Mungkin Romeo benar. Dia hanya butuh rehat sejenak dari kegiatan melelahkan. Ujung-ujungnya dia sendiri yang harus pergi ke Bali. Romeo menggunakan alasan tidak masuk akal untuk menjebaknya sendirian.
“My Sweety mau lahiran, Bos.”
“Sejak kapan kamu ngehamilin anak orang?”
“Astgahfirullah, Bos. Begini begini saya ini putih bersih. Mana napsu saya sama hewan berkaki empat.”
“Jadi, kamu ngehamilin gorilla?”
“My Sweety itu kucing saya, Bos. Kesian dia gak ada suaminya yang nungguin. siapa lagi kalau bukan saya.”
Jadi, My Sweety yang selama ini dia bicarakan adalah kucing. Fahmi mengerti apa yang dilakukan Romeo seolah memintanya untuk segera move on dari kejadian lalu. Fahmi pasti sudah berada dalam keadaan tidak meyakinkan bahkan sampai Romeo sebegitu mengkhawatirkannya.
Ya sudahlah, toh dia sudah sampai ke tujuan. Setelah rencana pengembangan dari rencana pembangunan resor dan hotel baru, tiga bulan telah terlewati, semua berjalan sempurna. Fahmi tak perlu bekerja terlalu keras untuk mewujudkannya. Romeo mengusulkannya berlibur di Bai untuk menenangkan diri sementara waktu. Sekali ini saja dia ingin benar-benar menikmati apa yang didapatnya.
Gema musik yang mengalun kencang menumpulkan sedikit kepekaannya. Dilihatnya gelas bening berisi cairan berwarna putih. Sudah lama sejak terakhir dia minum. Ini akan jadi minuman pertamanya setelah libur panjang. Tangannya sudah menggapai pegangan gelas sewaktu handphone dalam sakunya bergetar.
“Ya?”
“Ehem… ha… mi….” Bisingnya suara musik dan keriuhan pesta mengharuskan Fahmi memilih keluar agar dapat menelpon dengan tenang. Dia berjalan ke arah luar, eberapa kali hampir menabrak orang mabuk.
“Halo, siapa ini?”
“Fahmi….”
Suara itu… Entah mengapa hanya dengan mendengar suara lemah memanggil namanya, gempuran dahsyat terasa menghantam dirinya.
Tidak mungkin. Tidak mungkin dia, bukan?
“Apa benar ini nomor Fahmi? Saya istrinya. Bisa saya bicara dengan Fahmi?”
Kalimat yang mengkonfirmasi profil sang penelpon. Secepat kilat dia menutup telepon seperti orang bodoh. Dia kehilangan ketenangan. Gadis sialan itu bagaimana bisa tahu nomornya. Dan lagi, kenapa dia masih menelponnya? Apa gadis itu sama bebalnya dengan mantan-mantan istrinya yang lalu?
Wanita tetap saja wanita, serendah apapun kasta mereka. Dia tidak akan membiarka gadis itu menginvasi hidupnya lebih jauh, dia harus segera menyingkirkannya.
***
Semuanya masih baik-baik saja. Dia sangat yakin bahwa rasa gelisah tiba-tiba itu bukan sesuatu hal yang harus dipikirkan terlalu dalam. Selama kertas-kertas merah mulus berada dalam genggaman, memangnya bahaya apa yang bisa mengancam?
Sebut dia mata duitan atau apalah. Dia tidak keberatan. Fahmi pun tak ingat sejak kapan dia mengejar dunia. Mungkin karena eksistensi dari benda itu teramat menarik. Hanya dengan kertas bernilai itu, dia mampu memimpin, menggerakkan seseorang, membeli apapun yang dia inginkan. Seperti jin dalam botol, keinginanya terwujud. Kekayaan, ketenaran, kemewahan, kepuasan, wanita, hasrat apa yang tidak dapat dijangkaunya?
Sebuah helaan panjang. Fahmi amat tahu apa yang tidak dapat dia jangkau.
***
Fahmi dibuat kelabakan hanya dengan satu panggilan telepon masuk. Dia tidak jadi masuk ke bar dan memilih menemui seseorang.
Ammi Syah tengah menghadiri sebuah konferensi dan beberapa pertemuan penting dengan beberapa enterpeneur terkemuka di Indonesia. Sedikit waktu makan siang dia luangkan untuk menemui Fahmi.
“Ammi dengar kamu sedang dekat dengan seseorang.”
“Seseorang? Siapa? Aku banyak kenalan dengan orang-orang baru belakangan ini.”
“Dari yang asisten kamu bilang seorang perempuan?”
“Mana sempat. Banyak masalah yang terus bertumpuk sejak sebuan lalu.”
