Chapter II

1025 Words
Pagi hari itu begitu indah bagi anak perempuan yang menggandeng tangan pria berpeci putih yang mengajaknya memandangi pinggiran sawah dan rerumputan luas yang membentang kehijauan. Momen paling membahagiakan bagi anak itu adalah ketika ayahnya mencoba menghibur dengan membawanya berjalan-jalan keliling desa, bertemu beberapa petani kenalannya atau melihat orang-orang bercocok tanam di kebun. Namun, yang terpenting bukanlah kemana mereka akan berjelajah, karena selama dia bersama ayahnya, dia akan tetap bahagia. “Aba! Aba! Kita ke sana, yok!” Anak itu menyeret tangan ayahnya untuk berlari bersama. Tangan mungilnya menyibak helai-helai rumput panjang yang menghalangi pandangan mata. Di tengah lautan hama itu, hamparan bunga-bunga berwarna putih bersih bermekaran menakjubkan. “Bagus banget, Ba.” Ayahnya mengangguk dan tersenyum lembut. Dielusnya surai berwarna kemerahan akibat terpaan sinar pagi. Dandelion, sang bunga angin. Yang meskipun terlihat rapuh, dandelion bunga tertangguh yang tahan terhadap segala cuaca. Bunga yang terlalu indah diabaikan. Namun, karena sifatnya yang tersembunyi, berada di tengah rerumputan liar, sehingga dimaknai sama tidak indahnya. Ayahnya memetik setangkai dandelion, meletakkan bunga itu di depan bibir Humaira. Dia meniupnya lembut bertepatan sangat angin berembus. Putik-putik putih terlepas berhamburan dari kuntum bunganya, terbang membawa benih-benih di ujung tangkainya yang pipih mengikuti kemana angin membawanya. Kerudung Humaira berkibar pelan seiring angin berembus. Bunga dalam genggamannya menyisipkan hawa nostalgia tentang masa kecilnya. Bertahun-tahun telah berlalu, dia telah menjelma sosok gadis yang siap menikah. Namun, seperti dandelion yang tersembunyi, Humaira juga belum ditemukan sang pujaan hati. Humaira mendesah pelan. Dia menggosok-gosok kedua lengannya. Angin kencang membuatnya sedikit menggigil meski telah mengenakan sweater tebal. Mengambil air sumur dini hari sudah menjadi rutinitasnya sebelum kedua orang tuanya bangun saat shubuh menjelang. Ibunya akan marah jika air belum siap saat dia hendak mandi. Dia memandang termenung tiap kali menuang air terisi. Lalu, mendesah keras. Ingin rasanya pergi meninggalkan kampung halamannya, mengadu nasib mungkin. Tetapi dia tahu bukan hal itu yang diinginkan hatinya. Dia ingin diterima di sini. Tidak perlu ke tempat lain. Tetapi ibunya yang seolah menginginkan Humaira segera pergi dan tak lagi muncul di hadapannya. Dia jadi begitu merindukan sosok ayahnya. Dulu, ayah kandungnya adalah kepala desa di Desa Daun Bongkol ini. Lalu kemudian ibunya menikah lagi dengan Damiri, seorang perangkat desa dan orang kepercayaan pemilik ternak sapi terbesar di desanya. Damiri juga tidak menyukainya. Saat pertama kali menikah, ibunya berniat menampung Humaira. Damiri sempat menentang, tetapi mengingat Rahma tidak memiliki sanak saudara lain, mau tidak mau Humaira hanya memiliki satu tempat kembali. Saat Humaira sudah cukup matang untuk berkeluarga, tak hentinya sang ibu menyuruhnya segera menikah untuk mengeluarkan dirinya dari rumah itu. Humaira tak berdaya menghadapi gempuran dari keluarganya sendiri. Terlalu banyak melamun, membuatnya tak fokus, sehingga air meluber dari timba. Humaira menyelesaikan dengan cepat. Kemudian pergi ke kebun belakang, memetik beberapa sayur untuk makan mereka nantinya. Halaman belakang mereka cukup luas, sehingga Humaira menggunakan lahannya untuk bercocok tanam beberapa sayur tanaman rambat, dan apotek hidup. Tidak banyak waktu tersisa, dan ibunya mungkin akan marah jika dia tidak dapat menyelesaikannya tepat waktu. Jam menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit, Humaira telah selesai mengerjakan pekerjaan rumah saat