Bab 5 — Langit yang Terbakar

1481 Words
Hawa panas dari ledakan di sektor bawah mulai merambat naik, membawa serta bau belerang dan plastik terbakar yang menyengat, menciptakan kabut beracun yang mengaburkan pandangan. Peter berdiri di depan lubang menganga yang dulunya adalah pintu lift utama Sektor 04. Kabel-kabel baja raksasa menjuntai putus seperti urat nadi yang terpotong dari monster logam, sesekali mengeluarkan percikan api elektrik yang menari di kegelapan poros vertikal setinggi tiga puluh lantai itu. Suara dentum ledakan dari bawah terdengar seperti tabuhan genderang perang yang makin mendekat, menggetarkan fondasi bangunan yang mulai rapuh. ​Di punggungnya, Maia mencengkeram erat pundak Peter. Gadis itu bisa merasakan panas yang memancar dari kulit reptil Peter, sebuah suhu tubuh yang jauh melampaui batas normal manusia—seolah-olah ada reaktor nuklir mini yang sedang bekerja di bawah sisik hitam itu. Peter bisa merasakan napas Maia yang pendek dan gemetar di ceruk lehernya. Setiap embusan napas itu, sekecil apa pun, adalah jangkar yang menahan Peter agar tidak sepenuhnya tenggelam dalam insting predatornya yang liar. ​"Pegangan yang kencang, Mai. Poros ini lebih berantakan dari kamar kosku saat minggu ujian," gumam Peter. Suaranya bergema di dalam lubang gelap itu, terdengar parau dan berat, namun ia berusaha menyelipkan nada santai yang dipaksakan. "Kalau kau merasa pusing, tutup saja matamu. Aku akan menjadi lift pribadimu hari ini. Tenang saja, tidak ada biaya servis tambahan untuk fasilitas bintang lima ini." ​Maia tidak menjawab dengan kata-kata; ia hanya mempererat pelukannya pada leher Peter yang bersisik, menyembunyikan wajahnya di antara duri-duri tulang yang mencuat. Peter mengambil napas dalam-dalam, merasakan paru-parunya mengembang dengan kapasitas yang tidak masuk akal, menghirup sisa-sisa oksigen yang bercampur asap. Kemudian, tanpa aba-aba, ia melompat. ​BOOM! ​Peter tidak menggunakan tangga atau kabel yang menjuntai. Ia menghujamkan cakar hitamnya langsung ke dinding beton poros lift. Suara beton yang hancur berderak mengerikan saat kuku-kuku tajamnya menggali masuk, menahan beban tubuh mereka berdua di ketinggian seratus meter. Dengan satu sentakan otot paha yang masif, Peter meluncur naik, melompat dari satu sisi dinding ke dinding lainnya seperti predator purba yang sedang mendaki tebing terjal. Kecepatannya begitu luar biasa hingga angin yang menerpa wajah mereka terasa seperti pisau yang menyayat. ​"Subjek-13 berada di poros lift utama! Aktifkan unit interupsi udara! Jangan biarkan dia mencapai dek observasi!" suara operator keamanan terdengar statis dari pengeras suara yang terpasang di setiap lantai poros. ​Tiba-tiba, dari kegelapan di atas mereka, muncul cahaya laser merah yang memindai dinding dengan cepat. Suara dengung mesin drone tempur mulai memenuhi ruang sempit itu, bergema berkali-kali lipat lebih bising. Empat unit drone bersenjata senapan mesin mini meluncur turun dari langit-langit poros, moncong senjatanya sudah berputar panas, siap menyemburkan maut. ​RATATATATATATATAT! ​"Sialan! Mereka benar-benar tidak tahu cara menyambut tamu dengan sopan!" teriak Peter sambil terus memanjat. ​Ia tidak bisa membalas tembakan karena kedua tangannya sibuk mencengkeram dinding beton yang licin oleh oli. Peluru-peluru kecil itu mulai menghujam punggungnya, memercikkan api saat mengenai duri-duri tulangnya. Peter sengaja melengkungkan tubuhnya, memposisikan dirinya sebagai perisai daging