“Ya, boleh saja asal kamu tidak melupakan tujuan kamu. Waspada itu penting, karena perempuan kadang bisa menjadi batu sandungan. Sebaiknya kamu lupakan main-main dan fokus mengembangkan apa yang ada.”
Tanpa dikatakan Fahmi telah paham. Tidak ada waktu untuk menggalau tidak jelas. Ini masih belum cukup. Dia butuh lebih dan lebih lagi untuk mengalahkan seseorang. Tidak peduli dengan cara curang atau dengan menyakiti seseorang, dia hanya harus maju. Dan bagi siapapun yang menghalangi, dia tak akan segan-segan. Tak terkecuali gadis itu.
***
Seluruh keluarga Humaira berkumpul setelah pemakaman Amma Naura. Ini pertama kalinya dia ke Pulau Dewata. Bukan sekedar kata, jika pasir putihnya indah. Tidak jarang dia melihat turis-turis bersliweran di dekat sana. Kebetulan rumah duka tak jauh dari pantai.
Mereka datang menaiki mobi Rayhan. Farah tidak diizinkan bepergian jauh karena kandungannya yang masih muda. Ayah tirinya juga tidak bisa hadir. Termasuk Afifah yang mengambil cuti. Anak itu memang mengatakan sengaja untuk menemui Humaira.
Tanpa canggung Humaira mengatakan apa yanag dirasakannya sejak kepergian mendadak Fahmi.
“Aku sudah mencaritahu dan ada orang yang bilang mereka pernah melihat Fahmi. Aku dapet nomor teleponnya dari infrmasi orang itu. Coba kamu hubungi.”
Humaira menuruti Afifah dan menghubungi nomr yang tertera. Dia sangat gembira saat mengira seseorang mengangkatnya. Itu suara Fahmi, dia yakin, tetapi sambungan terputus dan dia tidak dapat menghubungkannya kembali.
“Nomor yang Anda tuju berada di luar jangkauan.”
“Nomornya mati?”
“Enggak tadi diangkat terus mati. Apa kita salah orang?”
“Ini juga untung-untungan. Maaf, Ira.”
“Enggak apa-apa kok. Aku cuma harus lebih bersabar.”
“Kita pasti akan dapat petunjuk lain kali.”
Biar egitu, Humaira merasa tak tenang. Jelas-jelas dia mendengar suara Fahmi. Kenapa mati? Apa di akehabisan baterai? Apa ada orang yang menghentikannya?
Mumpung berada di Bali, Afifah menargetkan Rayhan untuk berbelanja. Sekaligus menghibur sepupunya yang berduka. Dulua dia snagat menyukai model kaos Bilabong dan kata-kata satir yang tercetak di atasnya. Humaira mengambil beberapa gantungan kunci dari kerang dan pernak-pernik laut lainnya.
Rayhan mengajak semua orang memasuki sebuah restoran di tenagh kota. Afifah dan Rayhan du somplak yang memeriahkan suasana. Jika Farah melihatnya derajatnya pasti turun drastis. Namun, pikiran Humaira berada di tempat berbeda. Dia hanya tersenyum seperti biasa. Bagi orang yang mengenalnya dia saat ini mungkin sangat jauh dari biasa.
Humaira izin ke toilet, bukan untuk menuntaskan hajat, dia akan mencoba menghubungi nomor itu kembali. Masuk. Lama dia menaunggu, hanya nada dering tunggu yang terus berbunyi sampai berhenti. Lima kali dia menghubungi nomor yang sama. Tak ada jawaban.
Humaira merasa putus asa. Mungkin dia tidak akan pernah bisa bertemu Fahmi lagi. Dia mengusap bekas air mata yang tersisa dan menghadapi kerabatnya dengan senyum. Mereka telah selesai berkemas dan berniat kembali sebelum petang.
Humaira terus menunduk mengamati strap HP miliknya. Strap itu pemberian Fahmi yang dia jaga sepenuh hati. HP dalam genggamannya terlepas sesaat menyenggol seseorang, lalu tertendang dan berakhir di pinggir jalan. Humaira memeluk miliknya erat-erat, sesaat kemudian dia menyadari siluet seseorang yang amat dia kenal. Fahmi. Humaira terus mengejar bayangan itu hingga terpisah dari kerabatnya.
***
Romeo berdiri di antara dua orang, yang satu mencari cintanya dan yang satu mencoba mengabaikan perasaannya. Melihat kedua orang itu dia merasa harus turun tangan. Dengan begitulah dia merancang liburan setelah mengetahui Humaira juga berada di tempat yang sama. Hanya bagaimana kemudian takdir akan memimpin, menyatukan atau malah memisahkan keduanya. Dia hanya harus diam menonton dari belakang layar.