ibunya bangun dan ayahnya telah siap untuk berangkat ke kantor desa. "Pak, sarapan dulu," Humaira menyilakan ayah tirinya dengan sopan. Meski pria itu tak menggubris dan hanya menyesap kopinya, sebelum berangkat tanpa berkata-kata. Humaira mengulum kecut. Bukan pertama kalinya dia diabaikan. Sejak pada akhirnya, ibunya mengizinkannya tinggal bersama, perlakuan ayah tirinya memang sudah begitu. Dia mungkin hanya harus lebih bersabar lagi. Toh, tak mungkin selamanya ayahnya tak akan luluh. Ketika ibunya yang juga telah segar dan duduk menikmati kopi yang dia sediakan, Humaira berpikir untuk mengutarakan niatnya. "Ummi." "Hmm?" "Ira, ada yang mau diomongin." "Mau ngomong apa?" "Tentang Afifah, Mi. Kan dia baru nikah, jadi...." Humaira mengurungkan perkataannya mendengar helaan napas kasar ibunya. "Punya anak satu mbok ya ada niatan begitu membahagiakan orang tua." Humaira meneguk ludah, kalau sudah masuk ke dalam pembahasan membahagiakan dia hanya bisa mati kutu dijejali semua hinaan dari ibunya sendiri. "Kamu tuh sudah pengangguran, enggak mau juga disuruh nikah sama pria tajir." "Ira kerja kok, Mi." Hanya itu yang bisa dia jadikan pembelaan. "Kerja oppo? Guru MTQ yang bayarannya enggak bisa dibikin beli baju itu!" Humaira terdiam, tangannya meremas roknya gusar, kepalanya tertunduk semakin dalam. Mengatakan pembelaan pun akan sama saja hasilnya. Padahal, kadang dirinya masih menerima orderan untuk menganyam kerajinan atau bahkan menjahitkan beberapa pakaian orang. Itu semua pun belum cukup di mata ibunya. "Lihat si Dania, tuh dia dapet pria tajir, suaminya punya pabrik, rumahnya bagus, hidupnya makin enak. Ibu bapaknya juga kecipratan. Bisa di-haji-kan, rumahnya bangun, dibelikan toko pula. Contoh! Itu baru yang namanya perempuan cerdas!" Untungnya, dering telepon menginterupsi khotbah ibunya. Sehingga Humaira tak perlu bermandi keringat dingin lebih lama. Rahma mengangkat, berbincang sebentar, lalu memberikannya pada Humaira. Ternyata Sepupunya, Afifah, yang menghubungi. "Iya, Pa." "Jadi kan, Ir? Kamu sudah bilang Ama Rahma?" "Insyaallah. Aku belum bilang soalnya." "Sini biar aku yang ngomong sendiri." Dengan segera Humaira memindahkan telepon ke tangan ibunya. Wajah bingung Rahma terjawab oleh penjelasan Afifah. Tampak ibunya sedikit berdebat, baru kemudian telepon kembali berpindah kepada Humaira. "Aku sudah bilang. Alhamdulillah boleh katanya. Kamu bisa berangkat sendiri, kan?" "Iya bisa bisa." "Aku tunggu ya, Ir. Assalamualaikum." "Ya sudah. Wa Alaikum salam." Entah apa saja yang dikatakan Afifah pada ibunya, Humaira begitu senang karena ini pertama kalinya dia akan berkunjung ke kota, jauh dari rumah, jauh dari desanya tercinta, dan jauh dari hidupnya yang biasanya. Walaupun pada awal Afifah meminta tolong, dia enggan. Mungkin dia butuh ketenangan sesaat dengan menjauh sebentar memikirkan hidupnya ke depan. Humaira sempat mengecek dompetnya yang sekarat, tidak banyak uang tersisa setelah kemarin dia harus berbelanja beberapa kebutuhan pribadi. Tidak mungkin juga dia meminta pada orangtuanya. Sejak kecil dia memang diajarkan hidup prihatin, jarang meminta saku, hanya saat ibunya memberi uang, dia menyimpannya untuk ditabung. Menahan hasrat seperti anak-anak seusianya. Ibunya memang keras, tetapi Humaira mengerti bahwa ibunya juga menyayanginya. Dia akhirnya menyetujui setelah Afifah berkata akan mengganti ongkos kepergiannya. Sekarang ke mana lagi dia harus mencari pinjaman uang sementara? "Tapi...," Dia menoleh karena ibunya bersuara,"pastikan kamu dapat calon sepulang dari sana atau Ummi yang akan menikahkan kamu sama siapa saja." Ucapan tegas Rahma mengkonfirmasi kecurigaannya. Humaira mendesah. Afifah! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD