Siangnya Humaira mengunjungi satu-satunya kerabat dekatnya. Rayhan yang berwibawa adalah seorang Ustadz muda terkemuka di desanya.
Wajahnya cukup tampan sehingga digandrungi ibu-ibu pengajian. Namun, untuk gadis desa sepertinya, Rayhan adalah sebuah oase di tengah langkanya perjaka tampan di desa mereka. Di teras depan. Ditemani sepoi angin dari pohon mangga di depan rumahnya, Ibu Rayhan tengah menyulam.
“Assalamualaikum.”
“Wa alaikum salam wa rahmatullah wa barakah. Eh, Ira toh. Ada apa, Ir? Tumben siang-siang terik ke sini.”
Humaira menyalami adik dari ayahnya itu.
“Aku mau tanya-tanya soal alamat dan jalan ke kota.”
“Mau ke kota? Ada urusan apa? Ayo, masuk dulu.”
“Di sini aja, Ama. Afifah yang minta. Sekalian mau ngambil titipan Afifah.”
“Oh jadi kamu yang mau dititipkan. Hmm, anak itu memang… Kamu mau naik apa ke sana?”
“Bus malam. Insyaallah kalau enggak ada kendala.”
“Pergi sendiri?” tanya Rayhan yang tiba-tiba muncul dari dalam.
“Iya, Kak.”
“Pergi saja sama kita. Iya kan, Bang?” Farah melirik Rayhan yang mengangguk.
“Boleh kok.”
Farah adalah adik Rayhan yang hanya berbeda lima tahun dengannya. Semangat muda dan ketekunannya menjadikannya salah satu pemudi sukses dengan kerajinan tangan khas desa mereka. Idenya bersama pemudi lain untuk mengembangkan perekonomian desa amat membuatnya iri. Walaupun masih sangat muda, berkat bantuan Farah, Humaira jadi bisa sedikit menambah penghasilan.
“Ndak usah, Far. Aku pergi sendiri saja. Nanti juga Afifah yang jemput di terminal.”
Ama Nisa tanpa berucap pun mengerti bahwa karena keinginan Humaira yang berniat ke kota meski tak ada uang lebih, sepulangnya ia memberikan beberapa lembar. “Aku adanya segini, baru kemarin dibagi-bagi.”
“Makasih sekali, Far. Aku enggak tahu mau cari pinjaman kemana, tapi setelah aku pulang aku ganti, sungguh.”
“Enggak apa-apa, Ir. Anggap jatah liburanmu. Kamu sudah banyak membantu kami kok.”
“Bener, Far. Sekali lagi makasih loh.”
Humaira agak tenang setelah menggenggam uang sekitar dua ratus ribu yang diberikan Farah cuma-cuma. Tapi, pasti , di akan mengembalikannya nanti.
Dia bukan orang yang terbiasa meminta-minta pada orang lain. Hanya kepada kerabatnya saja ia dapat berkeluh kesah. Rayhan telah banyak membantunya selama ayahnya berpulang. Dan hanya mereka keluarga terdekat yang ia miliki.
Kadang ia berpikir seandainya ia terlahir di keluarga seindah itu. Dia mungkin taka perlu pontang-panting hanya untuk tetap bertahan dan tempat bernaung. Seandainya tidak akan mengubah apapun, toh ayahnya berkata, bahwa selama kita ikhlas akan ada saat keikhlasan itu berbalas.
***
“Minum Anda, Pak.”
“Terima kasih.”
“Semoga hari Anda menyenangkan.”
Fahmi enggan membalas senyum formal pramugari yang menyuguhkannya segelas minuman dingin. Bekerja sungguh melelahkan. Dulu jangankan bekerja, dia tidak pernah berpikir dari mana mendapatkan uang untuk hidupnya.
Kini, uang menjadi segalanya bagi Fahmi, tidak ada uang, bukan hidup namanya.
“Bos, Pak Syah memanggil Anda di bangku belakang.”
Romeo Torpedo, pria berbulu tangan seukuran anak SD yang menjadi teman perjalanan karirnya. Ia baru merasakannya dua tahun ini. Selama itu pula idealismenya tentang bekerja berubah total. Membangun perusahaan, menjalin kerjasama, selain itulah guna makhluk satu itu, ada pamannya dari pihak ayah, Syah Alatas.
