Chapter XLI

1069 Words
Fahmi menatap masjid yang entah kapan kakinya mulai menapaki lebih sering. Dia juga sering melihat jam karena takut terlambat. Dia sudah mencoba menghilangkan kebiasaan ini, tetapi hatinya sangat gelisah hingga tak konsen bekerja. Seperti yang pernah dikatakannya, segala sesuatu yang menghalanginya mencapai tujuan harus dia singkirkan. Berawal dari kebiasaannya sejak enam bulan di desa Humaira, berlanjut dengan kegelisahannya setiap kali hendak meninggalkan kewajiban shalat. Daripada mencoba menghindarinya, lebih baik di amaju dan melaksanakannya. Lima menit yang sangat singkat dan mampu mengubah suasana hatinya. Romeo juga merasakan perasaan yang sama. Desa yang misterius. Bukan hanya menginvasi pemikiran mereka, juga membuat mereka mengikuti praktik-praktiknya. “Bos, besok Bapak Chu mengundang kita ke pesta ulang tahun pernikahannya yang ke tiga puluh. Mau ditolak atau bagaimana?” “Jangan. Saya akan hadir.” “Yakin?” “Yakin.” “Di undangan tertulis Fahmi dan istri.” Gerakan pena di tangan Fahmi terhenti. “Mungkin maksudnya Dik Humai--” “Saya akan hadir.” Pernyataan Fahmi menghentika pembicaraan. Romeo pamit undur diri. Nama itu sudah terhapus dari kamusnya. Fahmi mengeluarkan surat cerai dari laci. Dia mungkin sudah siap untuk mengirimkannya. *** Jalanan kota memang rumit. Humaira takut tersesat, jadi dia meminta afifah menjemputnya dan membawanya ke Kafe Minum. Ada Iriana dan Romlah yang suduh menunggu mereka. “Ira! Lama enggak ketemu. Kangennya.” “Iya Mbak Iriana, Ira juga kangen.” “Masih aja katro padahal suaminya CEO.” “Romlah! Jangan begitu, ah.” “Enggak apa-apa, Mbak. Ira ke sini juga mau membicarakan masalah itu.” “Duduk dulu. Karena udah mau tutup kita bisa kumpul di sini.” Iriana menyodorkannya segelas coffelatte. Afifah sendiri langsung berganti pakaian pulang. “Mbak Romlah mau kan kasih tahu Ira, apa yang bikin Mak Romlah yakin kalau dia Fahmi?” Humaira beralih ke arah Romlah yang bersandar ke dinding dan enggan melihatnya. “Pertam-tama, aku gak seneng kamu manggil aku Mbak, secara usia kita sepantaran. Kedua, kalau mau tahu, ada syaratnya.” “Romlah, kamu ini. Orang kesusahan kok malah dimanfaatin,” protes Afifah karena sejak tadi Romlah nyerocos seenak jidatnya. “Kalau Ira sanggup syaratnya pasti akan Ira penuhin. Ira mohon… Romlah.” Romlah tertegun, bening mata Humaira menyilaukan. Dia selalu iri dengan kecantikan Humaira. Lebih iri saat tahu yang dinikahinya mungkin bukan orang biasa. Jika memang benar Fahmi yang dimaksud adalah Fahmi Alatas. Dalam sekejap Humaira akan jadi nyonya besar. “Syaratnya…,” Humaira menanti dengan binar harap. “kamu traktir aku bakso sampe puas.” Iriana yang pertama kali terkekeh dibuatnya. “Kirain opo toh.” Afifah mendengkus sebal. “Ira insyaallah bisa menuhin syaratnya.” “Bagus deh. Yang ketiga, aku cuma mau ngomong berdua sama Humaira.” “Hei--” “Udah, Fa. Enggak apa-apa. Ayo kita cari tempat buat bicara berdua.” Mereka memutuskan ruang ganti yang dikunci rapat sebagai tempatnya. “Mana foto suamimu.” Humaira memberikan handphone miliknya. “Enggak salah lagi, ini beneran Bos Fahmi. Meski kulitnya tan, enggak bisa ngilangin bukti kalau ini Bos Fahmi.” “Bos Fahmi?” “Benar-benar sulit dipercaya dia mau nikahin gadis desa kayak kau.” “Kenapa Romlah yakin kalau itu Bos Fahmi? Memang siapa sih Bos Fahmi ini?” “Gini ya, aku cuma ngasih tahu kau. Bos Fahmi punya nama Fahmi Alatas. Dia keturunan Arab tulen meski tinggal di Indonesia. Ibunya masih golongan ningrat Raja Arab. Ayahnya masuk ke jajaran orang terkaya di Indonesia. Dia sendiri punya perusahaan yang baru dirintis sekitar tiga tahun lalu. Sekarang usahanya lagi maju-majunya. Kalau dia memang terbukti Fahmi Alatas, karena aku tak merasa yakin jika hanya lewat foto, bisa dibilang, selamat kau lagi ketiban durian runtuh tanpa sadar.” Fahmi Alatas. Konglomerat. CEO. Semua penjelasan dan fakta ini begitu memingungkan. Sudah dia duga, Humaira harus bertemu langsung dengan pria itu. Humaira masih kesulitan memproses penuturan Romlah. “Aku sangat tahu karena perusahaannya enggak terlalu jauh dan beliau ini sangat populer di kalangan pekerja. Kalau dia beneran laki kau, aku minta tanda tangan dan bentuk hati.” “Tunggu-tunggu, belum tentu juga dia Fahmi Alatas yang Romlah bicarakan. Ira hasru ngeliat dengan mata kepala sendiri. Tolong kasih tahu alamat perusahaannya.” Romlah menyerahkan alamat yang diingatnya saat mengantar pesanan ke kantor Fahmi. Baik afifah maupun Iriana tidak mempertanyakan apa yang mereka bicarakan. Jika memang sudah waktunya Humaira sendiri yang akan bercerita. Banyak hal ganjil dari cerita Romlah. Semua yang disebutkan Romlah tidak sesuai seperti apa yang dikatakan Fahmi. Fahmi yang dia kenal, seorang pria biasa, orangtuanya renta dan miskin, mereka juga terlilit hutang dan Fahmi sedang berjuang di tangan rentenir jahat untuk menebus segala hutang ayahnya. Lantas bagian mana kedua cerita itu yang sesuai dengan kenyataan? Dia kaan mendapatkan jawabannya esok hari. Humaira tidak bisa tidur memikirkan akan bertemu Fahmi. Apa yang akan dia katakan? Apa yang akan dia lakukan? Jika seandainya Fahmi membohonginya, untuk apa? Kenapa? Keesokan yang terasa lama akhrinya tiba, pukul sembilan pagi, dibonceng Afifah, Humaira menuju ke kantor Fahmi. Bangunan menjulang bak menara yang dirancang arsitektur terkenal. Humaira menarik napas panjang, lalu menbuangnya sembari memantapkan diri, berjalan tegak menuju kantor Fahmi. Pagi itu sangat ribut, banyak pria dan wanita berpakaian rapi dan cantik bersliweran sepanjang mata memandang. Humaira segera menuju resepsionis bersama Afifah. “Permisi, saya ingin bertemu dengan Bapak Fahmi Alatas.” “Apa sudah membuat janji?” “Belum. Tapi tolong beritahu nama saya, dia pasti mengenalinya. Ah, nama saya Humaira.” Afifah merasa terganggu dengan tatapan curiga resepsionis cantik di hadapannya. “Baik, mohon menunggu, akan segera saya tanyakan.” Tak berselang lama, resepsionis memberitahu bahwa Bos Fahmi tidak berada di tempat dan sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri untuk jangka waktu tertentu. Keduanya pulang dengan tertunduk. Yang tidak mereka ketahui, bahwa Romeo sempat melihat keduanya dan bertindak cepat. Akan gawat jika sampai semuanya terbongkar. Romeo mencoba menghubungi Fahmi, tetapi pria itu tak juga mengangkat teleponnya. “Pas lagi dibutuhin malah enggak ngangkat.” *** “Sekarang gimana?” “Aku akan ke alamat itu.” “Kalau itu bukan alamatnya gimana?” “Ini usaha terakhriku, Fif. Kali ini aku akan pergi sendiri.” Dan begitulah Humaira tiba di kediaman megah keluarga Alatas bak istana. Ini bohong kan? Mungkin Fahmi hanya anak dari pembantu di rumah ini. Dia meminta izin bertemu dan langsung disetujui oleh pemilik rumah. Humaira diantarkan dengan mobil menuju rumah utama. Di sana dia dituntun ke ruang tamu dan bertemu dengan pria yang mirip secara sekilas dengan Fahmi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD