan, dari keseluruhan kerja yang dia lakukan, tidak satupun yang terasa menyenangkan.
Pelayan memanggilnya untuk makan siang, Fahmi tidak menyentuh makanannya. Dia tidak begitu berselera seperti biasanya.
“Apa ada sesuatu yang ingin Anda makan, Tuan?”
Fahmi membayangkan ayam madu yang terakhir kali dia makan. Jika Humaira yang memasak saja bisa seenak itu, apalagi dengan koki profesional, tentu akan luar biasa.
“Saya ingin ayam madu yang dibakar dengan tungku.”
Perubahan menu makan Fahmi dari masakan barat dan Prancis menyisakan tanda tanya para pelayannya. Seaneh apapun permintaan tuan muda, dia hanya harus melakukan tugasnya.
“Akan segera saya sediakan.”
Fahmi tertidur selagi menunggu pesanannya. Dan dia bermimpi sangat aneh. Dia berada di dunia ayam dan paha-paha berjajar menari-nari. Kaki-kai ayam itu pun berbulu lebat seperti kaki pria. Dari kejauhan tampak seorang gorilla mendekat dan mulai menggigiti ayam-ayam. Fahmi menyentuh ayam itu dan dia berubah menjadi gorilla. Tangan dan kakinya dibalut bulu. Cermin-cermin datang menghampirinya, menampilkan wajah buruk rupa. Dia pun terbangun saking terkejutnya.
Saat dia bangun semua ayam pesanannya telah tersedia. Fahmi bersemangat mencaplok makanan yang disajikan dengan tangan, pelayannya tersenyum melihat tingkah kekanakan Fahmi.
Dahinya mengernyit karena yang tidak dia kenali. “Bukan, bukan ini. Ini bukan ayam madu.”
Sontak koki dan pelayannya terkejut atas reaksi Fahmi yang tiba-tia. Makanan itu dibuat dengan daging ayam berkualitas tinggi dan bumbu remoah yang segar. Mana mungkin ada racikan yang lebih lezat dari masakan koki mereka.
“Ini ayam madu, Tuan. Chef Limon adalah spesialis dalam pengolahan ayam. Dan dia sangat mahir membuat ayam madu.”
Baiklah. Rasanya memang lezat, tetapi ada yang kurang. Sangat berbeda dari yang dia rasakan terakhir kali.
Fahmi hanya diam menikmati makanannya. Ada apa dengannya? Semua makanan mewah tidak terlihat lezat lagi. Jangan-jangan dia tertular lidah orang-orang desa itu. Makanan seadanya asal bersama. Padahal sehari-hari itu dia begitu tersiksa.
Dia harus memastikan tidak kehilangan naluri orang kaya miliknya. Krannya jatuh kepada satu-satunya orang yang bullyable. Romeo mengangkat telepon setelah dering kelima.
“Saya tunggu lima menit dari sekarang kamu harus sampai di sini.”
Meskipun misuh-misuh, Romeo pasti akan segera datang memenuhi keinginannya.
“Bos, Anda terlalu kezam. Pengertianlah sedikit. Saya tuh lagi jalan sama cewek.”
“Ayo makan.”
“Bos Anda mengundang saya sendiri setelah menghancurkan masa depan saya cuma untuk makan? Saya sedang makan bersama My Sweety tahu!”
“Oh, jadi My Sweety lebih berharga dari pekerjaan kamu. Kalau kamu jadi gelandangan, memangnya My Sweety mau ngelihat muka kamu!”
“Bos, teganya Anda meragukan My Sweety. My Sweety itu--”
“Duduk dan makan, Sialan!”
“Oke, Boss!”
Romeo secepatnya duduk setelah mendengar suara Fahmi mulai meninggi. Fahmi mode berserk tidak akan baik untuk kesehatannya.
Fahmi menyeringai. Melihat Romeo makan, membuatnya sedikit bernafsu menelan hidangan di hadapannya.
Makan malam bersama terdengar simpel, tetapi mengugah sebagian dari dirinya. Dia merasa apapun yang dilihat dan ditemukannya terasa sangat berbeda dan teralu berlebihan hanya untuk sendiri. Seperti seluruh hidangan yang berjajar di hadapannya. Meja makan yang panjang dan kosong itu mulai dipenuhi makanan-makanan yang sebagian tidak dia sentuh. Lalu, dia akan mulai mengatakan pada pelayannya untuk menyingkirkan sebagian makanan itu. Toh, dia mungkin hanya mengambil tidak lebih dari beberapa suap. Makanan lezat seolah telah kehilangan esensinya, terasa dingin dan hambar. Apa perlu dia mengganti kokinya? Apa makanan ini benar-benar tidak enak?
Ada yang aneh dari dirinya setelah kembali dan Fahmi ingin mencaritahu apa itu.
“Kenapa diam-diaman. Ayo bicara. Saya enggak manggil kamu untuk diam.”
“Maksudnya ngobrol, Boss? Eh, iya maap. Anu itu My Sweety-- Bukan, enggak jadi deh. Kemarin saya datang ke toko baju buat belikan dia baju cosplay loli.” Romeo mengamati ekpresi tak terganggu Fahmi sesaat dia akan mulai berbicara macam-macam. Oh, aman, ujarnya dalam hati. “Tahu enggak, Boss yang dia pakai baju robot kucing abad dua belas, bisa dibayangin My Sweety pakai pakaian tertutup bulu biru, lembut dielus-elus.”
Fahmi menggetok kepala Romeo yang matanya berubah bucin dan ngiler tidak tahu diri. “Sakit, Bos!”
“Saya malas dengar fantasi gila kamu.”
“Ya, tapi tapi tapi nih, Boss. Sekeluarnya dari toko kemarin saya keliatan cewek alim yang posturnya mirip sama Mbak Humaira.”
Perkataan Romeo membuat Fahmi tersedak. Dibantu Romeo dan pelayannnya, Fahmi kemudian bangkit setelah mereda. “Jangan sebut nama permpuan itu lagi. Dan… sudah kamu laksanakan tugas kamu, kan?”
“Itu… apa tidak sebaiknya dipikirkan dulu. Saya tidak bisa membayangkan akan bagaimana, kalau dia kehilangan suami yang baru dinikahinya baru sebulan.”
“Saya tidak mau dengar pendapat kamu. Bisa kamu laksanakan tugas kamu? Romeo!”
“Si-siap!”
Tanpa berucap apa-apa, Fahmi bangkit dari duduknya. Roemo memicing menatap kepergian bosnya menuju sofa. Baru kali ini dia melihat Fahmi merasa terganggu hanya karena penyebutan nama dari calon mantan istrinya. Apa yang sebenarnya dilakukan gadis itu pada Fahmi?
Romeo merasa takdir yang memintanya untuk mencari tahu lebih jauh.
Eh, tapi kok di amalah ditinggalin. “Bos, ini makannya gimana?”
“Habiskan aja, saya enggak berselera.”
“Habiskan?” Romeo melotot menatap bermacam-macam hidangan yang disajikan. “Saya boleh ngundang orang hajatan enggak, Bos?”
“Saya panggilin orang buat tahlilin kamu, mau?”
“Amit-amit, Bos mah becandanya. Saya masih muda, belum nikah kedua kalinya. My Sweety bisa jadi jodi nanti.”
“Jodi apaan?”
“Jodoh ditinggal mati.”
“Terserah.”
“Btw, Bos. Apa Bos enggak sumpek selam aini kita enggak pernah liburan. Gimana kalau Bos liburan ke Bali. Kan untung tuh bisa nontoni bikini.”
“Saya gak napsu sama bule.”
“Napsunya sama yang pribumi ya, Bos.”
“Sudah makannya? Pulang sana.”
“Bos selalu aja seenaknya nyuruh datang, nyuruh pulang, emang saya apaan?!”
“Marah, hah?”
“Enggak Bos. Saya pulang nih, pulang.”
“Romeo.”
“Apa lagi sih?”
“Siapin tiket ke Bali.”
***