Fahmi menengok ke arah seorang pria yang melambaikan tangan, menyuruhnya mendekat. Keduanya sudah punya janji untuk bertemu, tetapi nampaknya sang paman memiliki rencana lain.
“Apa kabar kamu, Fahmi.”
“Baik, Ami. Ami juga sehat?”
“Seperti biasa. Bagaimana dengan perusahaan kamu? Lancar?”
“Banyak kesulitan, tapi semua lancar.”
“Kamu pasti bisa. Ami yakin kamu bisa melampaui Ayah kamu.”
“Itu memang rencana aku.”
“Tapi... jangan terburu-buru. Bisnis bukan sesuatu yang bisa diprediksi hanya bermodal keberuntungan semata. Dan hati-hati. Kamu masih harus banyak belajar sebelum mengalahkan ayah kamu.”
“Baik, Ami. Nasehat Ami selalu Fahmi terapkan. Fahmi sudah banyak berhutang budi sama Aim. Fahmi tidak akan pernah lupa semua yang sudah Ami ajarkan. Ami juga sudah banyak membantuku selama ini.”
“Sudah sewajarnya Ami membantu. Kita kan keluarga.”
“Bahkan keluargaku tidak ada yang peduli.”
“Ami sangat mengerti perasaan kamu. Kalau kamu ingin membalasnya, buktikan kalau keputusan ayah kamu salah.”
Pamannya benar. Fahmi hanya memiliki satu pilihan, meski dia harus mati untuk mencapainya, dia tidak boleh gagal,.
***
“Pak proyek pembangunan mengalami penghentian. Tanah tiba-tiba longsor di daerah sekitar.”
“Pak, ada indikasi bahwa mode fashion untuk tahun ini mengalami kebocoran. Kemungkinan orang dalam yang membocorkannya.”
“Pak, perusahaan C menganulir proyek yang diajukan pihak kita.”
Dari luar kantornya terlihat apik dan karyawannya bekerja dengan segenap hati demi pundi-pundi gaji yang selalu on time. Dia juga bukan CEO sempurna dalam novel romansa yang pandai berbisnis dan terus bertambah kaya meski telah foya-foya untuk menyenangkan wanita.
Tiada yang tahu selain orang kepercayaannya bahwa kesialan tanpa henti terus berjatuhan seperti meteor menghantam kepalanya yang bisa meledak kapan saja.
Dia tidak bisa mundur ataupun menyerah untuk mepertahankan kedamaian ini. Walau otaknya terus berasap, dia pasti akan memikirkan sebuah cara untuk menghindari PHK mau pun menyelematkan hidup ratusan karyawan kantornya.
Beberapa hal memang akan mengeruk habis harta pribadinya. Masih dapat ditahan.
Sekarang, haruskah dia menggunakan cara lama? Fahmi mengingat kenalan lama pamannya yang mungkin akan memberinya pinjaman secara percuma.
Bapak Chu Jhonson, usia 63 tahun. Wib penyuka lolicon.
Fahmi mengernyitkan kening, menatap Romeo yang membuang muka, membacanya lagi.
Hobi, mengoleksi figur Mami Tomo, main arcade, dan segala hal berbau Jepang.
“Romeo.”
“Ya, Bos!”
“Ini apa?”
“Itu informasi yang Bos minta.”
“Memang saya suruh kamu cari tahu siapa! Ini Chu Jhonson, bukan bocah no life yang kecanduan perempuan dua dimensi!”
“Bos, saya sudah sebulan ini sengaja meluangkan waktu untuk menguntit kegiatan beliau. Percaya sama saya, semua kesimpulannya sudah tertera di sana.”
Ini pasti bercanda. Siapa yang sebenarnya dia hadapi adalah pria paling eksentrik yang pernah dia temui. Ya, tidak ada yang salah dengan minat orang kaya. Selama mereka berduit bahkan keinginan aneh pun terasa sah-sah saja.
“Romeo.”
“Siap!”
“Jangan teriak!”
“Ma-maaf, Bos.”
“Lakukan seperti biasanya.”
“Siap!”
“Romeo!”
***