dan baja untuk melindungi Maia yang meringkuk ketakutan di baliknya. Ia merasakan perih yang luar biasa saat beberapa peluru menembus celah sisiknya, namun ia menolak untuk jatuh. ​"Peter! Kau berdarah lagi!" teriak Maia ngeri saat melihat cairan hitam kental mulai merembes dari bahu Peter dan membasahi bajunya. ​"Hanya goresan kecil, Mai! Anggap saja ini tato temporer dari perusahaan gila ini!" Peter menggeram menahan perih yang mulai menjalar ke sarafnya. ​Dalam satu gerakan akrobatik yang menantang maut, Peter melepaskan pegangannya di dinding. Ia memutar tubuhnya di udara, membiarkan gravitasi menariknya sejenak, lalu ia menendang salah satu drone dengan kekuatan penuh. Mesin terbang itu hancur berkeping-keping, meledak menabrak dinding seberang. Sebelum Peter jatuh bebas ke dasar poros, tangan kirinya kembali menghujam beton dengan suara dentuman keras yang memekakkan telinga. ​Kemarahan Peter mulai mengambil alih saat ia melihat drone lainnya mulai membidik ke arah Maia. Ia tidak lagi sekadar mendaki; ia mengamuk. Dengan satu lompatan vertikal yang kuat, ia mencapai drone kedua, mencengkeram mesin itu dengan satu tangan, lalu meremas logamnya hingga hancur dan meledak dalam genggamannya. Api ledakan itu menjilat lengannya, namun Peter seolah kebal. Fokusnya hanya satu: membawa Maia ke puncak. ​"Kruger! Aku tahu kau menonton ini! Kirimkan sesuatu yang lebih menantang daripada mainan remote kontrol ini, b******k!" raung Peter. Suaranya menggetarkan seluruh poros lift hingga debu semen berjatuhan seperti salju kelabu di tengah api. ​Setelah melewati sepuluh lantai terakhir dengan kecepatan gila, Peter menghantam pintu baja di lantai paling atas hingga jebol dan terlempar dari jalurnya. Ia mendarat di sebuah aula luas dengan lantai marmer putih yang kini tertutup lapisan debu tebal. Aula itu dikelilingi oleh kaca-kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan luar—hutan gelap yang luas dan langit malam yang mulai memerah akibat kobaran api dari fasilitas yang perlahan runtuh. ​Peter menurunkan Maia dengan sangat perlahan di balik sebuah pilar marmer besar yang masih berdiri kokoh. Ia bisa melihat Maia lemas, wajahnya pucat pasi akibat tekanan gravitasi dan ketakutan yang menguras energinya. ​"Istirahat di sini sebentar, Mai. Jangan keluar dari balik pilar ini sampai aku bilang aman. Kau mengerti?" Peter menatap mata Maia, mencoba mencari sisa-sisa keberanian di sana. ​Maia memegang tangan Peter yang bersisik kasar. "Peter... lihat dirimu. Kau terluka parah. Tolong, jangan tinggalkan aku." ​Peter mencoba tersenyum, meski wajah monsternya hanya bisa memperlihatkan seringai yang mengerikan. "Darah ini cuma hiasan agar aku kelihatan lebih sangar, Mai. Aku baru merasa hidup justru saat keadaan jadi kacau begini. Dasar monster aneh, kan?" ​Peter berdiri tegak, membalikkan badannya menghadap koridor panjang yang menuju ke Dek Observasi. Di ujung koridor itu, berdiri sesosok pria dengan jas laboratorium yang sangat rapi, tampak sangat kontras dengan kekacauan berdarah di sekelilingnya. Dr. Elias Kruger. Namun, Kruger tidak sendirian. Di sampingnya, berdiri sebuah peti logam besar yang terbuka, mengeluarkan uap dingin nitrogen cair yang merayap di atas lantai marmer. ​"Kau tepat waktu, Peter," ucap Kruger melalui mikrofon kerah bajunya, suaranya terdengar jernih melalui pengeras suara aula. "Aku selalu mengagumi determinasi yang kau miliki. Tapi membawa gadis itu bersamamu adalah kesalahan fatal. Kau hanya membawanya