Dia dilahirkan dengan menggenggam sendok perak di tangan. Kemelaratan sangat jauh dari kehidupannya.
Sewaktu dirinya muda, ayahnya membuangnya selama lima tahun untuk mengajarkan tanggung jawab atas hidupnya. Dia hanya diberika saku lima ribu rupiah untuk bertempat tinggal dan bekerja. Dia lebih sering tidak makan dan beberapa kali bekerja tanpa upah. Tidak ada toleransi untuk tidak bersekolah, kecuali untuk alasan sakit atau cedera. Ayahnya memang keras, tetapi apa yang pengalaman yang dia dapatkan tidak sebanding dengan perjuangan kecil.
Fadhil tumbuh sebagai pria pekerja keras. Dia sudah menabung sejak usianya lima belasa tahun, dan mendapatkan motor dari hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun.
Setelah ayahnya wafat dan mewariskan perusahaan, dia bisa mengembangkan bisnisnya hingga sepuluh kali lipat. Dipuji sebagai tangan emas, dalam waktu singkat, Fadhil telah menjadi salah satu miliarder terkemuka tidak hanya di Indonesia.
Pernikahan pertamanya dengan Habibah yang kemudian melahirkan Fahmi. Empat tahun usia Fahmi, Habibah meminta cerai dan meninggalkannya.
Tidak butuh waktu lama untuk Fadhil menemukan pengganti. Khadijah memangku kepentingan anak-anaknya. Perceraiannya tidak berakhir dengan penyesalan. Namun, Fahmi sempat dibawa sebelum Habibah berpulang.
Setahun setelah pernikahannya, Khadijah melahirkan Farhad. Fadhil tak pernah pilih-pilih dalam membagi kasih sayang anak-anaknya. Farhad mencintai kakaknya dengan sepenuh hati. Pun Fahmi yang menjalani tugasnya sebagai kakak melindungi adiknya.
Baru setelah bertahun-tahun berlalu, Fadhil menyadari kekeliruannya. Dia terlalu lunak terhadap anak-anaknya. Dia tak tega menjadikan mereka seperti dirinya. Hingga perbedaan jelas terlihat. Fahmi sebagai anak pertama dibesarkan menjadi anak yang manja, dia tak terbiasa dengan kehidupan sederhana. Sedangkan adiknya Farhad meski berbeda ibu, Farhad telah dimondokkan dan diajarkan hidup prihatin sejak menginjak tiga belas tahun usianya.
Dari segi psikologis Farhad seagai adik justru lebih dapat diandalkan dibandingkan Fahmi.
Setelah Fahmi keluar dari SMA, dia salah bergaul dan terjerumus dalam alkohol. Beruntung mereka tepat waktu menyelamatkan Fahmi sebelum anak itu mulai merambah obat-obatan terlarang.
Butuh empat tahun rehabilitas untuk membuatnya sembuh dan terbebas. Kenyataannya, Fahmi telah menegak minuman keras sejak dia SMA. Fadhil menyerahkan Fahmi kepada adiknya Fatma. Sejak itu Fahmi memilih tinggal dengan kakak Fadhil, Syah Alatas. Lima tahun setelah rehab selesai, Fahmi enggan kembali ke rumah, jika bukan demi permintaan adiknya yang telah lulus dari sekolah bisnis di London. Sifat buruknya terlihat semakin menjadi. Fahmi yang rebel dan tidak terkendali, tidak ada yang sanggup menghadapinya.
Sampai kemudian keputusannya menyerahkan estafet perusahaan utama di tangan Farhad menjadi awal dari perselisihan.
“Sekarang saya tanya, apa kamu bahkan bisa menangani perusahaan kecil? Kamu anak tidak berguna yang hanya bisa mengahmburkan uang orangtua. Kamu pikir saya akan merelakan perusahaan yang dibangun dengan darah dan akeringat untuk kamu hancurkan?”
Perkataan Fadhil sudah cukup untuk menancapkan paku amarah dan dendam di hati Fahmi.
Fahmi mengumbar janji bahwa dia akan membuktikan dirinya mampu meski harus berkorban nyawa. Setelahnya, dia tinggal di rumah Syah Alatas dan diangkat sebagai anaknya.
“Kamu merelakan anakmu pergi hanya karena harta, Fadhil?”
“Abang tidak akan mengerti caraku mendidik mereka.”
“Cara kamu justru akan jadi bumerang untukmu suatu saat nanti. Apa kamu sedang mencoba mencontoh Aba?”
“Aku menyesal karena tidak mengikuti cara Aba sejak awal. Seharusnya aku melakukan hal ini sejak lama.”
“Fadhil! Kamu sangat tahu seberat apa yang Aba ajarkan pada kita. Itu bukan cara manusiawi!”
“Itu karena Abang tidak pernah menyelesaikannya. Seandainy Abang tidak lari, Abang akan setuju dengan pendapatku ini.”
Kalimat Fadhil menghentikan protes Syah Razak lebih jauh. Syah mengingat saat adiknya justru berkata akan menangung semuanya. Seharusnya dia yang berkata begitu. Ini karena dia lari. Dia tidak ditakdirkan menjadi pewaris perusahaan ayahnya. Mewarisi perusahaan utama dalam keluarga merupakan suatu kebanggan tersendiri pertanda kemampuannya telah diakui.
Bisnis bukan bidang yang dikuasainya. Syah tidak bisa seserius Fadhil dalam bekerja, dia juga tidak bisa meniru kegigihannya, bisnis hanyalah hobi yang sesekali dia kerjakan. Mungkin jika seandainya dia yang diserahkan tampuk kepemimpinan, perusahaan tak akan bertahan.
Meski semua sejelas siang hari, Syah belum menerima keputusan ayahnya hingga kini. Dia masih merasa berhak menjadi kepala keluarga Alatas karena dia yang paling tua dalam keluarga.
Memang jalan yang yang Fadhil lewati akan berbatu dan sarat resiko, tetapi jika itu bisa menyadarkan anaknya, jangankan hanya perusahaan, dia ikhlas merelakan seluruh hartanya.
Alatarik Bachmid, memilih hidup menyendiri di hutan. Dulu dia terkenal sakti berkat ajaran gurunya. Setelah menginjak dua puluh tahun dia bertaubat dari segala kesyirikan semasa kebodohannya.
Dalam dua tahun pencarian jati diri. Dia bertemu Pak Kyai Abdurrahman yang tengah berkeliling dakwah di seluruh pelosok desa. Empat tahun mengabdi sebagai murid. Dia pun diangkat sebagai anak. Keduanya berpindah-pindah dari satu desa ke desa lainnya, sampai dia akhirnya bertemu dengan Rahma di kota.
Rahma gadis periang yang penuh kasih sayang pada binatang, dia sangat pandai berternak dan berkebun. Sehingga kemana pun mereka pergi, tidak hanya pengalaman, Rahma juga mendapat pelajaran tambahan dari perjalanan mereka.
Sesuai takdir Allah, hanya sekali Rahma mengikuti perjalanan, Humaira terlahir di sebuah desa terpencil yang hanya dapat dijangkau dengan perahu. Pak Kyai menyuruhnya untuk menetap karena kasihan jika seandainya anaknya dibawa-bawa.
Desa Daun Bonggol terkenal dengan praktik syirik dan ilmu hitam. Berkali-kali dia menempatkan diri dalam bahaya sebelum membebaskan desa. Desa yang semula dinaungi awan gelap mulai beruah, perekonomian semakin lancar. Alatarik memberi kemajuan pada desa mereka dan segera diangkat sebagai kepala desa dengan hasil bulat.
Desa yang sebelumnya miskin dan kekurangan mulai tertata, pejabat korup segera diadili. Semua berjalan mulus bahkan setelah masa jabatannya berakhir. Alatarik masih membantu perkembangan di desanya. Dia juga mulai mendirikan sekolah dan sanggar-sanggar tempat mengaji. Sanggar yang nantinya juga akan dijadikan tempat perkumpulan muda-mudi memajukan desa.
Alatarik mengirim pesan kepada keluarganya untuk tinggal di desa itu. Hanya adiknya beserta keluarga yang memutuskan datang dan menetap.
Humaira satu-satunya darah daging Alatarik diajarkan agama dengan baik dan benar. Dia meminta Humaira untuk menaati Allah dan Rasul-Nya, juga terus berpegang teguh pada ajaran Al-Qur’an dan Sunnah, karena itulah pedoman hidup. Dan kehidupannya akan terjamin. Sayangnya, waktu yang dia miliki untuk mengajarkan keaikan hanya sebentar.
Di usia Humaira yang ketiga belas tahun, Alatarik ditemukan meninggal sambil bersujud di dekat rawa, punggungnya ditusuk belati yang menembus langsung ke jantungnya. Hampir seluruh desa hadir ke pemakamannya. Namanya dikenal dengan indah karena manfaatnya untuk desa.