ke depan pintu rumah jagal." ​"Tutup mulutmu, Kruger! Aku akan memastikan kau tidak bisa bicara lagi setelah ini!" Peter mulai melangkah maju, duri-duri di punggungnya bergetar hebat, mengeluarkan suara berdesis yang mengancam. ​"Mari aku perkenalkan kau dengan teman barumu" Kruger tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Ini Unit Guardian.! Prototipe yang aku ciptakan di laboratorium ini. Ini adalah versi terbaru. Dan dia tidak memiliki kelemahan bernama 'perasaan' sepertimu." ​Dari dalam peti logam itu, keluarlah sesosok makhluk yang lebih besar dari Peter. Tubuhnya dibungkus oleh pelat baja hitam yang menyatu secara permanen dengan dagingnya melalui jahitan-jahitan logam yang kasar. Makhluk itu tidak memiliki wajah manusia; hanya sebuah sensor optik berwarna merah yang berdenyut di tengah kepalanya yang licin. Tangannya bukan lagi tangan, melainkan sepasang bilah gergaji mesin raksasa yang mulai berputar dengan suara bising yang memilukan telinga. ​VROOOOOOM! ​"Guardian-01. Habisi Subjek-13. Jangan sentuh gadis itu, dia masih diperlukan untuk riset kegagalan biologis," perintah Kruger dingin. ​Makhluk bernama Guardian itu melesat maju dengan kecepatan yang menandingi Peter. CLANG! Pedang gergajinya menghantam batang besi yang sempat dipungut Peter, memotongnya menjadi dua bagian dalam sekejap seolah itu hanya sebatang kayu lapuk. Peter terpaksa melompat mundur, menghindari tebasan horizontal yang hampir saja membelah dadanya. ​"Woww..senjata macam apa itu?! Kau benar-benar sudah gila, Kruger!" Peter mengumpat sambil berguling di lantai marmer, menghindari serangan lanjutan. ​Pertempuran itu menjadi tarian kematian yang brutal dan berisik. Guardian menyerang dengan presisi mesin yang sempurna, sementara Peter bertarung dengan insting liar yang dipicu oleh amarah. Setiap kali pedang gergaji itu mengenai kulit Peter, sisik hitamnya terkelupas, menyemburkan darah hitam ke lantai marmer yang putih bersih. Peter membalas dengan hantaman tinju yang mampu menghancurkan dinding beton, namun zirah baja Guardian menyerap sebagian besar kekuatannya. ​BUM! BRAK! ​Peter terlempar menghantam pilar marmer tempat Maia bersembunyi akibat tendangan kuat dari Guardian. Pilar itu retak, menaburkan puing-puing tajam ke arah Maia. ​"Peter!" teriak Maia histeris, menutupi kepalanya dengan tangan. ​Mendengar teriakan ketakutan Maia, sesuatu di dalam otak Peter seolah patah. Rasa sakit dari luka-lukanya mendadak hilang, digantikan oleh gelombang energi dingin yang menjalar dari tulang belakangnya. Pupil emasnya menyempit hingga menjadi garis vertikal yang sangat tajam, memancarkan cahaya keemasan yang lebih terang dari sebelumnya. ​"Jangan... kau... sentuh... dia...botak b******k!" ​Peter meraung dengan suara yang sepenuhnya bukan lagi manusia, melainkan raungan predator puncak yang haus darah. Duri-duri di punggungnya memanjang secara tiba-tiba, merobek sisa-sisa pakaiannya. Cakar tangannya memancarkan panas yang begitu hebat hingga udara di sekitarnya tampak bergetar hebat. ​Peter menerjang Guardian dengan kecepatan yang bahkan tidak bisa diantisipasi oleh sensor optik mesin tersebut. Ia menangkap salah satu pedang gergaji Guardian dengan tangan kosong—mengabaikan mata gergaji yang berputar tajam memotong telapak tangannya—dan dengan satu sentakan brutal yang didorong amarah murni, ia mematahkan bilah baja itu menjadi dua. ​"Sekarang giliranmu untuk hancur, b******n. "
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD